
Sore pun tiba, nampak keluarga Haris berpakaian rapih dan sang ART pun Mbak Eka terlihat memakai baju tidak seperti biasanya dia anggun sekali. Mereka mau ada acara keluar untuk makan bersama di sebuah restoran. Namun Reza tidak nampak disana.
"Pah, telepon saja Reza, lama banget tuh Anak, kebiasaan kalau mau pergi bersama keluarga suka lama kita buat nunggu dia." Cindy di hinggapi rasa kesal, bola matanya memutar kearah kiri, dan kanan menunggu Reza yang belum juga datang.
"Tinggalin aja, Pah!" ucap Rara.
Kemudian Haris menelepon Reza, Haris mengernyitkan dahi dan nampak di sambungan selularnya Haris terlihat memaksa agar Anaknya itu cepat pulang. Namun setelah di desak beberapa kali Reza tidak mau ikut alasannya sedang mengerjakan tugas sekolah. Akhirnya mereka pergi berempat tanpa ada Reza yang ikut.
***
Sesampai di restoran Rara terlihat senang, dia memilih makanan yang dia sukai, melihat Rara yang terlihat senang, Haris begitu gembira karena momen seperti inilah yang ditunggu Haris.
Setelah dua jam mereka berada di restoran lalu mereka pergi ke Mall untuk berbelanja baju, sangat antusias sekali Rara ketika memilih baju yang dia suka. Kemudian Cindy memilih beberapa kaos untuk Reza.
Selesai berbelanja lalu mereka pulang, dalam perjalanan pulang Rara terus menerus bernyanyi, Cindy dan Haris tersenyum lebar karena Anaknya gembira dan seakan tidak ada rasa sedih lagi.
Tiba di rumah, Cindy langsung ke kamar Reza namun tidak nampak dia disana. Karena sudah hampir malam jam sudah menunjukkan pukul sebelas malam, Cindy menelepon Reza namun tidak di angkatnya.
setengah jam kemudian Reza mengetuk pintu dan orang di rumah pun belum tidur.
"Dari mana saja kamu, Nak!" Cindy bertanya tatapan matanya tajam melihat Anaknya itu. Reza tidak bergeming sedikitpun dia berlalu ke kamarnya, melihat Anaknya yang seakan masih menyimpan rasa kesal terhadapnya lalu Cindy menghampiri Reza kedalam kamar.
Sampai di dalam kamar Cindy menatap lekat Reza yang sedang merebahkan badannya, dan menatap langit-langit kamar.
__ADS_1
"Ada apa lagi Mah, Aku mau istirahat, tolong tinggalkan Aku sendiri." ucap Reza tanpa melihat Mamanya itu. Diperlakukan seperti itu Cindy kesal dia mencoba menghela napas panjang.
"Kamu, dari mana saja? sudah tidak betah di rumah lagi, tiap hari keluyuran!" Cindy memarahi Reza tapi bicaranya tetap terjaga tidak keras, takut kalau bicara dia keras sang Anak akan membalikkan fakta bahwa Cindy ketahuan sama lelaki lain di sebuah Kafe, dan dengan nada bicara keras takut terdengar oleh Haris.
Lalu Reza menutup kupingnya dengan bantal, dia seakan malas untuk berdebat sama Mamanya.
"Mah, bisa tinggalkan Reza sendiri?" ucap Reza tanpa menengok ke arah Mamanya itu. Cindy semakin kesal dengan tingkah Anaknya yang tidak peduli terhadap ucapannya,
"Ini Mama kamu, dan kamu harus menghormati Mamamu!" kali ini nada suaranya Cindy sedikit keras dan emosi.
Mendengar istrinya berbicara dengan suara tinggi lalu Haris berjalan ke dalam kamar, namun Haris mengurungkan niatnya untuk masuk setelah mendengar Reza berbicara.
"Mama punya lelaki lain, selain Papa?" tanya Reza. Cindy terkejut, karena obrolan tadi pagi mengapa di ulang kembali oleh Anaknya.
"Tidak mungkin teman, masa berdua dan begitu akrab di Kafe." Reza seakan kesal terhadap Mamanya yang tidak mau mengakui siapa sebenarnya lelaki yang bersama Mamanya kemarin malam itu.
