
Sepulang dari Mall, Cindy nampak kecewa kekesalannya terhadap Helmi seakan dia tumpahkan kepada Rara.
Anaknya jadi sasaran, Rara yang melakukan kesalahan sepele karena menumpahkan air di dalam gelas, akibatnya gelas pecah, dan Rara jadi kena omel Mamanya.
"Makannya kalau ambil air di kulkas yang benar, jangan teledor!" Cindy berucap kesal.
Mbak Eka ketika melihat Rara di marahin Cindy, dia seakan iba lalu Mbak Eka menghampiri Rara dan memeluknya.
Pecahan gelas yang berserakan di bawah lantai lalu di ambil Mbak Eka, dan di bersihkan nya.
"Sudah tidak apa-apa, Mama lagi pusing, jadi Rara harap maklum saja!" Mbak Eka mencoba menyabarkan Anak majikannya itu.
***
Cindy merebahkan badannya di Sofa lalu dia memejamkan mata. Entah mengapa bayangan Helmi bersama kekasihnya seakan hadir dalam bayangannya.
Amelia yang cantik dan terlihat muda membuat Cindy iri, dan tentu saja dia berpikir.
Helmi berpaling darinya karena ada wanita yang lebih darinya dari segi materi maupun fisik.
Tiba-tiba pesan muncul ke ponselnya Cindy.
"Cindy, maafkan aku, bukan maksud aku tidak mau menyapa kamu waktu tadi di Mall, tapi aku tahu diri, lihat situasi dan kondisi. Ada calon istriku dan juga Anakmu!" pengirim Helmi.
Cindy, terdiam seakan tidak mampu untuk membalas pesan dari Helmi, hanya air mata yang bisa menjawab semua.
***
Terdengar dari dalam kamar Rara sedang menelepon Haris, dia mengadu kepada Papanya.
"Pah, Mama marah terus!" Rara seakan ingin dibela oleh Papanya.
"Mungkin Rara nya nakal, jadi Mama marah!" ucap Haris.
"Papa, kapan pulang?" tanya Rara, dihinggapi rasa rindu yang teramat kepada Papanya.
"Papa, sibuk, Sayang!" Haris mencoba menenangkan hati Anaknya itu.
"Mana, Mbak Eka?" Haris menanyakan Mbak Eka kepada Rara
Mbak Eka pun menerima sambungan telepon dari Haris.
"Mbak, kenapa Ibu? ada masalah lagi!" Haris seakan penasaran.
"Kayaknya Ibu sedang ada masalah. Dia bilang lagi pusing!" Mbak Eka bicara sangat pelan takut Cindy mendengarnya.
Haris pun menutup sambungan teleponnya, lalu dia menghubungi Cindy.
Melihat suaminya menelepon, Cindy tidak mau mengangkat ponselnya.
***
Haris pun tidak mau ambil pusing, dia lalu iseng memberikan pesan kepada Friska.
"Assalamualaikum," Haris memberikan salam di awal chat nya. Hatinya dag-dig-dug karena takut ketika Haris memberikan pesan, Friska sedang sibuk.
Tanpa menunggu lama, langsung Friska membalas salam dari Haris.
"Wa'alaikumsalam,"
Sontak Haris merasa gembira dalam hatinya, karena Friska menyambut pesannya.
"Ada yang bisa di bantu, Pak Haris?" Friska membalas pesan dengan di tambah emotion tersipu malu.
"Maaf, jika mengganggu!" ucap Haris kembali, penuh basa-basi.
***
Obrolan antara Haris dan dan Friska pun menjurus ke masalah pribadi. Ternyata Friska seorang janda, suaminya meninggal tiga tahun lalu. Anak Friska satu seorang perempuan kelas tiga SMA.
__ADS_1
"Aku turut prihatin!" ucap Haris lirih.
"Mungkin sudah suratan takdir, Aku pun tidak menyangka sang pencipta dengan cepat mengambil suamiku," terdengar Friska sangat sedih sekali ketika berucap.
