
Bram nampak terlihat serius ketika sedang menunggu kliennya di sebuah Kafe yang terkenal di kota Bandung itu.
Nampak jamuan yang dia pesan makanan terfavorit di Kafe tersebut.
"Kira-kira, Koko William datang jam berapa ya, kesini?" tanya Bram kepada temannya yang bernama Steven.
"Mungkin setengah jam lagi, karena keadaan jalan yang menuju kesini macet total, " Steven pun sedikit kecewa, dengan jam karet Koko William.
Nampak sang pelayan kembali membawa minuman secangkir kopi hangat. Ini yang kedua kalinya sang pelayan menyuguhkan kopinya.
"Silahkan, di minum Pak!" sang pelayan tersenyum ramah dan manis kepada tamu yang datang. Pelayan tersebut tidak lain adalah Fani karyawan Haris.
Bram tengah berada di Kafe milik Haris. Dan Bram tidak menyadari hal itu.
***
Seseorang yang di tunggu pun datang. Koko William datang bersama rekan bisnisnya juga, yang bernama Johanes.
Kemudian mereka membicarakan proyek pembukaan rumah makan yang sebentar lagi akan rampung di Bali.
Nampak Bram sangat serius, ketika membicarakan bisnis dengan ketiga rekannya itu.
***
Setelah selesai membicarakan bisnis yang akan mereka jalani di Kafe, kemudian Koko William melambaikan tangan kepada Fani sang pelayan Kafe, pertanda ingin memesan kembali pesanan untuk di suguhkan di meja.
"Neng, saya mau pesen kopi hitam lagi dong!' Koko William, kembali memesan kopi panas.
Ketika Fani menganggukkan kepala tanda dia akan mengambil pesenan dari tamu dan melangkahkan kaki untuk mengambil ke dapur Kafe, tiba-tiba Koko William memanggil kembali lagi Fani.
"Neng, yang punya Kafe ini masih Pak Haris?" Koko William seakan rindu dengan rekan bisnisnya ini yang dia sebut dengan Haris.
Fani menganggukkan kepalanya,.dan tersenyum renyah. Pertanda betul, yang punya Kafe tersebut nama Bosnya yaitu Haris.
"Tolong bilang ke Pak Haris, ada Koko William yang dari Semarang," ucapnya tersenyum.
"Iya, Pak," Fani pun menganggukkan.kepala, dan berlalu dari hadapan para tamu tersebut.
***
Di dalam dapur Fani mencoba menyiapkan kopi yang di pesan oleh Koko William, dan kebetulan Haris sedang melewati dapur.
"Pak, kebetulan Bapak mampir kesini, jadi Fani enggak perlu ke ruangan Bapak untuk memberikan kabar," Fani tersenyum lebar.
"Ada apa Fan?" terlihat Haris sangat letih badannya.
"Ada tamu dari Semarang, namanya Koko William, dia ingin bertemu dengan Bapak. Dia kesini bersama teman-temannya, tiga orang," Fani berusaha menjelaskan.
__ADS_1
Haris terdiam dan pikirannya melayang jauh, dia seakan mengingat kembali nama KoKo William yang sudah lama dia lupakan.
"Oh, iya! Aku ingat, dia pemilik toko roti terkenal yang berada di Semarang." Haris tersenyum lebar.
"Ya, Bapak di suruh menemuinya, mereka duduk di arah sana!" Fani menunjukkan telunjuknya ke arah Koko William yang sedang tertawa lebar bersama rekan-rekan bisnisnya itu.
Fani pun, berlalu dari hadapan Haris untuk kembali ke tempat duduk para tamu tersebut
***
Tidak lama kemudian Haris datang ke meja yang di duduki oleh Koko William rekan bisnisnya itu.
"Koko, apa kabar?" Haris mengulurkan tangannya untuk bersalaman.
Mendengar ada yang datang, otomatis Bram mendongakkan kepalanya. Karena.dari tadi dia begitu fokus dengan ponselnya.
Bram betapa terkejut ketika melihat sosok lelaki, yang sedang ada di hadapannya. Sorot mata Bram lekat tertuju kepada Haris, dia seakan tidak percaya yang ada di hadapannya itu adalah mantan suami Cindy.
Koko William memegang erat tangan Haris dan tertawa lebar, nampak terlihat jelas dari raut muka mereka, di hinggapi rasa gembira yang teramat.
