
Setelah pulang dari Bandung, Bram di hinggapi rasa kecewa kepada teman relasinya yaitu Koko William. kekesalan Bram seakan di tumpahkan kepada kekasihnya yaitu Gisela
"Mas kenapa sih, cemberut saja mukanya dari tadi? Gisela di hinggapi rasa khawatir.
"Mungkin kita undur dulu rencana pernikahan kita!" Bram pandanganya begitu sinis, menatap ke arah orang yang berlalu lalang datang di Kafe tersebut.
"Itu yang aku mau!" gumam hati Gisela, tersenyum licik.
Gisela mungkin sudah terpengaruh omongan Cindy, untuk bisa meninggalkan Bram.
"Ada apa sih, Mas?" Gisela pura-pura di hinggapi rasa peduli.
"Aku bertemu dengan mantan suami Cindy, di Bandung. Dan aku ada proyek dengan sahabatnya dia, entah mengapa teman bisnisku ini memutuskan untuk tidak memakai aku lagi di tempat bisnisnya," geram terlihat dari cara Bram berbicara.
"Loh, apa hubungannya dengan mantan Cindy?" Gisela di hinggapi rasa penasaran
"Ya, mungkin dia yang merencanakan semuanya. Dia mungkin kesal atau balas dendam, jadi dengan mudahnya dia mempengaruhi rekan bisnisku yang bernama Koko William," sambung Bram lagi.
Gisela akhirnya sekarang mengerti, dalam hatinya dia seakan iba mendengarkan keluh kesah pacarnya itu.
Tapi dia juga berpikir, jika Bram gagal dalam urusan bisnisnya, otomatis pundi-pundi uang akan melayang hilang untuk bisa dia dapatkan dari Bram.
"Aku berharap akan baik-baik saja, Mas," ucap Gisela. Tadinya rencana Gisela ingin meminta sejumlah uang kepada Bram, tapi melihat raut muka dan kondisi Bram, saat ini seakan di hinggapi rasa kesal maka dia urungkan niatnya tersebut.
***
"Kita pulang saja!" Bram menarik tangan Gisela, terasa kasar terlihat tangan tersebut ketika menarik tangan mungil wanita itu.
Sifat Bram yang romantis dan peduli saat itu seakan sirna dan berubah menjadi pribadi yang kasar.
Bram anak manja dan segala sesuatu di turuti oleh kedua orag tuanya. Jadi di saat sekarang keinginannya tidak di turuti oleh orang lain, dia seakan berontak dan kesal tidak mau menerima kenyataan.
***
Di dalam mobil nampak muka Bram, di tekuk tidak bergeming sedikitpun.
"Kita ke Bar!" ucapnya dengan membuang napas kasar.
"Untuk apa ke Bar? aku enggak mau," jawab Gisela.
"Apa sih, cuma nongkrong saja. Minum sedikit, biar pikiran rada rileks," ucapnya lagi.
"Aku pokoknya enggak mau!"
Gisela sangat terkejut ternyata Bram suka minum, minuman yang memabukkan. Karena Gisela wanita kampung yang hijrah ke kota tidak tahu apa-apa pergaulan di kota.
__ADS_1
"Kamu ya, pacar lagi banyak pikiran harusnya kamu mendukung semua rencana ku.
Biar aku sedikit tenang, dan bisa berpikir kembali dengan normal," ucapnya dengan nada bicara seperti kesal.
"Tapi kan, bukan cara begitu juga, untuk bisa menyelesaikan masalah." jawab Gisela.
Gisela berpikir sejenak, tapi dia lagi butuh uangnya, jika tidak di ikutin kemauannya nanti dia tidak diberi uang oleh Bram. Sedangkan Ibunya di kampung mendesak anaknya itu untuk menstranfer sejumlah uang, Ibu dari Gisela wanita matre dan pelit.
"Oke, oke, kita ke Bar sekarang!" jawab Gisela
***
Sesampai di Bar, kemudian Bram memesan minuman, dan dia meneguk yang.
Gisela matanya berselancar mengelilingi tempat sekitar. Bau alkohol terasa begitu menyengat penciumannya, terasa pusing dan mual yang di rasakan oleh Gisela.
Bram kemudian melambaikan tangan kepada pelayan Bar tersebut, sambil membisikkan sesuatu dan memberikan obat serbuk yang di bungkus dengan kertas kecil dan di lipat.
