Pengkhianatan Seorang Istri

Pengkhianatan Seorang Istri
Bab: 47 Cindy Seakan Tidak Ada Sifat Jera.


__ADS_3

Cindy nampak kesal, dan mengurung diri di kamar semenjak kejadian dia melihat Helmi bersama kekasihnya.


Entah mengapa ini menjadi beban pikiran Cindy, padahal dia menyesali semua apa yang terjadi ketika pagi buta itu, dia dalam keadaan mabuk.


Entah mengapa ketika Helmi memutuskan untuk menikah, dan mencoba meninggalkan Cindy, hatinya sangat terluka dan tercabik.


Apa karena uang Cindy sudah habis di ambil oleh Helmi atau mungkin karena Cindy telah mengorbankan harga dirinya kepada Helmi ketika dia dalam keadaan mabuk?


Mungkin juga keduanya yang menjadikan Cindy di hinggapi rasa kesal yang teramat kepada Helmi.


***


{"Clara, kamu kesini dong, ke rumahku!"} Cindy memberikan pesan kepada sahabatnya itu.


Ketika membaca isi pesan dari sahabatnya itu Clara dihinggapi rasa penasaran.


"Tumben, sahabatnya menyuruhnya untuk datang ke rumahnya,"


Karena Clara sangat peduli kepada sahabatnya itu lalu tanpa banyak berpikir Clara datang ke rumah Cindy.


***


Sesampai di rumah Cindy,


"Masuk saja ke kamar Neng, Ibunya lagi kurang enak badan," Mbak Eka mempersilahkan Clara untuk langsung masuk kedalam kamar Cindy.


Clara pun berjalan menuju kamar Cindy, setelah mengetuk beberapa kali pintu kamar. Clara membuka pintu, dan nampak Cindy sedang memainkan ponselnya.


"Ada apa sih, kamu selalu begitu dari dulu. Tiap mantanmu menemukan tambatan hatinya, kamu selalu di hinggapi rasa cemburu yang teramat," Clara pun duduk di dekat Cindy.


"Sebenarnya aku ingin berubah, tapi kenapa enggak bisa!" Cindy memejamkan mata, bayangan lelaki yang pernah hinggap kepada dirinya seakan nampak jelas terlihat.


"Kalau menurutku kamu rugi, berpacaran dengan Helmi. Rugi kamu itu di porotin!" Clara seakan meledek sahabatnya itu.


Cindy seakan kesal kepada sahabatnya itu, lalu dia cemberut.


"Ya, kamu wanita bodoh! uangmu ludes, oleh lelaki itu!" Clara seakan puas ketika berbicara.


"Tapi tidak dengan Bram!" Cindy mencoba membela diri.


"Jadi kamu mau memulai kembali hubungan dengan Bram? karena Bram ada niat mau cerai sama istrinya terus kamu mau mepet dengan lelaki itu lagi?" mata Clara melotot.


"Loh, suka-suka aku!" ucap Cindy.


"Kamu kapan mau rubah Cindy!" Clara mencoba meyakinkan Cindy agar lebih hati-hati kedepannya. Kemungkinan Haris akan menceraikannya jika Cindy memulai lagi perselingkuhan.


"Dia tidak akan berani menceraikan aku!" Cindy sangat tahu sifat dari Haris seperti apa.


"Orang sabar itu pasti ada batasnya, Bu!" Clara mencoba membuka hati Cindy agar berhati-hati untuk melangkah ke depan.


"Kamu tidak tahu kan, sifat dari suamiku, makannya kamu jangan ikut campur!" Cindy seakan kesal kepada sahabatnya itu.


"Kamu ingat tidak, ketika kamu nangis-nangis sama aku, setelah kamu tidur dengan Helmi!" telunjuk Clara menekan dahi Cindy.


Seketika muka Cindy merah padam, dia seakan malu. Akhirnya Cindy pun tidak banyak kata, dan terdiam.


***


Sore itu Cindy mengajak Clara keluar rumah untuk menikmati secangkir kopi di sebuah Kafe. Clara hanya nurut saja kepada Cindy.

__ADS_1


Meskipun keduanya sepasang sahabat, dan selalu terjadi perselisihan di antara mereka namun keduanya nampak akur kembali dan tertawa lepas kembali.


"Cindy, lihat ada lelaki ganteng!" Clara matanya mengarah ke seorang lelaki yang nampak duduk sendiri di sudut Kafe.


Cindy sontak matanya tertuju kepada lelaki yang duduk di sudut Kafe tersebut.


"Lelaki itu idaman kamu!" Clara menggoda Cindy.


Lelaki paruh baya dengan dandanan rapih terlihat dia memakai barang mewah dari mulai jam, baju, sepatu.


"Aku tidak tertarik, aku masih mengharapkan Bram!" Cindy menjulurkan lidah.


***


Ketika mereka sedang asik ngobrol tiba-tiba pesan muncul dari Helmi ke ponselnya Clara.


"Lusa kamu bisa datang kan, bersama Cindy ke acara pernikahan aku bersama Amelia!" Clara kemudian memperlihatkan isi pesan dari Helmi kepada Cindy tentunya dengan berat hati, karena takut menyinggung perasaan sahabatnya itu.


Terasa panas membara hati Cindy ketika membaca isi pesan tersebut, dadanya bergejolak.


