Pengkhianatan Seorang Istri

Pengkhianatan Seorang Istri
Bab: 120 Cindy bertemu Azam.


__ADS_3

Pagi itu seperti biasanya Bu Marni, pergi untuk menjajakan dagangannya. Begitupun dengan Dea dan Cindy, mereka terlihat semangat untuk berjualan.


Drettt...


Drettt...


Drettt...


Suara getaran telepon terdengar di saku baju Dea, sang pemilik ponsel langsung merogoh ponselnya tersebut. Terlihat dari layar ponsel sang Ibu menelepon.


"Ibu, ada Ibu menelepon!" gumam hatinya.


Dea terdiam sejenak, dia berpikir ada apa dengan Ibunya yang tumben menelepon. Biasanya jika sedang berjualan tidak pernah menelepon.


"Assalamualaikum, iya Bu, ada apa?" ucap Dea, kepada Ibunya yang tiba-tiba menelepon.


"Dea, Ibu sangat senang sekali," Ibu dari nada bicaranya terdengar gembira.


"Memangnya ada apa Bu?" tanya Dea.


"Ibu tadi bertemu lagi dengan Pak Yunus, yang punya Yayasan itu loh," sambung Ibu kembali.


Dea seakan tahu maksud dari Ibunya, berbicara seperti itu. Ibu akan menceritakan lelaki yang akan di jodohkan untuknya.


"Iya Bu, aku tahu. Pasti Ibu akan berbicara tentang lelaki yang akan di jodohkan untukku kan. Benar tidak,?" tanya Dea.


Ibunya Dea, tertawa terbahak. Ternyata anaknya pintar bisa menebak apa yang akan Ibunya ucapkan.


"Kamu benar, Nak?" jawab Ibu Marni.


"Terus maksud Ibu menelepon mau bilang itu saja," Dea seakan menahan tawa.


"Itu loh, orangnya ganteng tapi sudah berumur, dia usianya 30 tahun. Ibu tadi sudah bicara dengan dia. Ibu pun memperlihatkan foto kamu dan sepertinya dia suka dengan kamu Nak," Ibu tertawa terkekeh.


"Ibu ada-ada saja! belum juga ketemu, udah berharap lebih," ucap Dea.


"Bener loh, Ibu nggak bohong Nak," sambung Ibu lagi.


"Sudah ah, Bu. Nanti ngobrolnya di rumah saja, ini Dea banyak yang beli," ucapnya.


Dea pun menutup sambungan teleponnya.


*****


Cindy nampak menatap lekat kepada Dea, dia dibuat penasaran dengan Dea, karena wajahnya terlihat sumringah setelah menerima telepon.


"Telepon dari siapa?" tanya Cindy.


"Ibu, Kak," ucapnya tersenyum.


"Ada apa dengan Ibu?" Cindy kembali penasaran, karena setelah menerima telepon dari Ibunya. Dea, terlihat tersenyum bahagia.


"Nggak apa-apa sih, nanti saja ceritanya, setelah Ibu datang," ucap Dea.


*****


Ibu Marni, akhirnya datang ke rumah.


Dia tersenyum lebar, lalu dia memanggil-manggil anaknya.


"Dea, Dea...!" teriaknya.


"Dea nya, sedang di kamar mandi Bu," ucap Cindy, yang tiba-tiba keluar dari kamarnya.

__ADS_1


Ibu menatap Cindy.


"Sudah makan? ini Ibu bawa lagi nasi padang, dan buah-buahan," Ibu terlihat gembira


"Wah, Alhamdulillah. Seperti hari kemarin ya, Ibu kembali di kasih makanan." Cindy mengeluarkan semua makanan yang ada di dalam keranjang. Nampak terlihat nasi Padang yang di bungkus dengan kertas nasi. Cindy pun memakan nasi tersebut.


*****


Tiba-tiba Dea datang dari arah kamar mandi.


"Nak, ini loh, orangnya. Yang tadi Ibu ceritakan," Ibu memperlihatkan foto yang akan di jodohkan kepada anaknya itu.


"Ganteng ya Bu, meskipun sudah berumur," ucap Dea.


Sementara Cindy, dia sedang menikmati nasi padang, tanpa menyimak mereka yang sedang terlihat gembira.


"Tambah lagi makannya, Nak Cindy," ucap Ibu Marni, yang melihat Cindy seakan masih lapar ketika menyantap makanan nasi Padang itu.


"Nggak Bu, terima kasih. sudah kenyang," jawabnya. Cindy pun berlalu ke dapur.


*****


Besok Ibu, akan ajak kamu ke yayasan, karena besok ada acara disana. Ibu mau bantu masak disana. Biar besok tutup saja jualan di rumah.


"Kak Cindy, mau di bawa Bu," tanya Dea.


"Kalau mau ikut ayo, aja," jawab Ibu.


Kemudian Cindy datang, dari arah dapur.


