Pengkhianatan Seorang Istri

Pengkhianatan Seorang Istri
Bab 57 Cindy


__ADS_3

{"Pah, Reza belum bayar uang sekolah sama beli buku, Rara pun sama."} Reza menghubungi Haris, lewat sambungan telepon selularnya.


{"Sudah, semua sudah Papa transfer ke rekening Mama,"} Haris di hinggapi rasa heran. Karena sang anak meminta sejumlah uang untuk pembayaran sekolahnya.


Padahal Haris rutin memberikan uang kepada anaknya, lewat Cindy.


Kemudian Reza berkata kepada Papanya tersebut, dia malu kalau nunggak bayar sekolah dan tidak membeli buku.


***


Akhirnya Haris menelepon Cindy, dia menanyakan keadaan anak-anaknya, dan Haris pun menanyakan uang biaya sekolah untuk anak-anaknya, karena Reza meneleponnya.


Sedangkan uang untuk anak-anaknya sudah tercukupi bahkan lebih.


Cindy mencoba memberikan banyak alasan, banyak pengeluaran untuk anak-anak.


Haris pun terkalahkan dengan omongan Cindy, akhirnya kembali menstranfer sejumlah uang.


***


Kehidupan Cindy sekarang bangkrut, karena Haris memberikan uang hanya untuk anaknya. Kerja pun dia sudah keluar.


Clara sang sahabat belum bekerja, tapi dia mempunyai orang tua yang berada, jadi keadaan nganggur pun tidak masalah.


***


"Gimana kalau buka usaha saja, uang nanti aku pinjamkan, lewat temanku, untukmu!" Clara seakan mengkhawatirkan sahabatnya itu, karena seakan sedang banyak pikiran.


Tanpa pikir panjang Cindy pun menyetujui apa yang jadi ide sahabatnya itu.


Tanpa jaminan apapun, karena Cindy meminjam uang tidak besar, hanya untuk modal awal saja.


"Ini hanya untuk modal awal, saya kasih pinjam ya, tidak ada bunganya atau jaminan apapun. Tapi nanti kalau nanti meminjam dengan jumlah uang besar harus ada jaminannya," ucap Febri, teman dari Clara.


Melihat uang lembaran warna merah, Cindy tersenyum sumringah, karena dia pikir bisa memulai usahanya itu.


Keesokan harinya dia berbelanja keperluan untuk membeli alat-alat kue, dan dia di bantu oleh Mbak Eka, dan saudara Mbak Eka dari kampung bernama Mbak Lastri.


Selang beberapa minggu, lumayan usaha kue yang di jalaninya cukup rame banyak pesenan.


***


Suatu hari Cindy membuat kue, begitu banyak dan akan Cindy berikan kepada suatu yayasan.


Sebagai rasa syukur dia karena jalan satu bulan ini usahanya, sudah maju pesat.


Orderan di luar kota pun, begitu banyak.


***


Hari itu Cindy mengajak anaknya Rara, pergi untuk mengantarkan kuenya ke yayasan, dan dia bertemu dengan Bapak pengurus Yayasan yang bernama Azam.


Azam terlihat sangat ramah sekali dan alim.

__ADS_1


Cindy seakan terpesona dengan keramahan dan sifatnya yang sopan.


"Bu, terima kasih ya, sudah memberikan sedekah makanan kesini dan anak-anak yang berada di yayasan merasa senang," ucap Azam, pengurus yayasan itu.


Cindy pun tersenyum lebar,


***


Sepulang dari Yayasan, entah mengapa hati Cindy berbunga-bunga ketika setelah bertemu dengan Azam.


Ting..


Tiba-tiba pesan muncul dari Azam, dia mengucapkan rasa terima kasih, kepada Cindy karena telah memberikan makanan kepada yayasan tersebut.


Obrolan pun menjadi lebih dekat dan Cindy mengundang Azam untuk bertamu ke rumahnya.


***


Keesokan harinya Azam mengunjungi rumah Cindy, dia melihat Cindy sedang membuat proses pembuatan kue itu.


"Kebetulan Adikku juga dari dulu ingin usaha seperti ini, tapi...!" Azam tidak melanjutkan pembicaraannya.


"Tapi apa,?" Cindy di hinggapi rasa penasaran.


"Belum ada modal yang cukup," jawab Azam


"Modal sedikit ko, bagi pemula," Cindy mencoba meyakinkan kepada Azam, usahanya ini kalau di jalani serius akan memberikan keuntungan yang lumayan.


Tapi terlihat Azam hanya tersenyum tipis dan tersipu malu.


