
Di Kafe milik Bram.
Gisela dengan cepat menyeret langkah kakinya menuju hadapan Bram, yang sedang asik duduk di pojokan dekat jendela.
Gisela berdiri tepat di hadapan Bram.
"Mas, aku positif!" Gisela memperlihatkan alat Test Pack kepada Bram.
Sontak Bram terkejut dan memalingkan mukanya.
"Kenapa Mas, bukannya ini yang kamu harapkan dariku, segera menikah denganku!" Gisela terlihat kesal ketika berucap. Dan dadanya bergemuruh.
"Lelaki macam apa Bram ini. Setelah menikmati tubuhku, dia dengan mudahnya melupakan." gumam hatinya.
"Aku belum siap! kamu kan tahu, saat ini proyekku gagal dan aku sementara harus fokus dulu ke masalah kerjaan dulu. Setelah semuanya selesai, baru aku akan fokus untuk menikah," Bram terlihat serius ketika berucap.
"Tapi gimana dengan ini!" Gisela melemparkan alat Test Pack ke arah Bram, yang sedang duduk.
Sontak Bram melotot ke arah Gisela.
"Apa.." Gisela seakan tidak mau menerima perlakuan kasar Bram.
"Gugurkan..!" seekan udelnya, Bram mengucap kata itu. Karena dia mempunyai segalanya dia semena-mena, seenak saja dia berkata.
Seperti yang di lakukan dulu terhadap Cindy, menyuruh untuk mengugurkan kandungannya.
PLAK.....
Tamparan keras melayang ke pipi Bram, dari tangan lembut Gisela. Emosi Gisela seakan memuncak tidak terkontrol, dadanya panas membara.
Lelaki yang ada di hadapannya harus di berikan peringatan.
Tidak ada seorang pun yang berani mengusik hati Bram, apalagi hingga menyentuh Bram, dengan cara menamparnya.
Bram meringis kesakitan, tangannya mengepal seakan ingin membalaskan perlakuan yang d lakukan oleh Gisela.
Bram dengan cepat menarik tangan Gisela, namun Gisela dengan cepat melepaskannya.
"Apa...mau apa kamu!?" Gisela berteriak.
Pengunjung Kafe pun, sontak melihat ke arah mereka yang sedang bertengkar.
***
"Duduk.. duduk!" sorot mata Bram tajam menatap lekat kepada Gisela.
Bram malu mendapatkan perlakuan dari Gisela. Para karyawan pandangannya semua tertuju ke arah mereka.
Akhirnya Gisela duduk dengan wajah yang penuh emosi.
"Jadi gimana. Dengan ini!" telunjuk Gisela tertuju ke arah alat Test Pack. Matanya berkaca-kaca seakan menahan air mata yang akan tertumpah disana.
"Aku sudah bilang, aku belum siap. Kamu ngerti?" Bram mengulangi omongannya.
"Intinya mengugurkan!" Gisela tersedu ketika berucap.
Dengan cepat Bram menganggukkan kepalanya.
__ADS_1
"Tidak bisa, Mas!" ucap Gisela, air mata pun tumpah seketika.
"Gampang! nanti aku transfer sejumlah uang," Bram seakan melecehkan setiap wanita.
Bragggg.....
Spontan Gisela menggebrak meja.
"Aku nggak mau!" Gisela mencoba melawan kata-kata dari Bram .
"Gisela, kamu mau berapa? aku kirim sekarang juga. Asal kamu jangan memaksa aku untuk menikahi kamu sekarang ini. karena aku belum siap." Bram penuh emosi ketika berucap.
Gisela tidak bergeming.
Dia seakan berpikir mau bagaimana selanjutnya tindakan yang harus di ambil.
*****
Pikiran dia melayang dengan sejumlah uang yang nanti akan di berikan Bram yang begitu banyak.
Dia akan menyenangkan hati Ibunya di kampung. Uang yang akan di berikan dari Bram, akan dia trfsrsper kepada Ibunya yang matre.
Tapi di lain sisi dia begitu kesal kepada kelakuan Bram, yang seakan menyepelekan seorang wanita.
****
Gisela ingin menguras habis keuangan Bram. Apakah dia akan mengugurkan kandungannya, kemudian dia kembali menjalin hubungan dan menghabiskan lagi uang dari Bram.
Mereka berdua bergeming.
***
Suara getaran bunyi telepon di dalam saku celana Bram, seakan mengagetkan dia.
Terlihat Viona menelepon.
