
Sesampai di rumah, Gisela di hinggapi rasa penasaran dengan ucapan orang-orang yang berada di acara pertunangan Clara tadi.
Dia memikirkan sosok Cindy temannya itu, yang sedang sakit kakinya lumpuh karena sebuah kecelakaan.
"Aku harus segera bertemu dengan Cindy. Dan aku di hinggapi rasa penasaran, Cindy mantan pacar Bram, yang sekarang menjadi kekasihku," gumam hati Gisela
Cindy baru saja cerai, tapi dia mantan Bram yang baru. berarti Cindy berselingkuh dari pasangannya begitupun sebaliknya dengan Bram.
"Bram, berarti lelaki yang tidak baik, dia mengkhianati istrinya," hati Gisela terus menerus berprasangka.
***
Gisela seorang janda, suaminya telah lama meninggal dunia sekitar lima tahun. Setelah itu dia tidak pernah berkenalan dengan lelaki lain, karena tidak bisa melupakan masa lalu bersama suaminya terdahulu.
Namun ketika Bram memberikan segalanya, dengan materi berlebih seakan luluh lantak hati Gisela.
***
Ketika bersama Cindy pun, Bram sosok yang romantis dan loyal, segala kemauan Cindy di turuti. Mungkin itu juga yang membuat Gisela jatuh hati kepada sosok Bram.
Bagi Bram, uang adalah segalanya, dia dengan mudahnya bisa mendapatkan wanita bagaimanapun.
*****
Akhirnya dengan memantapkan pikirannya, Gisela ada rencana untuk menemui Cindy.
"Jika aku menelepon Clara, takutnya dia memberitahu Bram, bahwa aku akan datang menemui Cindy. Lebih baik aku mendadak saja datang kesana. Lagian aku sudah kangen sama Cindy, ingin bertemu." gumam hati Gisela.
***
Hari itu di kota Bogor di guyur hujan, sangat lebat sekali. Padahal Gisela sudah ada niat untuk mengunjungi sahabatnya, Cindy.
Gisela pun nekat untuk pergi ke rumahnya Clara, untuk menemui Cindy.
Gisela menyetir mobil sendiri, sangat pelan. Dia takut sekali karena sepanjang jalan hujan lebat di iringi dengan suara petir.
Tiba-tiba ponsel Bram berbunyi, namun Gisela hanya menatap benda pipih itu, tanpa mau mengangkatnya. Gisela berpikir jika Bram menelepon terus menanyakan keberadaan dirinya sedang dimana, nanti akan berabe atau menjadi masalah.
***
"Akhirnya, hujan agak mereda," Gisela bicara sendiri, di dalam mobil.
Gisela pun tiba di tempat tujuan, sebelum dia memasuki rumah Clara, dia menghela napas panjang dan melihat situasi sekitar rumah. Terasa nampak sepi disana.
"Pada kemana ya?" gumam hatinya.
Kebetulan pintu gerbang tidak dikunci, Gisela lalu keluar dalam mobilnya.
***
__ADS_1
Ting.. Tong
Suara Bel, ditekan oleh Gisela.
"Cari siapa Non?" nampak terlihat seorang wanita tua, membuka pintu.
"Clara, ada?" sapa Gisela penuh keramahan.
"Non Clara, pergi bersama pacarnya," jawab wanita tua itu, tidak lain adalah ART, nya.
"Orang tuanya, ada,?" tanya Gisela lagi, matanya berselancar melirik ruangan yang ada di dalam.
"Enggak ada juga, lagi keluar kota tadi siang. Masuk saja dulu, mungkin bentar lagi Non Clara datang," sang ART, lalu mempersilahkan masuk kepada Gisela.
***
Niat Gisela ke rumah Clara, hanya ingin bertemu dengan Cindy. Karena di hinggapi rasa penasaran dan rindu terhadap sahabatnya itu segera ingin bertemu, lalu Gisela masuk ke dalam rumah.
"Mbak, kalau Cindy ada? tidak pergi kan!" Gisela sangat berharap Cindy ada, tidak kemana-mana.
"Ada, Non. Mau saya panggilkan!" sang ART, sangat antusias sekali ketika berucap.
"Bilang temannya datang, saya Gisela Mbak," ucap Gisela. Karena sang ART, ketika hendak berlalu dari hadapan Gisela seakan di hinggapi tanda tanya, pikirannya. Yang datang ini, siapa.
***
Sang ART, memasuki kamar yang di tempati oleh Cindy.
