
Bagas dan Cintya berusaha mencari keberadaan orang, yang sudah meminjamkan uang kepada Cindy, dengan jaminan sertifikat.
Setelah bertemu dengan orang yang meminjamkan uang tersebut, dan mereka pun berbicara panjang lebar.
Dan ternyata rumah tersebut akan disita, tepatnya dua hari lagi, sesuai perjanjian di atas materai.
Cintya dan Bagas betapa kaget dan membuat badan terasa lemah lunglai. Cukup lama Bagas dan Cintya termenung memikirkan rumah yang akan di sita.
***
Bagas akhirnya menumpahkan kekesalannya kepada Cintya.
"Kamu, punya Kakak sangat bodoh!" Bagas matanya melotot.
Cintya menunduk air mata tumpah ruah, dia tidak bisa berkata apa-apa lagi, dan merasa malu terhadap suaminya atas kelakuan Kakaknya itu.
"Maafkan, atas kecerobohan Kakakku," ucapnya lirih.
"Terus mau tinggal dimana, nanti si Cindy, Kakakmu itu!" Bagas seakan tidak mau jika Cindy tinggal bersama nya
Cintya tidak berani menjawab pertanyaan suaminya itu, hanya tangisan yang sesunggukkan terdengar begitu jelas.
"Kalau Mas, tidak mau menerima keberadaan Kakakku, aku akan mengontrak rumah untuk dia tempati!" jawabnya pelan, dengan suara terbata-bata.
"Ngontrak! harus pakai uang, masa pakai daun. Uangmu habis, dipakai utang dia kemarin, itu perhiasan yang kamu pakai barang satu-satunya yang kita miliki." Bagas terus menerus menampakkan kebenciannya kepada Cindy.
Cintya dalam hati kecilnya sebenarnya kesal kepada sang Kakak, karena aib nya, seakan terus-menerus terlihat. Dulu ketika Cindy kondisi keadaannya kaya, tidak pernah ingat sama sang adik atau mengunjungi sang adik.
Tapi disaat sekarang ketika bangkrut atau terpuruk, Cintya yang harus bertanggung jawab atas semuanya.
***
Mereka pun, dengan segera kembali ke rumah Haris, lalu membereskan barang-barang yang ada di rumah tersebut.
Mendengar semua penjelasan Cintya bahwa rumahnya akan disita, Cindy menangis sejadi-jadinya, dia seakan tidak rela jika harus meninggalkan rumah yang selama ini dia isi.
Begitu banyak kenangan yang terjadi di rumah tersebut. Dari mulai keadaan dia bahagia bersama suami dan anak-anaknya, hingga pada saat dia menjadi tidak karuan sifatnya, dengan cara berselingkuh.
__ADS_1
"Dek, aku tidak mau meninggalkan tempat ini. Kamu tolong, bilang sama suamimu untuk menebus utang Kakak, aku mohon" Cindy seakan berharap kepada Cintya.
"Kak, utang mu sangat banyak, itu bukan uang sedikit, aku tidak mampu untuk membayarnya. Kakak harusnya sadar diri. Tahu tidak, yang kemarin kakak punya utang ke Febi, itu aku yang bayarin, sampai aku menjual perhiasan. Dan gara-gara Kakak, aku jadi berantem terus sama suamiku, Bagas!" Cintya seakan kesal kepada Kakaknya, yang seakan menggampangkan nominal uang, yang harus dibayar untuk utang yang di pakainya.
Cindy terdiam, air matanya seakan terkuras habis, lemah lunglai badannya terasa, setelah sang adik mencacinya habis-habisan.
Seakan tidak kuasa ketika adiknya berkata demikian, biasanya Cintya nada bicaranya santun dan tidak sedikitpun berucap merendahkan, dengan nada bicara tinggi.
Tapi sekarang adiknya marahnya teramat sangat, mungkin karena sudah terlalu kesal terhadap kelakuan Kakaknya itu.
***
Cindy sibuk dengan telepon selularnya, dia terus menerus menghubungi Clara.
"Yasudah, kamu tinggal saja di rumah kontrakan Mamaku, kebetulan rumah tersebut kosong. Itu rumah yang biasa di kontrak sama orang. Tapi, rumah kontrakannya kecil apa kamu mau, tinggal di sana?" tanya Clara, mencoba menawarkan rumah kontrakan milik Mamanya, kepada sahabatnya itu.
Cindy pun tidak keberatan dengan tawaran yang di berikan oleh Clara.
