Pengkhianatan Seorang Istri

Pengkhianatan Seorang Istri
Bab 36


__ADS_3

Haris melamun di teras rumah, jemari tangannya memijit-mijit keningnya, seakan pusing dan banyak yang dia pikirkan.


"Pak, mau di buatkan kopi?" tanya Mbak Eka. Haris menggelengkan kepala tanpa bicara sedikitpun.


Mbak Eka pun berlalu dari hadapan majikannya itu.


Mbak Eka berpapasan dengan Cindy ketika hendak berjalan ke dapur. Terlihat Cindy sedang membawa secangkir kopi.


"Bu, itu buat siapa?" pandangan Mbak Eka tertuju ke secangkir kopi yang dibawa oleh sang majikan.


"Buat Bapak," jawab Cindy.


"Tapi, barusan sudah Mbak tawarin tapi Bapak menolak untuk di buatkan kopi," Mbak Eka tertunduk.


Cindy tertegun sebentar tapi dia seakan tidak peduli apa yang baru saja di ucapkan oleh Mbak Eka. Cindy pun berlalu kemudian Cindy melangkahkan kakinya ke teras.


Dari balik kaca jendela dekat pintu nampak dengan jelas terlihat Haris mukanya ruwet seakan banyak pikiran, Cindy merasa ragu untuk menghampiri Haris suaminya itu. Cindy menghela napas panjang sebelum dia menghampiri suaminya itu.


Ehem....


Cindy lalu menggeserkan kursi kemudian duduk di samping Haris, karena jaraknya cukup berdekatan spontan Haris menggeserkan kursinya agar tidak berdekatan dengan istrinya itu, sontak mata Cindy mendelik kesal.


"Kenapa sih, Pah?" Cindy seakan tersinggung dengan perilaku Haris.


Haris tidak bergeming sedikitpun kemudian beberapa saat kemudian Haris memulai obrolan.


"Mah, Papa mau minta tolong," Haris terlihat serius ketika berucap.


"Minta tolong apa?" jawab Cindy menatap Haris.


"Restoran kita akan buka cabang baru di Solo jadi Papa untuk saat ini kekurangan modal. Papa mau pinjm modal ke Mama," Haris mengutarakan maksudnya yang akan membuka Restoran baru tapi untuk penambahan modal dia minta pinjam ke Cindy istrinya.


"Berapa, Pah?" ucap Cindy.


"Sedikit sih, cuma dua ratus juta," jawab Haris.


"Dua ratus!" Cindy berpikir cukup lama.


"Kenapa Mah? kan bulan kemarin baru saja Papa kasih seratus juta ke Mama, mungkin seratus juta lagi ada uang simpanan Mama. Bukannya waktu sebelum Papa ke Bandung Mama bilang ada uang tiga ratus juta di tabungan," ucap Haris.


"Enggak ada, Pah!" dengan cepat Cindy menjawab.


"Loh! lalu di kemanakan uangnya?" Haris mengernyitkan dahi nampak di hinggapi rasa heran.


"Tidak ada Pah, kalau segitu," ucap Cindy menunduk.


"Lalu ada berapa sisa di tabungan?" tanya Haris.


"Kurang dari seratus, Pah!" Cindy seakan ragu untuk berucap.


"Hah..!" Haris di hinggapi rasa heran.


"Dipake apa Mah, uang sebanyak itu dari tabungan?" Haris berbicara dengan nada tinggi.


"Untuk keperluan sehari-hari, Pah," jawabnya.


"Tidak, tidak mungkin. Uang itu cukup besar tidak mungkin kalau hanya untuk kebutuhan sehari-hari," Haris mulai curiga.


***


Percekcokan antara Haris dan Cindy pun terjadi. Haris memaksa Cindy jujur uang sebanyak itu dia gunakan untuk apa tapi mulut Cindy seakan terkunci dia tidak bicara sedikitpun.


Karena perselisihan itu tidak ada ujungnya maka Haris meninggalkan Cindy menuju ruang kerjanya.


***


Cindy akhir-akhir ini sangat royal memberikan barang mewah kepada Helmi tapi Cindy pun tidak mau jika harus berterus terang uang sebanyak itu habis dipakai untuk apa.


***


Jam menunjukkan pukul sembilan malam, Rara sudah tertidur lelap sementara Reza sedang asik main game di kamarnya. Haris masih saja berada di ruang kerjanya dari siang dia belum keluar. Makan sore pun tadi di antar oleh Mbak Eka ke ruang kerja tanpa berkumpul dengan keluarga.


Hari itu hari minggu, dan besok senin Haris harus segera kembali pergi ke Bandung. Cindy lalu mengetuk pintu.


Tokk...


Tokk...


Tokk...


"Pah..!"


"Pah..!"

