Pengkhianatan Seorang Istri

Pengkhianatan Seorang Istri
Bab: 116 Haris Menikah


__ADS_3

*Haris menikah dengan Friska*


"Saya terima nikah dan kawinnya Friska Putri Mahendra binti Muhammad Althar Mahendra dengan maskawin tersebut dibayar tunai,"


Haris berucap dengan lantang dan lancar.


Nampak terlihat sorot mata Haris, diselimuti dengan rona penuh bahagia. Begitupun dengan mempelai wanita yaitu Friska.


Terlihat sangat bahagia dan terharu


"Bagaimana para saksi, sah?" tanya Pak Penghulu, melirik semua para tamu undangan yang hadir di acara tersebut.


"Sah!"


Barakallahu Laka Wa Barakaa Alaika Wa jamaa Bainakuma Fii khoir.


(Semoga Allah memberikan keberkahan kepadamu, serta keberkahan atasmu dan semoga Allah, mengumpulkan kalian berdua dalam kebaikan)


*****


Suara tepukan dari para tamu yang hadir begitu terdengar sangat jelas dan riuh. Sanak saudara dari keluarga masing-masing pasangan, dan para tamu yang datang terlihat dari raut mukanya begitu penuh bahagia.


Nampak senyuman dari kedua mempelai yaitu Haris dan Friska begitu merekah.


Haris tak hentinya dalam benaknya bersyukur, karena telah di karunia seorang istri yang cantik dan baik.


*****


Friska memakai baju adat Sunda, yaitu kebaya panjang berwarna putih, yang dipadu padankan dengan kain batik berwarna coklat.


Friska terlihat pangling dan cantik, olesan make-up yang terlihat natural dengan riasan Sunda. Dia pun memakai siger atau mahkota, ini merupakan pertanda mempelai tersebut akan menjadi ratu di hari pernikahannya itu.


Bunga melati yang menjuntai di kerudung yang menutupi kepalanya, sangat terlihat manis dan menawan.


Bibirnya terlihat selalu tersenyum kepada semua para undangan yang hadir.


*****


Haris tak hentinya menatap sang Istri yang terlihat sangat cantik dengan senyuman yang renyah membuat Haris, sang suami terpana melihatnya.


"Istriku sangat cantik sekali, semoga aku bersamanya hidup bahagia," gumam hati Haris.


*****


"Silahkan kecup keningnya, karena sekarang kalian sudah sah, menjadi sepasang suami istri," ucap sang Penghulu.


Haris dan Friska tersipu malu, pandangan mereka sama-sama tertunduk.


"Cium..cium..!" terdengar Wisnu sangat antusias, begitupun dengan Zhira yang mengucapkan kata-kata -ciuman- untuk sang pengantin.


*****


Akhirnya Haris mendekati Friska, dan menatap lekat ke arah bola mata sang istri. Kemudian di ciumnya lembut dan hangat kening Friska, yang di sambut dengan ciuman punggung tangan Haris oleh Friska.


Rasa bahagia terlihat dari kedua pasangan itu, Haris memeluk erat Friska dengan matanya yang berkaca-kaca. Begitupun dengan Friska air matanya menetes.


*****


Anak-anak dari Haris dan Friska, terlihat bahagia. Mereka terharu melihat Papa dan Mamanya, akhirnya mendapatkan tambatan hatinya masing-masing.


Ibu dari Haris menangis, seakan tidak kuasa melihat anaknya menikah kembali. Dengan begitu banyak godaan ketika menikah dengan Cindy, karena pengkhianatan yang begitu berlarut-larut.


Melihat sang Ibu menangis, Hana memeluk erat tubuh sang Ibu. Hana seakan tahu isi hati sang Ibu, dia terlihat bahagia tapi terpukul ketika mengingat anaknya yang dilukai oleh Cindy atau Mamanya, dari Rara dan Reza.


"Doakan saja mereka bahagia Bu. Nah, Ibu sekarang jangan banyak pikiran. Haris sudah bahagia dengan Friska," ucap Hana menatap lekat kepada sang Ibu.


*****


Zhira dan Wisnu terharu.


"Akhirnya hari yang di tunggu pun tiba.


Haris menikah dengan Friska. Aku turut senang melihatnya, dan Ini merupakan pernikahan yang di tunggu Haris maupun Friska. Mereka sama-sama memulai pernikahan untuk yang kedua kalinya."


ucap Zhira, lekat ke kuping Wisnu, matanya berkaca-kaca. Bulir putih menetes di ujung matanya, dia begitu terharu.