"Perkenalkan ini, Pak Steven, Koko Johanes, dan Pak Bram. Koko William, telunjuknya menunjuk satu persatu temannya itu.
Ketika telunjuk Koko William mengarah ke Bram. Haris seakan kenal, terlihat sudah tidak asing dengan muka lelaki yang berada di hadapannya.
Namun Haris seakan berpikir keras, sosok lelaki ini bertemu dimana?
***
Sementara Bram pandanganya terasa kaku dalam hati di hinggapi tanya. Apakah Haris tidak mengenal dirinya lagi? Mereka pernah bertemu sekali saat itu, ketika Cindy berada di mobil Bram.
Namun keadaan Bram, saat itu badannya tidak seperti sekarang terlihat gemuk, mungkin jadi beda.
Begitu pun dengan Haris, dalam benaknya di hinggapi rasa penasaran. Siapakah sosok yang berada di hadapannya itu?
Ketika berbicara dengan Koko William pun, Haris seakan tidak fokus, karena pikirannya tertuju kepada sosok Bram.
***
Bram mencari akal, niat dia ingin segera keluar dari perkumpulan para pengusaha yang berada di meja tersebut.
{"Halo, iya, saya segera kesana!"} kemudian Bram, memasukkan ponselnya kedalam saku celananya.
"Maaf, saya harus meninggalkan tempat ini, ada urusan mendadak yang harus saya selesaikan malam ini. Urusan kita kan sudah selesai ya, Koko William?" Bram tersenyum seakan kaku.
Koko William menganggukkan kepalanya, dan tersenyum lebar. Lalu Bram menyalami semua yang duduk di meja itu.
Terlihat sangat buru-buru dia berjalan meninggalkan teman-teman relasinya itu.
__ADS_1
Haris menatap lekat kepada Bram, ketika Bram berjalan dan berlalu dari hadapannya.
***
"Perasaan aku kenal kepada dia, tapi siapa ya? aku lupa. Rasanya aku pernah melihatnya, tapi dimana!" Haris berpikir Kembali tentang sosok lelaki itu. Haris memandangi Bram, dari kejauhan yang akan memasuki mobil.
***
Karena pandangan Haris, terus tertuju kepada Bram, jadi Koko William spontan berkata.
"Itu Pak Bram, dari Bogor. Dia baru menjajaki bisnis. Dia mencoba peruntungan di dunia bisnis kuliner. Dulu dia seorang pekerja," ucapnya.
***
---- Bram!
-----Asal dari Bogor.
Pikiran Haris, seakan teringat dengan nama Bram. Ya? dia akhirnya bisa mengingat.
Rasa kesal dia ketika melihat ponsel Cindy, yang mengirim pesan sangat romantis selayaknya sepasang kekasih bernama Bram.
Dan sosok lelaki yang waktu bertemu dengannya ketika Cindy bersama lelaki itu wajahnya seperti Bram, yang barusan dia lihat.
"Apakah, dia Bram, yang menghancurkan mahligai rumah tangganya bersama Cindy?" penuh tanya di benak hati Haris Brawijaya.
***
"Kapan-kapan kita bisnis bareng lagi ya?" Koko William, menepuk pundak Haris. Kemudian menyalami Haris karena akan pamitan untuk pulang.
Haris menyambutnya dengan terbuka, ketika Koko William menawarkan bisnis bersamanya lagi.
Para tamu pun akhirnya pulang. Sementara Haris masih duduk disana dengan memainkan ponselnya. Dia mencoba menghubungi Friska, namun ponselnya sedang tidak aktif.
Lalu Haris menyimpan ponselnya di atas meja.
"Pak, mau di buatkan kopi?" tiba-tiba Fani datang, sambil membereskan meja yang baru saja di pakai oleh para tamu.
"Boleh," jawab Haris, singkat.
***
Karena di hiinggapi rasa penasaran yang teramat, lalu Haris mencoba mengirimkan pesan kepada Clara.
Pesan pertama yang Haris tulis adalah berbasa-basi menanyakan keadaan kabar Clara. Dan obrolan pun beralih ke masalah yang di tuju atau inti pokok permasalahan.
{"Clara boleh minta foto Bram, kekasih gelapnya Cindy? Kamu menyimpan foto dia tidak?" meskipun di hinggapi rasa gengsi tapi Haris memberanikan diri untuk meminta foto Bram kepada Clara.
__ADS_1
Kemudian Clara memberikan foto tersebut.