
"Bu, kata Bapak, tadi menelepon ke ponselnya Rara, katanya Neneknya Rara besok mau datang kesini," mendengar Ibu Mertuanya mau datang sontak hati Cindy di hinggapi rasa gelisah.
Cindy takut jika sang Mertua nanti memojokkan dirinya karena dia sangat bersalah.
"Katanya mau nginap berapa hari?" tanya Cindy.
"katanya bolak-balik, di antar supir saja mau lihat Cucunya saja, karena lusanya mau ke Adiknya Bapak yang ada di Surabaya," Ibu dari Haris tinggal di Bekasi, jadi jarak yang di tempuh cuma satu jam lebih ke Bogor.
"Tumben Ibu mertua datang, pasti ini mau membahas pertengkaran ku dengan Anaknya," Cindi dihinggapi gelisah. Ketakutan dia begitu menjadi.
"Mbak, Aku lupa, besok ada rapat karena ada tamu dari luar kota, dan kayaknya aku tidak bisa bertemu dengan Neneknya Rara," Cindy mencari alasan.
***
Keesokan harinya Cindy sangat pagi sekali pergi ke kantor, dia berpikir pasti pagi sekali Ibunya Haris sudah datang karena tidak menginap kemungkinan datang lebih awal.
**
Ketika Cindy hendak memasuki mobil.
"Bu, kirain tidak akan kerja. Kan Neneknya Rara mau datang pagi ini!" Mbak Eka berharap Cindy tidak berangkat kerja.
"Iya, Mbak, Aku di tunggu di kantor oleh Bos,"
Cindy berlalu cepat, dan memasuki mobil sedannya.
Mbak Eka, hanya mengelus dada melihat tingkah sang majikan itu.
***
Di Kantor, tidak terlihat sosok Helmi karena Anaknya masih sakit. Justru ini yang membuat Cindy lebih leluasa tidak ada Helmi. Jika ada Helmi mungkin dia terasa canggung.
Tok..
Tok..
Tok..
Ruangan Cindy ada yang mengetuk pintu, terlihat sang Bos memasuki ruangannya.
Bos tersebut mengabarkan bahwa Helmi akan dipindah tugaskan ke Jakarta, ini sesuai dengan permintaan Helmi karena dia ingin lebih dekat dengan Ibu dan Anaknya.
Cindy berpikir sejenak,
"Mungkin Helmi tidak memberikan kabar kepada dirinya karena nomor Cindy yang lama sudah tidak aktif, dan Helmi pun tidak tahu jika Cindy sedang ada masalah besar dengan suaminya.
"Syukurlah kalau begitu, Pak!" jawab Cindy.
__ADS_1
Kepergian Helmi membuat Cindy berpikir. Apakah Helmi dengan sengaja menghindar darinya setelah semua yang dia dapat darinya? atau mungkin benar agar lebih dekat dengan keluarganya?.
**
Setelah Bos keluar dari ruangan Cindy. Kegundahan hati Cindy terjawab dengan datangnya Clara, lalu dia membawa kabar berita.
"Helmi, mau menikah?" Clara menatap lekat ke kedua bola mata Cindy.
"Apa!"
Sontak Cindy terkejut,
**
Bukannya ini yang di inginkan? jika Helmi menikah dengan wanita lain, dia tidak akan mengejarnya lagi, dan Cindy lebih leluasa bisa melupakannya.
Cindy tidak perlu di hinggapi rasa takut jika pergi ke kantor karena Helmi sudah tidak ada di kantor itu lagi, dia sudah pindah.
Tapi mengapa, Cindy terkejut ketika mendengar kabar berita dari Clara bahwa Helmi akan menikah.
**
"Kamu cemburu, Cindy?" tanya Clara dengan polosnya dia bertanya.
Cindy dengan cepat menggelengkan kepala.
Kemudian Clara memperlihatkan gambar foto seorang wanita yang begitu cantik.
"Cantik ya!" Clara seakan terpesona oleh kecantikan wanita yang berada di foto tersebut, yaitu calon istri dari Helmi.
Dengan cepat Cindy memalingkan mukanya setelah sekilas memandang foto tersebut.
Clara hanya tersenyum terkekeh, dalam hatinya tahu jika Cindy memendam cemburu.
"Pulang kerja kita jalan yu?" Cindy mengajak Clara untuk nongkrong di sebuah Kafe.
"Bukannya ada mertua kamu, di rumah!" tanya Clara.
"Aku sengaja menghindar, aku takut kalau nanti banyak pertanyaan datang dari Ibu mertuaku. Kamu tahu sendiri kan Ibu mertuaku cerewet." Cindy seakan tidak suka jika Ibu mertuanya berkunjung ke rumahnya.
