
"Helmi gak masuk kerja ya?" tanya Cindy kepada Clara.
"Katanya Anaknya sakit, jadi Anaknya rewel gak mau di tinggalkan oleh Helmi,' wajah Cindy berubah menjadi terlihat dihinggapi rasa khawatir.
Kemudian Cindy merogoh ponselnya di saku baju lalu dia menuliskan pesan kepada Helmi.
{"Katanya Anakmu sakit? sakit apa?"} tulis Cindy.
{"Sakit demam, panasnya tinggi, dan Aku khawatir,"} balas Helmi.
Cindy pun menelepon Helmi cukup lama.
Setelah beres menelepon Cindy kemudian mengerjakan pekerjaan kantor seperti semula.
Ting..
Tiba-tiba pesan masuk dari Haris.
{"Aku kemungkinan akan pindah tugas ke Bandung, dan sementara waktu mau tinggal di sana, ini keputusan mutlak tidak bisa di ganggu gugat. Jarak Bogor dan Bandung dekat mungkin Aku pulang seminggu sekali.} Cindy seakan sedih membaca pesan tersebut karena suaminya akan pindah tugas, dia dengan Haris belum cukup waktu untuk saling meluapkan rasa rindu karena semenjak perselingkuhan Cindy dengan Bram, Haris seakan dingin terhadap dirinya.
Cindy hanya membaca isi pesan tersebut dan tidak membalasnya.
***
Keesokan harinya Haris pun pergi ke Bandung dengan membawa dua tas besar. Nampak Rara menangis sejadi-jadinya ketika Papanya pergi karena dia selama ini dekatnya dengan sang Papa.
Merasa sepi semenjak kepergian Haris, meskipun mereka tidak saling sapa di rumah tapi nampak di rasakan Cindy begitu hampa.
Drett...
Drett...
Drett...
Telepon masuk membuyarkan lamunannya terlihat nama Helmi disana.
{"Aku sudah sampai rumah,"} ucap Helmi.
Lalu Helmi mengajak makan diluar kepada Cindy. Dan Cindy pun menerima ajakan Helmi.
Setelah mereka bertemu di sebuah Kafe entah mengapa ada getar rasa rindu antara Cindy dan Helmi.
Cindy terlihat gugup ketika beradu pandang dengan Helmi, Pun sebaliknya dengan Helmi.
"Jadi suamimu pindah tugas ke Bandung?" Helmi membuka obrolan. Cindy menganggukkan kepala dan tersenyum.
Nampak di dalam Kafe tersebut ada life musik, lagunya sangat romantis dan mereka pun terbawa suasana. Dengan spontan Helmi menggenggam erat jemari Cindy, seketika Cindy melepaskannya dengan cepat.
__ADS_1
"Maaf!" Helmi mukanya merah padam, Cindy hanya tersenyum dan Cindy pun mengalihkan pandangannya dari Helmi dengan mengaduk kopi yang dia pesan sebelumnya.
Jam menunjukkan pukul sembilan malam, Cindy akhirnya berpamitan pulang, mereka membawa mobil masing-masing, nampak di parkiran Helmi merapikan rambut Cindy yang terlihat acak-acakan. Cindy hanya tersipu malu.
****
Setiba di rumah nampak sepi Anak-anak Cindy sudah tertidur nyenyak, Cindy lalu memasuki kamarnya lalu dia membersihkan badannya, setelah semuanya selesai lalu dia membuka pesan masuk dari ponselnya. Terlihat disana Helmi mengirimkan foto gambar dirinya memakai baju piyama begitu bersih wajahnya seakan tidak ada celah sedikitpun.
Kemudian Cindy pun membalas dengan memberikan gambar foto dirinya juga.
{"Cantik sekali kamu!"} Helmi menggodanya dengan di tandai emotion senyum dan love.
Entah mengapa ketika Helmi memberikan emotion love hati Cindy di hingga rasa gembira dia merasa ada perhatian yang lebih dari Helmi.
Karena sampai sekarang Haris sang suami tidak pernah mengabarinya sekedar memberikan pesan pun tidak ada, itu yang membuat Cindy merasa kurang ada perhatian dari Haris sang suami.
Akhirnya Cindy pun melampiaskan hasratnya mencari perhatian dari lelaki lain.
****
Keesokan harinya ketika berada di kantor Cindy maupun Helmi keduanya terasa gugup walau hanya sekedar untuk bertegur sapa, apakah Cindy ingin mencoba lagi berselingkuh dan mencari kenyamanan dari lelaki lain?
