Pengkhianatan Seorang Istri

Pengkhianatan Seorang Istri
Bab 102 Zhira Tersenyum Puas.


__ADS_3

Zhira menatap lekat di kaca spion, melihat Sherly sang pengkhianat. Yang merebut suaminya dulu.


"Tante, ada apa?" tanya Sisil. Ketika mendapati Zhira, sangat lekat memandangi Sherly.


Zhira terkejut ketika Sisil menepuk pundaknya dengan pelan.


"Ng-nggak apa-apa," ucapnya terbata-bata.Zhita tersenyum menatap Sisil.


"Padahal Tante barusan kenalan sama Mamanya Gita, namanya Mamah Sherly, dia baik loh, Tante!" ucap Sisil.


Zhira hanya tersenyum tipis.


"Baik gimana, wanita itu sudah merebut suamiku!" gumamnya.


"Yaudah Yu!..kita pulang Tante, Alhamdulillah acara berjalan dengan lancar," ucap Sisil. Tersenyum bahagia.


*****


Selama dalam perjalanan Zhira, terus menerus memikirkan Sherly, yang dulu pernah merebut hati suaminya.


"Sisil besok ada acara nggak?" tanya Zhira.


"Nggak, memangnya.kenapa?" tanya Sisil.


"Gimana kalau besok kita jalan, dan Sisil ajak temannya, Teh Gita!" ucap Zhira.


Zhira berharap Gita, akan datang. Karena ingin sekali menanyakan sesuatu kepada anak itu.


"Boleh Tante, pasti kalau di ajak sama aku, dia mau ikut," ucap Sisil.


*****


Sisil menghubungi Gita.


Sisil menelepon Gita, untuk mengabarkan Tante Zhira, mengajaknya untuk pergi.


{"Teh Gita, Tante Zhira ajak kita untuk makan diluar. Ikut yu?"} ajak sisil kepada Gita seakan merajuk.


Gita besok sebenarnya ada acara mau ajak anaknya Dion, ke Mall, untuk jalan-jalan. karena dia sudah lama tidak mengajak anaknya jalan keluar. Dia di sibukkan dengan masalah kerjaannya.


Tapi kalau untuk menolak Sisil rasanya dia tidak bisa juga.


Setelah berpikir sejenak akhirnya Gita, menyetujuinya.


{"Tapi, boleh nggak aku bawa anakku, Dion? aku merasa bersalah selama ini ninggalin dia terus, dengan di sibukkan dengan urusan pribadiku,"} ucap Gita, berharap Sisil bisa mengajak anaknya juga.


{"Boleh dong, Teteh sayang!"} jawab Sisil dengan senang hati.


"{Asik, anakku bisa ikut,"} ucap Gita. Terdengar dia sangat senang sekali.


"Sampai ketemu besok!"} jawab Sisil


Akhirnya sambungan telepon pun di tutup oleh Sisil.


*****


Keesokan harinya.


Zhira pagi sekali datang ke rumah Sisil, di temani Wisnu datang mengantarkan kesana.


"Papa, mau ikut nggak?" tanya anaknya, Sisil.

__ADS_1


"Nggak, Sayang!" jawab Wisnu.


Sisil nampak mukanya cemberut.


"Sayang, Papa lagi sibuk. Di Kafe, banyak kerjaan. Kan sama saja, kalau pergi sama Tante Zhira," ucap Zhira mencoba menyabarkan hati anaknya Wisnu.


"Iya, Sayang. Nanti deh Minggu depan baru kita jalan bertiga. Oke!" ucap Wisnu, kemudian dia mencolek dagu sang anak yang terlihat cemberut. Sisil hanya tersenyum tipis.


Wisnu pun akhirnya berlalu dari rumah, untuk pergi kembali ke Kafe miliknya Haris.


*****


Di dalam mobil.


"Tante, kapan menikah sama Papa!" Sisil, mencoba menggoda kepada Zhira.


"Doakan saja, Ya, Sayang?" jawab Zhira.


Kemudian Zhira menanyakan, kepada Sisil. Gita mau di jemput, ke rumahnya?


Atau dia, mau menunggu dimana?


*Tujuan dari Zhira untuk bertemu dengan Gita hanya ingin minta nomor Papanya Gita saja*


*****


Rencana dia mau membongkar keberadaan Bram, kepada Papanya Gita. Yang selama ini tidak di ketahui oleh Papanya, Gita.


Mungkin rasa kesal sama di rasakan oleh Haris. Karena mereka sama-sama di khianati oleh istrinya, yang berselingkuh dengan Bram, sang pengkhianat.


Mungkin Haris orang yang sabar, dan tidak bisa bertindak apapun kepada Bram, tapi suami dari Sherly, orang yang tegas dan berani.


*****


Akhirnya mobil yang dikemudikan oleh Zhira, dia lajukan ke arah Jalan Dago.


*****


Dion Rewel.


"Sudah, kalau rewel jangan dibawa saja, anaknya!" ucap Gita terlihat kesal.


