Pengkhianatan Seorang Istri

Pengkhianatan Seorang Istri
Bab 27


__ADS_3

Sepulang dari pasar Mbak Eka langsung menuju dapur nampak masih ada Reza disana sedang menikmati buah semangka. Melihat Anak majikannya masih tetap berada disana ART nya itu jadi salah tingkah takut jika Reza terus bertanya tentang Cindy.


"Mbak, Aku tahu Mbak lagi berbohong sama Aku, ada lelaki yang pernah datang kesini kan?" tanya Reza lirih.


Mbak Eka salah tingkah jantungnya dag-dig-dug tidak karuan dalam benaknya di hinggapi rasa takut. Takut jika membongkar kebusukan Cindy sang majikan marah.


Reza mendesak terus menerus kepada ART itu agar berkata jujur.


"Mbak, lihat mata Reza, apa Mbak tidak kasian melihat keluarga Papa berantakan, Aku janji tidak akan ngomong kepada Mama jika Mbak berbicara yang sebenarnya," mata Reza menatap lekat ART nya itu yang sudah dia anggap seperti saudaranya sendiri.


"Ta...tapi, Mbak!" ART itu seakan tidak bisa meneruskan bicaranya.


"Takut? takut sama Mama?" Reza terus mendesak. Mbak Eka menganggukkan kepalanya dan pandangan tidak berani menatap Anak majikannya itu.


"Mbak, hanya Reza dan Mbak yang tahu, tenang saja," Reza berbisik pelan kepada Mbak Eka. Akhirnya Mbak Eka menceritakan semua meskipun dengan nada bicara yang terbata-bata, dan pandangan mata melirik kiri dan kanan karena takut Cindy tiba-tiba datang.


"Mbak, jangan gugup. Santai saja! Mama lagi tidur," ucap Reza.


Setelah Mbak Eka menceritakan semua betapa terkejutnya Reza, dadanya seakan memburu, dia begitu kesal, kecewa dan marah kepada Mamanya. Pandangan Mbak Eka memelas kepada Anak majikanya agar tidak memberitahukan semua yang di ceritakanya kepada Mama, dan Papanya.


Nampak terlihat Reza sedih hatinya remuk redam, seakan badannya lemah lunglai tak berdaya, dia mengepalkan tangannya dan tidak terasa bulir putih lolos seketika di pelupuk matanya. Melihat Anak majikannya menangis Mba Eka seakan iba, dan dia pun merasa di hantui rasa bersalah, Mbak Eka pun meneteskan air mata terlihat ada rasa sesal dalam dirinya, mengapa dia menceritakan masalah sebenarnya kepada Anak majikannya.


"Kak, maafkan Mbak," Mbak Eka merasa bersalah dan bercucuran air matanya.


"Tidak Mbak, tidak apa-apa, Mbak tidak salah, malah Aku sangat berterima kasih kepada Mbak karena mau berterus terang bicara kepada Aku," Reza nampak terpukul sekali. Mbak Eka menyesal, penuh sesak dia rasakan dan di hantui rasa bersalah.


Ehm.....


Terdengar suara dehem dari ruang tamu, sudah tidak asing lagi itu suara Cindy. Dengan cepat Reza dan Mbak Eka menghapus air matanya. Reza dengan cepat berjalan menuju ke kamar mandi karena letak dapur dan kamar mandi bersebelahan, dan Mbak Eka langsung meneruskan untuk memasak.


Cindy kemudian memasuki dapur dia terlihat curiga melihat ART nya itu seperti sudah menangis.


"Kenapa Mbak?" tanya Cindy sambil membuka kulkas, lalu mengambil air mineral dalam botol.

__ADS_1


Glek....


beberapa kali dia meneguk air mineral yang dingin itu, lalu dia menghela napas panjang, dan duduk di meja makan sambil memainkan ponselnya.


"Ini Bu, lagi mengiris bawang merah, menyengat terkena mata, jadi keluar air mata," ucap Mbak Eka mencoba berbohong. Cindy hanya menyimak omongan Mbak Eka tanpa berkomentar, dan Cindy pun kembali memainkan ponselnya.


"Mah..!"


Tiba-tiba Rara memanggil sang Mama, Cindy pun berlalu dari dapur dan dia lupa meninggalkan ponselnya di atas meja makan.


Rara bangun tidur, dan dia rewel. Cindy pun menemani Rara di kamarnya. Melihat Cindy datang akhirnya Haris keluar kamar dan berlalu ke dapur untuk membuat kopi.


Ketika Haris duduk di meja makan, tanpa sengaja dia melihat ponsel Cindy yang tiba-tiba ada pesan masuk dan tanpa sengaja Haris membacanya.


{"Sayang, ponselnya baru aktif ya?"} isi pesan tersebut begitu membuat mata Haris terbelalak dan dadanya bergemuruh seperti ada yang menghantam.


Haris mencoba tenang, dia tidak mau terlihat gugup karena disana ada ART nya. Niat untuk membuat kopi dia urungkan karena sudah terlanjur sesak dadanya.