__ADS_1


Tidak ada jawaban disana, lalu Cindy membuka pintu dengan sangat pelan.


Krekk....


Terlihat Haris tertidur pulas di kursi tempat kerjanya, terlihat lelah dari raut mukanya. Cindy menatap lekat suaminya itu.


"Pah, maafkan aku, selama ini aku selalu berselingkuh, padahal kamu suami yang baik dan bertanggung jawab," gumam hati Cindy.


Kemudian Cindy mendekat dan dengan spontan mencium kening Haris, terasa ada yang mendekat dan menciumnya langsung Haris bangun.


"Apa-apaan sih, Mah!" Haris terkejut.


"Kenapa Pah, aku istrimu?" ucap Cindy.


Haris kemudian berdiri dan mencoba membereskan dokumen yang berserakan di atas meja.


Melihat tingkah suaminya yang begitu cuek ketika istrinya mendekat, Cindy di hinggapi rasa kesal, dia merasa sebagai istri tidak di anggap.


Apakah Haris sudah tidak sayang lagi? sebagai istri Cindy butuh belaian kasih sayang. Merasa harga dirinya sudah tidak di anggap oleh suami.


Padahal jika seorang suami pergi meninggalkan istri cukup lama mungkin ada rasa rindu yang teramat. Lain cerita dengan Haris yang seakan dingin, dan tidak ada hasrat kepada istrinya itu.


Mungkinkah karena perselingkuhan yang dilakukan Cindy dulu mengakibatkan Haris trauma?


Kemudian Haris bergegas keluar dari ruang kerja dia pun berjalan menuju dapur lalu membuat secangkir kopi setelah itu Haris duduk di depan layar Televisi.


Cindy tidak tinggal diam dia menghampiri Haris lalu dia duduk mendekati Haris, entah mengapa Haris seakan canggung dibuatnya. Lalu kepala Cindy menyender di bahu Haris, dan lagi-lagi Haris melepaskan senderan Cindy terhadapnya.


"Entar dilihat Anak-anak, Mah!" ucap Haris.


"Loh, emangnya kenapa?" Cindy seakan geram dibuatnya. Ada-ada saja alasan Haris.


"Sudahlah, Mama tidur, nanti kesiangan. Sana tidur!" Haris membujuk Cindy ke kamar.


"Awas, ya!" gumam Cindy.


Cindy berlalu ke kamarnya, lalu dia membuka aplikasi WhatsApp. Kemudian dia ceritakan semua kekesalan terhadap Haris kepada Helmi tidak ada yang di tutupi. Panjang lebar Cindy menulis pesan kepada Helmi namun tidak ada jawaban oleh Helmi.


Cindy pun menyimpan ponselnya di atas nakas lalu dia merebahkan kembali badannya sambil menatap langit-langit kamar. Saat itu hatinya merasa kesal dan kecewa terhadap Haris.


Entah mengapa bayangan Helmi muncul seketika dan dia ingin sekali secepatnya bertemu dengan Helmi.


Ting..


{"Maaf Sayang. Aku ketiduran,"} pesan dari Helmi.


Tanpa malu Cindy kemudian membalas pesan tersebut.


{"Sayang, Aku rindu!"} sambil menambahkan emotion memeluk.


Helmi seakan senang ketika membaca isi pesan tersebut. Dia pun membalasnya dengan emotion peluk dan cium.


{"Besok jadi ikut kan, acara ke Bekasi dari kantor?"} tanya Helmi.


{"Jadi dong, Sayang,} balas Cindy.


{"Kita hanya berdua kan yang di tugaskan, untuk pergi kesana?} tanya lagi Helmi.


{"Iya, terus memangnya kamu mau ajak siapa?"} goda Cindy.


{"Berdua lah, biar kerja sambil pacaran,"} Helmi menambahkan emotion menjulurkan lidah dan tertawa.


Cindy pun membalas pesan Helmi dengan tertawa lepas.


Krekk...


kemudian pintu terbuka terlihat Haris memasuki kamar dengan sigap Cindy pun mematikan ponselnya.


Melihat Haris memasuki kamar, Cindy pun nampak terkejut.


"Belum tidur Pah?" Cindy basa-basi.


Haris kemudian membuka lemari dan mengambil baju untuk dia pakai tidur. Setelah dia mengambil baju di lemari lalu Haris pun berlalu dari kamar.


Cindy berharap malam itu Haris tidur bersamanya namun yang terjadi Haris malah bersifat cuek terhadapnya. Tapi Cindy seakan tidak peduli karena baru saja dia sudah berkomunikasi dengan Helmi jadi sedikit terobati rasa kesalnya kepada Haris.


***


Keesokan harinya Cindy sudah berpakaian rapih dan bau parfum sangat menyengat, dia membawa tas besar untuk bersiap-siap pergi.