"Mas, saya pesan minuman jus jeruk dan taburi ini ya," Bram berucap pelan.
Sang pelayan kemudian berlalu dari hadapan Bram, dan tersenyum tipis.
**
Beberapa menit kemudian sang pelayan pun, memberikan minuman tersebut.
Selang beberapa menit, kepala Gisela terasa pusing, dan badannya lemah lunglai.
"Mas, pandanganku terasa remang-remang, kenapa ya?" tanya Gisela menatap Bram.
Bram memandang dengan senyuman kemenangan. Kemudian Bram memboyong Gisela ke luar Bar, dan di samping Bar tersebut ada sebuah Hotel.
Bram memesan kamar Hotel.
"Mas, aku mau dibawa kemana?" tidak jelas mata Gisela untuk menatap keadaan sekitar.
Sesampai di kamar Hotel, lalu Bram mencumbu Gisela, penuh napsu dan gairah. Wanita itu ingin beronta, apa daya badannya seakan tidak kuasa untuk menolaknya.
Hanya kenikmatan yang dia rasakan namun seakan semu badannya lemah tak berdaya.
***
Matahari menampakkan pesonanya. Sinarnya masuk kedalam celah jendela kamar, Gisela menggeliat.
Dia sangat terkejut, karena ada Bram di sampingnya yang seakan lemas dan tidak memakai baju.
__ADS_1
Begitupun ketika melihat tubuhnya sendiri yang tanpa memakai baju sehelai pun.
"Apa yang akan lakukan semalam?" Gisela mengingat kembali kejadian semalam. Setelah meminum jus langsung pandangannya terasa kabur, dan setelah itu dia tidak ingat apa-apa lagi.
Tapi ada rasa nikmat disana ada gairah yang di lakukan oleh Bram yang begitu ber napsu untuk menikmati tubuhnya.
"Aku melakukannya?" air mata Gisela menetes.
Dia berpikir tidak akan melakukannya dengan pria ini, karena dia akan meninggalkannya setelah uang pria ini dia kuras, namun apa hendak dikata.
Gisela termenung, karena yang di lakukan dia semalam bersama Bram, dia lakukan setelah dia masa subur setelah datang bulan.
Dia takut nanti akan menjadi hamil, ini masalah besar baginya.
"Apa aku harus menghubungi Cindy?" gumamnya.
Tapi Gisela berpikir lagi, dia tidak mau aib nya diketahui oleh sahabatnya itu.
Dia pasti akan kecewa, cemburu, dan mentertawakan dirinya.
Karena Gisela berjanji terhadap Cindy tidak akan ada rasa cinta kepada Bram.
Tapi mendekati pria itu hanya untuk mendapatkan uangnya saja.
****
"Halo...Sayang!"
Bram mencium kening Gisela, terlihat tanpa ada rasa malu atas semua yang dilakukannya, terhadap pacarnya itu yang baru dia kenal beberapa bulan lalu.
Gisela cemberut terlihat penuh kesal menyelimuti wajahnya.
Melihat kekasihnya seakan kesal terhadapnya. Bram seakan di hinggapi rasa bersalah.
Bram menggenggam erat jemari tangan Gisela, dan memeluk tubuhnya.
"Apa yang kamu lakukan terhadapku itu salah. Kamu memberiku obat ke dalam minuman semalam kan?" Gisela tidak berani menatap wajah Bram, karena hatinya sangat terluka dan penuh sesak.
"Sayang, kita sudah dewasa!" Bram terlihat tersenyum, tapi pikirannya di hinggapi rasa kesal, dia berpikir semua wanita dengan mudahnya dia dapatkan tapi mengapa dengan Gisela, seakan sulit untuk dapat dia puaskan hasrat napsunya.
"Kita belum menikah!" Gisela tersinggung.
"Aku pusing, banyak pikiran. Sudahlah! lagian semalam kamu menikmatinya," Bram kesal.
Gisela hanya tertegun tak bisa berkata apa-apa lagi. Matanya berkaca-kaca.
__ADS_1
"Kamu tidak mau tidur denganku, tapi kamu menguras uangku!" sambung lagi Bram, seakan belum puas mencecar Gisela.
Gisela akhirnya diam.