"Bawa saja, kan si Bibi lagi pergi. Terus Mama nanti sore mau acara arisan. Nah, Dion mau sama siapa di rumah?" ucap Sherly terlihat menor, dengan memakai lipstik warna merah merona.


"Aneh, emak-emak ini! acara arisan ko, sering amat!" gumam hati Gita.


Akhirnya Gita, membawa Dion anaknya yang sedang menangis. Gita menatap Ibu tirinya dengan raut muka kesal.


"Aku tahu, dia pasti bertemu lagi dengan si Lelaki Brondong itu!" gumam hati Gita, sambil berlalu dari hadapan Sherly, yang terlihat berseri-seri ketika menatap layar ponselnya.


*****


Gita kemudian memesan mobil online, cukup lama dia menunggu mobil itu.


20 menit kemudian akhirnya mobil pun datang, dan dia bersama anaknya, Dion. Memasuki mobil tersebut.


Di dalam mobil Gita memainkan ponselnya, dan terlihat disana pesan muncul dari Bram.


{"Aku akan ke Bandung Minggu depan, kita bertemu lagi, gimana?"}.


Gita hanya membaca pesan tersebut dan tidak mau membalasnya.

__ADS_1


*****


Gita pun tiba di Kafe Ceria.


"Teh Gita!" Sisil berteriak ketika Gita matanya berselancar seakan mencari keberadaan Sisil.


Gita tersenyum karena dia, tidak cukup lama untuk mencari keberadaan Sisil.


"Maaf, maaf, nunggu lama ya, Tante?" Gita memohon maaf, kepada Zhira.


"Nggak apa-apa, Sayang! santai aja," ucap Zhira tersenyum renyah ke arah Gita.


"Dion, udah gede ya!" Sisil mencium anaknya Gita itu.


Mereka pun memesan beberapa makanan dan minuman di Kafe tersebut.


"Kenapa Mamanya tidak ikut, padahal bawa," terlihat Zhira basa-basi ketika berucap. Padahal sebenarnya, dia tidak mau jika bertemu wanita pengkhianat yang telah merebut suaminya.


"Mama sibuk arisan Tan!" ucap Gita, terlihat mukanya murung ketika berucap.


Zahira seakan tahu isi hati dari Gita, dia sudah menduga pasti Sherly, belum sembuh kumatnya. Dia kembali berselingkuh.


Dimata Gita, Zhira pribadi yang menyenangkan dan pandai bergaul. Zhira terlihat dewasa dan keibuan.


Gita seakan menemukan sosok Ibu dari sosok Zhira.


Gita terlihat nyaman ketika berbicara dengan Zhira. Dan merupakan kesempatan Zhira, untuk menanyakan nomor telepon Papanya yang bernama Bobby.


"Jadi Papa kamu ada usaha juga. Boleh dong nanti Tante, join dengan Papamu. Untuk buka usaha dengan Papa mu. Boleh minta nomor teleponnya?" tanya Zhira kepada Gita.


Berpura-pura untuk menjalin hubungan bisnis padahal niatnya untuk mempertemukan Bobby dengan Bram.


Agar Bram hancur oleh Bobby, mungkin hanya Bobby yang bisa melakukannya kalau dengan Haris, rasanya tidak mungkin.


"Boleh, Tante!" kemudian Gita memberikan nomor Papanya kepada Zhira.


"Gita jangan kasih tahu Mama ya, Tante minta nomor teleponnya Papa!" ucap Zhira menatap lekat kepada Gita


"Nggak dong!" jawab Gita


*****


Zhira terlihat mukanya senang sekali setelah mendapatkan nomor telepon Bobby. Dia berpikir, ini saatnya dia bisa meluapkan kekesalannya kepada Bram, yang di bantu oleh Bobby, yang selama ini mencari keberadaan Bram.


*****


Sisil dan Gita terlihat sedang asik bermain dengan Dion.


Sementara Zhira di sibukkan dengan ponselnya. Dia ingin cepat-cepat memberikan kabar kepada Bobby.


*****


Zhira menghubungi Bobby.


{"Bobby, aku mantan istri Bram, pasti kamu masih ingat kan?"} tulis pesan Zhira kepada Bobby.


Melihat isi pesan dari Zhira sontak Bobby terkejut. Hubungan Zhira dan Bobby sangat terjalin baik seperti hubungannya dengan Haris. Mereka selalu bercerita masalah istrinya, yang sedang berselingkuh. Namun Bobby sampai sekarang belum bercerai dengan istrinya yang bernama Sherly.


"Hai, Zhira! kamu tahu dari mana nomorku?" tanya Bobby. Di hinggapi rasa penasaran.


{"Itu tidak penting yang penting sekarang, kalau kamu mau membalaskan dendam kepada Bram, inilah saatnya"} ucap Zhira terdengar ada rasa puas, ketika berucap.

__ADS_1


Bobby tersenyum licik ketika mendengar ucapan Zhira


"Awas ya, kamu Bram!" gumam hatinya.


__ADS_2