Pengkhianatan Seorang Istri

Pengkhianatan Seorang Istri
Bab 43 Clara Heran Dengan Sifat Aneh Cindy.


__ADS_3

Setelah selesai urusan di Surabaya, kemudian Ibunya Haris tidak langsung pulang ke Bekasi tapi langsung singgah ke tempat menantunya yaitu Cindy.


Itupun tanpa ada pemberitahuan dulu kepada sang menantu.


Sang mertua datang pukul tiga sore jadi Cindy masih di kantor,


Kemudian Cindy dapat telepon dari Rara, mengabarkan bahwa Neneknya ada di rumah.


Cindy masih dihinggapi rasa takut oleh Ibu mertua. Takut jika bertemu sang mertua nanti marah besar kepadanya, kemudian Ibu mertua ngomel-ngomel terhadapnya.


***


Ting..


Tiba-tiba pesan muncul dari Bram, menanyakan kabar, dan dia juga menyampaikan kabar juga bahwa Bram, lagi tugas di Bogor selama tiga hari.


Cindy merasa ada jalan agar tidak bisa pulang ke rumah karena ada sang mertua, dia lalu menginap di rumah Clara.


Dia berpikir dengan menginap di rumah Clara dia bisa bebas pulang kapanpun tanpa tahu waktu, untuk menemui Bram.


Entah di rasuki pikiran negatif apa, Cindy selalu ada rasa rindu ingin bertemu dengan Bram.


"Kamu nginap saja di Hotel!" Bram menawarkan nginap di Hotel dari pada nginap di rumah Clara.


Cindy berpikir lama,


"Apakah aku akan menginap di Hotel, atau di rumah Clara. Atau Clara suruh saja menginap di Hotel,"


"Bagaimana jika Clara nginap di Hotel saja bersama aku?"


Cindy menawarkan permintaan kepada Bram.


Kemudian Bram menyetujuinya.


***


"Cindy, kenapa kalau mertuamu nginap di rumahmu, kamu selalu menolak untuk bertemu dengannya?" tanya Clara di hinggapi rasa penasaran.


"Aku males di tanya macam-macam sama mertuaku!" ucap Cindy dengan entengnya dia berucap.


"Mertuamu mungkin kangen sama menantunya, kamu jangan berpikir negatif sama mertuamu itu!" ucap Clara lagi seakan mengingatkan Cindy.


"Sudahlah, kamu jangan ikut campur Clara!" Cindy terlihat kesal kepada Clara yang memancing emosinya.


Ting...


{"Aku udah bayar sewa Hotel, kamu dan Clara tinggal isi. Nama Hotelnya sesuai dengan yang kita bicarakan tadi, dan nomor kamarnya 211,"} pesan dari Bram membuat senyuman Cindy mengembang.


"Ayo..!"


Cindy menarik tangan Clara untuk memasuki mobilnya, lalu mereka berlalu dari kantor untuk menuju Hotel. Sesuai perjanjian setelah Cindy dan Clara mandi lalu mereka pergi ke sebuah Kafe untuk menemui Bram.


Terlihat Bram sangat senang dengan kedatangan Cindy begitupun sebaliknya dengan Cindy.


Akhirnya Cindy bisa tertawa lepas, semenjak percekcokan terjadi antara Haris dengannya seakan tidak ada senyum, tapi hari ini Cindy kembali tersenyum dan rasa penuh perhatian, dan kasih sayang yang diberikan dari Bram begitu melambungkan hati Cindy.


Beda dengan Cindy berhubungan dengan Helmi, Cindy lah yang memberikan materi tapi tidak dengan Bram, dialah yang menanggung semua materi.


"Kamu senang, dengan semua ini?" tanya Clara lekat ke kuping Cindy.

__ADS_1


Cindy menganggukkan kepala pertanda dia senang menikmati ini semua.


***


"Cindy, kayaknya aku mau bercerai dengan istriku, kami bertengkar terus. Aku capek bersandiwara dengan semua ini!" ucap Bram.


Cindy terkejut mendengar apa yang baru saja dia dengar.


"Maksudnya, mau bercerai dengan Zhira?" Cindy di hinggapi rasa penasaran.


"Iya, aku capek!" ucap Bram.


"Jangan, kamu harus mempertahankan rumah tangga kamu," Cindy seakan tidak mau jika Bram menceraikan Zhira.


"Loh, kenapa?" Bram menatap Cindy.


"Ya, sayang saja. Soalnya untuk bisa bersatu lagi kemarin dengan Zhira, penuh perjuangan," ucap Cindy.


"Kalau aku cerai dengan istriku, kamu juga mau cerai dengan suamimu?" tanya Bram penuh harap.


