
Friska sakit karena terjatuh.
Sementara keadaan di rumah Friska terlihat banyak orang. Semua keluarga kumpul, melihat Friska yang sedang terkujur lemah tidak berdaya di kasur dan meringis.
"Gimana atuh, ini pengantin sakit," ucap saudara Friska yang baru saja datang dari kampung.
Saudara tersebut membawa oleh-oleh sangat banyak sekali.
"Bi, meni seueur cacandakan, ngarepotken." ucap Ibunya Friska yang menegur sang Bibi atau Tante, yang membawa oleh-oleh dari kampung begitu banyak.
"Wios, kan di bumi seueur wargi," tidak apa-apa, ucap sang Tante karena di rumah Friska banyak saudara.
*****
Friska merasa senang karena saudara-saudaranya, yang jauh sangat peduli terhadapnya. Ketika mengetahui dia sakit langsung dengan cepat menengoknya.
Terlihat Haris sangat khawatir melihat kondisi dari calon istrinya itu
"Gimana sayang, sekarang sudah bisa di gerakkan kakinya?" tanya Haris menatap lekat kepada Friska dan membelai rambutnya.
"Sudah tapi masih terasa ngilu," jawabnya, meringis sakit.
"Takutnya pas hari pernikahan tiba, kakinya tidak kuat untuk berjalan," ucap Haris.
"Semoga cepat pulih, Nak Haris. Doakan saja," ucap sang Ibu.
Haris pun menganggukkan kepalanya.
*****
Hari pernikahan Friska tinggal menghitung hari, nampak di rumahnya sudah penuh dengan persiapan, walaupun acara akan di gelar diluar tidak di rumah, tapi karena Friska, berasal dari keluarga besar jadi otomatis persiapan untuk menuju pernikahan harus di persiapkan semaksimal mungkin.
Nampak Wisnu pun hadir disana, menemani Haris datang ke rumah Friska.
Sisil anak dari Wisnu terlihat datang juga, dia terlihat akrab bercengkrama dengan Zhira.
"Tante, lusa ada acara fashion show lagi, Tante temani Sisil lagi ya?" Sisil berharap Zhira menemaninya hadir. Zhira hanya tersenyum dan menganggukkan kepalanya.
Entah mengapa perasaan Zhira, seakan tidak karuan, dag-dig-dug terasa. Entah mengapa dia teringat mantan mertuanya itu.
Hubungan dia dengan Bram, sangat tidak baik tapi dengan sang mantan Ibu mertuanya, tidak ada masalah dengannya.
Bayangan Ibu mertuanya seakan nyata terlihat nampak olehnya.
"Entah mengapa aku teringat mantan Ibu mertuaku, sekelebat dia hadir pandangannya tertunduk dan terlihat sedih," gumam hati Zhira.
"Kenapa Sayang?" tanya Wisnu menatap kekasihnya itu.
"Aku teringat mantan Ibu mertua Mas, entah mengapa!" terlihat Zhira seperti orang yang dihantui rasa khawatir yang teramat.
"Kamu telepon saja Sayang, nggak apa-apa ko. Silaturahmi penting, Ibunya Bram, kan tidak ada masalah dengan kamu," ucap Wisnu seakan memberi peluang kepada kekasihnya itu, untuk mencoba menelepon mantan Ibu mertuanya.
Zhira menatap lekat kepada Wisnu.
"Nggak apa-apa, Mas?" tanya Zhira, dari raut mukanya seakan memelas.
__ADS_1
Wisnu menggelengkan kepalanya, pertanda tidak.ada masalah.
Zhira pamit ke kamar untuk menelepon mantan Ibu mertuanya itu.
Setelah berada di kamar, lalu Zhira mencoba menghubungi Ibunya Bram.
*****
Setelah telepon selularnya tersambung, lalu Zhira mencoba menanyakan kabar Ibunya Bram, saat ini.
{"Ibu senang sekali kamu bisa menghubungi Ibu Nak, meskipun kamu sudah tidak lagi bersama Bram. Kamu anak baik tidak ada rasa dendam sedikitpun. Ibu sedang sakit memikirkan Bram!"} ucap Ibu dengan nada suara parau.
Zhira terdiam sejenak, dalam hatinya berpikir ada apa gerangan dengan Ibunya Bram. Sampai dia sakit memikirkan Bram. Kan anaknya itu punya power, tidak mengeluh soal uang berkecukupan.
Zhira seakan di hinggapi rasa ingin bertanya dalam hatinya untuk lebih tahu tentang Bram, karena sampai mantan Ibu mertuanya sakit.
{"Ada apa dengan Bram, Bu?"} tanya Zhira.
{"Sudah tidak pulang tiga hari ini, ponselnya juga tidak aktif!"} jawab Ibu, ketika berbicara terdengar sangat sedih.
*****
Zhira agak sedikit terkejut mendengar apa yang baru saja di sampaikan oleh Ibunya Bram.
Tapi Zhira tidak mau semakin dalam mencampuri urusan tentang Bram lagi. Cukup sudah penderitaannya dari Bram terdahulu.
{"Yang sabar, nanti juga pulang. Yang penting Ibu sekarang istirahat dulu!' ucap Zhira.
Akhirnya Sambungan telepon dari Ibunya Bram dia tutup.
****"
"Ada-ada aja, selalu ada masalah. Kasihan sama ibunya, udah tua, anaknya belum sadar, tetap seperti dahulu keluyuran dan mainin perasaan wanita." gumam hati Zhira.
