
Cindy pagi sekali sudah rapih hendak pergi ke kantor, dia ingin segera bertemu dengan Clara, dan menanyakan mengapa ponselnya tidak aktif selama berada di Bekasi ketika bersama Helmi.
Sesampai di kantor langsung Cindy ke ruangan Clara, dan betapa terkejutnya hati Cindy karena melihat Clara sedang bersama Helmi disana.
"Kalian ngapain berdua-duaan, Aku semakin curiga sama kalian, dan ponsel kalian pun dari kemarin tidak aktif," Cindy terlihat begitu kesal ketika berucap.
"Sayang, jangan salah paham, ponselku rusak entah mengapa mungkin karena terlalu banyak aplikasi jadi ponselnya drop dan mati. Kalau Clara dia sakit jadi ponselnya dia matikan sementara karena dia perlu istirahat," Helmi mencoba meyakinkan hati Cindy.
Cindy pun hanya terdiam dan menatap Clara yang sedang memakai jaket, dan pandangannya menunduk.
"Nih, coba kamu lihat," Helmi memperlihatkan ponselnya yang tidak bisa berfungsi lagi.
Antara percaya, dan tidak percaya itu yang dirasakan Cindy saat ini.
Cindy kemudian berlalu ke ruangannya, melihat Cindy terlihat marah langsung Helmi mengejar Cindy ke ruangannya.
Nampak Cindy sedang berdiri dan pandanganya ke arah luar jendela dia sedang memperhatikan karyawan-karyawan yang sedang berlalu lalang untuk membeli sarapan karena saat ini jam masih menunjukkan pukul setengah tujuh.
Helmi kemudian memeluk Cindy dari belakang.
"Sayang, Aku mana mungkin ada hubungan lebih sama Clara, dia sudah ku anggap Adik sendiri, kamu harus percaya itu," bibir Helmi lekat ke kuping Cindy sehingga Cindy merinding dibuatnya. Dia seakan terbuai dan hasrat dirinya sebagai wanita seakan muncul kembali yang sudah lama tidak di temukan dengan Haris.
Kemudian Cindy mencoba melepaskan pelukan mesra Helmi.
"Lepas," lirihnya.
Helmi seakan tahu kelemahan Cindy.
Helmi tersenyum renyah dan merapikan rambut Cindy, hal sekecil ini yang membuat Cindy terasa melayang tinggi.
Pikir Helmi, ini saatnya dia mau mengungkapkan sebuah keinginannya.
"Sayang, ponselku rusak." Helmi merajuk dia seakan sedih, dan kini pandangannya menunduk.
Melihat Helmi terlihat sedih Cindy seakan tidak tega, lalu dia menghela napas secara perlahan.
"Yasudah, nanti sore kita beli!" ucap Cindy tersenyum tipis.
Terlihat muka Helmi langsung sumringah dengan spontan dia mencium Cindy.
Cindy terlihat tersipu malu.
"Sudah sana kerja, nanti karyawan lain curiga," ucap Cindy.
Helmi pun berlalu dari hadapan Cindy dengan hati yang berbunga.
****
Sore harinya Cindy bersama Helmi terlihat jalan ke Mall untuk membeli sebuah ponsel,
di Mall mereka jaga jarak karena tidak mau nanti terlihat oleh orang yang di kenalnya.
Sesampai di counter ponsel lalu Helmi memilih ponsel yang dia mau lalu di pilihlah ponsel iPhone 13 Pro Max 1 TB seharga tiga puluh satu juta.
Cindy seakan tidak ragu mengeluarkan uang sebesar itu, dia di butakan oleh keadaan.
Sesudah membeli ponsel lalu mereka memasuki mobil, di dalam mobil Helmi memeluk dan mencium Cindy dia mengungkapkan rasa terima kasih karena Cindy sudah berbaik hati membelikannya sebuah ponsel dengan harga cukup mahal.
Melihat Helmi tersenyum gembira Cindy seakan senang lalu mereka pergi ke Bar, dan menghabiskan malam disana.
rasa kecewa dan sesal Cindy kepada Haris dia luapkan di Bar, dia kembali meminum minuman yang membuat dia pusing dan lupa ingatan. Cindy tertawa lepas seakan tidak ada beban disana. Pelukan dan ciuman Helmi begitu di nikmati oleh Cindy.
Jam menunjukkan pukul satu malam, mereka pun meninggalkan Bar, lalu Helmi mengajak Cindy untuk menginap di sebuah Hotel.
Karena keadaan mabuk berat Cindy hanya membalas dengan mengangguk dengan mulut yang terus bicara tidak karuan.
Sesampai di Hotel Cindy di gandeng oleh Helmi ke kamar Hotel dengan jalan sempoyongan. Cindy yang sudah lama menahan hasratnya kepada Haris, malam itu seakan luluh lantak oleh pesona Helmi.
Napsu Cindy kian merasuki jiwa ketika Helmi mulai membelai mesra. Mereka berdua seakan dibutakan oleh keadaan. Dan mereka pun akhirnya khilaf dan melakukan hubungan diluar batas.
