Pengkhianatan Seorang Istri

Pengkhianatan Seorang Istri
Bab 88 Cindy jatuh


__ADS_3

Bruggg.....


Suara mengagetkan terdengar dari kamar mandi. Sontak sendok yang sedang di pegang Cintya ketika sarapan pagi, dia simpan dengan kasar di piring.


Cintya tergopoh-gopoh menuju kamar mandi.


Betapa terkejutnya ketika mendapati Kakaknya, terkujur di kamar mandi dengan meringis kesakitan.


Cintya di bantu sang ART yaitu Mbak Lastri, memangku Cindy menuju kasur.


"Kita bawa ke rumah sakit saja," sang ART di hinggapi rasa khawatir dengan keadaan Cindy.


"Jangan gak apa-apa, hanya sakit tangannya saja. Tadi menahan untuk terjatuh," Cindy menegang tangan kanannya yang terpeleset.


"Yasudah, Mbak, panggil tukang urut yang rumahnya di belakang kita," Cintya terlihat gugup melihat kondisi sang Kakak, yang meringis sakit dan memegang tangannya.


Mbak Lastri segera berlalu untuk menjemput tukang urut.


***


setengah jam kemudian, tukang urut pun datang, dengan segera dia menangani Cindy.


Cindy berteriak histeris saat tukang urut memegang tangannya.


Cintya meringis melihat cara tukang urut tersebut, memegang tangan Kakaknya.


*****


Tiba-tiba suami dari Cintya datang.


"Ada apa ini?" terlihat lusuh mukanya karena baru pulang kerja.


"Kak Cindy jatuh dari kamar mandi," Cintya tatapan tetap fokus ke arah Kakaknya itu.


Bagas suami dari Cintya membuang napas kasar. Dia seakan sudah tidak peduli lagi terhadap Cindy.


Dia berlalu dari hadapan mereka. Melihat reaksi suaminya seakan acuh, lalu Cintya mengikuti dari belakang.


*****


Bagas merebahkan dirinya di sofa, jemarinya memijit kepalanya, seakan banyak masalah yang dia hadapi.


"Mas kenapa?" tanya Cintya istrinya itu.


"Proyek aku, gagal!" Bagas terlihat kecewa.


"Sabar Mas," Cintya mencoba menyabarkan hati suaminya itu.


"Semenjak ada Kakakmu, urusan proyekku selalu gagal." Bagas terlihat kesal.


"Jadi kamu nyalahin Kakakku?" Cintya tersulut emosi.


"Iya, lah. Dulu hidup kita damai dan tentram, tapi sekarang!" Bagas seakan mengejek.


"Jadi Mas, gak ikhlas ada Kakakku disini?" Cintya kembali emosi.


Bagas menghembuskan napas kasar.


Mereka tak bergeming sedikitpun.


****


"Sudah Bu, sudah selesai di urutnya," ucap Mbak Lastri.

__ADS_1


Mbak Lastri mengantarkan tukang urut keluar rumah, dan tidak lupa Cintya memberikan amplop.


Cintya hendak ke kamar untuk melihat kondisi Kakaknya itu. Namun baru saja melangkahkan kakinya menuju kamar.


"Kamu urus saja terus Kakakmu, sampai lupa melayani suami!" Bagas berlalu keluar.


Dia melajukan mobilnya dan pergi.


*****


Terasa dadanya begitu sesak, Cintya serba salah dengan semua yang terjadi. Mungkin Bagas merasa cemburu dan tidak di perhatikan selama ini oleh istrinya. Sementara Cintya hanya fokus mengurus Kakaknya yang sedang sakit.


Cintya menghela napas panjang.


Dia meneteskan air mata, langkah kakinya untuk menemui Kakaknya dia hentikan. Dia duduk termenung ke arah halaman rumah, yang sudah tidak ada lagi mobil suaminya.


****"


"Kata Bu Cindy, dia ingin bertemu dengan Rara," tiba-tiba Mbak Lastri datang menghampirinya.


"Ya, Mbak." ucap Cintya lirih.


Dalam pikiran Cintya saat ini hanya suaminya yang marah dan keluar dari rumah. Selama rumah tangga tidak pernah suaminya semarah itu. Dia lelaki yang sangat baik dan sabar. Mungkin Kesabaran Bagas sudah habis untuk Cindy, yang selama ini mengganggu ketenangan rumah tangga adiknya.


Cintya mencoba menelepon Bagas, namun ponselnya tidak aktif. Cintya di hinggapi rasa khawatir yang teramat.


****"


Sudah hampir enam bulan dia mengurus Kakaknya itu, sementara Bagas sang suami tidak dia pedulikan lagi.


Cintya pun merasa diriny untuk sekarang ini tidak bisa bergerak atau leluasa. Hanya menunggu Kakaknya di rumah.


