Pengkhianatan Seorang Istri

Pengkhianatan Seorang Istri
bab 106 Bram Terluka.


__ADS_3

Bram di tinggalkan oleh ketiga orang tersebut di rumah yang jauh dari penduduk. Tempatnya yang sangat bau, kotor, dan sepi.


Bram menangis, marah, kesal. Semua campur aduk menjadi satu.


Bram berteriak minta tolong, meskipun dengan nada suara yang tidak jelas karena bibirnya dalam keadaan di tutup dengan lakban.


Mungkin dia berpikir siapa tahu ada yang mendengar dia, ketika dia berteriak meskipun dengan suara tidak jelas.


"An*i*g!" Bram mengucapkan kata binatang. Dia tidak rela dan marah di perlakukan seperti ini. Dadanya sesak, amarahnya ingin dia luapkan. Tapi apa daya dia tidak mampu untuk melakukannya.


****"


Bram yang punya Power.


Bram yang selalu di sanjung teman.


Bram yang di manja oleh kedua orang tua.


Bram yang selalu menyakiti hati wanita.


Itu semua sekarang musnah! di renggut oleh Bobby. Keadaan seperti ini membuat Bram seakan hancur. Dia tidak tahu mesti berbuat apa. Dengan badan yang di sekap dan semua fungsi badannya di ikat.


Dalam hatinya berpikir, akankah keluarga dan temannya jika mencari keberadaan dia yang hilang sampai disini?


Mungkin ini menjadi tanda tanya besar bagi Bram. Karena dia juga tidak tahu, tempat yang dia sekarang di sekap dimana.


Yang jelas tempatnya begitu sepi, tidak ada suara keramaian diluar, dan bau menyengat di dalam ruangan itu, membuat Bram berpikir ruangan ini sudah lama tidak ada orang yang menghuninya.


"Sial..! Bobby tunggu pembalasanku!" gumam hati Bram.


*****


Sementara ketiga orang yang menyekap Bram, sedang keluar untuk mencari makan.


"Bos, mau di buat apa si Bram!" tanya Bonar, menatap lekat kepada Bobby.


"Simpen disitu dulu, sampai dia kelaparan, nanti juga lama-lama mati disana!" Bobby seakan mengejek.


"Kasih minum saja, tidak apa-apa." sambung Reynold. tertawa terkekeh.


"Ya minum kasih takut dehidrasi! Hahahaha.." ucap Bobby


****"


Drettt...


Drettt...


Drettt...

__ADS_1


Tiba-tiba telepon berbunyi dari ponsel Bobby.


Terlihat dari layar ponsel Sherly, istri dari Bobby menelepon.


{"Mas, aku mau pergi keluar kota tiga hari sama teman-teman,"} ucap Sherly, nada bicaranya sangat manja seakan ingin di setujui oleh suaminya itu.


Bobby seakan tahu isi hati dari Sherly. Dia sedang merayu agar dia di ijinkan oleh suaminya. Dia sudah muak dengan istrinya itu, apalagi setelah dia melihat Bram. Luka di masa lalu, pengkhianatan yang di lakukan istrinya dengan Bram terdahulu seakan kembali menoreh kepadanya.


{"Terserah, mau tiga hari, seminggu, sebulan, setahun, nggak pulang pun, nggak apa-apa!"} jawab Bobby terlihat kesal ketika berucap.


Bobby seakan sudah tidak peduli lagi terhadap istrinya itu.


Dia sebenarnya sedang merencanakan sesuatu. Setelah dia memberikan pelajaran kepada Bram, dia juga akan memberikan pelajaran kepada istrinya itu. Dia berencana akan menceraikan istrinya itu. Tapi tidak sekarang, dia hanya perlu waktu saja.


Sherly tertegun, seakan tidak bisa bicara lagi. Ketika mendengar sang suami seakan tidak peduli lagi terhadapnya.


{"Ada apa Pah! ko, gitu bicaranya," tanya sang istri kepada Bobby.


{Sudah ya, aku ini lagi sibuk, lagi di jalan. Banyak urusan aku!"} kemudian Bobby menutup sambungan teleponnya.


Mendengar nada bicara sang suami seakan marah. Sherly pun tidak bisa berkata apapun. Wanita yang nekat dan tidak menghormati suami itu, akhirnya dia pergi juga dari rumah.


Padahal suaminya berbicara seperti itu, dia hanya ingin menggertak istrinya.


Tapi Sherly nekad dia pergi bersama brondong nya keluar kota, dengan alasan kepada sang suami hanya pergi dengan teman-temannya.