"Gila, kamu!" Cindy dengan cepat menjawab.


"Loh, apa salahnya? kamu juga selama ini banyak yang ditutupi terhadap suami kamu!" Bram seakan pembelaan diri.


"Tapi aku tidak akan cerai!" Cindy bersikukuh.


"Kamu egois!" Bram melotot.


Akhirnya Cindy dan Bram beradu mulut, Bram merasa Cindy egois.


***


Bram kembali ke tempat Hotelnya untuk beristirahat.


"Ada apa? kamu berantem sama Bram!" Clara mencoba menenangkan Cindy dengan mengusap pundaknya. Cindy menghela napas secara perlahan.


Kemudian ponsel Cindy berbunyi disana terlihat, Haris sang suami menelepon.


{"Dimana kamu, Mah?"} tanya Haris.


{"Aku di luar kota, Pah. Ngedadak ada rapat,"} jawab Cindy gugup.


Kemudian Haris memarahi istrinya itu tapi dengan sikapnya yang lembut dan santai. Haris memberikan penjelasan kepada istrinya itu bahwa Ibunya ingin bertemu dengannya.


{"Pokoknya, Mama pulang!"} Haris merajuk istrinya itu.


{"Pah, Ibumu kan cerewet, pasti nanti aku di banjiri pertanyaan yang macam-macam!"} Cindy membela diri.


{"Terus sampai kapan, Mama diluar kota?"} tanya Haris lagi.


{"Ini lagi ada Bos dari pusat, Pah. Kemungkinan tiga hari,"} Cindy mencoba meyakinkan Haris.


{"Tapi, aku tidak percaya,!"} Haris menutup teleponnya.


Cindy, tertegun sejenak.


"Suamimu, marah lagi ya?" tanya Clara.


Clara kemudian membujuk Cindy agar pulang saja, dan temui Ibu mertuanya. Tapi Cindy tetap menolaknya.

__ADS_1


"Dasar keras kepala!" ucap Clara.


Cindy hanya terdiam.


***


{"Bu, maafkan Cindy, dia sibuk sedang banyak tugas di kantornya,"} Haris menelepon Ibunya, dan mencoba meyakinkan Ibunya agar percaya terhadap perkataannya.


{"Ibu bilang apa! istrimu mulai berubah sekarang,"} ucap Ibu.


{"Jadi istrimu kapan pulang?} tanya Ibu lagi.


{"Haris tidak tahu pasti Bu, sekarang Cindy sedang ada proyek baru, jadi agak sibuk,"}Haris mencoba menutupi kelakuan buruk istrinya itu.


{"Ibu yakin istrimu tidak mau bertemu, Ibu!"}Ibu agak sedikit marah ketika berucap.


Lalu Ibunya Haris, meminta untuk pamit pulang saja karena merasa tidak di hargai oleh mertuanya itu.


Tiap dia datang ke rumah selalu banyak alasan.


{"Ibu pulang saja!"} Ibu menutup teleponnya.


Haris betapa terkejut ketika Ibunya menutup sambungan teleponnya, Haris kemudian menelepon Ibunya tapi sang Ibu, tidak mengangkat sambungan teleponnya.


Haris menghela napas panjang,


***


Dia menulis pesan kepada Cindy.


{"Cindy, kalau kamu sudah tidak menganggap aku ini suami kamu, dan Ibu Heny itu, mertuamu, lebih baik kita pisah saja. Aku sudah capek dengan semua sandiwara kamu!"} Haris dihinggapi rasa kesal yang teramat, dia merasa tidak dihargai oleh istrinya itu.


Setelah Cindy membaca pesan dari suaminya itu, Cindy tertegun sejenak.


"Dia tidak mungkin ceraikan aku, ini hanya gertakan saja!" gumam hati Cindy.


Cindy hanya tersenyum tipis.


Cindy mengirimkan sebuah gambar foto.


Dokumen yang dia anggap penting yang membuktikan bahwa Cindy benar-benar sibuk, dan foto dia terdahulu yang belum pernah dikirim kepada Haris ketika dia sedang rapat.


Seolah-olah dia benar-benar sangat sibuk.


Begitu banyak gambar foto yang diberikan Cindy kepada Haris.


Haris hanya terdiam ketika melihat gambar foto dari istrinya itu.


**


"Jadi kita mau nginap disini sampai kapan?" tanya Clara kepada Cindy.


Cindy menggelengkan kepala.


Huh...


Clara, membuang napas kasar, dia pun tidak mengerti terhadap kelakuan sahabatnya itu yang selalu aneh.


"Kamu jangan banyak pikiran, sudah santai saja!" ucap Cindy.

__ADS_1


Clara mengernyitkan dahi.


__ADS_2