Pengkhianatan Seorang Istri

Pengkhianatan Seorang Istri
Bab: 131 Cindy kena gangguan mental.


__ADS_3

Friska khawatir.


"Mas, tadi temanku menelepon, katanya keadaan Cindy, semakin memburuk. Dia teriak terus di pusat rehabilitasi dan emosinya tidak terkontrol. Masa lalu dia begitu berat, kata dokter Richard temanku," ucap Friska, ketika dia pulang dari kliniknya.


Meskipun Friska tidak ada hubungan apa-apa terhadap Cindy, tapi dia seakan mengkhawatirkan keadaan wanita tersebut.


Haris hanya menatap sang istri. Dia pun bingung harus berkata apa. Karena Haris tidak mengerti masalah penyakit yang di derita oleh mantan istrinya itu.


"Mas, tapi aku sudah menitipkan Cindy kepada dokter Richard, akan memberikan pelayanan yang terbaik kepadanya," sambung Friska kembali.


"Ya.." jawab Haris, singkat.


Friska mengernyitkan dahi, seakan tidak puas dengan jawaban sang suami tersebut.


"Sayang, kapan kamu mau di kontrol lagi, aku ingin lihat anak kita di USG," ucap Haris.


Dia mencoba mengalihkan pembicaraan tentang Cindy.


Sang istri seakan mengerti, Haris tidak mau ikut campur berlebih mengenai masalah Cindy, mantan istrinya itu.


"Nanti sore Mas," jawab Friska tersenyum manis kepada Haris.


"Kamu mau anak kita perempuan atau lelaki?" tanya Haris tersipu malu.


"Terserah yang di atas Mas, yang penting anak kita sehat.


Haris mengacungkan jempolnya, tanda dia setuju dengan perkataan yang dilontarkan oleh sang istri tercinta itu.


~~

__ADS_1


Ting..


Tiba-tiba pesan masuk dari ponsel milik Friska. Pesan tersebut datang dari dokter Richard, dia mengabarkan kondisi Cindy yang sedang ngamuk emosinya tidak terkontrol.


"Aku tadi kasih obat penenang, dia tadi selalu menyebut nama Bram. Nah Bram itu siapa ya?" tanya sang dokter.


"Itu mantan pacarnya, dok." jawab Friska.


"Biasanya jika penyembuhan orang yang sakit jiwa harus di pertemukan dengan orang yang bersangkutan," ucap sang dokter kembali.


"Dok, ini ceritanya beda, soalnya..." Friska seakan tidak mau meneruskan obrolannya, karena di sampingnya ada Haris, dia tidak mau menyinggung hati sang suami.


Sambungan telepon pun akhirnya di tutup oleh Friska. Haris kemudian mencecar pertanyaan kepada sang istri karena tadi ada kalimat dari sang istri, Cindy ngamuk.


Haris khawatir keadaan Cindy, lebih parah dan dia gila.


Memang sudah tidak peduli tapi itu Mama anak-anaknya, hanya menjaga perasaan anak-anaknya saja.


***


***


Cintya, terlihat datang ke rumah sakit menjenguk keadaan Cindy. Melihat sang Kakak sedang menangis di sudut ruang kamar tersedu, sesaat kemudian dia tertawa terbahak.


Cintya menganggap sang Kakak mentalnya sudah terganggu dan dia kurang waras atau gila.


Cintya memasuki ruang kamar Cindy, secara perlahan dia menghampiri Cindy.


"Kak, aku Cintya," Cintya menampakkan senyum ramahnya. Kemudian dia memeluk sang Kakak.

__ADS_1


Namun pelukan dari sang adik ditolaknya oleh tangan Cindy, dan Cindy mendorong sang adik. Dia berontak dan berteriak histeris.


"Keluar.. keluar...!" Cindy, kemudian tertawa terbahak.


Cintya tersungkur, ketika di dorong oleh Cindy. Dia meringis menahan sakit dan memegang perutnya yang sedang hamil.


Sontak sang suami Bagas, memeluk sang istri kemudian Cintya, dibawa keluar dari ruangan tersebut.



"Sebaiknya jangan dulu dihampiri, dia keadaannya lagi tidak stabil," ucap sang dokter.



Cindy melambaikan tangannya, ketika sang adik berlalu dari hadapannya. Sambil kembali tertawa lebar kemudian wajahnya tiba-tiba menunduk dan sedih kembali.



Cintya tambah iba, melihat kondisi sang Kakak karena gila. Cintya menangis histeris.


"Kak Cindy, aku nggak mau kamu jadi begini Kak, aku gak mau kamu jadi gila!" ucap Cintya. Bagas sang suami mencoba menenangkan hati sang istri.



"Mah, istighfar. Ingat kondisi badan kamu. Mama lagi mengandung, ini anak yang dinanti oleh kita, jangan sampai Mama tadi terjatuh dan memikirkan Cindy, kondisi kehamilan Mama, jadi tidak stabil dan sakit," ucap sang suami.



"Bram mana! Dimana Bram..!" Cindy terdengar berteriak, terus menerus memanggil nama Bram. Di dalam ruangan tersebut.

__ADS_1



Sang suster datang bersama dokter memasuki ruangan Cindy, dan mereka pun kembali memberikan obat penenang kepada Cindy sang pasien.


__ADS_2