Air mata yang di torehkan oleh Zhira, begitupun yang berada di acara pernikahan tersebut, adalah air mata haru.


Mereka semua terlihat bahagia.

__ADS_1


"Semoga menjadi keluarga yang sakinah, mawadah, warahmah," ucap Wisnu.


Dia menggenggam erat tangan Zhira, lalu menciumnya dengan mesra.


Nampak terlihat raut muka dari Zhira dan Wisnu sangat bahagia, tersenyum lebar.


*****


Jam menunjukkan pukul sebelas.


Friska nampak mengganti gaun pernikahannya dengan warna merah. Pakaian yang digunakan terlihat simpel namun tetap memancarkan kesan elegan.


Friska begitu memesona para tamu undangan yang hadir di acara pernikahan yang sakral itu.


Karena pernikahan yang di gelar oleh Friska dan Haris secara outdoor. Para undangan seakan di manjakan dengan pemandangan alam yang lebih hangat terasa, dan kasual.


Mereka bisa menyatu dengan alam dan terasa nyaman dan sejuk dengan suasana tersebut.


Walaupun jam menunjukkan pukul sebelas siang, tapi nampak cuaca tidak panas atau terik menyengat kulit.


*****


Tamu berdatangan.


Nampak teman dari Friska dan Haris berdatangan. Mulai dari rekan kerja ataupun teman semasa sekolah kuliah dulu.


Nampak dari kejauhan Tesa, teman dari mereka berdua, memandang kedua mempelai. Pandangan Tesa lekat kepada Haris, dia terlihat terpesona kepada Haris yang memakai kemeja kasual yang di kombinasikan dengan celana panjang dan di padu padankan dengan sepatu kulit casual.


Terkesan membuat elegan bagi Haris warna yang di padukan dengan blazer yang warnanya senada dengan warna yang dipakai Friska yaitu merah.


Tesa kemudian berjalan ke arah mempelai pengantin.


"Selamat ya," Tesa menyalami Friska dan Haris. Tesa menatap tajam Haris dan tatapan dari Tesa terhadap Haris, membuat Friska cemburu, karena bola matanya terlihat genit.


Haris langsung membuang mukanya dan menggenggam erat istrinya itu.


Friska matanya mendelik menatap Tesa, sementara Tesa hanya tersenyum tipis.


"Kamu cantik sekali Friska, begitupun dengan Haris, nampak gagah. Dari tadi aku pangling lihatnya," ucap Tesa tersenyum renyah dan tatapan begitu lekat kepada Haris.


"Apa maksudnya wanita ini. Bicara seperti itu. Dia memancing emosi aku!" gumam hati Friska seakan kesal dibuatnya.


Friska hanya menganggukkan kepalanya dan tersenyum tipis.


"Sayang, kita makan dulu yu," ucap Haris, mengajak Friska untuk beristirahat.


Tesa pun di tinggalkan oleh Haris dan Friska.


*****


Tiba di meja makan pengantin.


"Sayang, kamu mau makan apa?" tanya Haris, begitu banyak makanan yang tersedia di meja makan itu.


"Aku makan buah saja Mas," jawabnya.


"Kenapa, Sayang?" tanya Haris. Dia seakan tahu. Kejadian yang baru saja di alami, yaitu Tesa yang mengganggunya membuat Friska di rundung rasa cemburu.


"Nggak apa-apa, Sayang," Friska mencoba menampakkan senyum ramah kepada suaminya, yang baru menikahinya itu.


*****


Haris begitu menjaga perasaan istrinya itu, dia tidak mau pernikahannya gagal untuk kedua kalinya. Haris terlihat menyuapi istrinya itu dengan penuh perhatian.


Tesa yang melihat keromantisan di antara Haris dan Friska terlihat menghela napas panjang.


*****


Teman Tesa menghampirinya.


"Kamu terlihat cemburu, aku lihat dari tadi!" ucap Firman, teman sekolah kuliah dulu.


"Iya, memangnya kenapa? Aku sangat mengagumi Haris!" ucap Tesa, terlihat dia memperhatikan terus kedua temannya itu yang terlihat akrab dan romantis.


"Kamu sudah tidak waras ya? boleh mengagumi tapi jangan baper!" ucap Firman.


Tesa hanya terdiam dan pandangannya, seakan tak bisa lepas dari Haris dan Friska.