Degup jantung Cindy tidak beraturan dia melakukan hubungan tersebut antara sadar dan tidak. Tapi entahlah Cindy menikmati itu semua.
__ADS_1
Dalam hati Helmi di hinggapi rasa puas selain dia bisa menikmati tubuh Cindy dia pun bisa menguras uang Cindy di rekening. Helmi memanfaatkan situasi tersebut.
***
Setelah mereka selesai melakukan hasratnya akhirnya, Cindy, dan Helmi pun tertidur. Tepat pukul empat pagi Cindy akhirnya terbangun, dan betapa terkejutnya hati Cindy ketika melihat dirinya tidak memakai baju, hanya selimut yang menutupi tubuhnya kemudian dia menoleh ke pinggir terlihat Helmi terlelap tidur Helmi pun tanpa sehelai baju hanya selimut yang menutupi tubuhnya.
Cindy terlihat masih pusing akibat dari sisa minuman semalam, dan Cindy mencoba mengingat kembali apa yang terjadi terhadap dirinya semalam.
~Dia mabuk
~Dia kesal kepada Haris
~ Dia terbuai oleh rayuan Helmi
Lalu dia akhirnya tidur bersama Helmi
Jantung Cindy seakan berdetak lebih cepat kemudian dia pun melangkahkan kakinya menuju kamar mandi. Cindy lalu mengguyur kepalanya, dan tangis pun pecah dia merasa tubuhnya kotor, dan hatinya tidak berdaya
Air shower yang menghunjani badannya beradu dengan air matanya. Terlihat ada rasa sesal di dalam dirinya.
Cukup lama dia membasuh badannya itu. Bayangan Haris menghantuinya dia seakan menyesal apa yang baru saja dia lakukan.
Setelah beres mandi Cindy kemudian bergegas untuk berpakaian, air mata yang di keluarkan Cindy bagaikan air terjun terus menerus tak henti berderai.
Cindy menatap lekat Helmi cukup lama yang sedang tertidur lelap kemudian dia memandangi satu demi satu barang yang dia berikan kepada Helmi. Mulai dari Tas, Sepatu, Baju, dan yang terakhir yang baru saja Cindy belikan sebuah ponsel.
Cindy mengelus dada, semua itu jika di perhitungkan nilainya puluhan bahkan jika di totalkan dengan uang yang selama ini Cindy kasih kepada Helmi mungkin sudah mencapai dua ratus juta.
"Aku, bodoh!" gumam hati Cindy sambil mengusap air matanya.
Dia lalu meninggalkan kamar Hotel tanpa pamit kepada Helmi.
Di dalam perjalanan pulang Cindy terus menerus menangis seakan tak kuasa menahan sesak.
Dia memejamkan mata dan mengingat kejadian semalam yang terlalu hina berbuat seperti itu sementara dia mempunyai suami.
Cindy kembali menangis air mata seakan sudah terkuras habis.
Sesampai di rumah Cindy tidak langsung memasuki rumah namun dia tetap diam di mobil lalu dibukanya ponsel kemudian dia lihat gambar Haris, dan Anak-anaknya entah mengapa hatinya seakan teriris dan tersayat.
Cindy menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya kembali tersedu dia menangis.
***
Sementara Mbak Eka sedang berada di dapur, sayup-sayup terdengar suara tangisan sangat pelan, Mbak Eka di hinggapi rasa penasaran yang amat dalam, lalu dia mencoba mencari suara dimana tangisan itu berasal.
Setelah dia menyusuri ruangan demi ruangan, Mbak Eka kemudian mengintip dari arah kamar mandi dapur karena jarak antara kamar mandi dapur dan garasi berdekatan, disana Mbak Eka melihat mobil Cindy kemudian Mbak Eka mengucek-ngucek matanya sontak dia terkejut ketika melihat Cindy sedang menangis.
"Ibu!"
Mbak Eka langsung berlari kecil menuju garasi, melihat Mbak Eka datang dengan cepat Cindy menghapus air matanya.
"Ibu, kenapa?" Mbak Eka dihinggapi rasa khawatir.
Cindy hanya terdiam dan tersenyum tipis.
"Bu, kenapa enggak turun? Ibu sakit? mau di buatkan teh manis hangat ya?" Mbak Eka membanjiri pertanyaan.
Lagi-lagi Cindy hanya terdiam badannya terasa lemah lunglai tidak berdaya.
Mbak Eka kemudian memboyong majikannya itu ke Sofa, kemudian Mbak Eka melangkahkan kakinya ke dapur untuk membuatkan secangkir teh manis hangat.
***
"Bu, Mbak pijitin ya?" Mbak Eka tiba-tiba datang dari arah dapur, dan memberikan teh manis hangat, kemudian dia memijit badan Cindy, saat itu pandangan Cindy seakan kosong, matanya sembab.
"Mah, kenapa?" tiba-tiba Reza keluar dari dalam kamar. Cindy hanya terdiam tidak berucap sepatah katapun.
