Pengkhianatan Seorang Istri

Pengkhianatan Seorang Istri
Bab: 52 Mbak Eka Pulang Kampung


__ADS_3

{"Pak, Mbak, mau pulang kampung seminggu saja, Ibu sakit,"}


Mbak Eka menelepon sang majikan, Haris.


Terdengar sedih ketika berucap.


{"Mbak, Rara sama Reza gimana kalau tidak ada Mbak. Tapi, aku tidak bisa melarang Mbak pulang, apalagi Ibunya lagi sakit. Janji ya, nanti kalau Ibu di kampung sudah agak baikan cepat pulang ya, janji hanya seminggu."} ucap Haris.


"Tapi Pak, kata Reza tidak apa-apa, Mbak pulang dulu, Reza tidak akan pergi ke rumah temannya, dia akan jaga Rara jika Ibu belum pulang kerja, dan Ibu pun sudah bilang iya, tidak apa-apa," Mbak Eka penuh harap untuk di ijinkan agar dia bisa pulang kampung.


"Yasudah, kalau begitu nanti Bapak hubungi Ibu!" ucap Haris, kemudian Haris menutup teleponnya kemudian dia menghubungi Cindy.


Tapi ketika Haris menelepon Cindy, dia tidak mengangkat nya, kemudian Haris pun memberikan pesan kepada istrinya itu.


"Mbak Eka mau pulang kampung, tolong Mama jangan lembur selama seminggu ini di kantor, pulang kerja tepat waktu!" Haris seakan memberikan ancaman kepada istrinya itu.


"Iya!" Cindy memberikan balasan pesan kepada Haris, begitu singkat.


***


Mbak Eka nampak terlihat sedih ketika akan berangkat ke kampung halamannya, Rara menangis tersedu-sedu.


Cindy beserta Anak-anak, mengantarkan Mbak Eka ke Stasiun.


"Mbak jangan lama perginya, cepat pulang!" Rara memeluk erat Mbak Eka.


"Nggak, Sayang, cuma seminggu. Jangan nakal ya!" Mbak Eka pun melambaikan tangan.


***


Dalam perjalanan pulang menuju ke rumah, nampak di dalam mobil sepi, tidak ada satu orang pun yang berbicara.


Reza sibuk dengan ponselnya main game, Cindy fokus menyetir, sedangkan Rara mukanya tampak cemberut seakan hatinya sunyi setelah kepergian Mbak Eka.


"Makan yu!" Cindy membuka obrolan.


"Makan dimana, Mah?" Reza menjawab tanpa menoleh ke arah Cindy, matanya lekat ke arah layar ponsel.


"Rara, mau makan dimana?" Cindy mengusap lembut rambut anaknya itu.


Rara tetap diam,


"Ayo dong, ada ide, nggak Kak?" Cindy menoleh ke kaca spion melihat ke arah Reza.


"Terserah!" jawab Rara.


"Jangan sedih dong!" Cindy kembali melirik Rara.


"Pulang saja!" ucap Rara.


"Yasudah, kalau gitu!" Cindy pun terdiam tidak berbicara lagi.


"Reza, lapar!" Reza kemudian memaksa Adiknya itu untuk mau makan.


Akhirnya dengan rayuan maut sang Kakak, Rara pun mau di ajak makan.


***


Cindy membelokkan mobil sedannya ke Restoran favorit, dan termahal di kota Bogor.


Tiba di Restoran, Reza tersenyum sambil memegang perutnya.


"Kalau nyampe di Restoran favorit, perutku mulai bunyi nih!" candanya sambil mencolek bibir Rara yang terlihat cemberut.


"Diam!' Rara melotot.


"Waduh, takut!" Reza menutup mukanya dengan kedua tangannya.


Cindy pun tertawa melihat kelakuan Anak-anaknya itu.

__ADS_1


***


Sang pelayan datang,


"Silahkan mau pesan apa?" sang pelayan memberikan buku menu di Restoran favorit itu.


"Aku mau Steak!" telunjuk Reza mengarah ke Steak tenderloin double.


"Rara, mau apa!" tanya Cindy.


"Nggak makan!" ucap Rara masih cemberut. Cindy lalu berbicara kepada pelayannya, samakan saja makannya.


"Minumnya jus jeruk!" ucap Reza.


Lama-lama Cindy menjadi kesal kepada Rara.


"Rara, jangan gitu ya! baru di tinggal pergi sehari sama Mbak Eka, udah marah-marah." Cindy mengambil tisu yang berada di meja lalu mengusap keringatnya.


Pikiran Rara melayang jauh,


{"Jika Mbak Eka tidak ada siapa yang masak, yang menemani dia di rumah, yang selalu melindungi dia jika Cindy pergi!"}


Beribu tanya hinggap di kepala Anak itu.


***


Makanan sudah datang,


"Ayo, makan Kak!" Cindy menawarkan makan kepada Reza, sedangkan Rara tidak diliriknya.


Akhirnya sang Kakak menyuapi sang Adik dengan penuh telaten.


