
Cindy terlihat terkejut ketika melihat Zhira, tepat di hadapannya. Pandangannya salah tingkah dan dadanya seperti di hantam benda keras sangat terasa sesak.
"Kamu..!" ucap Cindy.
Dia terbelalak matanya. Cindy seakan malu, dan merasa bersalah dihadapan Zhira.
Cindy pun seakan kehabisan kata, dia tidak bisa meneruskan bicaranya.
"Cindy, kamu kaget bertemu denganku!" Zhira menatap lekat kepada Cindy.
Di benak Zhira, bayangan Bram, dan masa lalunya datang. Sosok Cindy, yang selalu datang mengganggu hubungannya, tiba-tiba hinggap begitu terlihat jelas membayangi pikirannya.
~~
Dahulu
"Aku lebih nyaman dengan Cindy, meskipun dia mempunyai suami, dia wanita yang bisa membuatku bahagia sedangkan kamu tidak ada artinya di mataku. Kamu tidak bisa memberiku keturunan!" kata-kata itu membuat Zhira seakan di rendahkan oleh sosok Bram, dia selalu membandingkan dirinya dengan Cindy.
Padahal Cindy saat itu mempunyai suami dan anak. Tidak sepantasnya dia di banggakan oleh Bram. Jelas-jelas dia itu pelakor atau perebut lelaki orang.
~~
Zhira memejamkan matanya kemudian, dia
memijit kepalanya, terasa berat dan pusing. Entah mengapa sosok Cindy seakan mentertawakan nya. Wanita itu seakan menginjak harga dirinya. Tangannya mengepal lalu secara perlahan dia buka matanya.
Zhira menatap lekat bola mata Cindy, matanya melotot kemudian Zhira meraih rambut Cindy, lalu Zhira menjambak dengan kasar rambut Cindy, yang terurai panjang. Otomatis Cindy tersungkur dari kursi rodanya. Cindy berteriak histeris.
Melihat kejadian tersebut, anak-anak dari Haris, seakan tidak bisa berbuat apa-apa, mereka tahu bahwa Zhira adalah wanita yang pernah disakiti Mamanya, dari cerita Hana.
"Mas, Neng Zhira...!" Mbak Eka datang ke arah teras dengan tergopoh-gopoh.
Yang berada di teras pun mendengar teriakkan Cindy, mereka terkejut.
"Ada apa dengan Zhira, Mbak?" tanya Wisnu.
Semua orang yang berada di teras semua terkejut mendengar teriakan Cindy, juga datangnya Mbak Eka, yang terlihat panik.
Mbak Eka tersengal-sengal napasnya, telunjuknya mengarah ke arah ruang tamu. Dia seakan tidak bisa meneruskan bicaranya.
Semua yang berada di teras, mereka sedang menunggu kedatangan Cintya, adik dari Cindy, sontak mereka semua berlalu ke ruangan tamu dimana Cindy berada.
\*\*\*
Melihat Zhira yang sedang memukul Cindy, sontak semua terkejut.
"Zhira, istighfar kamu!" ucap Friska.
Wisnu kemudian memisahkan Zhira yang sedang memukul Cindy.
"Ampun, aku bersalah," ucap Cindy, tangannya berusaha dia tutupi untuk menutupi wajahnya yang sedang di cakar oleh Zhira. Saat itu Zhira seakan kalap, dia menjambak rambut dan mencakar wajah Cindy.
"Wanita goblok, bodoh, kurang ajar, pelakor, tidak waras," Zhira memaki-maki Cindy dengan ucapannya.
Dia menumpahkan rasa kesal dan emosi yang dia pendam selama ini. Tangis Zhira pun pecah. Zhira seakan lega ketika sudah menjambak dan memaki-maki Cindy.
\*\*\*
Friska memeluk Zhira, kemudian dia membawanya ke arah teras rumah.
Kemudian mereka duduk.
"Sabar, sabar, kenapa kamu Zhira. Aku bilang kemarin. Kamu jangan terbawa emosi, yang sudah berlalu biar berlalu jangan kamu ingat kembali!" Friska mencoba menenangkan hati saudaranya itu. Dan mengelus lembut pundak Zhira.
__ADS_1
"Aku tiba-tiba, ingat masa lalu. Dia yang dulu menghancurkan rumah tanggaku!" Zhira terisak tangis.
"Kamu sudah ada Wisnu, ingat itu!" Friska mencoba menghibur Zhira dengan berbicara bahwa sekarang Zhira sudah ada pendamping yang baru jadi tidak perlu mengingat Bram kembali.
"Sudah tenangkan dirimu ya," Kemudian Friska memanggil Haris.
Haris tiba-tiba datang.
"Mas, gimana kalau Zhira dan Wisnu suruh menunggu saja di rumah saudaranya Wisnu. Nanti kalau Cintya datang, kita menyusul kesana," ucap Friska.
Dia tidak mau melihat Zhira, tersulut emosi kembali, jadi Friska harus menyuruh Wisnu membawa dulu Zhira agar pikirannya sedikit tenang dan rilek.
Wisnu menyetujui hal tersebut, kemudian Wisnu membawa Zhira pergi keluar dari rumah itu.
\*\*\*
Nampak di dalam rumah.
Cindy terisak tangis, dia meringis kesakitan. Hanya Mbak Lastri dan Mbak Eka yang menolongnya. Anak-anaknya seakan tidak peduli, mereka hanya melihat Cindy yang sedang meringis menahan sakit.
"Mbak bawa saja ke dalam kamar, biar dia istirahat saja," ucap Hana.