Cindy terkejut, mendengar nama Gisela. Dia sangat ingin meluapkan rasa rindu kepada sahabatnya itu, namun dia berpikir kembali jika dia harus bertemu dengan Bram, tidak mau.
"Dia datang kesini, dengan siapa?" tanya Cindy.
"Sendiri!" jawab ART, tersebut.
Langsung muka sendiri sumringah, lalu dia menjalankan kursi rodanya untuk keluar dari kamar.
***
Melihat Cindy keluar dari kamar, sambil memakai kursi roda, hati Gisela sangat terenyuh.
Dia seakan tidak kuasa melihatnya, bulir putih yang akan menetes di pelupuk mata seakan dia tahan untuk tidak jatuh.
Gisela kemudian berdiri dari tempat duduknya, dan berjalan mendekat ke arah Cindy. dia tersenyum manis kepada sahabatnya itu.
"Cindy, aku sangat rindu sama kamu!" Gisela memeluk erat sahabatnya itu, dan mengelus rambut Cindy.
***
Mereka pun menumpahkan rasa rindunya, canda tawa pecah di antara mereka, mengingat masa lalu yang dulu mereka lalui bersama.
__ADS_1
Obrolan pun, menjurus ke arah masalah pribadi mulai dari, meninggalnya suami Gisela sampai dia sekarang menemukan kembali tambatan hati.
"Sungguh, kamu tidak berubah dari dulu Gisela. Kamu wanita yang baik dan rendah hati," Cindy menatap lekat kepada Gisela.
"Kamu sekarang gimana, suami dan anak-anak kamu terus sekarang tinggal dimana, Clara ini saudara kamu?" Clara menghujani pertanyaan kepada Cindy.
Cindy menunduk, lalu menghela napas panjang. Kemudian dia menceritakan semua masalah yang terjadi yang menimpa saat ini kepadanya. Air mata Cindy bercucuran sangat deras seperti air terjun.
"Aku tidak setuju jika kamu berhubungan dengan Bram, kamu wanita baik-baik. Aku takut nantinya kamu di khianati oleh Bram," Cindy di hinggapi rasa khawatir.
"Kamu baru berapa lama, hubungan dengan Bram?" tanya Cindy.
"Baru sih, baru dua bulan," jawabnya
"Dia loyal ya, dan romantis?" Cindy tersenyum tipis.
"Ya, itu yang aku suka dari dia," jawab Gisela.
"Tapi terserah kamu, jika mau di lanjutkan hubunganmu dengan Bram, silahkan saja." tapi raut muka Cindy tidak bisa di bohongi, dia tetap tidak setuju dengan hubungan Gisela dan Bram.
***
Gisela seakan terpukul ketika mendengar kisah perselingkuhan, yang di alami Cindy. Sungguh miris dan membuat Gisela berpikir dua kali untuk bisa meneruskan hubungannya, dengan Bram kembali.
"Berarti aku harus lebih berhati-hati sekarang, jangan langsung untuk menikah dengan Bram," Gisela menundukkan kepalanya.
"Menikah!" Cindy di hinggapi rasa penasaran.
"Ya, dia mengajakku untuk menikah. Aku pikir tidak apa-apa, jika ada niat baik. kenapa tidak! lebih cepat lebih baik di segerakan. Tapi jika melihat masa lalu dia yang begitu rumit, aku jadi mikir dua kali." Gisela pikirannya tidak karuan.
***
Clara pun tiba-tiba datang, melihat kedatangan Gisela ada di rumahnya, Clara terkejut akhirnya Cindy mencoba menerangkan semuanya, dan Clara pun akhirnya memahaminya.
***
Tidak terasa sudah tiga jam Gisela berada di rumah Clara.
"Nginep saja disini!" ucap Clara, mencoba menawarkan Gisela untuk menginap di rumahnya.
"Iya, kan pulang ke rumah juga gak ada siapa-siapa, sendiri," sambung Cindy.
Gisela di rumahnya sendiri, anaknya dua berada di kampung bersama kedua orang tuanya.
"Aku pulang saja, nggak apa-apa," jawabnya.
"Tuh lihat, diluar hujan kembali lebat, terus anginnya cukup besar. Aku khawatir jika menyetir sendiri sudah malam, apalagi kamu seorang perempuan," ucap Clara, di hinggapi rasa khawatir.
Setelah berpikir lama, akhirnya Gisela pun menginap di rumah Clara.
__ADS_1
***