Dalam hati Rara dihinggapi rasa nyaman seperti ketika dia berada di dekat Mbak Eka.


Cindy selama ini tidak memperdulikan Anak-anaknya yang ada di pikirannya hanyalah laki-laki.


Reza dan Rara begitu asik menikmati makanannya sedangkan Cindy, ketika makan sambil asik memberikan pesan dan senyumannya mengembang, mungkin pesan dari Bram.


***


{"Ya, Anakmu kan nggak ada Mbaknya, kalau kita bertemu besok, Rara tidak ada yang jaga di rumah!"} ucap Bram di sambungan selularnya.


{"Ya, nggak apa-apa, kan kita cuma makan sore saja, sebentar juga!"} jawab Cindy seakan berharap, Bram datang besok menemaninya untuk bertemu sepulang kerja untuk makan.


{"Yasudah, terserah kamu!"} Bram kemudian menutup teleponnya.


***


Keesokan harinya Cindy terlihat sibuk, dia mempersiapkan sarapan pagi, dan mengantarkan sekolah Rara, sedangkan


Reza ada yang jemput temannya, untuk pergi ke sekolah.


***


Di dalam mobil,


"Ra, pulang sekolah nanti jangan main, langsung pulang ya. Kak Reza sama temannya nanti menjemput Rara ke sekolah!" ucap Cindy, di dalam mobilnya.


"Loh, nggak di jemput sama Mama!" Rara langsung cemberut.


"Mama ada perlu dulu sebentar!" Cindy berusaha meyakinkan Anaknya itu, kepergiannya hanya sebentar saja.


"Mama, nanti nggak pulang!" Rara seakan tahu, jika Mamanya selalu telat jika pulang kerumah.


"Mau dibeliin apa pulangnya, Sayang?" Cindy merajuk Anaknya itu.


"Nggak!" Rara langsung menjawab dengan


nada kesal.

__ADS_1


Cindy pun terdiam, tidak melanjutkan bicaranya.


***


Sore tepat pukul lima Cindy dengan cepat keluar dari kantornya, menuju Kafe yang dia janjikan bersama Bram.


Setelah bertemu dengan Bram langsung muka Cindy berseri-seri.


Cindy seperti sedang terlena kembali dengan buaian Bram, dan kekasih gelapnya itu, dan Bram kembali memberikan sebuah hadiah yaitu, Tas merk Gucci berwarna coklat.


"Wah, Tas Gucci nya, bagus banget!" Cindy dengan spontan memeluk Bram.


"Kamu suka!" Bram mencubit pipi Cindy dengan gemas.


"Suka banget, keren!" Cindy tersenyum sumringah.


Karena terbuai dengan Tas Gucci yang keren, Cindy sampai lupa waktu.


Sudah hampir tiga jam dia berada di Kafe itu.


***


"Jam delapan!" Cindy melihat arlojinya yang menempel di pergelangan tangan kirinya.


"oh, iya! udah jam delapan tidak terasa ya!" Bram juga melihat arlojinya.


"Ayo, kita pulang. Anakku nanti ngomel-ngomel, Mamanya telat pulang!" Cindy terkekeh tertawa.


Mereka pun berlalu dari Kafe itu,


***


Setiba di rumah Rara menampakkan muka cemberut, dia duduk di teras rumah. Matanya sepertinya menahan rasa ngantuk tapi dia tahan karena menunggu kedatangan Mamanya.


"Rara, ini Mama bawa nasi goreng sosis, kesukaan Rara!" Cindy tersenyum dan mencium kening Anaknya itu.


Rara mendelik kesal,


Rara langsung berlalu dari hadapan Cindy dan memasuki kamarnya, tanpa pamit kepada sang Mama.


Cindy mengernyitkan dahi,


Dia berpikir seakan, tidak ada masalah semuanya akan selesai.


Ketika Cindy berjalan menuju kamarnya tiba-tiba, Reza keluar dari kamarnya.


"Mah, kenapa sih, pulang kantornya nggak bisa sore?" tanya Reza, seakan kesal.


"Sayang, belum tidur!" Cindy hanya tersenyum.


"Belum lah, nungguin Mama!" jawabnya ketus.


"Sudah makan, Sayang?" Cindy mengeluarkan dua bungkus nasi goreng dan dia simpan di meja makan.


Reza pun seakan tidak selera untuk makan, dia pun berlalu kembali ke kamar.


Melihat Reza memasuki kamarnya, Cindy pun berlalu memasuki kamarnya,


***


Di dalam kamar nampak Rara menulis pesan kepada Mbak Eka yang berada di kampung.


{"Mbak, kapan pulang, Rara kangen!"} tulis pesannya.


{"Baru juga tiba di kampung!"} jawab Mbak Eka, sambil menambahkan emotion tersenyum dan memeluk.


Rara pun tidak membalas lagi pesannya kepada Mbak Eka.


Air matanya menetes, entah mengapa hati Rara saat itu merasa sedih.

__ADS_1


Rara ingin sekali menghubungi Papanya, tapi ragu karena Papanya selalu mengkhawatirkan dirinya.


__ADS_2