
Bram di ruang pasien.
Setelah seminggu lebih Bram berada di Rumah Sakit, akhirnya Bram siuman, dia memanggil-manggil nama Ibunya.
Kemudian sang Ibu menggenggam erat tangan sang anak.
"Aku dimana ini!" ucap Bram pandangannya gelap gulita
Bram sedang di perban matanya, sang Ibu terlihat sangat menghkawatirkan keadaan anaknya tersebut. Karena dokter tadi bilang, kemungkinan Bram akan mengalami kebutaan matanya, karena benturan dari mobil truk begitu keras dan akibat selalu minum minuman yang berakohol yang berlebihan, akan mengakibatkan penglihatannya jadi kabur dan akhirnya bisa mengalami kebutaan.
"Minum alkohol yang berjangka biasanya memburuk lama, dan akan mengakibatkan kebutaan. Metabolisme tubuh akan melambat dan penglihatan seiring bertambahnya usia ini menyebabkan saraf penglihatan akan melemah," ucapan dokter terus terngiang di benak sang Ibu.
"Kamu di rumah sakit Nak, ini Ibu," ucap sang Ibu terisak tangis. Ibu menatap lekat sang Anak.
"Ada apa denganku Bu?" tanya, Bram. Seperti dihinggapi rasa heran dan seakan lupa atas semua yang terjadi.
"Kamu mengalami kecelakaan Nak," sang Ibu mencoba menyabarkan hati anaknya, dengan cara mengelus-elus kepala rambut sang anak tersebut, penuh perhatian dia melakukannya.
Bram mengingat kejadian dimana dia tertabrak truk, begitu keras kepalanya terbentur mobil tersebut. Dia teringat kembali ketika dia berusaha berlari agar tidak di ketahui oleh Bonar dan Reynold, karena dia di sekap. Bayangan-bayangan ketika dia di siksa pun muncul berdatangan. Wajah Bram, seakan dihinggapi rasa takut yang teramat
**
"Tidak...!" Bram, berteriak histeris. Matanya dia tutup dengan kedua telapak tangannya. Dia seakan ketakutan mengingat masa itu, dimana dia di sekap saat itu oleh suruhan Bobby.
"Nak, tenang," ucap sang Ibu.
Dipeluk erat anaknya itu, air mata Ibunya seakan tidak tertahan untuk mengalir deras menetes ke pipi.
***
Sang dokter datang.
"Kita buka perbannya," ucap sang dokter, ketika memasuki ruangan pasien yang didalamnya ada Bram.
Sang Ibu menganggukkan kepalanya, dan berharap cemas. Jantung Ibu terasa berdetak lebih cepat, begitupun dengan sang Bapak, dihinggapi rasa khawatir yang teramat.
"Dok, nggak apa-apa kan dengan mataku?" tanya Bram, karena matanya terasa berat dan kepalanya terasa pusing.
"Kita berdoa saja, semoga ada keajaiban," ucap sang dokter.
Secara perlahan sang dokter membuka perban yang menempel di matanya Bram.
***
Setelah perban terbuka.
Bram membuka matanya secara perlahan, nampak tidak terlihat apapun disekitarnya, lalu Bram membuka lebar matanya dan mengucek-ngucek kedua matanya, dengan tangannya. Tetap saja tidak nampak terlihat apapun disana.
Lalu dia memanggil Ibunya.
"Bu.. Bu, Ibu dimana?" ucap Bram, tangannya berselancar di sekitar tempat dia terbaring.
__ADS_1
"Ini Nak, Ibu di depanmu, Ibu kemudian mendekap sang anak dengan erat.
"Bu, kenapa aku tidak bisa melihat," ucap Bram. "Dok, kenapa dengan mataku!" sambung lagi Bram.
Dokter menatap Ibunya Bram, dia menghela napas panjang.
"Bram yang sabar ya, ka..kamu. Mata kamu buta," ucap dokter lirih.
"Tidak...tidak, dokter tidak sedang bercanda kan, pasti ini salah. Bram terus mengucek-ngucek matanya.
"Nak, yang sabar ya," Ibunya Bram, terisak tangis. Begitupun dengan Bapaknya Bram, seakan tidak bisa membendung air mata yang tertahan.
***
Bram menangis sesunggukkan, dia menyadari bahwa matanya sekarang sudah tidak berfungsi normal kembali untuk melihat seperti sedia kala.
