Pengkhianatan Seorang Istri

Pengkhianatan Seorang Istri
Bab: 118 Haris tiba di rumah Cintya


__ADS_3

Haris tiba di rumah Cintya.


Setelah selesai istirahat dan sholat di mesjid, kemudian Haris mengemudikan kembali mobilnya ke arah rumah Cintya, yang berada di daerah Bogor.


Nampak Cintya menangis ketika Haris datang bersama Friska. Cintya langsung menghampiri Haris, yang baru saja keluar dari mobilnya.


"Mas, aku khawatir dengan keadaan Kakakku!" ucapnya, ketika Haris baru saja keluar dari mobilnya.


Cintya menatap Friska dan tersenyum dengan di selimuti rasa tanda tanya. Siapakah sosok wanita yang dibawa Haris.


"Ini istriku," ucap Haris, pandangannya mengarah ke Cintya.


Friska mengulurkan tangannya dan bersalaman kepada Cintya.


"Terlihat sopan dan baik wanita ini, dari cara bicara, gestur tubuh, dan cara berpakaiannya. Sangat jauh sekali dengan Kakakku," gumam hati Cintya. Terlihat dia begitu kagum dengan sosok Friska.


*****


Mereka memasuki rumah.


Kemudian Cintya menceritakan semuanya, apa yang terjadi dengan Cindy. Dia seakan bersalah atas semuanya.


"Iya Mbak. Maaf, aku tidak bisa berbuat apa-apa. Meskipun itu Mamanya anak-anak. Tapi aku sudah telepon orang tadi, yang berada di Bogor, untuk mencari keberadaan Cindy." ucap Haris, terlihat tegas ketika berucap.


Cintya hanya menghela napas panjang, dia pun tidak tahu apa yang harus di lakukannya untuk saat ini. Karena hampir sudah seminggu Cindy tidak diketemukan.


*****


Tiba-tiba suami Cintya datang.


Dia bersalaman dengan Haris dan Friska, kemudian dia pun bercerita mengenai Cindy.


"Aku juga kasihan Mas, sama istriku Cintya, dia sedang mengandung jadi mikirin Cindy terus. Aku sudah meyakinkan dia, kita pasrahkan sama yang di atas, yang penting kita sudah ikhtiar," ucap Bagas suami dari Cintya. Dia memandangi istrinya itu dengan penuh rasa peduli.


Cintya pandangannya menunduk dan air matanya berderai.


"Anak-anak kenapa tidak dibawa?" Cintya menatap Haris. Dia seakan ingin bertemu dengan Keponakannya itu.


"Mereka sekolah, nanti saja setelah Cindy di ketemukan aku akan bawa kesini," jawab Haris.


Cintya seakan membaca pikiran Haris, dia berpikir mungkin, anak-anak dari Cindy, tidak mau bertemu dengan Mamanya, karena hubungan Cindy tidak akur dengan kedua anaknya yaitu Rara dan Reza.


*****


Cintya tidak bisa berbuat apa-apa, karena dia sadar Kakaknya telah mengkhianati Haris, begitu sakit penderitaan yang di rasakan oleh Haris yang di lakukan oleh Cindy.


Haris orang yang sabar dan menganggap segala sesuatu akan ada jalan keluarnya, itu pun Cintya tahu.


*****


Cintya seminggu ini sakit memikirkan Cindy sang Kakak, meskipun Cindy jahat namun Cintya sang adik, tetap saja memikirkan sang Kakak yang keberadaannya hilang entah kemana.


Cintya terlihat pucat mukanya, lalu Bagas menyuruhnya untuk beristirahat.


Cintya kemudian bangkit dari tempat duduknya, pandangannya terasa kabur, dan kepalanya terasa pusing yang teramat.

__ADS_1


Dia kemudian melangkah ke kamarnya. Tapi baru saja beberapa langkah berjalan, tiba-tiba.


Brukk...


Dia terjatuh, dan pingsan. Melihat hal tersebut Bagas terlihat panik, begitupun dengan Haris dan Friska. Lalu Bagas menggotong Cintya ke kursi Sofa.


Mbak Lastri tergopoh-gopoh, menghampiri. Dia membawa obat penghangat agar Cintya terbangun dari pingsannya.


Bagas mengoleskan obat penghangat ke area hidung dan kakinya, Cintya di balur obat penghangat oleh Friska.


"Mah, Mah, bangun," Bagas menepuk-nepuk pipi Cintya dengan lembut.


Akhirnya Cintya terbangun, nampak terlihat wajahnya pucat pasi. Badannya lemah lunglai tak berdaya.


"Minum air hangat teh manisnya, Bu," Mbak Lastri kemudian menyodorkan air teh hangat manis ke Cintya.


Cintya pun meminum air hangat tersebut, dia menghela napas secara perlahan.


"Kamu lelah, aku bawa saja ke rumah Ibu lagi ya, kamu disini sakit terus. Apalagi mikirin Cindy terus, kamu lupa makan. Ingat bayi dalam kandungan kamu," sang suami begitu perhatian dan terlihat kesal karena sang istri tidak memperhatikan kondisi tubuhnya tersebut.


"Iya, mending tinggal di rumah Ibunya saja, agar terjaga kesehatannya" ucap Friska.


"Aku gak habis pikir Mas, selalu saja si Cindy bermasalah dengan adikku.