*****
Zhira kemudian keluar dari kamarnya, lalu dia menceritakan semua kepada Wisnu apa yang terjadi dengan Ibunya Bram.
"Loh, Bram nya, kemana?" tanya Wisnu.
"Entahlah," jawab Zhira, dengan menggelengkan kepalanya.
Wisnu pun tidak mau mempermasalahkan masalah itu.
*****
Malam semakin larut, Haris dan Wisnu pun pamit untuk pulang. Sementara Sisil ingin menginap di rumah Friska, menemani Zhira tidur disana.
Nampak kondisi Friska sangat lelah, padahal baru sakit tiga hari. Badannya agak menyurut, napsu makan pun kurang.
"Pokoknya jangan sampai jadi nge-drop badannya, harus di doping dengan multivitamin. Besok aku belikan ya, sambil aku mengantarkan Sisil, anaknya Mas Wisnu pulang," ucap Zhira ketika melihat kondisi Friska di dalam kamarnya.
Ibu pun menyarankan hal yang sama agar anaknya itu segera pulih.
"Jangan banyak pikiran Nak," ucap Ibu.
__ADS_1
"Pikiran apa Bu? Ibu ini aneh-aneh saja!" jawab Friska terlihat sedikit cemberut.
"Ya, itu sampai jatuh berarti kurang fokus ketika berjalan, kamu lagi ngelamun," sambung Ibunya Friska.
"Mungkin licin Bu," Zhira mencoba membela saudaranya itu.
*****
Friska anak yang di sayangi dan di manja oleh Ibunya. Jadi ketika anaknya sakit, rasa khawatir terhadap anaknya begitu dalam.
Apalagi sekarang mau melepas masa sendiri dan nanti akan meninggalkan Ibunya, keluar dari rumah itu. Jadi rasa kangen di tumpahkan dari sekarang oleh ibunya tersebut.
*****
Menjelang subuh Zhira tidak bisa memejamkan matanya, dari semalam dia teringat Ibunya Bram, yang sedang khawatir memikirkan anaknya yang hilang.
Teringat dulu ketika dia, masih hidup bersama Bram. Sang suami pergi berhari-hari dan ponsel tidak aktif itu karena sedang bersama Cindy.
Zhira berpikir, apakah kembali pada Cindy?
kemudian Zhira tertawa sinis.
Apa mungkin kembali dengan Cindy, toh keadaan Cindy sedang sakit dan lumpuh, mana mungkin dia mau kepada Cindy. Level Bram mungkin tidak seperti itu.
Dia menginginkan wanita modis suka berdandan, sementara Cindy, hanya terbaring lemah tidak berdaya di kursi roda.
Tapi.... mungkin juga Cindy, sudah sembuh? Toh, selama ini dia tidak pernah menanyakan kondisi keadaannya kepada Haris.
Zhira berpikir sangat serius, bukannya dia peduli dan mengingat kembali sosok Bram, dan berusaha melupakan Wisnu. Tapi dia hanya peduli dengan mantan Ibu mertuanya, yang dulu peduli terhadap dia. Walaupun dulu sempat terjadi perselisihan di antara mereka, tapi itu wajar namanya juga orang tua selalu menginginkan anaknya, bahagia dan hubungan awet tidak bertengkar.
Kemudian Zhira memijit ponsel selularnya dan dia membuka layar ponsel ke aplikasi WhatsApp.
Lalu dia klik nama Haris disana, terlihat Haris nampak online atau sedang aktif ponselnya.
Tanpa pikir panjang kemudian Zhira, memberikan pesan kepada Haris, dan menanyakan kabar dari Cindy.
{"Cindy, masih sakit kalau tidak salah, aku dengar kabar beritanya dari adiknya, Cintya. Tapi kabar tersebut aku mendengarnya sudah dua bulan yang lalu. Dari sana tidak ada kontak sama sekali. Memang kenapa Zhira?" Haris merasa heran dengan tiba-tiba Zhira menanyakan kabar dari Cindy.
Dan anehnya keadaan matahari belum terbit atau masih belum pagi. Mengapa tidak menanyakan hal tersebut malam saja, bukannya Zhira bertemu Haris saat malam tadi di rumah Zhira.
Kemudian Zhira menceritakan semua yang terjadi, bagaimana kondisi ibunya Bram, saat ini. Yang merasa kehilangan anaknya.
Dan Zhira menyangka Bram akan kembali kepada Cindy. Karena dulu pernah terjadi ketika masih ada hubungan dengan Cindy.
{"Nggak..nggak, mungkin. Cindy sakit, dia tidak mungkin bertemu Bram. Jalan saja masih pakai kursi roda!"}ucap Haris.
Zhira pun seakan terbuka pikirannya,
{"Iya juga,"} jawabnya.
Kemudian Zhira bertanya kepada Haris soal anak-anak Haris. Apakah masih suka bertemu Ibunya? Dengan cepat Haris, berucap tidak sama sekali.
{"Harusnya jangan egois, karena bagaimanapun dia adalah Ibunya, mungkin saja Ibunya ingin bertemu tapi dia tidak berdaya dengan keadaan sekarang. Karena keadaan sedang tidak stabil."} Zhira seakan menggurui Haris.
Haris hanya menghela napas panjang.
__ADS_1
{"Nanti rencananya selepas acara aku beres dengan Friska. Karena untuk mengantarkan anak-anak bertemu dengan Mamanya, untuk sekarang tidak ada waktu, sangat sibuk,"} ucap Haris.
Setelah panjang lebar mereka bercerita, kemudian Zhira menutup sambungan teleponnya.