Teringat masa-masa dahulu, dia bisa melihat wanita-wanita cantik dan dia bisa memilih wanita manapun yang dia mau, dan dia bebas pergi ke Bar, dengan melihat wanita penggoda disana. Dia menangis. Kini badannya terasa lemas dan lelah.
Pandangan kini kabur tidak nampak keindahan dunia, yang terlihat olehnya.
Bram *******- ***** rambutnya sendiri,
dia berontak, dia seakan menyesali dirinya sendiri. Sorot mata tajam tapi tetap tidak nampak terlihat apapun olehnya, yang terlihat hanyalah warna hitam yang pekat.
Dokter membisikkan sesuatu kepada sang suster. Kemudian sang suster memberikan obat kepada Bram agar beristirahat.
***
Bapak dan Ibu keluar dari ruangan Bram, karena Bram sedang tertidur setelah diberikan obat oleh suster.
Bapaknya Bram nampak termenung.
Dia nampak sedang memikirkan sesuatu.
"Bu, sebaiknya jangan bilang dahulu kepada Bram, kalau usahanya ada yang menipu dan sekarang akan mengalami kebangkrutan," ucap sang Bapak.
Bapaknya Bram teringat masa lalu, dimana dia juga terkena tipu orang, ketika dia melakukan perselingkuhan terhadap istrinya.
"Apa mungkin ini karma?" tanya dalam hatinya.
Sang Bapak nampak terlihat mengelus-elus dadanya, seakan mencoba legowo dan tenang. Dia menerima kenyataan yang harus dihadapi terhadap anaknya itu
"Nggak lah, Pak. Justru Ibu menjaga perasaan Bram," sang Ibu begitu sedih.
Dalam benaknya sama berpikir, seperti suaminya. "Apa yang menimpa atas anaknya sekarang, sama seperti Bapaknya dulu,"
"Bu,maafkan aku," sang suami matanya berkaca-kaca. Sang istri tidak tahu apa maksud dari kata maaf yang terucap dari mulut sang suami.
Apa mungkin suaminya merasa banyak kesalahan yang dilakukannya dulu kepada istrinya dan sekarang sama menimpa terhadap sang anak.
__ADS_1
Ibu seakan tidak bisa berkata apapun, dia menangis terisak.
***
Bram pun pulang ke rumah.
Bram berjalan digandeng oleh sang Ibu memasuki kamarnya. sang Ibu terlihat begitu pilu melihat keadaan sang anak.
"Bram bisa sendiri Bu," ucapnya, lalu dia melepaskan genggaman tangan Ibunya.
Baru beberapa Langkah.
Brukk...
Dia terjatuh, otomatis badannya terjatuh tepat di depan kursi dan kepalanya tersungkur ke ujung kursi, terlihat Bram meringis menahan sakit. Kepalanya terasa sakit.
"Nak, kamu belum paham betul situasi yang berada di sekitar rumah, makannya Ibu bantu untuk berjalan," ucap sang Ibu, dihinggapi rasa khawatir dan sedih melihat kondisi sang anak seperti sekarang ini.
Sang Bapak kemudian membantu Bram untuk kembali berdiri lagi.
"Ayo, dibantu sama Bapak," ucap sang Bapak.
Bram melepaskan tangan Bapaknya itu.
Sang Ibu dengan cepat menggenggam tangan Bram.
"Ayo Nak, sama Ibu," ucapnya.
Bram pun kembali berjalan secara perlahan menuju kamarnya.
***
Setelah berada di kamar.
Bram merebahkan badannya di kasur dibantu sang Ibu. Kemudian sang Ibu memanggil sang ART untuk membawakan makan untuk anak itu.
"Nak, makan dulu." sang Ibu kemudian menyuapi anaknya itu, sambil terisak tangis.
Terdengar terisak tangis sang Ibu, seakan tidak bisa menahan rasa emosi sedihnya.
Bram mendengar sang Ibu menangis, tapi apa daya dia tidak bisa melihat air mata yang meluncur deras dari mata sang Ibu.
Kemudian dia meraba-raba wajah sang Ibu.
"Bu, ibu menangis ya," tanya Bram, lirih.
Ibu seakan tidak bisa menjawab pertanyaan dari anaknya tersebut, hanya derai air mata yang mampu menjawabnya.
"Bu, maafkan Bram," ucapnya lirih dengan nada bicara yang bergetar. Bram terlihat pilu.
Tangisan Ibu bertambah keras, dan sang Bapak pun menghampiri sang Ibu.
__ADS_1
Sang Bapak termangu di depan pintu kamar, matanya berkaca-kaca.