"Apa aku mau kasih dulu modal?" Cindy tersenyum kepada Azam.


Azam hanya menggelengkan kepala, dan mengucapkan jangan merepotkan.


***


Keesokan harinya Cindy mengirimkan pesan,


kepada Azam bahwa, jika dia tidak keberatan akan membantu adiknya, untuk buka usaha kue, dan Cindy mau memberikan uang kepada Azam.


{"Sudah, jangan banyak pikiran. Mana nomor rekeningnya?"} tanya Cindy, mencoba meyakinkan Azam.


Akhirnya Azam pun memberikan nomor rekening nya, setelah beberapa menit kemudian Azam pun sangat terkejut karena Cindy telah mentransfer sejumlah uang kepadanya senilai lima juta rupiah.


{"Cindy, terima kasih, kamu baik sekali!"} Azam sangat senang sekali.


{"Nanti gampang aku tambah lagi, itu pakai saja dulu,"} ucapnya lagi.


***


Keesokan harinya Cindy kembali menelpon Azam, Cindy seakan ingin lebih dekat mengenal sosok Azam.


karena konon katanya lelaki itu banyak di sukai di yayasan, jadi wanita yang belum mempunyai kekasih sangat tergoda dengan pesona Azam.

__ADS_1


{"Gimana, adikmu senang tidak?"} Cindy bertanya kepada Azam, tentang adiknya yang sudah dia berikan uang.


Terdengar dari suara Azam sangat senang sekali, dan sebagai tanda terima kasih, dia ingin bertemu Cindy.


{"Tidak apa-apa, kalau aku berkunjung ke rumahmu?"} tanya Azam.


{"Tidak apa-apa, aku sendiri, tidak ada pasangan, ada Mbakku dan anak-anakku paling,"} jawabnya.


***


Akhirnya Azam pun kembali ke rumah Cindy.


Ketika Azam datang, Cindy terlihat begitu senang menyambut kedatangan Azam.


"Rara, ini Papa Azam," Cindy tersipu malu, ketika berucap. Niat Cindy untuk menggoda Azam dengan memanggil kata Papa.


Azam pun terlihat malu-malu,


Mbak Eka, terlihat di hinggapi rasa heran. Ada apa dengan Cindy? karena Azam yang baru datang dua kali, terlihat sudah begitu dekat sangat lama dengan Cindy.


***


Keesokan harinya Haris menelepon Cindy dia menanyakan kabar anak-anaknya, dan kembali Cindy berkeluh kesah masalah keuangan dengan berpura-pura dipakai oleh sang anak.


Padahal uang yang dia minta ke Haris nantinya buat dia berikan kembali ke adiknya Azam, agar dia bisa mengambil hatinya Azam.


Tanpa curiga sedikitpun akhirnya Haris memberikan uang kepada Cindy.


Haris hanya ingin Cindy usahanya lancar dan membantu dia, tanpa ada maksud apapun.


Mendengar Haris mau membantu dirinya dan memberikan sejumlah uang, Cindy di hinggapi rasa gembira yang luar biasa.


"Kamu bodoh, aku minta uang dengan alasan untuk anak tetap kamu kasih, padahal uang ini bukan untuk anakmu, tapi untuk lelaki yang aku dekati sekarang," gumam hati Cindy.


""


Sifat licik Cindy sungguh buat geram, dan rasanya pembaca pun kesal dibuatnya. 😑😕


""


Keesokan harinya Clara datang kerumahnya Cindy, dia menceritakan semua yang terjadi. Cindy lagi dekat dengan lelaki yang bernama Azam, dan lelaki itu pun selalu di berikan sejumlah uang olehnya.


Clara terbelalak matanya, mendengar tingkah Cindy yang tidak ada kapoknya, dan membuat Clara seakan kesal mempunyai sahabat seperti Cindy.


"Kamu aneh, kapan kamu mau berubah?" telunjuk Clara nempel ke kening Cindy.


Tapi Cindy seakan tidak mau mendengarkan omongan sahabatnya itu.


"Aku mau buka cabang dan ngontrak rumah untuk toko, jadi aku mau simpan sertifikat rumah ini," ucap Cindy.


"Ini kan rumah Haris, kamu sudah ijin sama dia?" Cindy menggelengkan kepala.


"Hati-hati, kamu harus ada ijin, nanti yang tandatangan kan harus kalian berdua, kalau misalkan pinjam di Bank," ucap Clara.

__ADS_1


"Tenang itu bisa di atur," Cindy seakan tidak peduli dengan ucapan sahabatnya itu.


__ADS_2