"Aku harus seperti dulu punya usaha bisnis. Kalau mengandalkan uang suami tidak mungkin. Proyek Mas Bagas sekarang ini tidak jalan, sementara pengeluaran tiap bulan untuk biaya hidup semakin bertambah." gumam hati Cintya.


*****


Keesokan harinya


Cintya membuka matanya, dan dia sangat terkejut ketika melihat dirinya berada di Sofa.


Mbak Lastri tiba-tiba datang dengan membawa secangkir teh.


"Bu, semalam Ibu tertidur sangat lelap disini. Mbak, tidak berani membangunkan. Maaf," ucap Mbak Lastri.


"Bapak, sudah pulang Mbak?" tanya Cintya.


"Belum," Mbak Lastri juga seakan khawatir dengan keadaan Cintya karena semalam terlihat memikirkan suami. Cindy pun tidak di lihatnya di kamar padahal Cindy semalam memanggil adiknya itu.


Mungkin Cintya pun rasa pedulinya jadi berkurang terhadap Kakaknya itu.


*****


"Biasanya, Bu Cintya menyiapkan makan khusus untuk Kakaknya, tapi mengapa hari ini tidak." Mbak lastri bertanya-tanya dalam hatinya.


"Mbak, aku mau pergi setelah mandi, tungguin Kakakku ya, di rumah." Cintya berlalu ke kamar mandi.


****@@@*****


Cintya pergi dari rumah tanpa berpamitan kepada Cindy kakaknya. Dia sedang berkunjung ke rumah temannya untuk mencari info usaha.


Setiba di rumah temannya Cintya curahkan semua keluh kesahnya selama ini.


Matanya berkaca-kaca.

__ADS_1


"Bukan aku tidak rela mengurus Kakakku, tapi setelah ada Kakakku, entah mengapa percekcokan sering terjadi di antara kami,"


"Yasudah, kamu kembali usaha saja seperti dulu, jualan barang-barang yang aku punya. Jangan ketergantungan terhadap uang suami," ucap Nindy teman dari Cintya.


Cintya menganggukkan kepalanya.


*****@@@****


Aaww.....


Cindy meringis kesakitan. Tangan yang di urut entah mengapa menjadi bengkak.


"Kayaknya salah urut itu!" ucap Mbak Lastri.


Cindy hanya menangis menahan rasa nyeri yang teramat.


"Mbak, adikku mana?" tanyanya.


"Tadi bilangnya keluar bentar, tapi ini sudah sore. Kenapa belum juga pulang ya," Mbak Lastri pun di hinggapi rasa khawatir.


Cindy melamun, tumben adiknya tidak bilang kepadanya untuk pergi.


"Adikku sudah tidak peduli lagi, kepadaku," Cindy terlihat sangat sedih.


"Mbak, telepon ya, Bu?" Mbak Lastri ingin menelepon Cintya.


"Sudah Mbak, tidak usah," dengan cepat Cindy, melarang Mbak Lastri untuk menelepon adiknya.


****@@@***


Cintya pulang.


Malam pun tiba Cintya terlihat lusuh mukanya, dia langsung memasuki kamarnya. Tanpa mau menyapa ke kamar Cindy.


Saat ini yang ada di pikirannya adalah Bagas, sang suami yang tidak ada kabar, ponselnya pun tidak aktif.


Kemudian Mbak Lastri memasuki kamar Cintya.


"Bu, mau di bikinkan teh manis atau kopi?" tanya Mbak Lastri.


Cintya hanya menggelengkan kepalanya.


"Bu Cindy, tangannya bengkak dia meringis kesakitan. Tadi Mbak sudah mengompresnya. Terus nanyain Ibu Cintya kemana?" sambungnya lagi.


Lagi-lagi Cintya tidak bergeming sedikitpun.


Melihat Cintya seakan sudah tidak peduli lagi kepada Kakaknya. Mbak Lastri pun kemudian dia berlalu keluar.


*****


"Mungkinkah, ini karma untukku? aku sudah tidak punya siapa-siapa lagi. Orang yang peduli satu-satunya terhadapku adalah adikku. Tapi sekarang dia pun menjauh dariku. Dan aku kasian kepada adikku, hubungan rumah tangganya menjadi tidak harmonis karena aku," Cindy berderai air matanya.


*****


Sang ART kemudian masuk ke dalam kamar Cindy, dia menanyakan kepada Cindy. Apa ada lagi yang bisa di bantu.


"Adikku sudah pulang?" tanyanya.


"Sudah, tapi sudah tidur,' sang ART berbohong, dia sebenarnya kasian kepada Cintya yang selama ini di ganggu terus dengan kondisi Cindy.


Cindy di hinggapi tanda tanya dalam dirinya.


Ada apa dengan adiknya yang seakan menjauh darinya. Apakah dia harus pergi dari rumah adiknya, agar adiknya tidak bertengkar terus dengan suaminya.

__ADS_1


__ADS_2