"Aku akan bersikap seperti biasa kepada istriku, yang penting Aku sudah tahu selama ini ada lelaki lain di hatinya," Haris kemudian berdiri dan menggeserkan kursi meja makan, seakan tidak berpijak dia melangkahkan kaki keluar dari dapur menuju kamar, mukanya menunduk, lemah lunglai terasa badannya.


"Pak, kenapa gak jadi buat kopinya? atau mau dibuatkan teh hangat saja?" Mbak Eka menawarkan teh hangat kepada Haris, dan Haris pun hanya menggelengkan kepala sambil berlalu.


"Bapak kenapa ya? seperti ada yang dipikirkan?" gumam hati Mbak Eka.


"Mah, Papa ingin beli soup buah di tempat langganan kita, bisa Mama pesankan?" Niat Haris hanya ingin Cindy bisa menghubungi tukang soup buah agar ponselnya Cindy, di ambilnya. Haris berpikir dari pada nanti pesannya terbaca oleh Anak-anaknya atau lelaki itu menelpon dan Cindy akan lebih malu. Haris begitu menjaga perasaan istrinya meskipun itu kesalahan yang teramat besar yang di lakukan istrinya.


Cindy merogoh ponselnya di saku, namun tidak ada ponselnya disana, dan Cindy baru menyadari ponselnya dia tinggal di dapur lalu dengan cepat dia berjalan menuju dapur, dia melihat ada isi pesan masuk dari Bram, lalu dia dengan cepat menghapus isi pesan chat tersebut.


*****


Huh...


Haris membuang napas kasar, mukanya pucat, dia teringat terus isi pesan yang baru saja dia baca di ponsel istrinya itu.

__ADS_1


"Pah, Pah, Pah!"


Cindy memanggil Haris berkali-kali, karena Haris sedang melamun. Haris terperanjat dan menatap tajam istrinya itu, matanya berkaca-kaca seakan ada air mata yang akan tumpah disana


"Mah, kamu tega ya?" gumam hatinya.


Haris begitu sabar dan tidak memarahi istrinya, dia berprinsip kalau sudah dia lihat dengan mata kepalanya sendiri istrinya melakukan perselingkuhan baru dia bertindak. Untuk saat ini dia harus mengumpulkan bukti-bukti terdahulu.


"Pah, sudah Mama pesankan soup buahnya, setengah jam lagi baru nyampe," ucap Cindy. Haris hanya menganggukkan kepala.


***


Jam menunjukkan pukul sembilan malam nampak sepi sekali diluar karena malam itu habis hujan lebat jadi orang memilih diam di rumahnya masing-masing. Biasanya ada tukang jualan nasi goreng atau sate, tumben malam itu sepi, mungkin seperti hati Haris yang sepi karena ada pengkhianatan dari sang istrinya.


Mungkin Cindy sudah tidak nyaman lagi dengan Haris atau mungkin lelaki yang sekarang membuat dia jauh lebih nyaman, Haris dihinggapi rasa gelisah yang teramat, sosok istri yang dia banggakan karena penurut dan pendiam kini sirna.


Cindy yang dulu bukan Cindy yang sekarang, Cindy begitu berani dalam memoles make-up, dia dulu tanpa make-up dan baju pun sangat sederhana, beda dengan sekarang memakai pakaian pun agak terbuka dan terbilang seksi.


Haris beranggapan Cindy berubah dalam segi penampilan karena dia sekarang di kantor punya jabatan, dan penampilan pun harus di jaga, tapi ternyata ada hal lain yang membuat dia berubah seperti itu.


Ting...


Tiba-tiba pesan masuk ke ponselnya Haris, lalu Haris membaca isi pesan chat tersebut.


{"Dengan Mas Haris? saya Zhira, ada hal yang ingin saya sampaikan tentang istri anda, dan suami saya. Jika tidak keberatan bolehkah kita bertemu besok siang di Kafe Bintang." begitu di hinggapi rasa penasaran Haris ketika membaca isi pesan chat tersebut, Haris berulang-ulang membaca isi pesan chat itu. Dan dia baru sadar nama Bram.


"Bram? ini nama lelaki yang tadi siang mengirimkan pesan terhadap istriku Cindy kan." gumam hati Haris. Karena di hinggapi rasa penasaran yang teramat maka Haris membalas isi pesan tersebut.


{"Ya, Aku akan datang besok."} balas Haris.


*****


"Ya ampun, ada gerangan apakah ini, Aku harus menemui wanita ini besok?" gumam hati Haris sambil menghela napas panjang.

__ADS_1


Setelah membalas pesan tersebut lalu Haris memasuki kamarnya di pandanganya istrinya yang sedang tertidur pulas, lalu Haris merebahkan diri tepat di pinggir istrinya, kemudian dia menatap langit-langit kamar pandangannya seakan kosong, lalu Haris kembali menatap lekat istrinya itu. Dalam hatinya di hinggapi rasa kecewa, kesal, marah, campur menjadi satu ketika melihat wajah sang istri.


__ADS_2