Pengkhianatan Seorang Istri

Pengkhianatan Seorang Istri
Bab 61 Cindy Terluka


__ADS_3

"Rara, betah tidak tinggal disini, di rumah Tante Hana?" tanya Tante Hana, adik dari Haris, menatap lekat kepada keponakan nya itu.


Rara tersenyum lebar.


"Betah Tante, dari pada tinggal sama Mama, tidak pernah ada di rumah," Rara seakan kesal kepada sosok Mamanya, yang tidak perhatian dan tidak peduli kepadanya.


"Ra, Mama kan, sakit, kita jenguk Mama yu, ke Bogor," dengan cepat Rara, menggelengkan kepalanya, pertanda dia tidak mau bertemu dengan Mamanya.


Dia seakan benci kepada Mamanya yang selalu marah-marah tidak jelas.


***


Hana hanya menghela napas panjang,


"Alasanku apa ya, ke Mas Haris. Anaknya tidak mau pergi ke Bogor, untuk menemui Mamanya. Padahal Cindy saat ini butuh sosok anak yang bisa menenangkan hatinya, meskipun dulu Cindy licik dan tidak sayang anaknya, tapi tetap saja dia adalah anaknya, darah dagingnya," gumam hati Hana, dia seakan berpikir keras, untuk mempertemukan Rara dan Cindy.


***


Ibunya, Haris menelepon.


{"Haris, sekarang Cindy sudah keluar dari rumah sakit, gimana kalau kita pergi ke Bogor, untuk membicarakan rencana rumah yang akan di jual?"} terdengar sang Ibu sangat antusias ketika berucap.


{"Bu, Cindy, baru saja keluar dari rumah sakit, kondisi badannya masih belum stabil. Apa nanti saja, nunggu kondisi badannya pulih, baru kita pergi ke Bogor, lagian butuh waktu juga, dia harus mencari rumah dulu untuk dia tempati nanti,"} jawab Haris kepada Ibunya.


{"Kalau soal rumah, kamu bisa belikan rumah dia yang kecil, atau uangnya saja, biar mikir dia. Uangmu saja dulu di habiskan sama dia!"} Ibunya, Haris, seakan kesal ketika berucap.


Akhirnya Haris dengan Ibunya beradu argumen, mengakibatkan Ibunya marah, dan menutup sambungan selular teleponnya.


***


Cintya menelepon Haris, dia memohon agar Reza dan Rara, bisa datang ke Bogor untuk menemui Cindy, karena Cindy tidak mau makan, dan kondisi badannya semakin hari semakin melemah.


Mungkin jika anak-anaknya datang, dia akan sedikit terobati dan badannya kembali pulih.


Setelah Haris cukup lama berpikir, akhirnya Haris menyetujui permintaan Cintya, adiknya Cindy itu.


***


Reza dan Rara di bujuk sama Hana untuk pergi ke Bogor, dan mereka akhirnya mau mengunjungi Cindy, Hana pun menelepon Haris untuk pergi menemui Cindy yang sedang sakit.


***


Hana menjemput Haris ke Bandung, setelah itu perjalanan pun di lanjutkan ke Bogor, untuk menemui Cindy.


***


Di dalam mobil Rara mukanya di tekuk dan cemberut, Hana dan Mbak Eka, mencoba menghibur Rara.


Begitupun dengan Reza, tidak banyak kata matanya hanya fokus ke ponselnya memainkan game.


***

__ADS_1


Akhirnya mereka pun tiba di Bogor.


Nampak Rara tidak mau turun dari dalam mobil, namun sang Papa membujuknya untuk segera turun dari dalam mobil untuk menemui Mamanya, yang sedang sakit.


***


Melihat Cindy yang keluar dari kamarnya dengan memakai kursi roda, Haris seakan terenyuh hatinya, dia merasa kasian dan iba.


Muka Cindy pucat pasi, badannya terlihat kurus, sementara Reza dan Rara, seakan tidak sedih ketika melihat keadaan Mamanya seperti itu.


Rara dan Reza menatap lekat ke Cindy.


Mata Cindy berkaca-kaca, dia melebarkan tangannya seakan ingin di peluk kedua anak-anaknya, tapi entah mengapa kedua anak itu hanya saling menatap satu sama lain.


"Reza, Rara, ayo, peluk Mamanya," Haris berucap sangat pelan kepada anak-anaknya itu.


***


"Ada apa dengan, anak-anak Haris?" gumam hati Hana.


Kemudian Mbak Eka, menggenggam tangannya Rara, dan mengajak Rara untuk segera berjalan menuju ke arah Cindy yang terlihat sedih dan termangu di depan pintu kamar.


