
Setelah Clara memberikan foto lewat layar ponsel kepada Haris, betapa sangat terkejut hati Haris. Karena Bram yang di lihatnya barusan, sama persis dengan yang di lihatnya di gambar layar ponsel.
Haris terdiam cukup lama, dan tidak membalas pesan lagi.
***
{"Cindy, ada disini menginap sudah seminggu," } Clara memberikan pesan kembali kepada Haris.
Tapi Haris seakan tidak mau menanggapi hal tersebut, karena Cindy bukanlah orang yang ada di hatinya lagi.
"Aku tidak peduli, Cindy mau gimana juga. Meskipun itu Mama, dari anak-anak aku," jawab Haris, tegas.
Sambungan telepon pun, akhirnya di tutup Haris. Lalu dia berlalu ke belakang Kafe, yaitu kamarnya yang berada di ujung Kafe tersebut.
***
Di dalam kamarnya, dia rebahkan badannya yang terasa sangat lelah dan suntuk.
Kemudian dia menghubungi Friska, dengan menelepon Friska, pikiran dia terasa agak sedikit lebih nyaman.
Setelah ngobrol kesana-kesini, segala yang terjadi hari ini di ceritakan, akhirnya Friska pun pamit untuk tidur dan menutup sambungan teleponnya,
***
Malam ini Haris tidak dapat memejamkan matanya, entah mengapa.
"Tadi Koko William, menawarkan proyek di Bali, pasti proyek ini ada hubungannya dengan Bram. Aku tidak mau kalau harus bertemu lagi, dengan orang yang menghancurkan rumah tanggaku,"
Koko William yang berperan penting dalam usaha ini. Jadi kalau tidak ada persetujuan dari Koko William, semua tidak akan berjalan dengan lancar.
Relasi dia sangat banyak, apapun bisnis yang dia kerjakan selalu mendapat sambutan dari orang lain.
Jadi harus ada persetujuan dari Koko William semuanya.
kebetulan Haris sangat dekat, dan Koko William selalu mempercayai omongan Haris.
***
Haris seperti ingin merencanakan sesuatu, lalu di tekannya nomor telepon yang akan dia tuju. Sesudah menekan tombol nomornya, nampak nama KoKo William muncul disana.
Lalu Haris menceritakan siapa sebenarnya Bram itu, dia adalah selingkuhan istrinya yang dulu menghancurkan mahligai rumah tangganya.
Dari dulu Koko William selalu bertanya, siapakah lelaki yang mengganggu istrinya? tapi Haris tidak berani bicara apapun.
Namun setelah tadi dia bertemu langsung dengan Bram, barulah dia bicara kepada Koko William.
"Kalau kamu merasa terganggu dengan Bram, aku tidak akan membawa dia, untuk gabung di usaha yang akan kita rintis selanjutnya."
__ADS_1
mungkin itu yang di inginkan Haris, tapi Haris untuk melakukan hal itu butuh waktu sangat lama ketika berpikir, dia seakan menghambat rezeki orang.
Namun..
Haris berubah pikiran.
"Ya, aku merasa terganggu," ucap Haris, luka dan kesedihan dia seakan cukup perih. Kelicikan yang di torehkan oleh Cindy sang istri sungguh teramat pedih.
"Balas dendam, tidak apa-apa!" Koko William tertawa terkekeh.
"Bukan balas dendam Ko' cuma pedih terasa," Haris menjawab dengan bercanda juga.
"Yasudah, jika tidak mau ada Bram untuk bergabung di usaha kita tidak apa-apa. Toh, dia juga belum mengirimkan dananya ke aku." jawab Koko William.
"Kamu ingin buat dia menderita?" tanya Koko William, tertawa terbahak.
Haris tersipu malu, dan menggelengkan kepala.
***
Keesokan harinya, Koko William menghubungi Bram, dan dia mengatakan bahwa Bram tidak akan dia bawa untuk bergabung di perusahaannya.
Bram di hinggapi rasa penasaran, mengapa Koko William secepatnya membatalkan proyeknya bersama dia. Dan ini menjadi tanda tanya besar bagi Bram.
"Ini proyek besar, dan uangnya cukup besar juga. Kalau aku kehilangan proyek ini sungguh kecewa!" gumam hati Bram. Dihinggapi rasa kecewa yang dalam.