"Aku jadi tidak enak, kamu jadi teringat kembali kepada suamimu. maafkan aku!" Haris seakan menyesali diri, seharusnya dia jangan bertanya masalah pribadinya.
"Tidak apa-apa, kamu tidak salah!" jawab Friska.
"Kapan kamu datang lagi ke Kafe aku?" tanya Haris.
"Gratis ya?" Friska menggoda.
"Ya, gratis, pesan makanan sesukamu!" jawab Haris.
"Aku boleh menebak!" Friska kembali menggoda Haris.
"Apa?" jawab Haris.
"Kamu lagi ada masalah pribadi ya?" tanya Friska sambil menambahkan emotion 🤭🙏
Haris membalas hanya dengan emotion senyuman.
***
Keesokan harinya Friska datang ke Kafe Haris. Friska terlihat cantik dan rapih sekali memakai baju berwarna putih, dengan kerudung yang senada pula.
"Ibu geulis, dongkap deui kadie!" ucap Fani.
(Ibu cantik, datang lagi kesini!").
Fani menyambut Friska dengan tersenyum sumringah.
"Bapak, aya Neng, atanapi nuju sibuk?" Friska menanyakan kepada Fani. Haris ada atau lagi sibuk?
"Bapak, nuju rapat sakedap!" Bapak lagi rapat sebentar! jawab Fani.
Friska pun mengeluarkan laptopnya, sebelumnya Friska memesan kopi panas dan pisang goreng kriuk kepada Fani sang pelayan toko.
***
"Bu Friska, apa kabar, sehat?" Haris mengulurkan tangannya, dan di sambut oleh Friska dengan senyuman pula.
"Gimana, Pak Haris ada yang bisa saya bantu!" canda Friska tertawa terkekeh.
"Kamu ya, dari dulu tetap saja suka meledek aku!" Haris tersipu malu.
Friska pun tertawa lebar dengan lesung pipinya yang menawan.
Ngobrol dengan Friska terasa asik seakan tida ada habisnya. Friska sangat cerdas ketika berbicara terlihat dari bola matanya seakan hidup ketika berbicara.
Haris pun bercerita masalah pribadinya. Kali ini matanya berkaca-kaca, Haris baru kali ini bercerita masalah pribadinya kepada temannya mungkin karena Friska seorang psikolog jadi sedikitnya, Friska dapat meringankan beban pikiran Haris.
***
"Jadi, istrimu mengulangi hal yang sama, berselingkuh kembali dengan lelaki yang bernama Helmi!" Friska matanya terbelalak.
"Hus..! jangan kencang-kencang ngomongnya!" bola mata Haris berselancar mengelilingi situasi sekitar Kafe.
Hus...? ( emangnya kucing?) 🤣😂
"Aduh, ini Haris masih terlihat lugu juga!"
Terasa menggelitik ke kuping Friska melihat tingkah laku temannya itu.
"Kamu aneh, malah mentertawakan ku!" Haris cemberut.
"Bukan tertawa, hanya lucu melihat teman kelakuannya sama seperti dulu!" Friska tersipu malu.
"Jadi, kamu anggap aku Oon, ya?" Haris tertawa terkekeh.
__ADS_1
"Oon, kata itu aku baru dengar kembali, setelah sekian lama! dari sejak zaman kuliah dulu! " 🤣😂
Friska kembali tertawa lebar.
"Serius dong!" Haris kali ini seakan malu ketika berhadapan dengan Friska yang berwawasan luas.
"Jangan gugup! kita santai saja. Biar otak engga panik!" Friska tersenyum ✌️🙏😊
Kemudian Haris memperlihatkan foto keluarganya.
Friska menatap lekat foto Cindy.
"Istrimu kelihatannya orang alim ya? aku jadi enggak percaya kalau dia berselingkuh," Friska menatap lekat foto tersebut.
Haris hanya terdiam dan membuang napas secara perlahan.