Bram lalu mengangkatnya, terlihat Bram begitu serius bicara masalah proyek dengan Viona. Seakan lupa dia sedang di hadapkan dengan persoalan yang sangat rumit sekali.
Yaitu Gisela yang sedang berada di hadapannya.
Bram tertawa lepas meskipun pipinya terasa sakit karena tamparan yang di layangkan oleh Gisela begitu keras. Berkali-kali Bram meringis dan menahan rasa sakit.
Melihat keadaan tersebut sebenarnya Gisela di hinggapi rasa kasian dan khawatir terhadap keadaan kekasihnya.
Tapi rasa egois, kesal dan marah seakan membutakan dirinya untuk menaruh iba kepada Bram.
***
{"Sudah aku chat barusan, nomornya Friska. Aku sudah kirim ke ponselmu," } ucap Viona. Dia memberikan nomor ponsel Friska kepada Bram.
{"Terima kasih,"} Bram tersenyum sumringah, karena dia sudah mendapatkan nomor telepon Friska dari Viona.
Melihat gelagat Bram yang tiba-tiba terlihat bahagia. Gisela di hinggapi rasa curiga.
Ada apa gerangan?
Bram kemudian memutuskan sambungan telepon dari Viona.
__ADS_1
Dia menghela napas secara perlahan.
***
"Jadi sekarang gimana, kalau untuk menikah aku belum siap." Bram kembali memberikan keputusan kepada Zhira.
Zhira membuang napas kasar.
"Ya, Oke! akan aku gugurkan, kandungan ini," Gisela terlihat kesal.
"Nah, gitu. Kamu harus memahami aku, Sayang." Bram mencolek dagu Gisela yang terlihat lagi cemberut dan kesal.
Tiba-tiba Bram membuka layar ponsel. Lalu dia menekan aplikasi M-Banking.
Dia menstranfer sejumlah uang sebesar, tujuh puluh juta kepada Gisela.
"Sudah aku transfer uangnya, cek saja!" ucap Bram menatap Gisela.
Gisela kemudian melihat lekat ke layar ponsel, untuk mengetahui jumlah saldo yang di berikan kepadanya berapa.
Mata Gisela terbelalak melihat nominal tersebut.
Sebenarnya dalam hati dia ingin tersenyum tapi dia gengsi.
"Cuma segini!" Gisela ingin membuat kesal hati Bram.
"Itu jumlah yang besar ya. Kamu ko, aneh. Mau kamu aku kasih berapa!" Bram terlihat kesal.
Gisela mengusap-usap perutnya, seakan ingin membuka mata Bram. Yang berada di perut ini adalah anaknya Bram, hasil dari perbuatan bejat mereka.
"Yasudah, aku tambahin tiga puluh juta. Totalnya seratus juta.Puas!" Bram membuang napas kasar matanya lekat ke arah mata Gisela.
Gisela seakan menahan rasa tawa. Dalam hati wanita lembut dan baik itu, sekarang berubah menjadi wanita yang kurang waras, yang pikirannya akan menguras uang dari lelaki yang kurang ajar, dan tidak tanggung jawab.
Sifat licik Gisela akan dia tunjukkan kepada Bram, karena Bram layak mendapatkannya.
"Iya, Iya..!" Gisela tersenyum sinis.
*****
Gisela berlalu dari hadapan Bram.
Di dalam mobilnya dia termenung, dalam keadaan menyetir pun dia seakan tidak fokus. Hatinya sebenarnya rapuh, dia saat ini seakan menjadi wanita bodoh karena dia tidak mau mempertahankan janin yang ada dalam kandungannya demi uang dan uang semata!
Seakan uang yang ada di benaknya, dengan uang dia bisa membuat Ibunya tertawa dan bahagia. Dan dengan uang pula dia tidak dipandang sebelah mata oleh teman-temannya.
Dengan uang dia terlihat percaya diri, karena uang merubah segalanya dari segi penampilan dan kehidupan sehari-harinya.
"Aku bodoh, tapi aku akan terus menguras uang Bram. Dia akan hancur, uangnya terkuras habis. Lihat saja!" gumam hati Gisela.
Mobil pun dia kemudikan dengan sangat kencang, ke arah temannya yang akan mengantar dia untuk menggugurkan kandungannya.
Sepanjang jalan Gisela menangis seakan merasa bersalah dan tertekan.
Dia terus-menerus mengelus perutnya.
Arrghh....
__ADS_1
"Aku bisa!" bisik hatinya.