Bram bertanya-tanya dalam hatinya, mengapa Koko William sampai memutuskan bisnis bersamanya.
***
Haris tidak bisa membayangkan Koko begitu cepat mengambil keputusan, tadinya Haris waktu kemarin cuma bergurau saja, karena tidak mungkin kalau Koko begitu saja mengeluarkan nama Bram, dari usaha yang akan kita jalani kedepan.
"Itu bagi saya mudah, sudahlah, kamu orang jujur dan aku percaya sama kamu. ku takut juga nanti kedepannya dia tidak sepemikiran dengan kita. Aku baru mengenal dia dua bulan, dan belum paham karakter dia juga seperti apa, kalau kamu kan sudah lama aku kenal," Koko William mencoba menerangkan semuanya.
***
Haris seakan puas menerima kabar itu, niat dia juga sebenarnya bukan untuk mencoba menghancurkan Bram, namun rasa kesal yang terdahulu menyelinap ke hati Haris seakan segera memberikan pelajaran terhadap orang licik.
(-Tidak semua mesti dibeli dengan uang-)
***
Usaha Haris maju pesat saat ini, bahkan dia akan membuka cabang baru lagi di kota Kalimantan.
"Jadi Mas, mau pergi ke Kalimantan kapan,?" tanya Friska kepada Haris.
"Besok, Sayang. kamu jaga diri baik-baik disini ya," Haris tersenyum hangat dan mengecup tangan Friska.
__ADS_1
Terlihat Fani dan karyawan lainnya, sangat sibuk dengan para tamu yang datang.
"Besok Mas, dengan Wisnu perginya?" Friska kembali bertanya. Dia seakan tidak ingin di tinggalkan oleh Haris.
kepergian Haris cuma seminggu namun bagi Friska itu merupakan waktu yang sangat lama.
"Sebentar kan, cuma seminggu. kalau jenuh kan, biasanya juga main kesini ke Kafe," Haris mencoba menyabarkan hati kekasihnya itu.
"Aku sudah mentransfer uang untuk kamu, untuk berbelanja bersama anakmu," Haris berbicara lekat ke kuping Friska.
Wajah Friska, sontak menjadi berseri dan tersenyum lebar.
"Jangan repot-repot Mas, aku jadi malu," Friska menunduk dan tersipu malu.
"Tenang saja," jawab Haris.
"Awas jangan nakal ya, selama di Kalimantan, matanya jangan jelalatan," raut Friska menjadi di hinggapi rasa khawatir.
Takut Harus berpaling ke lain hati.
"Nggak dong sayang, aku akan selalu setia untukmu. Mas, pergi ke Kalimantan untuk mencari rezeki buat kelangsungan hidup kita nanti. Buat biaya nikah!" Haris mencubit pelan hidung Friska.
Friska pun meringis manja, di perlakukan seperti itu oleh sang pujaan hati.
****
Fani datang dengan menyodorkan teh manis hangat kepada Friska.
"Tuh, ada Fani entar ada disini, kalau aku tidak ada" canda Haris.
Friska hanya menatap Haris dengan tatapan manja, dan tersenyum manis.
"Jangan khawatir, Bu Friska. kalau kangen sama Bapak, nanti ada Fani yang siap menghibur hati Ibu, yang sedang gundah gulana biar kembali tertawa," Fani mencoba menghibur Friska.
Friska dan Haris pun tertawa lebar.
"Bos, besok kita pergi ke Kalimantan, pesawat jam berapa?" tanya Wisnu yang baru saja datang.
"Pagi," jawab Haris.
"Sama, Ibu?" jempol Wisnu mengarah ke Friska.
"Nggak, kita berdua saja," Haris menggelengkan kepalanya.
"Padahal enak Bu, biar sekalian healing!" canda Wisnu.
Friska pun tertawa renyah.
__ADS_1
"Kalau mau ikut sih, ayo!" Haris menatap kekasihnya itu.
"Aku kan banyak kerjaan, Mas. disini," Friska pun dalam hatinya, sebenarnya ingin pergi ke Kalimantan menemani Haris untuk bertemu rekan bisnisnya, dan melihat Kafe yang akan dibuka disana. Namun keadaan lah, yang tidak bisa mewujudkannya.