"Kamu ko, bisa bertahan dengan istrimu yang terus menerus berselingkuh. Kamu tidak cerai sama istrimu!" Friska terlihat mengkhawatirkan keadaan psikis dari temannya itu.
"Aku bertahan demi Anak,!" ucap Haris. Raut muka Haris menunduk, dan terlihat sedih.
"Demi Anak? tapi Anakmu selalu mendengar orang tuanya bertengkar!" Friska kembali bertanya.
"Ya, aku selama ini sabar saja!" Haris mencoba terlihat sabar di hadapan Friska.
Friska menatap Haris dan memperhatikan gestur tubuh temannya itu.
"Kamu menyembunyikan sesuatu, sebenarnya kamu terluka dan hati kamu tersayat!" Friska seakan tahu isi hati sahabatnya itu.
Haris tertunduk malu ketika Friska seakan tahu isi hatinya.
"Kalau menurut aku, jika seseorang terus menerus melakukan perselingkuhan dia itu mengalami gangguan mental!" Friska seakan mencoba mengingatkan Haris agar bersikap hati-hati, dan waspada terhadap istrinya.
Dalam benak Haris mungkin tahu, bahwa istrinya mengalami gangguan mental tapi dia seakan tidak bisa bertindak apapun karena yang dipikirkan hanyalah Anak-anaknya, dan keluarga besarnya.
Jika terjadi perceraian dia tidak tahu harus bicara apa sama keluarga besarnya. Haris belum siap untuk semua itu.
Mata Haris berkaca-kaca,
"Maaf, bukannya aku ikut campur terlalu dalam masalah keluargamu!" Friska merasa terlalu menggebu ketika berucap.
"Enggak apa-apa, Aku mengerti profesi kamu, jadi aku maklum kalau akhirnya kamu berbicara terlihat sangat menguasai semua," Haris tersenyum seakan ada luka disana.
"Sabar ya!" Friska menepuk pundak Haris, dan terlihat matanya berkaca-kaca. Dia prihatin kepada Haris.
Melihat temannya terlihat sedih dengan keadaannya, dalam hati Haris seakan di hinggapi rasa ada yang memperdulikannya.
"Terima kasih Friska, aku merasa tidak hidup sendiri saat ini. Tapi aku mencoba membuka lebar ternyata ada teman yang masih peduli dengan keadaanku!" Haris terlihat terharu 🙏
Friska tersenyum seakan menguatkan temannya itu
"Kamu harus sabar, bangkit dan bisa melawan itu semua!".
***
"Aku sekarang tinggal bersama Ibuku lagi, kamu kapan-kapan bisa main ke rumah. Ibuku senang rasanya bisa bertemu dengan Haris lagi, dulu kan kamu selalu di semangati oleh Ibuku!" Friska mencoba mengingatkan kejadian dulu ketika zaman kuliah, Ibunya Friska selalu menyemangati Haris kalau di buli teman kampusnya.
Haris tersenyum nampak dia tersipu malu, jika mengingat kejadian dulu masa-masa kuliah, dia ingin rasanya tertawa sendiri karena teman-temannya seakan tidak memperdulikannya. Haris sering di buli karena sifatnya yang pendiam tidak banyak kata dan sabar.
"Kapan rencana kamu pulang ke Bogor?" tanya Friska sambil menyeruput kopi panasnya.
Haris hanya tertunduk diam,
Friska pun seakan tahu perasaan temannya itu. Haris sedang tidak mau ditanya masalah kapan dia kembali pulang. Lalu Friska membicarakan topik lain.
"Ouhya, gimana Kafe disini, jika malam katanya selalu rame ya? ini kan lokasi strategis dekat kampus juga!" kali ini Friska bertanya seakan membangkitkan semangat Haris.
Haris pun dengan antusias menceritakan keadaan Kafe nya, yang cukup rame di kunjungi.
########
__ADS_1
Terima kasih yang sudah like karya saya 🥰🥰🙏🙏
Semoga dilimpahkan rezeki dan sehat selalu. Aamiin 🤲❤️