"Sini, Ra! ini Mama, kenapa kamu Nak, kamu tidak kangen sama Mama?" Cindy matanya berkaca-kaca, suaranya serak.


Melihat apa yang sedang terjadi, hati Cintya seakan sesak, karena Kakaknya ternyata tidak disambut oleh anak-anaknya dengan rasa sayang dan perhatian.


***


berucap pelan sambil menatap Cintya .


Cintya menghela napas panjang,


"Mas, tolong jangan terus memojokkan Kakakku, kasian," Cintya terlihat sedih, dan kesal kepada suaminya, karena dari kemarin Bagas terus memojokkan Cindy.


***


Rara memeluk Cindy seakan terpaksa, raut mukanya datar tidak nampak sedih, begitupun dengan sang Kakak Reza.


***


Haris pun tidak banyak kata, hanya Hana yang aktif ngobrol bersama Cindy dan Cintya.


***


Rara seakan tidak mau lepas dari pangkuan Haris, dia seakan asing melihat Cindy, dan Rara merengek terus ingin pulang.


Melihat anaknya yang merengek terus pulang, hati Cindy seakan teriris, mungkin diluar ekspektasi dia.


Cindy berpikir anak-anaknya dan Haris akan menangisi dia, terutama Rara akan berteriak histeris karena sang Mama sekarang memakai kursi roda.


***

__ADS_1


Cindy seakan terluka hatinya,


"Dek, aku mau tidur saja, kepala pusing, aku mau ke kamar saja! tolong bawa aku ke kamar," Cindy seakan tak kuasa menahan sesak yang teramat karena tidak di hargai oleh orang-orang yang dulu sangat peduli kepadanya.


Melihat sang Kakak terlihat sedih, akhirnya Cintya pun membawa Cindy kembali ke kamarnya.


Di dalam kamar Cindy sesunggukkan menangis histeris.


Rasa kesal, kecewa, sedih, seakan menyatu semua. Dadanya terasa sesak, dia seakan tidak di hargai dan tidak di beri rasa nyaman oleh Haris dan kedua anaknya.


***


Mendengar tangisan Cindy yang sangat keras, akhirnya Haris dan Bagas dengan cepat memasuki kamar Cindy.


Terlihat Cindy memukul-mukul kepalanya dengan kedua tangannya, dia seakan tidak bisa mengontrol emosi keadaan dirinya sendiri.


Melihat Haris yang seakan kaku dan risih untuk memegang Cindy, akhirnya Bagas yang memegang kendali.


Dia mencoba menenangkan Cindy dengan memegang tangan Cindy, untuk tidak memukuli kepalanya.


Cintya memeluk erat sang Kakak, kemudian dia memberikan obat kepada Cindy, agar kondisi badannya terasa tenang.


"Pergi, pergi, kamu Haris! percuma kamu bawa anak-anakku, tapi mereka tidak menghargai ku." Cindy melotot, menatap tajam kepada Haris, dadanya bergemuruh tidak beraturan.


Haris pun keluar dari kamar Cindy, dia terlihat bingung, dan Haris begitu tidak menyangka keadaan kondisi Cindy seperti ini.


***


Cindy pun terlelap tidur, setelah Cintya memberikan obat.


Sementara Rara merengek terus minta pulang, dia pun seakan ketakutan melihat Cindy seperti itu.


"Besok, pulangnya, sekarang sudah malam, lebih baik Rara tidur dulu," ucap Haris, memohon kepada anaknya itu.


Mbak Eka pun mencoba memberikan pengertian, kepada Rara.


Melihat anak-anak Cindy berlaku seperti itu, sekarang Cintya tahu, bahwa selama ini Cindy Kakaknya, memang benar selalu menelantarkan anaknya, terlihat dari perlakuan anak-anaknya Cindy, sangat cuek dan seakan tidak peduli.


***


Keesokan harinya, Haris pun pulang kembali ke Surabaya, nampak Cindy mengunci diri tidak mau keluar ketika Haris berpamitan.


"Mas, mungkin Cindy butuh istirahat, kalau mau pulang tidak apa-apa, kasian Rara merengek terus minta pulang," Cintya seakan mengerti situasi yang sedang terjadi.


Sementara Hana, tidak bisa berkata apa-apa, dia hanya memberikan amplop yang berisikan lembaran uang berwarna merah kepada Cintya.


"Mbak, ini ada sedikit rezeki," ucapnya, sambil mengepalkan amplop tersebut ke tangan Cintya.


***


Cintya melambaikan tangan, ketika mobil Haris keluar pagar halaman rumah.

__ADS_1


Tapi tidak bisa di bohongi hatinya sedih berkeping-keping, meskipun dia tersenyum lebar. Sorot matanya menyimpan luka dan sedih yang teramat.


__ADS_2