*****


"Gita...!" Sherly berteriak, dengan lantang. Memanggil nama anak tirinya itu.


"Iya Mah," Gita datang dengan tergopoh-gopoh sambil menggendong anaknya Dion, yang mukanya ganteng.


"Kamu jangan kemana-mana, acara fashion show semua kamu cansel! Mama mau keluar kota. Kamu jangan mengandalkan si Bibi, untuk menunggu anakmu. Kamu faham?" ucap Sherly menatap tajam kepada anak tirinya itu.


Gita menganggukkan kepalanya dan tersenyum sinis kepada Mama tirinya itu


*****


Sementara Sherly tertawa puas dalam hatinya. Dia keluar kota sebenarnya dengan Ayah dari Dion. yang bernama Zito.


Zito yang dulu mengkhianati Gita dan entah kemana kaburnya karena telah menghamili Gita, kini hadir di dalam hidupnya Sherly sebagai pemuas nafsunya.


"Mami, ayo kita keluar ke Mall!" ucap Dion menatap lekat Gita.


Sherly sang Nenek tiri, menatap lekat kepada Dion, dia tersenyum tipis, dan mencubit gemas Dion.


"Anak ini mukanya mirip dengan Zito, bukan dengan Gita Maminya," gumam hati Sherly.


Sherly jadi ingin cepat bertemu dengan Zito sang pujaan hatinya.

__ADS_1


Dion menangis karena cubitan dari Sherly begitu keras, Sherly mengucap kata maaf kepada cucu tirinya itu.


Kemudian dia mengeluarkan uang tiga lembar berwarna merah.


"Sayang, ini buat beli susu. Maafkan Nenek ya? habis kamu lucu dan menggemaskan sih. Nenek jadi teringat seseorang," ucap Sherly.


"Siapa Mah?" tanya Gita seakan penasaran.


"Te-Teman! ya, teman Mama, mirip sekali mukanya dengan Dion," Sherly hampir saja menyebut nama Zito, dia terlihat gugup ketika berucap.


"Anak ini mirip Ayahnya, si Zito. Orang tidak waras, nggak ingat sama darah dagingnya sendiri!" Gita terlihat kesal dan menyimpan amarah.


"Jangan begitu, mungkin dia saat itu lagi khilaf, mungkin juga dia sedang mencari keberadaan anaknya sekarang dimana. Kita kan menempati rumah ini baru. Jadi Zito tidak tahu keberadaan kamu saat ini," ucap Sherly seakan membela Zito.


"Loh, ko' Mama malah membela si Zito sih!" Gita terlihat kesal terhadap Mama tirinya itu yang membela Ayah dari anaknya, yang sudah kabur bertahun-tahun entah kemana.


"Bukan membela, Mama hanya menerka!" ucap Sherly.


Ting...


Pesan muncul dari Zito, dia mengabarkan sudah menunggu di sebuah Kafe. Kemudian Sherly merapikan make-up nya, yang terlihat sudah pudar dan tidak rapih kemudian dia memoles lipstik berwarna merah merona.


"Mama mau ketemu siapa sebenarnya, dandanan Mama kayak mau fashion show!" sindir Gita, yang melihat Sherly dandanannya terlihat menor dan pakaian yang di gunakan terlihat sangat seksi sekali.


"Teman arisan, Sayang! sudahlah jangan banyak nanya kamu!" Mama terlihat marah dengan omongan Gita seakan menyudutkan.


Gita hanya mengernyitkan dahi seakan heran terhadap Mama tirinya itu.


Gita berlalu dari hadapan Sherly, kemudian dia menelepon Bobby sang Papa.


Gita menanyakan kepada Bobby kapan Papanya itu pulang,


{"Papa masih ada urusan Sayang, yang harus di selesaikan!"} jawab Bobby di sambungan telepon selularnya.


{"Yasudah, hati-hati!"} terdengar kesal Gita ketika berucap.


*****


Sore hari.


Sementara Bobby yang berada di kota Bogor, ingin menyelesaikan urusan dulu dengan Bram.


Brrrrrttttt


Suara terlepasnya bunyi lakban dari mulut Bram membuat meringis Bobby yang sedang menutup sambungan telepon dari Gita.


Ronal membuka lakban yang menempel di mulut Bram.


Mereka bertiga kembali ke rumah kosong tersebut, ada rasa tidak tega yang menyelimuti hati Bobby terhadap Bram.

__ADS_1


Meskipun dia hanya memberikan nasi basi dengan takaran sedikit, tanpa ada lauknya di piring tersebut.


__ADS_2