"Sabar, Cindy,!" Clara tersenyum.


"Kamu meledek aku ya?" Cindy tersulut emosi.


"Enggak-enggak ko!" Clara mencoba menenangkan hati Cindy. Dia tahu hati sahabatnya lagi terbakar api cemburu jadi dia harus berhati-hati dalam berucap.


***


Cindy membuang napas kasar,


Dia menekan nomor di ponselnya yang dia tuju adalah Bram.


Namun Bram dengan cepat membalas emotion dari Cindy dengan pelukan juga.


{"Jadi kapan, kita bertemu lagi?"} balas Bram.


{"Sekarang!"} tanpa pikir panjang Cindy membalasnya dengan cepat.


{"Besok saja!'} balas Bram dengan menambahkan emotion tersipu malu.


***


"Clara, aku besok mau bertemu Bram," dia mau ketemu Bos kita di kantor, dan sorenya kita mau jalan. Kamu ikut ya?" Cindy mengajak Clara agar bisa bertemu dengan Bram besok.


"Kayaknya aku enggak bisa!" jawab Clara. Dia menjelaskan besok ada acara keluarga, Papanya datang dari luar negeri jadi dia harus menyambut kedatangan Papanya.


Cindy tertegun sejenak,


"Jika aku tidak bersama Clara, aku takut dibawa Bram ke tempat yang aneh-aneh." gumam hati Cindy berpikir keras.


Tapi pikiran Cindy mulai ngawur lagi. Dia berpikir mumpung suaminya belum pulang, dan pikiran dia juga tidak mau di hantui rasa sedih oleh Helmi yang telah meninggalkannya tanpa alasan jelas. Cindy seakan ingin menumpahkan kekesalannya kepada Helmi dengan cara mencari kesenangan kepada Bram.


"Biasanya kamu bertemu dengan Bram sendiri, tidak apa-apa. Tapi awas ya, kamu jangan berbuat macam-macam lagi. Nanti akhirnya nangis-nangis lagi," Clara mencoba mengingatkan Cindy.


"Macam-macam apa? ahhh!" Cindy mencoba membela diri.


"Ya, enggak perlu aku ngomong juga kali! kalian sudah dewasa." Clara melotot.


Cindy tersipu malu,

__ADS_1


"Kamu kan, butuh belaian, kesepian!" Clara menyindir sahabatnya itu.


Cindy diam mukanya merah padam, dia seakan malu oleh sahabatnya itu.


***


"Cindy, lihat lelaki yang di sudut Kafe itu, dia menatap kamu terus!" Clara tertawa terkekeh.


Cindy pun pandangannya mengarah ke lelaki itu, mata Cindy beradu pandang dengan lelaki itu. Tatapan matanya begitu tajam seakan mau menerkam.


Cindy dengan cepat memalingkan pandangannya.


"Tatapan matanya, sepertinya aku mengenalnya! ya, itu tatapan Helmi ketika pagi buta itu. Aku dalam keadaan mabuk,!" Cindy kembali teringat masa itu, dimana dia menumpahkan rasa napsu nya kepada lelaki Helmi.


***


Cindy menghela napas panjang,


Dalam hatinya di hinggapi rasa gelisah.


mengapa bayangan dia bersama Helmi ketika melepaskan rasa napsunya selalu muncul tiba-tiba di bayangannya.


***


Terlihat Cindy salah tingkah,


"Kamu kenapa Cindy!?" tanya Clara dihinggapi rasa heran kepada sahabatnya yang tiba-tiba menutup mukanya dengan kedua tangannya.


Cindy hanya terdiam dan dia memijit kepalanya.


"Kamu pusing?" tanya lagi Clara, dia sangat menghkawatirkan sahabatnya itu.


Lagi-lagi Cindy hanya menggelengkan kepalanya.


Lalu Cindy menarik tangan Clara.


"Ayo, kita pulang saja!" ucap Cindy.


Clara pun di hinggapi rasa penasaran terhadap sahabatnya itu. Tanpa menunggu lama akhirnya Clara beranjak dari tempat duduknya, dan dia pun berlalu dari Kafe itu.


***


Di dalam mobil,


"Kamu harus konsultasi pada psikiater!" Clara terlihat sangat berhati-hati ketika berucap karena takut menyinggung perasaan temannya itu.


Mata Cindy melotot,


"Aduh, benar kan dugaan ku, Cindy marah!" gumam hati Clara, nampak terlihat Clara pun salah tingkah dibuatnya.


"Maaf, Cindy. Aku hanya becanda," Clara berusaha tenang karena dia pun lagi dalam keadaan sedang menyetir.


"Aku hanya di hinggapi rasa sepi saja!" akhirnya Cindy buka suara.


"Maksudnya, sepi dengan keadaanmu saat ini, tidak di hiraukan oleh suamimu?" Clara menengok ke arah Cindy.


"Iya!" jawaban Cindy singkat namun penuh makna.


"Salah kamu sendiri kalau itu, jika kamu tidak berselingkuh maka suamimu tidak akan cuek seperti sekarang. Itu kalau menurut aku ya!" Clara tersenyum tipis.

__ADS_1


Cindy pun nampak berpikir dengan ucapan sahabatnya itu.


__ADS_2