Pengkhianatan Seorang Istri

Pengkhianatan Seorang Istri
Bab: 124 Bonar kesal


__ADS_3

Bram tertabrak mobil.


Bram akhirnya tertabrak mobil truk, dia pun tak sadarkan diri, badannya lemah lunglai tidak berdaya.


Pengendara mobil truk terlihat di hantui rasa takut, dia pun berniat untuk kabur, namun seorang Bapa tua, sontak berteriak.


"Jangan lari kamu, awas! kalau lari aku akan berteriak dan warga nanti akan menyiksamu." ucap sang Bapak tersebut.


Sang supir dihinggapi rasa takut dan bergetar seluruh badannya, karena dia dihinggapi rasa kaget yang sudah menabrak Bram


"Maafkan, maafkan aku, Pak!" ucap sang supir, dia nampak dari wajahnya dihinggapi rasa takut yang teramat.


*****


Bram kemudian di bawa oleh Bapak tersebut, dan sang supir. Kedalam truk mobil. Keduanya nampak kalut karena keadaan Bram, nampak keritis.


Bercucuran darah di kepalanya.


"Cepat angkat lelaki ini, kedalam mobil," ucap sang Bapak. Kemudian warga sekitar datang dan melihat kejadian tersebut karena suara dari Bram tertabrak, begitu keras terdengar.


*****


Sampai di rumah sakit.


Setelah sampaii di rumah sakit, Bram di tangani oleh dokter. Keadaan Bram, sangat kritis. Dia sedang berada di UGD.


*****



Bonar ngamuk.


Bonar menggedor-gedor pintu cukup lama, akhirnya setengah jam kemudian Reynold, baru membuka pintu dengan pandangan kabur karena akibat meminum minuman keras.



"Lama sekali kau! buka pintunya," ucap Bonar.


Pandangan Bonar ke arah ruang belakang cukup lekat, karena di kursi itu, dia tidak menemukan Bram yang sedang duduk.



Bonar sontak berlari ke arah belakang.


Setelah sampai di ruangan belakang dia berteriak.


"Reynold..!" ucapnya histeris.



Reynold terkejut dan dengan cepat dia menghampiri suara Ronal, yang menggelegar itu, Reynold pun di hinggapi rasa khawatir.



"Iya, Bang. Ada apa, pakai acara teriak segala. Kayak di hutan aja!" Reynold terlihat kaget.



"Gimana aku gak mau teriak, tuh lihat. Kemana dia!" telunjuk jari Bonar mengarah ke kursi yang kosong dimana Bram, selalu duduk disana dengan ikatan di kaki dan tangannya.



Reynold sontak pandangannya mengarah ke kamar mandi yang sedang tertutup, dan ada suara gemercik air dari keran air yang berada di kamar mandi tersebut.



"Dia disana Bang?"pandangan Reynold mengarah ke kamar mandi. Kemudian Reynold berjalan ke arah kamar mandi tersebut. Lalu dia membuka kamar mandi secara kasar, dan betapa terkejutnya hati Reynold karena Bram, tidak nampak terlihat disana. Dia mendongakkan kepalanya ke atas jendela kamar mandi tersebut, dan nampak pintu jendela sudah terbuka.



"Bang, si Brengs\*k itu, kabur!" Reynold berteriak histeris.


\*\*\*


Ronal dengan cepat berjalan ke arah kamar mandi, dia pun melihat ruangan kamar mandi dan jendela atas. Nampak jendelanya sudah terbuka.

__ADS_1



Plakk...



Ronal menamp\*r keras, pipi Reynold. Sontak Reynold meringis kesakitan dengan tampar\*n tersebut.


"Kamu bod\*h!" ucapnya.



"Maaf.."jawab Reynold.



"Kamu mengurus satu orang saja tidak becus," Ronal mukanya merah padam memendam kesal dan dadanya bergemuruh begitu cepat.



Dia tidak tahu harus bicara apa kepada Bobby, jika Bobby tahu hal ini, dia akan marah besar dan akan memaki-maki dirinya.



"Shitttt, Sial..!" decak Ronal.



Ronal berlalu sambil menarik tangan Reynold.


"Ayo, bod\*h, kita kejar si Kepar\*t itu!" ucap Ronal. Mereka pun memasuki mobil kemudian Ronal, melajukan mobilnya dengan cepat.


\*\*\*



Pandangan Ronal dan Reynold berselancar di sepanjang jalan. Ronal berpikir Bram, masih di sekitar sana. Jam menunjukkan pukul lima subuh, dan matahari sebentar lagi akan menampakkan sinarnya.




"Kenapa sampai bisa lolos! kamu tidur?" tanya Bonar menatap lekat kepada Reynold.