Lalu Ibu menceritakan semua. Maksud dari Ibu akan menjodohkan Dea. Cindy hanya tersenyum dan mendoakan Dea, supaya diberi kelancaran besok.


"Kamu ikut ya, Nak," Ibu Marni, berharap Cindy ikut ke acara yayasan besok.


"Kayaknya nggak bisa Bu, aku mau istirahat di rumah," ucapnya.


Keesokan harinya.


Ibu Marni dan Dea, terlihat sudah siap untuk pergi ke yayasan pagi itu. Sementara Cindy sedang istirahat di kamarnya. Setelah berpamitan kepada Cindy, Bu Marni dan Dea pun berlalu pergi.


***


Mereka pun sampai di yayasan, nampak terlihat Pak Yunus, menyambut kedatangan Bu Marni dan Dea.


"Ini yang namanya Dea, anak Bu Marni?" tanya Pak Yunus, tersenyum ramah kepada Dea.


Dea pun bersalaman.


Pak Yunus kemudian memanggil lelaki yang akan di jodohkan kepada Dea.


"Azam, sini! tamunya sudah datang," Pak Yunus memanggil Azam.


Azam datang dengan senyuman yang menawan dan ramah.


Dea menundukkan pandangannya, dia terlihat tersipu malu ketika melihat sosok lelaki yang akan di jodohkan kepadanya.


Kemudian Pak Yunus, mengutarakan maksudnya, kepada Dea.


"Nak Dea, ini loh, Azam yang sedang mencari calon istri, semoga kamu cocok. Kalian saling mengenal dulu tidak apa-apa ko," ucap Pak Yunus.


Azam tertunduk malu, dia beberapa kali pernah gagal ketika mendekati wanita.


Dia dulu terbilang hidupnya tidak bermanfaat karena berpacaran tidak memilih-milih wanita.

__ADS_1


*****


"Dulu dengan sekarang aku beda. Aku sudah berubah, dan aku tidak mau mengingat masa lalu," gumam hatinya.


Dia ingat sosok Cindy yang pacar lamanya. Dia pernah di berikan modal untuk adiknya, dari Cindy.


Dia tidak mau gagal lagi dalam mendekati wanita, dan dia mau benar jalan hidupnya.


Azam menghela napas panjang.


"Semoga ini pilihanku yang tepat dan jodohku yang tebaik. Meskipun Dea, usianya masih muda, tapi aku yakin dia cara berpikirnya sudah dewasa," gumam hati Azam.


Dia nampak bahagia karena wanita yang ada di hadapannya terlihat baik dan santun.


*****


Pak Yusup kemudian ijin untuk menerima tamu ke arah ruang yayasan sedangkan Bu Marni, berlalu ke dapur untuk mempersiapkan makanan bagi para tamu.


Dea dan Azam terlihat mereka berdua di ruangan tersebut.


"Dea, kegiatannya apa sekarang," Azam tersenyum ramah dan matanya lekat ke arah Dea yang sedang menunduk .


"Aku hanya berjualan, di rumah," Jawabnya, tersipu malu.


"Bagus itu," ucap Azam.


*****


Jam menunjukkan pukul tujuh malam, acara sudah selesai di tenmpat yayasan tersebut. Bu Marni dan Dea pamit untuk pulang.


"Aku antar saja pulang," ucap Azam.


Dea dan Bu Marni menolaknya,, namun Pak Yunus, tetap menyuruh Azam untuk pergi mengantarkan pulang, karena khawatir hari sudah malam, diluar matahari sudah tenggelam jadi keadaan diluar gelap.


Azam mengantarkan Dea dan Bu Marni dengan berjalan kaki, menyusuri jalan gang warga, karena lebih dekat jaraknya.


*****


Sesampai di rumah.


"Nak Azam, ini gubuk ibu. Ayo, masuk dulu," ucap Bu Marni.


"Aku masih ada tamu Bu, jadi kapan-kapan saja aku mampir ke rumah Ibu." ucap Azam


"Minum dulu, Nak Azam. Ayo!" Ibu terlihat merajuk Azam.


Akhirnya Azam masuk ke dalam rumah.


Ibu berlalu ke dapur untuk membuatkan Kopi untuk Azam. Sementara Dea duduk berhadapan dengan Azam.


Setelah membuat kopi Ibu berlalu dari dapur untuk membawa kopi tersebut ke arah ruang tamu, tapi sebelumnya dia mengintip gorden kamar Cindy. Nampak terlihat Cindy sedang tertidur.


*****


Cindy bangun dari tidur.


Terasa ada suara orang seperti berbicara di ruang depan. Cindy yang tertidur merasa terganggu dengan suara tiga orang itu.


Cindy penasaran lalu dia mengintip dari arah balik gorden.


Cindy mengucek-ngucek matanya.


Deeggghhh...

__ADS_1


Jantungnya seketika seakan mau copot, ketika melihat sosok lelaki yang tengah berada di ruang tamu.


"Azam..!" gumamnya.


__ADS_2