Yang jelas Cindy tidak pernah puas kepada sang suami yang penyabar.
Kedekatan Helmi dan Cindy pun kian hari kian dekat, Cindy sangat loyal kepada Helmi dia selalu memberikan barang-barang mewah, seperti baju, tas, sepatu dan itu yang membuat Helmi nyaman berada di dekat Cindy. Sementara Cindy merasa nyaman terhadap Helmi karena Helmi begitu perhatian kepadanya beda dengan suaminya
Hari itu Helmi akan pulang ke Bogor kembali mau menengok Anak dan Ibunya di Jakarta.
"Ini Aku sengaja bawa oleh-oleh buat Anakmu dan Ibumu," Cindy menyerahkan tas berukuran besar yang isinya oleh-oleh khas Bogor, begitu banyak oleh-oleh yang diberikan Cindy kepada Helmi. Melihat begitu banyak oleh-oleh yang diberikan Cindy, Helmi merasa senang kemudian dia menggenggam jemari Cindy begitu erat.
"Makasih, kamu begitu perhatian," Helmi tersenyum bahagia dan menatap lekat kepada Cindy.
Cindy membalas dengan senyuman dan tersipu malu.
***
"Beruntung ya, Helmi!" sindir Clara.
"Beruntung kenapa?" jawab Cindy.
"Ya, beruntung dekat dengan wanita yang loyal seperti kamu," Clara tertawa terkekeh. Cindy hanya diam seakan tidak mau mendengar ucapan sahabatnya itu.
"Hati-hati nanti di tinggalin lagi seperti lelaki yang kemarin, Bram," Clara tersenyum tipis.
"Apa, sih! Aku menganggap Helmi teman!" mata Cindy melotot.
"Teman tapi mesra," goda lagi Clara.
__ADS_1
"Sudahlah, kamu tidak tahu apa-apa!" Cindy marah. Clara pun berlalu dari hadapan sahabatnya itu.
Huhh......
Cindy membuang napas kasar, dia pun tidak tahu apa yang ada di benaknya, mengapa dia begitu perhatian kepada Helmi, dan dengan loyalnya dia memberikan barang-barang mewah.
Dulu kedekatannya dengan Bram malah Cindy yang di berikan barang-barang mewah tapi sekarang Cindy yang memberikan barang mewah untuk Helmi.
"Tidak masalah Aku mengeluarkan uang untuk Helmi karena dia memberikan rasa nyaman, andai suamiku perhatian dan tidak bersifat cuek mungkin aku akan mencoba untuk setia terhadapnya," gumam hati Cindy.
Gaji Cindy tentu lebih besar dari Helmi, Cindy yang punya jabatan cukup di pandang di kantor sedangkan Helmi hanya staf biasa. Namun Helmi lelaki cerdas yang selalu mempunyai ide-ide cemerlang, mengakibatkan dengan adanya Helmi menjadi daya tarik untuk kelangsungan berkembangnya situasi kantor.
Tokk..
Tokk...
Tokk...
Pintu ruangan Cindy di ketuk beberapa kali.
"Masuk!" ucap Cindy.
Nampak terlihat Bosnya Cindy terlihat di depan pintu, kemudian Cindy mempersilahkan Bosnya itu masuk
"Cindy, sore ini kita rapat,"
"Ngedadak, Pak?" tanya Cindy.
"Iya ada kabar gembira untuk Helmi," jawab Pak Bos.
Cindy di hinggapi rasa penasaran.
"Helmi naik jabatan, dia nanti akan mengambil alih jabatan Pak Bram," mendengar nama Bram sontak saja jantung Cindy berdebar.
Terlihat muka Cindy sumringah karena Helmi akhirnya naik jabatan dan mungkin pantas dia mendapatkan itu semua karena kinerja dia sangat bagus di kantor ini.
"Kamu kasih tahu Anak-anak ya?" Pak Bos pun berlalu dari hadapan Cindy.
Cindy rasanya sudah tidak sabar memberitahukan kabar gembira ini kepada Helmi, namun jika dia bicara sekarang itu berarti bukan kejutan nanti pas rapat.
***
Ketika di tempat rapat semua karyawan pun memberikan ucapan selamat kepada Helmi, nampak Helmi sangat senang sekali.
Ting...
{"Pulang kerja, nanti kita rayakan kenaikan pangkat mu ya? kita makan malam'} Cindy mengirimkan pesan kepada Helmi
__ADS_1
Helmi melirik Cindy karena jarak mereka cukup dekat, berhadapan. Helmi tersenyum dan menganggukkan kepala pertanda dia menyetujuinya.