
Tanpa rasa malu langsung Cindy keluar dari mobil Bram tapi dia sebelumnya berpamitan dulu kepada Bram, dan dia mengingatkan kepada Bram untuk bersikap tenang dan biasa saja seperti tidak sedang terjadi apa-apa di antara mereka.
"Pah, aku baru saja makan bersama teman kantor dan kebetulan tadi habis nganterin satu persatu karyawan ke rumahnya," ucap Cindy mencoba meyakinkan suaminya itu tanpa ada rasa bersalah sedikitpun.
Kemudian Bram bersalaman dengan Haris dan mencoba tersenyum ramah kepada suami kekasih gelapnya itu. Haris nampak seperti kesal dia hanya tersenyum tipis kemudian menarik tangan Cindy untuk cepat-cepat masuk kedalam mobil.
"Bu, terima kasih ya," ucap Bram mencoba basa-basi di hadapan Haris. Dan Haris pun hanya tersenyum tipis tanpa berkata sepatah kata pun.
Ketika di dalam mobil muka Haris cemberut.
"Kamu kebiasaan ya, kalau lembur kerja Selalu tidak di aktifkan ponselnya, ini sudah ke berapa kalinya kamu berbuat seperti ini, lama-lama aku kesal menghadapi sikap kamu seperti ini Mah," Haris seakan kesal oleh istrinya itu. Cindy kemudian menggenggam erat jemari tangan kiri dari Haris dan kepalanya menyender ke bahu suaminya itu. Dia mencoba manja agar suaminya tidak marah dan percaya terhadapnya.
"Papa sayang, ponsel Mama tadi mati, maafkan Mama," kemudian Cindy mencium punggung tangan suaminya itu. Haris hanya terdiam dan matanya fokus menyetir pandangan lurus ke depan seakan tidak mau menengok istrinya yang sedang berada di pinggirnya itu.
Haris menghela napas panjang.
"Aku selama ini sabar terus, ada apa denganku ini?" gumam hati Haris.
"Pah, kita beli nasi goreng sama sate buat makan Anak-anak ya, dan kita beli di langganan kita, Papa mau gak?" Cindy mencoba melumerkan suasana yang lagi panas. Haris pun sama seperti semula hanya terdiam dan tidak bereaksi sedikitpun. Tapi kemudian Haris membelokkan mobilnya ke arah tukang jualan nasi goreng dan sate langgangan nya itu. Muka Cindy seketika sumringah dalam hatinya berpikir suaminya sudah tidak marah terhadapnya. Dia kemudian menatap lekat kepada suaminya dalam hatinya di hinggapi rasa bersalah, mengapa lelaki yang begitu sabar dan baik tega dia khianati dan dia bohongi, air mata Cindy kemudian lolos seketika. Tidak terasa air matanya menetes ke punggung tangan suaminya itu. Melihat ada air mata yang menetes kemudian Haris menoleh kearah istrinya itu dengan santai dia bertanya.
"Kenapa?" Haris berkata dengan begitu datar.
"Kamu begitu polos Mas, dan kamu begitu tidak curiga terhadap istrimu," gumam hati Cindy. Air mata Cindy seakan tidak bisa di bendung dan terus bercucuran menetes. Kali ini Haris seakan tidak begitu peduli dan tidak mau mengkhawatirkan istrinya.
__ADS_1
"A...aku, begitu sangat mencintaimu, Mas," ucap Cindy mencoba bersikap lembut terhadap suaminya itu. Haris hanya membuang napas kasar.
Brukk...
Kemudian mobil menubruk pohon, Cindy terperanjat dan berteriak.
"Mas, hati-hati!" Cindy pun menggenggam erat tangan suaminya.
"Aku kesal, aku tidak bisa berbuat apa-apa," gumam hati Haris. kekesalan dia kepada istrinya di lampiaskan emosinya kepada keadaan setempat dengan mencoba menubruk mobilnya itu.
"Maafkan, aku," ucap Haris tanpa memandangi istrinya itu. Cindy menatap lekat suaminya, dia seakan tahu bahwa suaminya itu sedang menyimpan rasa kesal terhadap dirinya itu.
Karena sudah sampai tujuan di tempat berjualan langganan nya itu lalu Cindy turun tanpa di temani oleh Haris, sang suami hanya menunggu di dalam mobil.
