Pengkhianatan Seorang Istri

Pengkhianatan Seorang Istri
Bab: 90 Bagas di hinggapi rasa penasaran


__ADS_3

Desi, mengajak Gisela. Ke rumah Hari.


Setelah Gisela mengulurkan tangannya kepada Bagas. Hari memperhatikan Gisela dengan lekat.


"Teman kamu, lagi sakit ya?" bisik Hari, lekat ke kuping Desi. Karena Hari melihat sosok Gisela terlihat pucat dan lemas.


"Iya, dia baru saja keguguran!" bisik nya pelan.


"Wahhhh....!" mata Hari melotot ke arah perut Gisela temannya, Desi itu.


"Hussszz, diam!" Desi mengedipkan mata.


*****


Kemudian Hari seakan tambah penasaran, di tariknya lengan kekasihnya itu ke arah luar teras.


"Dia, memangnya di ijinkan oleh suaminya main kesini, kan lagi sakit." tanya Hari.


Kemudian Desi menceritakan semua yang terjadi di antara Gisela dan pacarnya' yaitu (Bram) yang sedang ada masalah konflik.


Hari terbelalak matanya, seakan tidak percaya.


****@@@*****


Di dalam rumah.


Gisela dengan telaten menyiapkan makanan.


dia pindahin semua makanan yang di bawa Desi, ke dalam piring. Di bantu oleh ART, yang bekerja di tempat Haris.


Bagas memandang Gisela, dia seakan terpesona dengan Gisela, yang begitu telaten mempersiapkan semuanya.


"Silahkan, Mas. Di makan nasi kebulinya," Gisela tersenyum manis kepada Bagas. Kemudian dia berlalu dari hadapan Bagas, untuk memanggil Desi.


*****


"Des, sudah aku siapkan semuanya," ucapnya. Mengajak Desi dan Hari segera beranjak pindah ke ruang meja makan.


"Aduh, kamu kan, lagi sakit. Harusnya diam saja biar Bibi, yang menyiapkan semuanya," Desi di hinggapi rasa takut. Jika banyak gerak nanti kondisi badannya ngedrop.


"Nggak apa-apa, ko!" jawab Gisela.


kemudian mereka berlalu ke ruang meja makan, untuk makan nasi kebuli dan Bagas pun ikut makan.


***


Terlihat Gisela mengambilkan piring, dan menuangkan nasinya ke piring masing-masing. Semua yang akan makan di meja makan itu.


Bagas sangat tertarik dengan cara Gisela berbuat seperti itu.


Dulu perlakuan Cintya seperti itu, penuh telaten memperlakukan Bagas sang suami. Tapi seiring waktu berjalan semenjak sakitnya Cindy, perlakuan dan perhatian Cintya sudah tidak ada lagi.


"Ah, mikir apa aku ini!" Bagas seakan berhalusinasi.


Mereka sangat menikmati nasi kebuli yang di masak oleh Desi. Saking enaknya, yang terdengar hanya ada suara sendok dan garpu yang beradu.


*****


"Mas, enak nggak nasinya?" tanya Desi, melirik Hari dan Bagas.


"Enak.." serentak mereka berucap.


"Ayo, Gisela. Tambah lagi nasinya," ucap Hari.


Gisela seakan malu-malu, dan terlihat dia memegang perut terus, seakan menahan rasa sakit.


Bagas di hinggapi rasa penasaran.

__ADS_1


"Kenapa, perutnya, maaf!" tanya Bagas, seakan di hinggapi rasa khawatir.


"Gak apa-apa," tersenyum tipis Gisela, terhadap Bagas.


"Oh,'' ucapan singkat, yang terlontar dari Bagas.


****@@@****


Acara makan sudah selesai.


Desi dan Gisela sedang melihat layar televisi, mereka seakan asik menikmati acara musik yang di siarkan langsung.


Sementara para lelaki sedang berada di teras rumah, menikmati ngebul nya, kopi hitam.


"Gisela, kenapa tadi memegang perutnya, seakan menahan rasa sakit!" Bagas, memulai pembicaraan kepada Hari.


Lalu mata Hari, melirik ke dalam takut tiba-tiba Desi atau Gisela, muncul datang.


Setelah semuanya aman, lalu Hari menceritakan semuanya, apa yang terjadi yang menimpa Gisela.


"Waduh, kasian," Bagas menatap Gisela dari jauh.


"Iya, brengsek, tuh lelaki!" Hari pun terlihat kesal penuh emosi.


"Tapi, aku seakan sudah tidak asing lagi, dengan nama, Bram! tadi kamu bilang nama lelakinya Bram, benar?" tanya Bagas kepada Hari.


"Ya, Bram!" jawab Hari.


*****


Bagas mengingat-ingat nama Bram yang pernah dia dengar. Tapi kapan dan dimana?


"Ya, aku ingat. Nama selingkuhan Cindy bernama Bram, apakah dia orangnya?" dalam Hati Bagas berbisik, dan Bagas pun mengernyitkan dahi.


