
Sudah tiga hari ini Cindy sakit, badannya meriang. Badannya lemas membuat mukanya pucat, dan makan pun seakan tidak ada selera.
"Mah, ayolah, jangan seperti Anak kecil, makan yang banyak biar cepat pulih kesehatannya," ucap Papa Haris mengkhawatirkan keadaan isterinya itu. Cindy hanya termangu seakan malas beranjak dari tempat tidur, pikirannya melayang memikirkan sang kekasih hati yaitu Bram, kabar berita dari Gisel sahabat dari Bram pun tak kunjung datang.
"Pah, boleh tinggal saja aku sendiri di kamar, aku hanya perlu istirahat saja." Cindy sambil memalingkan mukanya kepada suaminya itu. Akhirnya Haris pun keluar dari kamarnya.
***
"Pah, sebenarnya Mama sakit apa sih?" tanya Reza anak pertamanya, sambil memainkan ponselnya itu. Reza seakan tahu bahwa Mamanya sakit karena memikirkan sesuatu hal jadi mengakibatkan badannya ngedrop.
"Kamu coba lihat Mamamu, ke kamar," Papa membujuk Anak laki-lakinya itu. Hubungan Reza dan Mamanya saat ini kurang baik semenjak kejadian kecelakaan itu, Mama tidak ada dan kehadirannya telat ke rumah sakit mengakibatkan Reza kesal sama Mamanya itu.
__ADS_1
Rara sang Adik, berusaha juga membujuk Kakaknya itu agar mau menemui Mamanya di kamar, meskipun Rara masih kecil tapi pikirannya cukup dewasa dan pintar.
"Ya, sudah, jangan di paksa Dek, kalau Kakakmu tidak mau menemui Mama, lagian Mama tidak mau di ganggu dulu dia ingin istirahat," Papa menghela napas panjang. Reza mengernyitkan dahi dalam pikirannya di hinggapi rasa heran, mengapa Mama lagi sakit tidak mau di ganggu atau di temani Papa, biasanya dulu jika sedang sakit manja, selalu ingin dekat Papa dan Anak-anaknya berkumpul di kamar.
"Ahh, bodo amat, Aku tidak peduli apa pun itu!" gumam hati kecil Reza.
____
Krekkk....
Suara bunyi pintu kamar membuyarkan lamunan Cindy, dengan sigap Cindy membalikkan bola matanya ke arah suara pintu kamar. Di lihatnya Papa membawa sarapan roti bakar dan secangkir susu jahe panas. Aroma jahe yang menyeruak ke hidung Cindy, begitu membuat penciumannya terasa ingin menikmati minuman itu.
__ADS_1
"Sudah agak mendingan Mah?" tanya Papa sambil menyodorkan secangkir susu jahe itu kepada Cindy, kemudian Cindy mengambil secangkir susu jahe itu dan meneguknya.
"Masih terasa pusing sedikit," ucapnya. Haris seakan canggung kepada Istrinya itu, entah mengapa, padahal dulu jika Cindy sakit selalu bergelayut manja kepada suaminya, dan Haris pun selalu tidak sungkan untuk memijat dan memanjakan Istrinya itu.
"Aku pergi kerja dulu, kalau gitu, dan kalau ada apa-apa, Mama hubungi Papa saja ya," ucap Haris kemudian mencium kening istrinya itu. Haris berjalan keluar kamar lalu dia pergi meninggalkan istrinya itu.
Cindy mengambil ponselnya di atas nakas kemudian dia mencoba kembali menghubungi Bram tapi tetap saja seperti kemarin nomor dari Bram tidak bisa di hubungi. Cindy membuang napas kasar, seakan kesal dan kecewa kepada Bram. Kemudian dia menghubungi lagi Gisel tapi tetap Gisel berkata Bram tidak ada kabar.
"Mungkinkah dia mau menghindar dari Aku?" gumam hati Cindy, dia seakan terpukul karena hatinya sudah di hinggapi rasa asmara terhadap Bram meskipun itu cinta terlarang. Mungkin pesona Bram begitu menggairahkan hati Cindy sampai Cindy lupa terhadap suami dan anak-anaknya.
"Apakah Aku, harus berkunjung ke rumahnya?" bisikan napsu kian merasukinya.
__ADS_1