****"

__ADS_1


Haris merasa ada yang terus-menerus memperhatikannya, lalu matanya berselancar mengelilingi acara pernikahan yang sudah hampir selesai, para tamu sudah mulai berkurang pengunjungnya.


Pandangan Haris mengarah ke arah Tesa, nampak.dia dari jauh sedang menatap Haris. Terlihat Haris kesal, lalu dia dengan spontan mencium pipi Friska, kemudian dia memeluk erat Friska. Sontak Friska terkejut.


"Mas, malu, ihh.." Friska tersipu malu dibuatnya.


"Memang Kenapa? kamu sudah sah, menjadi istriku Sayang," ucapnya.


Tesa tertunduk ketika melihat Haris mencium dan memeluk Friska begitu mesra.


Dadanya bergemuruh, entah apa yang terjadi di benak perempuan itu.


*****


Akhirnya acara pun selesai.


Haris dan Friska langsung pergi dari tempat acara resepsi pernikahan, mereka pergi menuju Hotel.


Nampak dari raut muka Haris, terlihat begitu gembira, akhirnya dia sudah sah menjadi suami Friska malam ini.


******


Malam pertama dilewati merek berdua penuh keromantisan, bertaburan kelopak bunga di tempat tidur. dan ada beberapa bunga mawar dan melati di sudut di kamar yang tersimpan di vas kamar, dan wangi aromaterapi sebagai relaksasi tubuh seakan menambah gairah mereka berdua yang akan menikmati malam pertamanya.


*****


Haris menatap lekat mata Friska, kemudian dia mencium bibir istrinya itu. Friska memejamkan matanya.


Jantung Haris dag-dig-dug tidak karuan begitupun dengan Friska, merasakan hal yang sama. Karena mereka sudah lama tidak melakukan hubungan suami istri jadi rasa canggung nampak terlihat dari keduanya.


"Mas gerogi, Hehehe.." ucap Haris tersipu malu. Begitupun dengan Friska dia seakan malu untuk memulainya dari mana agar Haris tidak terlihat malu dan kaku.


Friska kemudian bereaksi.


Sebuah kecupan mendarat di pucuk kepala Haris sang suaminya itu, dengan tangan mengalung dan terlihat manja.


"Mas, aku mencintaimu," ucap Friska tersenyum manis.


Haris kemudian memangku istrinya itu dan menidurkannya.


"Lampunya matikan ya, Hehe.." ucap Haris.


Friska tersenyum seakan menahan tawa.


Akhirnya Malam itu, mereka lalui dengan penuh kasih dan cinta yang menggelora.


*****


Tiga hari kemudian.


Tiga hari sudah mereka berada di Hotel untuk acara bulan madu. Haris dan Friska akhirnya pulang. Haris meminta Friska untuk tinggal di rumah Haris, tapi Friska meminta ijin kepada Haris untuk membawa terlebih dahulu barang dan sebagian bajunya kerumah Ibunya.


*****


Sesampai di rumah Ibunya, Friska di sambut ramah oleh semua yang ada di rumah itu. Ibunya memeluk erat tubuh anaknya itu.


"Aduh, yang baru saja pulang bulan madu. Gimana Mas Haris, lancar. Hehehe.." ucap Zhira menggoda pasangan yang baru saja menikah.


Haris dan Friska tersipu malu.


apalagi Haris yang notabene pemalu dia menundukkan kepalanya, mukanya merah padam, dia seakan tidak bisa mengucapkan sepatah katapun.


Friska melihat sang suami terlihat malu langsung, menyambarnya dengan ciuman yang mendarat ke pipinya. Spontan Haris terkejut dan tersenyum.


"Cie...cie...!" ucap Zhira.


"Ngiri ya? makannya cepat nikah, sama Wisnu!" ledek Friska kepada Zhira.


Wisnu tersipu malu ketika Friska menyindirnya.


"Tuh kan, kita di sindir sama pengantin baru," ucap Zhira menatap Wisnu.


"Iya, Sayang. Sebentar lagi kita menikah, sabar," ucap Wisnu.


Friska dan Haris pun tersenyum lebar melihat Zhira dan Wisnu, yang terlihat ingin segera menikah.


"Sudah, sudah, jangan ribut. Jika sudah jodoh dan sudah waktunya, nanti juga akan segera ke pelaminan," ucap Ibunya Friska, seakan menyabarkan hati Zhira.


Zhira dan Haris pun tertawa lebar.

__ADS_1


__ADS_2