Melihat istrinya terlihat sibuk, dan membawa tas besar lalu Haris bertanya kepada istrinya itu.


"Mau kemana, Mah?" tanya Haris.

__ADS_1


Cindy hanya diam dan memasukkan makanan ringan ke dalam tas kecil.


"Mah, Mbak Eka badannya panas." tiba-tiba Rara datang, dan berlari kecil dari arah belakang.


"Kalau suami nanya jawab!" ucap Haris ketus.


"Aku mau ke Bekasi dua hari, acara kantor." jawab Cindy terlihat cuek.


"Jangan! jangan pergi. Rara tidak ada yang jaga. Mbak Eka lagi sakit kasian. Apalagi sampai dua hari," Haris terlihat marah.


Dari raut muka Cindy seakan kecewa karena rencana dia untuk berduaan ke Bekasi dengan Helmi gagal.


"Tapi..." ucap Cindy.


"Tapi, apa?" Haris menatap Cindy.


"Aku tidak enak sama orang kantor," Cindy terlihat banyak alasan.


"Kamu lebih mementingkan Anakmu atau pekerjaan?" Haris terlihat emosi.


Cindy akhirnya diam.


"Mana ponsel kamu, biar Aku yang menelepon atasan kamu," Haris meminta ponsel Cindy.


Cindy berpikir jika dia menyerahkan ponselnya takut karena nanti Haris membaca pesan semua dari Helmi.


"Biar Aku saja yang mengabari Bos," Cindy dihinggapi rasa kesal.


Akhirnya Cindy berlalu memasuki kamar lalu dia dengan segera menghubungi Helmi, dia pun mengabarkan keadaan yang sedang terjadi di rumahnya.


Helmi cukup mengerti dengan keadaan tersebut, lalu sambungan selular telepon pun ditutupnya.


***


Haris pun berpamitan untuk pergi ke Bandung lagi tanpa ada pelukan terhadap istrinya sebelum berangkat. Akan tetapi Rara di peluk erat oleh Haris begitupun dengan Reza.


Terlihat Cindy begitu ingin di perlakukan demikian oleh suaminya, namun apa dikata Haris bersikap cuek jadi Cindy hanya bisa mengelus dada.


***


Siang itu Cindy dan Rara sedang melihat acara Televisi, tiba-tiba.


Ting...


Suara pesan muncul dari ponsel Cindy. Kemudian Cindy membuka pesan tersebut, dan betapa terkejutnya ketika melihat pesan yang datang dari Clara.


Clara memberikan foto gambar dia sedang berdua dengan Helmi di dalam mobil tapi kedekatan mereka seakan bukan rekan kerja tapi lebih dari itu karena Clara memeluk Helmi sambil tersipu malu.


Karena dihinggapi rasa cemburu sontak Cindy langsung menelpon Clara.


{"Iya, Cindy. Ada apa?"} Clara terlihat menahan tawa.


{"Kamu ko, memeluk mesra Helmi!"} Cindy seakan menggebu ketika berucap.


{"Itu hanya perasaan kamu saja, kita hanya teman ko, sabar Bu!"} Clara seakan meledek Cindy.


Suara tertawa Helmi sangat jelas terdengar oleh kuping Cindy, lalu Helmi menyambar ponsel yang sedang di pegang oleh Clara.


{"Jangan cemburu, Sayang! kita tidak ada hubungan apa-apa ko,"} Helmi mencoba meyakinkan Cindy.


Akhirnya Cindy pun menutup ponselnya, entah mengapa hatinya berdebar seakan ada apa-apa antara Clara dan Helmi.


***


Malam itu Cindy terlihat sibuk di depan laptopnya, dia menyelesaikan tugas kantornya yang belum beres. Karena di hinggapi rasa ngantuk lalu dia berlalu ke dapur untuk membuat secangkir kopi panas.


Setelah itu dia kembali ke kamarnya kemudian Cindy mengambil ponselnya di atas nakas, dan dia mencoba menelepon Helmi namun tidak ada jawaban disana.


Kemudian dia mengirimkan pesan kepada Helmi, dan Helmi pun tidak membalasnya.


"Apa mungkin masih rapat?" gumam hati Cindy.


Kemudian Cindy mencoba menelepon Clara namun tidak ada jawaban juga.


Cindy seakan terbakar api cemburu.


{"Kamu lagi ngapain sama Helmi?"} tulis pesan dari Cindy.


Karena Clara tidak membalas pesan dari Cindy, akhirnya Cindy menelepon kembali namun ponsel dari Clara tidak aktif.


Kemudian Cindy menelepon Helmi, dan seperti Clara ponsel dari Helmi tidak aktif juga.


Cindy dihinggapi rasa kesal yang luar biasa, dia mengepalkan tangan, dan membuang napas kasar.

__ADS_1


__ADS_2