"Maaf, Bang. Gara-gara Abang kan, aku jadi tertidur pulas, aku minum alkohol. Kepala pusing?" Reynold mencoba membela dirinya sendiri.



"Diam..! banyak alasan kau," Ronal terlihat kesal dan matanya melotot.



Akhirnya Reynold terdiam dan hatinya dihinggapi rasa takut.


Dia juga tidak tahu, jika bertemu dengan Bobby, pasti akan marah besar, ketika mengetahui dirinya tidak becus menunggu Bram, sehingga Bram, kabur.


\*\*\*\*\*



Ting...



Kemudian Pesan pun muncul di layar ponsel milik Ronal. Nampak Bobby memberikan sebuah pesan. Bahwa dirinya akan datang ke tempat, dimana Bram di sekap. Sontak Bonar, terlihat salah tingkah.


Jika Bobby datang kesana Bram, sudah tidak ada. Sedangkan dia bersama Reynold sampai sekarang belum menemukan Bram, entah kemana, mungkin Bobby, akan marah besar. Dan Bonar, tidak membalas pesan tersebut.


\*\*\*



Kemudian Bobby menelepon Bonar, karena pesan dari Bobby tidak dibalasnya. tapi Bonar pun tidak berani mengangkatnya. karena dihinggapi rasa takut. Akhirnya Bobby, menelepon Reynold.

__ADS_1


Reynold menatap mata Bonar, dia seakan mengisyaratkan, telepon dari Bobby angkat jangan.



"Bod\*h, kamu angkat saja. Dan bilang kamu tidak becus menunggu si kepar\*t itu!" ucap Bonar.



"Bang, jangan terus menyalahkan aku. Abang pun kenapa pergi meninggalkan aku untuk bertemu dengan pacar Abang, jadi Bram kabur." Reynold mencoba membela dirinya sendiri.



"Diam..Kau!" Bonar kembali melotot dan memarahi Reynold.


\*\*\*\*\*



Reynold menghela napas secara perlahan, kemudian dia mengangkat sambungan telepon dari Bobby.



"Lagi dimana kalian..!" Bobby terdengar curiga, karena dia menerima telepon dari Reynold, terdengar ada suara seperti sedang melajukan mobil.



"Ka...kami, sedang diluar Bos," jawabnya dengan nada bicara yang terbata-bata.



"Maksud kamu apa? terus kamu sedang bersama si Bram, atau dia di tinggalkan sendiri, disana?" Bobby kembali dihinggapi rasa penasaran.



Kemudian Reynold berbicara kepada Bobby, yang sesungguhnya, bahwa Bram kabur. Reynold pun meminta maaf atas keteledorannya, tidak bisa menjaga Bram.



"Gobl\*k! kalian kenapa tidak becus, mengurus satu orang itu!" Bobby terdengar sangat marah sekali dari nada suaranya.



"Mana, si Bonar?" tanya Bobby.



Kemudian Reynold menyerahkan sambungan teleponnya.kepada Bonar, dan nampak Bonar seperti takut menerima telepon dari Bobby.


Bonar memberhentikan mobilnya, lalu dia menghela napas secara perlahan.



"Iya, Bos. Benar yang di ucapkan oleh Reynold itu, Bram kabur. Tapi kita ini sedang berusaha mencarinya Bos." jawab Bonar terdengar ingin di maafkan oleh Bobby.



"Kalian bod\*h, kamu sedang apa, dan si Reynold juga sedang apa dia? kenapa kalian bisa sampai terkecoh sama lelaki brengs\*k itu, harusnya kalian mikir. Kita susah payah dapatkan si Bram. Nah, sekarang si brengs\*k itu, sekarang lolos dari kita. Pokoknya awas kalau tidak ketemu. Cari sampai dapat!" ucap Bobby terdengar dia sangat marah besar.


\*\*\*\*\*



Nampak Bonar dan Reynold tidak menemukan jejak dari Bram, mereka seakan kesal dan kecewa oleh dirinya sendiri karena mereka telah lalai untuk menjaga Bram.



Jam sudah menunjukkan pukul sembilan pagi, tapi keberadaan Bram, tidak di ketahui oleh kedua orang tersebut.



Bonar nampak menggerutu, rasa lapar dan lelah pun, tidak dirasakannya.



Bonar merasa menyalahkan dirinya sendiri, mengapa dia semalam pergi. Padahal diam saja menunggu Bram, dia terlalu asik bertemu dengan pacarnya di sebuah Bar, dan baru nyampe ke tempat dimana Bram, di sekap. kedatangannya Bonar, ke tempat itu baru saat subuh menjelang.

__ADS_1


__ADS_2