Mendengar obrolan antara Anak dan istrinya itu Haris mengepalkan tangan dan dadanya bergemuruh seakan ada sesak disana. Namun Haris mencoba tenang lalu dia duduk di kursi pinggir pintu kamar itu. Seakan lemah lunglai mendengar apa yang baru saja dia dengar barusan. Reza Anak yang pendiam dan tidak gegabah dalam hal apapun, jadi Haris tahu betul, sifat dari Anaknya itu, jika tidak ada bukti kuat dia tidak akan berani berbicara tersebut kepada Cindy.
Melihat sang majikan duduk di pinggir pintu dan terlihat dari raut muka menyimpan rasa sedih yang teramat, Mbak Eka sang ART dengan sigap dia menawarkan minuman
"Pak, saya bikinkan teh hangat ya, biar pikiran tenang," ucap Mbak Eka. Haris hanya menganggukkan kepalanya, dia berpikir tidak mungkin dia tiba-tiba masuk nanti akan memperkeruh keadaan, dan dia juga tidak mau bertengkar dengan Cindy di depan Anaknya Reza.
Haris berlalu dari tempat duduk lalu dia keluar , dan duduk di teras, kini dia teringat kembali waktu dahulu Cindy sangat tertata dalam bahasa tidak pernah terjadi percekcokan antara Reza sang Anak dan dirinya, tapi entah mengapa belakangan ini banyak sekali percekcokan diantara mereka.
__ADS_1
Satu jam sudah Cindy di dalam kamar Anaknya itu, kemudian dia keluar dari kamar Reza sebelum kekuar dari kamar dia mengusap air matanya yang menetes, dia tidak mau Haris melihat dirinya lagi dalam keadaan menangis.
"Pah, belum tidur?" Haris terkejut tiba-tiba Cindy datang, karena Haris sedang melamun. Haris membuang napas kasar dan dia mencoba menyembunyikan wajah kesalnya kepada istrinya itu. Cindy duduk di pinggir Haris sambil kepalanya menyender di bahu Haris, namun Haris tiba-tiba menggeserkan badannya dan sekarang ada jarak di antara duduk mereka. Dalam hati Haris di hinggapi rasa kesal setelah mendengar obrolan yang dia dengar antara istri dan Anaknya.
"Papa mau tidur ngantuk!" Haris kemudian berlalu dari hadapan Cindy. Melihat sang suami berlaku dari hadapannya Cindy seakan tidak memperdulikan itu semua, dia lalu mengambil ponsel di dalam saku bajunya lalu dia dengan asik menulis pesan kepada Bram.
***
Nampak di dalam kamar Haris begitu terluka setelah mendengar apa yang baru saja dia dengar, dadanya begitu bergemuruh.
"Aku tidak akan memarahi istriku sebelum Aku lihat dengan mata kepalaku sendiri, bahwa dia ada lelaki lain selain Aku!" tapi pikirannya seakan melayang tidak karuan. Haris mencoba memejamkan mata, matanya seakan berat karena akan ada air mata yang akan menetes disana. Dia menyadari sebagai suami dia terlalu sabar menghadapi istrinya. Cindy yang dulu pendiam, istri yang tidak banyak teman dan selalu nurut sama suami, Haris pun sangat memanjakan Cindy. Seiring waktu berjalan mengapa tingkahnya menjadi aneh dan berani terhadap suami tapi Haris membiarkannya.
**
Jam menunjukkan pukul dua pagi tapi Cindy belum juga memasuki kamar, dia sedang asik berada di teras rumah memainkan ponselnya.
Haris mengintip di jendela kamar, nampak Cindy sedang tersenyum sendiri sambil memainkan ponselnya itu.
Huh....
Haris membuang napas kasar, lalu dia meneguk air mineral.
"Aku suami tidak berguna, kurang tegas!" gumam hati kecilnya. Dilihatnya foto keluarga dulu saat Reza masih kecil. Begitu polos sosok Cindy, alim dan penampilannya sangat sederhana begitu berbeda dengan yang sekarang.
__ADS_1
"Aku menginginkan kamu seperti ini lagi!" Haris berbisik kecil dalam hatinya.