
"Kamu harus menghargai kedatangan Zhira, kalau kamu ingin berpisah dengannya, Ibu harap baik-baik jangan ada pertengkaran, namun Ibu berharap kamu dengan Zhira bisa rujuk kembali, masalah kamu dengan Zhira belum diberikan keturunan mungkin yang di atas belum menghendaki, seharusnya kamu bersabar," tegas Ibu kepada Bram, Anak yang manja dan segala sesuatu yang dia mau pasti di turuti oleh Ibunya.
Mendengar ucapan Ibunya, Bram agak terkejut karena tidak biasanya Ibunya bersikap tegas dan serius ketika berucap. Biasa berbicara sangat lembut dan halus.
"Ya, benar, ucapan Ibumu itu, Bapak harap kamu kembali saja bersama Zhira, dia Anak baik dan terpandang juga, dan Bapak harap kamu jangan mempermainkan hati wanita, masalah Anak biar nanti kamu sama Zhira ambil di panti asuhan, biasanya jika kita sudah adopsi Anak pasti nanti Istrimu akan hamil." Bapaknya Bram tiba-tiba datang keluar dari kamarnya. Penuh ketegasan ketika berucap sama seperti Ibunya.
Bram membuang napas kasar, cukup lama dia termenung, dan matanya terpejam lalu dia menghela napas panjang. Tidak bisa di pungkiri pesona Zhira sangat menawan tapi entah kenapa dia selalu tergoda oleh wanita lain, dan yang lebih parah sekarang ini dia tergoda dengan istri orang yaitu Cindy.
*****
__ADS_1
"Bram, ini Zhira datang," Bu Weni, Ibu dari Bram berteriak, dan terlihat gembira ketika melihat Zhira sang menantu datang. Ibunya Bram memeluk erat Zhira, sang menantu yang sudah lama pergi. Dulu kepergian Zhira karena kesal terhadap suaminya yang selalu berselingkuh dengan wanita lain, padahal Zhira selalu berusaha bersikap baik terhadap suaminya hanya karena alasan belum di berikan momongan Bram tega berselingkuh.
Dari kaca jendela Bram terlihat terpesona melihat kecantikan Zhira.
"Zhira terlihat cantik, penampilannya terlihat dewasa," gumam hati Bram, seakan matanya tidak mampu berkedip sedikitpun melihat pesona istrinya yang sudah lama tidak bertemu.
Mata Zhira berselancar di ruangan tersebut seakan mencari sosok yang selama ini dia tinggalkan dan dia benci juga yaitu Bram, sebenarnya dia tidak mau kembali ke rumah ini namun kedua orang-tua dari Bram yang membuat Zhira bersikukuh untuk datang. Zhira berpikir ini bentuk silaturahmi dan Bapak dari Zhira ada bisnis dengan Bapak mertuanya itu jadi peluang untuk bertemu sangat besar.
Ehm.....
__ADS_1
Tiba-tiba Bram datang dengan ber deham, dan Zhira pun matanya melirik ke suara tersebut. Entah mengapa seketika muka Zhira merah padam, begitupun dengan Bram. Melihat muka keduanya merah padam sang Ibu tertawa terkekeh.
"Bram, Zhira cantik ya?" terlihat Bu Weni menggoda Anaknya. Bram kemudian menyodorkan tangan dan bersalaman kepada istrinya yang sudah lama tidak bertemu. Zhira tersenyum tipis tapi senyuman yang di berikan Zhira seakan membuat Bram terpesona dibuatnya.
"Nak Zhira, nginap disini ya?" goda Ibu Weni. Bu Weni tahu bahwa Zhira akan menolaknya dengan alasan adanya keretakan antara Bram dan Zhira, dan Ibu tahu Zhira menginap di Hotel bersama kedua orangtuanya.
Zhira hanya tersenyum dan menggelengkan kepala, Bram hanya melirik Ibunya dan pandangannya menunduk. Kali ini Bram merasa di hantui rasa bersalah terhadap istrinya.
"Mengapa aku menelantarkan istriku? Aku sangat bodoh." gumam hati Bram sambil menatap lekat istrinya itu.
__ADS_1