Kemudian Mbak Eka dan Mbak Lastri membawa Cindy kedalam kamar.
Cindy tidak bisa berkata apa-apa dia seakan malu oleh anak-anaknya, karena tadi Zhira memperlakukan dirinya dengan kata-kata kotor dan tidak terpuji, dan dia pun mengakui hal itu. Dia wanita pelakor dan bodoh.
"Mbak aku wanita bodoh ya?" tanya Cindy, sambil tersenyum terkekeh, pandangannya terlihat kosong.
Rara melihat jelas Mamanya yang menyalahkan dirinya sendiri dan tersenyum dengan pandangan kosong.
Lalu Rara membisikkan sesuatu kepada Hana lekat ke kuping sang Tante itu.
"Tante, apa Mama gila!" Rara memeluk sang Tante dari arah belakang, dan badannya bersembunyi di balik badan sang Tante.
Hana pun sangat heran dengan tingkah Cindy, tersenyum kemudian mukanya terlihat sedih.
"Ayo kita tunggu diluar," Hana mengajak Rara dan Reza keluar.
\*\*\*
Hana bersama anak-anak tiba di teras.
"Mas, aku khawatir dengan keadaan Kak Cindy, dia tersenyum sendiri kemudian menangis. Apa dia terkena mentalnya, kayak sedang depresi atau apa ya, aku nggak paham Mas," Hana berucap pelan kepada sang Kakak yaitu Haris.
Haris dan Friska terkejut.
"Aku akan lihat kondisi Cindy," ucap Friska.
Friska berlalu dari teras dengan di ikuti oleh Haris dari arah belakang.
Sementara Zhira dan Wisnu mereka sudah pergi. Wisnu mengajak Zhira keluar agar keadaan Zhira lebih tenang.
\*\*\*
Friska dan Haris melihat dari arah jendela kamar. Cindy tertawa terkekeh mulutnya tidak berhenti mengoceh.
"Aku sudah tidak berguna, hidupku hancur, Hehehe.." dia tertawa terkekeh kemudian pandangannya menunduk, lalu air matanya menetes, akhirnya Cindy tersedu menangis.
__ADS_1
"Bu istighfar.." ucap Mbak Eka.
"Haha...kamu siapa? kamu peduli sama aku? jawab..jawab!" Cindy menarik tangan Mbak Eka yang mengakibatkan Mbak Eka ketakutan.
Haris pun bersama Friska memasuki kamar.
"Kamu siapa. Bram...Bram kamu kemana, selama ini?" Cindy memandangi Haris dan tertawa terkekeh.
"Astaghfirullah, dia seperti depresi ya, dan hilang ingatan." ucap Friska.
\*\*\*
Tiba-tiba Cintya datang bersama suaminya
"Ada apa ini" ucap Cintya.
Dia terkejut melihat sang Kakak dengan rambut terurai panjang dan acak-acakan. Pandangan mata Cindy, ketika melihat sang adik seperti tidak mengenalinya.
Kemudian Friska menceritakan semuanya apa yang terjadi. Cintya menangis melihat sang Kakak dengan keadaan seperti itu.
"Ada obat tidur nggak, biar dia istirahat dulu," ucap Friska. Lalu Cintya memberikan obat tidur kepada Cindy.
"Kamu orang yang meninggalkan aku kemarin kan, kenapa kamu datang lagi! hehehe.." Cindy menatap tajam Cintya dan tertawa.
"Kak, minum obat dulu ya," ucap Cintya.
Cindy tapi mau membuka mulutnya untuk meminum obat.
\*\*\*
Satu jam kemudian.
Nampak di ruangan tamu Haris bersama Friska dan di temani Cintya bersama suaminya.
Friska melirik ke arah kamar Cindy, kemudian dia menghela napas secara perlahan.
"Dia terkena depresi gimana kalau kita bawa ke rumah sakit biar dia, segera ditangani di pusat rehabilitasi. Mungkin dia capek dan tertekan, Cindy seperti.." Friska tidak meneruskan bicaranya.
"Seperti apa..?" sambung Haris.
"Seperti stres," ucapnya lirih.
"Ada rehabilitasi mental Mas, tujuan untuk memperkuat ketahanan mental seseorang, dalam menghadapi masalah yang dimiliki agar dapat bertahan, tidak putus asa dan memiliki harapan untuk melangkah ke depannya seperti apa," ucap Friska mencoba menerangkan.
Haris menatap Cintya, nampak Cintya dihinggapi rasa khawatir. Cintya dan Haris paham karena Friska seorang psikiater jadi paham dengan keadaan fisik dan gelagat Cindy yang terlihat aneh.
"Iya aku setuju. Kita bawa saja ke rumah sakit untuk di rehabilitasi," Cintya terlihat sedih.
"Ya lebih baik begitu kalau menurut aku, kita bawa Cindy, untuk di rehabilitasi. Kalau dia tinggal disini, aku takut nanti siapa yang jaga. Kamu kan lagi hamil sayang, aku takut terjadi hal yang tidak di inginkan terhadap kamu," ucap suami Cintya.
"Nunggu dia tenang dulu baru kita bawa." ucap Friska.
Kemudian Friska menghubungi temannya yang tugas di rumah sakit di sekitar daerah dekat rumah Cindy.
\*\*\*
Setelah Friska menutup sambungan teleponnya, lalu Friska menatap Cintya.
"kita bawa sore ini, kata temanku kebetulan ada tempat kosong, untuk di rehabilitasi," ucap Friska.
__ADS_1
Cintya pun menganggukkan kepalanya.