***
Di Rumah,
Ibu Heny, nama dari Ibunya Haris. wataknya sangat cerewet. Agamanya juga sangat kuat, dan sangat disiplin dalam segala hal. Jika kesal, dan kita melakukan kesalahan dia tidak melihat apakah itu Anak atau menantu. Jika salah ya, di salahkan tidak peduli itu sakit hati atau tidak.
Yang penting Ibunya Haris berprinsip, yang dia katakan itu adalah benar.
__ADS_1
"Mbak, Mamanya Rara memang tiap hari pulang malam?" tanya Ibunya Haris, kepada Mbak Eka, Ibunya Haris terlihat mengawali percakapan.
Dengan cepat Mbak Eka menggelengkan kepala lalu dia bilang tidak. Dia tidak mau Ibunya Haris salah paham karena Mbak Eka, tahu jika Ibunya Haris sangat detail jika bertanya dalam segi apapun.
"Mbak, sudah kasih tahu kan Cindy, Mertuanya mau datang, kesini!" tanyanya lagi.
"Sudah, Bu sepuh, tapi Ibunya Rara, ada rapat katanya," Mbak Eka penuh hati-hati ketika berucap.
"Harusnya mertua datang ada di rumah, jangan banyak alasan. Lagian mertuanya juga jarang juga berkunjung kesini!" terlihat Ibunya Haris sangat kesal ketika berucap.
Jantung Mbak Eka, terasa dag-dig-dug tidak karuan. Dia takut di tanya-tanya lagi oleh Ibunya Haris terutama menanyakan soal lelaki yang hinggap kepada Cindy selain Haris.
"Bu sepuh, kebetulan, Reza minta di buatkan bubur kacang manis, saya tinggal dulu sebentar ke dapur," Mbak Eka mencoba untuk berlalu dari hadapan Ibunya Haris.
***
Bu Heny, menelepon Haris,
{"Menantu aneh, masa mertua datang dia malah tidak bisa pulang cepat kerumah!"} Ibunya Haris, seakan kesal. Ketika berbicara di sambungan telepon kepada Haris.
Hati Haris betapa terkejutnya setelah mendengar kabar dari Ibunya, bahwa Cindy tidak bisa menemui Ibunya. Dalam hati Haris di hinggapi rasa kesal juga kecewa terhadap istrinya itu.
"Maafkan Cindy, Bu. Mungkin Cindy sibuk, dan pekerjaan di kantornya tidak ada yang bisa menggantikannya," Haris berusaha menutupi kejelekan sifat dari istrinya di depan Ibunya.
"Anakmu, Reza badannya kurus sekarang, Istrimu tidak pandai mengurusnya. Rara juga terlihat badannya tidak seperti dulu gemuk," Ibunya Haris seakan mengorek kekurangan menantunya itu.
Haris seakan tahu bahwa Ibunya itu sedang memancing emosinya agar Haris meluapkan kekesalan terhadap istrinya. Tapi Haris mencoba menahan rasa kesal kepada Cindy jangan sampai dia bicara kepada Ibunya.
Setelah panjang lebar banyak yang di bicarakan oleh Ibunya Haris, akhirnya Bu Heny, Ibu dari Haris berpamitan untuk pulang.
***
Reza dan Rara di kasih uang jajan oleh Neneknya. Betapa senang hati keduanya karena jumlahnya cukup besar.
Setelah Neneknya berlalu dari hadapan rumah tersebut, begitu terasa ada rasa sepi karena dari kedatangan Neneknya di rumah terasa suasana rumah begitu rame karena sang Nenek cerewet.
Meskipun begitu tapi hati kedua Cucunya sangat senang dan menikmati momen tersebut.
Malam pun kian larut, dan Cindy tiba di rumah tepat pukul sepuluh, Rara dan Reza sudah tertidur lelap sementara Mbak Eka dengan setia menunggu kedatangan sang majikan pulang.
"Mbak, tadi Neneknya Rara pulang jam berapa?" tanya Cindy ketika merebahkan dirinya di Sofa.
"Tadi sehabis maghrib, Bu!" jawab Mbak Eka.
"Cerita apa saja, tadi Ibu Mertuaku?" Cindy dihinggapi rasa penasaran.
"Nggak ada!" Mbak Eka, seakan tidak mau mencampuri urusan rumah tangga majikannya jika di sangkut pautkan dengan Ibunya Haris, takut berkepanjangan ceritanya.
__ADS_1
Cindy pun merasa lega karena dia pikir sekarang dia bisa leluasa di rumah kembali karena Ibu mertuanya sudah tidak ada di rumahnya.