"Mah, Reza telepon Papa, ya?" tanyanya lagi.
"Jangan!" Cindy akhirnya berbicara.
__ADS_1
Reza pun di hinggapi rasa penasaran terhadap Mamanya.
"Mama kenapa, Mbak?" tanya Reza kepada Mbak Eka.
Mbak Eka mencoba menjelaskan yang terjadi ketika melihat Cindy menangis di dalam mobil.
"Mama, hanya capek butuh istirahat," ucap Cindy, dia tidak mau permasalahan akan melebar dan akhirnya sampai ke telinga Haris.
***
Ting..
Ting...
Ting...
Pesan berbunyi beberapa kali kemudian suara panggilan masuk pun berbunyi nampak Helmi menelpon. Sementara Cindy tertidur pulas, disana nampak ada Mbak Eka sedang duduk di sebelah Cindy di kursi Sofa.
"Helmi! siapa lagi?" gumam hati Mbak Eka.
Kemudian Helmi memberikan pesan kembali.
"Sayang!"
Degh....
Jantung Mbak Eka terasa mau copot ketika melihat pesan tidak sengaja dari Helmi, Mbak Eka kemudian memasukkan ponsel majikannya itu ke bawah bantal, dia tidak mau kalau sampai Rara membacanya.
Di tatap lekat sang majikannya itu ada rasa kecewa dan kesal terlihat dari Mbak Eka. Kecewa karena Cindy saat itu berjanji tidak akan mengulangi lagi perselingkuhannya, kesal karena dia terus menerus kembali melakukan hal yang sama sebuah perselingkuhan.
Meskipun Mbak Eka hanya seorang ART namun dia sudah sangat dekat dengan Anak-anak terutama Rara, dan dia juga merasakan gimana rasanya jika di selingkuhi karena dia juga suaminya dulu pernah berselingkuh.
***
Argh...
Cindy kemudian bangun dan membuka matanya secara perlahan, dia memandangi sekeliling ruangan.
"Mbak, aku dimana?" Mbak Eka mengernyitkan dahi seakan dihinggapi rasa heran.
"Ibu gak sadar? tadi subuh Ibu menangis sejadi-jadinya di mobil lalu Mbak memboyong Ibu kedalam," ucap Mbak Eka menatap lekat kepada sang majikan.
Cindy seperti mencari mencari sesuatu tangannya meraba-raba saku bajunya.
"Ibu mencari ponsel?" telunjuk Mbak mengarah ke bawah bantal yang tadi di simpan olehnya.
Cindy kemudian melihat layar ponsel tersebut kemudian dia membuka aplikasi WhatsApp, begitu banyak pesan masuk dan panggilan masuk dari Helmi.
Cindy dihinggapi rasa khawatir di benaknya berpikir takut jika Mbak Eka membaca isi pesan dari Helmi. Cindy terlihat salah tingkah, Mbak Eka seakan tahu apa yang sedang ada di pikiran majikannya itu.
Untuk menutupi semuanya agar majikannya tidak malu terhadapnya kemudian Mbak berpura-pura pamit ke dapur.
"Bu, tadi Rara minta dibuatkan opor ayam, Mbak permisi dulu ke dapur ya?" Mbak Eka pun berlalu dari hadapan Cindy.
***
Sambil memasak pikiran Mbak Eka entah mengapa tidak tenang, pikirannya di hinggapi wajah Cindy, sang majikan yang makin hari, makin aneh kelakuannya.
"Apakah Ibu harus aku bawa ke kampung untuk sementara waktu biar dia tenang, dan beristirahat. Aku tahu pikiran Ibu saat ini sedang gundah gulana, Aku khawatir melihat keadaan Ibu, di kampung ada orang pinter siapa tahu pikirannya bisa sedikit tenang agar Ibu bisa di bimbing ke arah yang lebih baik lagi, mungkin dengan tinggal disana beberapa hari pikirannya bisa tenang, dan Ibu bisa fokus untuk beribadah seperti dulu," gumam hati Mbak Eka.
Mbak Eka begitu peduli terhadap majikannya itu, dia sudah menganggap majikannya bagian dari keluarganya.
"Mbak, sudah mateng belum? tiba-tiba Rara datang, dan Mbak terlihat kaget dibuatnya karena dia sedang melamun.
"Iya, Sayang!" Mbak Eka terlihat sedih mukanya.
"Kenapa, Mbak?" tanya Rara.
"Nggak apa-apa, Sayang. Nanti ya, sebentar lagi. Rara jangan ganggu Mama ya, Mama sedang istirahat. Rara diam saja disini," Mbak Eka kemudian menggeserkan kursi yang ada di dapur, Rara pun akhirnya duduk. Kemudian Mbak Eka mengambil Buah Anggur dari Kulkas, lalu di berikan kepada Rara.
Rara tersenyum lebar ketika Mbak Eka memberikan Buah Anggur.
__ADS_1
"Terima kasih!" ucap Rara menggemaskan.
Mbak Eka tersenyum sumringah melihat Rara terlihat bahagia.