Kemarin istriku sudah tenang hatinya karena dia berada di Ibuku. Nah, sekarang kembali berulah dengan cara minggat dari rumah. Apa itu gak membuat orang jadi kesal dan mencari keberadaan dia!" ucap Bagas nampak terlihat dari raut mukanya kembali kesal terhadap kelakuan Cindy, yang imbasnya terhadap istrinya yang sangat peduli terhadap Kakaknya itu.


Haris pun terenyuh hatinya. Dia kasian kepada Cintya, yang harus mengurus Kakaknya dan bertanggung jawab atas semuanya. Dari mulai masalah kesehatan dan masalah finansialnya.



Haris berpikir dalam hatinya, jika dia masih berstatus suami dari Cindy mungkin yang bertanggung jawab atas semuanya, dia bukan Cintya. Cindy sekarang hanya mantan jadi Haris tidak ada kewajiban untuk mengurus Cindy.


~~\`~~~~



"Masa Cintya saja yang mengurus. Anaknya mana, Reza yang sudah menginjak bangku SMA dan sebentar lagi dia mau keluar kan, masuk kuliah. Dia sudah gede harusnya inget sama Mamanya, bagaimanapun dia adalah Ibu kandungnya yang harus di hormati. Bukannya tidak ada kabar dan tidak mau menemuinya," Bagas menyindir Haris, yang seakan tidak bisa mengurus atau memberi peringatan kepada anaknya untuk ingat sama Mamanya.



Cintya sontak terkejut.


"Mas.." Cintya mengedipkan mata dan memegang erat jemari suaminya itu. Cintya seakan mengingatkan kepada suaminya, agar berhati-hati berucap.



Cintya heran, karena selama ini Bagas tidak peduli dengan Cindy. Cintya beranggapan meskipun anak-anak Cindy, tidak ada kabar atau sekedar menengoknya pun tidak jadi masalah. Tapi sekarang lain, faktanya.


Bagas terlihat kesal kepada anak-anak Cindy. Karena mereka seakan tidak peduli ketika Cindy sakit mereka tidak berkunjung untuk menengoknya.



Ini semua mungkin karena Bagas terlalu mengkhawatirkan keadaan Cintya, sang istri. yang sedang hamil. Ketika belum hamil Bagas hanya bisa memendam rasa kesal tersebut tapi sekarang dia keluarkan unek-uneknya, yang seakan keluarga atau anak dari Cindy tidak peduli.


Yang peduli hanya adiknya yaitu Cintya.

__ADS_1



"Ya kan, benar! aku peduli dan kasihan sama kamu, Sayang. apalagi kamu sedang mengandung. Mana ada keluarga yang bantu. Aku tidak mengharapkan masalah finansial, aku hanya butuh lihat saja kondisinya." ucap Bagas menggebu-gebu ketika berucap.


\*\*\*\*


"Maafkan, anak-anaknya Mas Haris, nanti aku akan bujuk mereka untuk datang kesini," Friska berusaha bersikap dewasa, dia seakan ingin meredam emosi dari Bagas.


Meskipun Friska di keluarga Haris, adalah anggota baru namun Friska, seakan tahu posisi Keluarga tersebut seperti apa.


\*\*\*\*\*


Haris pun meminta maaf kepada Bagas dan Cintya.


"Aku sudah tidak ada hubungan apa-apa lagi, Mas. Tapi, kalau masalah anak-anak, aku sudah berusaha membujuk anak-anak, agar mereka mau bertemu dengan Mamanya, tapi di paksa, untuk kesini pun mereka enggak mau. Memang kita rencana akan bawa anak-anak setelah acara pernikahanku, tapi alasannya mereka sekolah dan Cindy pun tidak ada." Haris dengan gamblang menceritakan semuanya, agar Bagas mengerti.



"Nggak apa-apa ko, ini sudah tanggung jawab aku sebagai adik. Aku ikhlas ko, namun ada saatnya aku lelah dan menggerutu. Tapi itu kulakukan hanya sesaat setelah itu semua kembali lagi normal perasaan seperti semula." Cintya berusaha mendamaikan suasana yang terjadi karena ada percekcokan kecil antara Bagas dan Haris.


\*\*\*\*\*



Haris dan Friska pulang.


Haris dan Friska pun pamit kepada, Cintya dan Bagas.


"Mas, maafkan ucapan suamiku tadi," ucap Cintya lekat ke kuping Haris, ketika Haris bersalaman untuk pulang.


Haris hanya tersenyum dan menganggukkan kepalanya.


\*\*\*\*\*


Akhirnya mereka kembali pulang ke Bandung.


Di dalam mobil Haris terlihat terdiam, dia teringat ucapan dari Bagas.



"Mas, sudah jangan terlalu di pikirkan," ucap sang istri seakan tahu sesuatu terhadap hati suaminya, yang sedang memikirkan kejadian yang baru saja terjadi di rumah Cintya.



"Aku minta maaf ya, Sayang. Aku membawamu ke masalahku yang rumit, baru saja kita menikah," ucap Haris tersenyum, dan mencium kening istrinya itu.



Friska pun membalas senyuman dari Haris, dan menganggukkan kepalanya.


"Sayang, malam ini kita nginap di Hotel ya?" ucap Haris tersipu malu.


"Boleh Sayang, biar cepat punya momongan ya," Friska menggoda suaminya itu, yang baru saja menikah beberapa hari.


"Iya, dong. hehehe..." Haris nampak malu ketika istrinya mencoba menggodanya.

__ADS_1


Muka Haris merah padam, entah mengapa Friska suka jika menggoda suaminya yang terlihat kalem dan lugu.


__ADS_2