Nama Bram, banyak. Tidak mungkin Bram yang di maksud, itu adalah Bram selingkuhan dari Cindy.


Lagi-lagi Bram berpikir keras.


Sementara Gisela, sedang mengusap-ngusap perutnya.


"Tidur saja, di Sofa. Biar rileks," ucap Desi, sambil memberikan bantal ke arah Gisela.


"Dari tadi Bram, menelepon," Gisela menunjukkan, layar ponselnya kepada Desi. Panggilan tidak terjawab disana, sungguh banyak sekali.


"Angkat saja, bilang uang untuk berobat tidak cukup! Hahahaha.." Desi tertawa terbahak.


Mendengar suara Desi, tertawa terbahak. Hari di hingga rasa penasaran.


"Ada apa!" teriaknya, matanya menatap dari jauh ke arah Desi.


*****


Desi melangkahkan kakinya ke arah Hari dan Bagas, dimana dia sedang duduk di teras. Sambil tertawa tak henti.


"Ada apa, sih!' Hari di hinggapi rasa penasaran.


"Itu loh, pacarnya Gisela katanya, menelepon terus. Ya, aku bilang, porotin aja duitnya! Hahahaha..." Desi kembali tertawa seakan mengejek.


"Jangan gitu, gak baik," Hari mengedipkan matanya.


*****


"Non, ini teh manisnya, simpan dimana. Mau disini atau disana!' sang ART, berteriak halus kepada Desi.


"Di sana, Mbak. bentar lagi, aku kesana," jawabnya.


"Ayo, temani lagi Gisela, kasian sendiri," ucap Hari, menyuruh Desi agar menemani Gisela, yang sedang sibuk memainkan ponselnya.

__ADS_1


Desi pun berlalu dari hadapan Hari.


***@@@***


Terlihat Bagas, meneguk Kopi hitam yang masih ngebul begitu nikmat. Kemudian dia menatap Hari.


" Pacarnya Gisela, yang bernama Bram loyal ya?" tanya Bagas kepada Hari.


"Ya, katanya kemarin saja di kasih seratus juta, untuk perutnya, saja." Hari tertawa terkekeh.


Bagas tertegun mendengar omongan Hari.


****"


"Nah, Bagas, selingkuhan Cindy, royal juga. Dulu Cintya pernah cerita. Apakah Bram, yang di maksud adalah, Bram selingkuhan Cindy?" gumam hati Bagas.


Ini menjadi teka-teki besar dalam benak pikirannya.


*****


"Kenapa kamu!" Hari menepuk pundak Bagas. Yang terlihat seakan bingung dan serius dalam berpikir.


"Aku lagi membayangkan Bram, pacarnya Gisela, jangan-jangan Bram, yang di maksud adalah selingkuhan Cindy, Kakaknya istriku!" Bagas seakan yakin, Bram yang di maksud adalah Bram, selingkuhannya Cindy.


"Terus kalau Iya, mau apa?" tanya Hari.


"Akan aku kasih pelajaran dia?" seakan penuh emosi Bagas, berucap.


"Coba nanti kita lihat fotonya, Bram. Aku juga jadi penasaran," ucap Hari.


***@@@****


Desi dan Gisela sangat asik ngobrol.


"Sudah kamu WhatsApp, pacarmu?'" tanya Desi, kepada Gisela.


"Belum, tadi ceklis satu. Mungkin tidak aktif ponselnya," Gisela tetap dengan pandangan ke arah ponselnya.


"Lelaki seperti itu harus di beri pelajaran, biar kapok!" Desi terlihat emosi.


Gisela menganggukkan kepalanya.


"Porotin dulu duitnya, sudah itu tinggalkan saja!" Desi kembali memanasi hati temannya itu, biar dadanya panas.


"Apaan, sih! jangan dengarkan temanmu ini,' tiba-tiba Hari datang dari arah depan.


Di ikuti dari belakang oleh Bagas.


Desi tertawa terkekeh.


"Aku penasaran, coba lihat fotonya, Bram." Hari penasaran kepada sosok Bram.


Kemudian Gisela, membuka galerinya, dan memperlihatkan foto Bram.


"Gagah ya, coba lihat Bagas. Kamu kalah deh, gantengnya," ucap Hari.


Hari sengaja berkata begitu, agar Bagas melihat foto tersebut.


"Wah, ganteng ya!" Bagas pun, manatap lekat foto tersebut.


Dia akan berusaha mengingat sosok Bagas, agar tidak lupa, yang nantinya akan melihat kembali foto Bram, dari Cindy.


Apakah sama sosok Bram, yang dia lihat sekarang. Seperti nanti dia akan lihat dari Cindy.


Meskipun dia sangat kesal dengan Cindy, tapi rasa perhatian dia dan peduli masih ada kepada Kakak, istrinya itu.


Bagas membuang napas secara perlahan

__ADS_1


"Aku mau pulang ya," tiba-tiba teringat istrinya. yang sudah seminggu dia tinggal.


Bagas, berpamitan kepada semua yang ada disana.


__ADS_2