Sesampai di rumah Cindy kemudian menyiapkan makan malam untuk keluarganya. Nampak terlihat Reza dan Rara sang Anak sudah berada di kursi meja makan sedangkan Haris masih asik mencuci mobil di teras rumah.
"Pah, kita makan bersama Anak-anak, ayo Pah," Cindy merajuk suaminya itu. Tapi Haris menolak dengan alasan belum mau makan. Cindy pun berlalu dari hadapan Haris kemudian makan bersama Anak-anaknya.
"Mah, kenapa Mama selalu sibuk, kapan Mama ada waktu buat kita?" tanya Rara mukanya cemberut seakan kesal, tatapan matanya begitu menyimpan rasa kecewa.
"Sabar sayang, Mama sibuk. Kan kita mau berlibur keluar negeri jadi harus mengumpulkan uang banyak," ucap Cindy mencoba meyakinkan hati Anaknya itu. Rara sang Anak hanya terdiam lalu memandangi sang Kakak, Reza hanya tersenyum sinis.
"Tuh, kan, Kakak bilang apa, pasti Mama selalu sibuk, dan sibuk terus," ucap Reza. Seketika muka Cindy merah padam seakan malu oleh ucapan Anak-anaknya itu. dia juga menyadari akhir-akhir ini waktunya hanya untuk Bram kekasih gelapnya sedangkan keluarganya sendiri dia terlantarkan.
__ADS_1
"Maafkan Mama Kak, bukan maksud Mama untuk membohongi kalian selama ini, atau merasa sibuk sendiri, tapi kenyataannya Mama harus kerja," ucap Cindy berusaha membela diri.
Reza hanya terdiam sambil memainkan sendok nya, makanan yang tersaji di meja makan seakan tidak menambah selera makan. Kemudian Reza menggeser kan kursi dan kakinya melangkah ke dalam kamar.
"Reza! makan yang benar," Cindy sedikit keras ketika berucap, dan Reza pun seakan tidak mendengar ucapan Mamanya itu lalu dia menutup pintu kamarnya dengan kasar, dan suara pintu itu sangat keras terdengar. Dan Rara pun menunduk ketika melihat mata Mamanya melotot.
"Sayang, maafkan Mama, Rara makan yang banyak ya," Cindy mengusap rambut Rara.
"Sifat Mama jadi emosi, kenapa ya?" gumam hati Rara pandangan sambil menunduk ke makanan yang berada di piring, tapi makanan yang tersaji di piring itu tidak dia makan.
Karena suara bantingan pintu yang begitu keras lalu Haris datang tergopoh-gopoh.
"Ada apa, Ra?" Haris menatap Rara anaknya itu. Rara hanya menatap Mamanya dan seakan bingung mau berkata apa.
"Itu Anakmu Mas, dikasih makan malah di tinggalkan begitu saja," ucap Cindy sambil menoleh ke arah kamar Reza. Haris hanya membuang napas kasar.
"Rara, sudah makannya atau mau dibelikan apa sama Papa?" tanya Haris. Rara hanya menggelengkan kepala kemudian dia membereskan piringnya lalu berlalu ke kamar. Melihat Rara seperti Reza yang sedang makan berlalu di hadapannya kemudian Cindy seperti dihinggapi rasa kesal terhadap Anak-anaknya itu.
"Pah, kamu rmeracuni omongan apa terhadap Anak-anak kita, sampai mereka merasa tidak nyaman berada di sisiku?" mata Cindy menatap tajam Haris.
"Kamu harusnya yang ngaca diri Mah, ada apa dengan kamu?" Haris kali ini dihinggapi rasa kesal yang amat dalam. napasnya seakan memburu. Melihat suaminya yang sedang berbicara dengan nada tinggi sepertinya Cindy dihinggapi rasa takut lalu dengan cepat dia membereskan meja makan lalu dia berlalu ke dapur. Di dalam dapur dia menghela napas panjang.
"Aku yang salah, Aku yang membuat kalian tidak nyaman, tapi Aku tidak tahu, entah mengapa Aku menjadi seperti ini, Aku merasa bodoh telah membohongi kalian semua," tak terasa bulir putih lolos seketika di pelupuk matanya.
__ADS_1