"Dek, aku mau tinggal di rumah milik kontrakan, Mamanya Clara, di temani Mbak Lastri saja, aku malu jika harus tinggal di rumah adek. Malu, sama Bagas, suamimu," ucapnya lirih.
"Tidak, tidak, kamu belum stabil Kak, badanmu butuh orang yang benar-benar mengurus fisikmu saat ini, aku tidak mengijinkan kamu untuk tinggal di kontrakan nya Clara," Cintya tidak tega jika Kakaknya harus tinggal di rumah kontrakan.
***
Pandangan Cindy, menunduk ada rasa takut dan juga malu terhadap suami adiknya itu.
Ucapan Bagas, begitu membuat hati Cindy seakan di cambuk terasa sakit dan perih.
Cintya menghela napas panjang, dia mengedipkan mata kepada Bagas, seakan memberi peringatan kepada suaminya itu. (Sudah, jangan banyak bicara, Kakaknya jangan di tekan terus dan di pojokan.)
***
Malam itu, Cintya di bantu Mbak Lastry, membereskan semua barang-barang, untuk di kemas dalam dus dan tas besar.
Sebagian barang yang ringan, kemudian di angkut oleh Bagas kedalam mobilnya.
"Sudah, jangan menangis dan meratapi semuanya, sudah tidak ada gunanya. Maafkan, tadi kelakuan Bagas, memarahi Kakak, mungkin dia karena kesal," Cintya berani berbicara karena sang suami pergi.
__ADS_1
Cindy tidak banyak kata, dia duduk di kursi roda, sambil merapikan bajunya yang berada di lemari. Matanya sembab.
Tiba-tiba ada yang terjatuh di dalam lemari tersebut, Cindy di hinggapi rasa penasaran. Kemudian Cindy, mengambil benda yang jatuh tersebut. Sebuah cincin, dan dia mengingat kembali cincin tersebut.
"Ya, ini pemberian Bram," bisik hatinya.
Air matanya kembali bercucuran, dia kembali mengingat masa lalunya bersama Bram.
Bersama lelaki inilah, hidupnya menjadi hancur lebur tidak karuan.
***
"Dek, ini ada cincin, jual saja. Mungkin harganya tidak seberapa tapi lumayan uangnya, kita gunakan untuk kebutuhan sehari-hari." Cintya terkejut ketika Cindy memberikan sebuah cincin.
"Model cincinnya, bagus Kak. sudahlah, jangan di jual, simpan saja. Kalau untuk kebutuhan sehari-hari, aku masih punya tabungan, tapi itu tanpa sepengetahuan Bagas." jawab Cintya.
***
Cindy merasa bersyukur mempunyai adik, seperti Clara, sifatnya yang baik dan perhatian sungguh membuat dia merasa nyaman.
Dalam hati Cindy, dihinggapi rasa sesal yang teramat, ketika matanya berselancar mengelilingi ruangan rumah. Dia harus pergi meninggalkan rumah tersebut.
"Aku wanita bodoh dan hina, jika aku tidak melakukan perselingkuhan, dan aku tidak memberikan uang begitu banyak kepada Helmi, mungkin keadaanku tidak akan seperti sekarang ini," bisik hati Cindy.
Dadanya seakan di remas, begitu sakit terasa. Masa lalu dia yang teramat kelam, sungguh membuat dia kembali terluka hatinya.
Kecelakaan yang terjadi ketika mobil menabrak motor nya, sungguh membuat pikirannya kembali di hinggapi rasa takut. Mata Cindy terpejam, bayangan mobil yang melaju kencang kemudian menubruk dirinya, membuat jantungnya berdebar cepat.
Cindy menjerit dalam hatinya, dia menghela napas sangat panjang.
Cindy kemudian memukul-mukul kursi rodanya, dan dia meremas tubuhnya, dia menangis sesunggukkan. kecewa, sesal, amarah bercampur jadi satu.
"Semua yang terjadi tidak akan bisa mengembalikan ke semula, percuma di ratapi, itu akan membuat terus-menerus batinmu terluka. Jika Kakak sedih, merasa menyalahkan diri sendiri terus, nanti bisa-bisa depresi, dan stres." ucap Cintya.
***
Keesokan harinya, barang-barang yang ada di rumah Cindy, diangkut kedalam Mobil Truk.
__ADS_1
Melihat di rumah sudah kosong tidak ada satupun lagi benda yang tersisa, Cindy kembali menangis.