
Bram kembali ke Bogor.
Dengan wajah berseri-seri, akhirnya Bram, kembali pulang ke Bogor. Gisela berkali-kali meneleponnya, namun tidak di angkat oleh Bram.
Kekecewaan dia kepada Friska, tidak jadi mendapatkan wanita itu. Karena Zhira yang membuka boroknya, seakan menampar keras hati Bram.
Selama ini dia belum pernah di permalukan oleh siapapun, apalagi seorang wanita.
Untuk mendapatkan wanita baginya sangat mudah. Wanita manapun bisa dia dapatkan dengan cara apapun.
karena yang berbicara baginya, uang dan uang semata.
*****
Sosok Gita yang baru saja dia kenal menjadi tantangan tersendiri untuk mendapatkan hati wanita itu. Sang petualang cinta tidak akan menyerah. Meskipun Gita sosok cuek dan jutek tapi Bram, yakin. Suatu saat nanti Gita akan tergila-gila terhadap dirinya.
"Aku yakin, kamu akan tergila-gila terhadapku!" gumam hati Bram.
Drettt... Drettt... Drettt...
Telepon seluler Bram berbunyi. Dia hanya menatap lekat ke arah ponsel, yang keberadaannya di kursi kiri mobilnya.
Terlihat nama Gisela disana muncul.
Berkali-kali Gisela menelepon namun tidak ada jawaban oleh Bram.
Bram membuang napas kasar.
"Paling dia, minta sejumlah uang lagi!" gumamnya.
*****
Bram sampai di Restorannya.
Bram akhirnya dapat menghela napas panjang. Dia akhirnya sudah sampai di tujuan yaitu tempat Restorannya.
Baru juga membuka pintu mobil, dengan napas tersengal-sengal karyawannya menghampiri dia.
"Ada apa, ini!" Bram menatap karyawannya, dengan penuh rasa heran.
"Pak, dari kemarin Bu Gisela, bolak-balik ke Kafe. Dia menunggu Bapak dan marah-marah tidak jelas," ucapnya.
"Sekarang dimana dia?" sambung Bram.
"Ada lagi uring-uringan!" ucap karyawan kembali.
Bram mengepalkan tangannya, sebenarnya apa maunya Gisela. Uang baru saja dia kirim. Bram bukan orang bodoh, dia pun berpikir. Mungkin Gisela saat ini hanya memeras uangnya saja.
*****
Dia berjalan penuh emosi menuju Restoran.
Dilihatnya dari kejauhan, Gisela sedang cemberut kesal.
Melihat Bram datang menghampiri spontan Gisela, matanya melotot.
"Kata Karyawan, kamu pergi ke Bandung. Kenapa tidak memberi kabar kepadaku Mas?" tanyanya penuh dengan emosi.
Gisela kesal, karena dia merasa tidak di hargai, dan Bram seenaknya tidak ijin ke pacarnya itu untuk pergi ke luar kota.
__ADS_1
"Hak kamu apa?" tanya Bram.
Gisela terbelalak matanya. Bisa-bisanya dia tidak di hargai oleh pacarnya itu. Seenaknya saja bicara.(Hak dia apa?)
Bukannya dia adalah pacarnya, berhak tahu kemana pacarnya pergi.
"Mas, kamu tidak menghargai aku!" Gisela terlihat kesal.
"Buat apa menghargai kamu! Aku tahu, kamu memeras uang aku saja!" entah apa yang ada di pikiran Bram, sehingga dia sudah tidak menghargai lagi pacarnya itu.
Mungkinkah karena ada sosok Gita? Wanita yang cuek tapi membuat Bram, ingin lebih mengenalnya.
Membuat rasa penasaran Bram, sebagai lelaki untuk mengenalnya. Lebih dekat dan merasa tertantang.
*****
Gisela tersulut emosi.
Dia menggeserkan kursinya, lalu berdiri tegak. Matanya menyorot tajam ke arah Bram.
Tangannya mengepal dan bergetar.
Seakan ingin menampar lelaki brengsek itu.
Tangan Gisela pun akan mengarah ke pipi Bram. Namun ketika tangan itu hendak menampar pipinya Bram, spontan Bram meraihnya.
Karena Gisela Gagal untuk memukul Bram, lalu kakinya menendang paha Bram. Akibatnya Bram tersungkur. Dan kursi yang berada di belakang Bram ikut jatuh.
Bram meringis kesakitan, karena dia menahan tangannya, ketika badan besarnya. Terkena lantai.
Para karyawan memperhatikan Bosnya, yang sedang berkelahi. Bram di hinggapi rasa malu yang luar biasa.
Sontak Aries dan Bisma, tergopoh-gopoh datang. Dengan sigap mereka membawa Gisela keluar.
"Diam..! kalian jangan kasar sama aku!" teriak Gisela, dia berusaha sekuat tenaga melepaskan pegangan dari kedua karyawannya itu.
Tapi apalah daya tenaga wanita begitu lemah tidak kuat, untuk memberontak. Apalagi ini di serang sama dua lelaki sekaligus.
Gisela di seret keluar oleh kedua karyawannya Bram, yang berada di Restoran.
Gisela berontak seakan tidak menerima.
Dia terus berteriak.
"Lelaki jahat, suka mempermainkan perasaan wanita!". Gisela mencecar Bram.
*****
Bram keluar dari Restoran.
Dia seakan muak dengan teriakan Gisela, yang mempermalukan dia di Restorannya. Akhirnya dengan rasa sakit dan nyeri di bagian tangan. Akhirnya dia berjalan keluar menuju mobilnya.
Bram berlalu dari dalam Restoran itu.
"Sial..!" gumamnya.
*****
Bram membunyikan klakson mobilnya beberapa kali. Tujuannya agar pegawainya menyingkirkan Gisela yang terlihat menghalanginya ketika mobilnya akan keluar dari area Restoran.
__ADS_1
"Lelaki pengkhianat, setelah kamu menikmati tubuhku, sekarang kamu pergi!" teriakan Gisela menjadi-jadi. Dia seakan kalap.
Bram akhirnya bisa lolos dari Restorannya.
Dadanya memburu, dia seakan tidak bisa menahan emosinya.
"Aku tahu, dia lagi butuh uang!" gumam hati Bram.
Bram melajukan mobilnya ke arah Bar, tapi kali ini Bar tempat temannya, bukan Bar yang selama ini dia singgahi. karena kalau dia kesana Gisela pasti akan menghampirinya.
*****
Bram tiba di Bar.
Pelayan wanita yang seksi mencoba menuangkan minuman ke dalam gelas. Mereka membelai Bram dengan mesra.
Bram ingin melupakan masalah yang baru saja menghinggapinya bersama Gisela.
Bram melepaskan pikirannya yang penat, dengan cara mabuk. Dia teringat omongan Zhira yang merendahkannya, padahal dia sangat menginginkan Friska menjadi kekasihnya.
Dia di permalukan oleh Zhira, dan dia seakan tidak ada artinya.
Senyuman sinis Zhira, terbayang dalam pikirannya. Gisela yang baru saja memperlakukan dia, kurang sopan di depan karyawannya. Dan para tamu yang hadir di Restoran itu, seakan membuat Bram malu.
Wanita yang berada di Bar itu, terus menerus memberikan Bram, minuman yang memabukkan.
Membuat kepala Bram menjadi pusing, dan lama kelamaan dia tidak sadarkan diri.
Dia pun lemah lunglai tak berdaya di kursi.
Teman dari Bram, yang bernama Andre, sekaligus pemilik Bar, memboyong dia ke dalam Bar, kebetulan di dalam Bar, ada kamar khusus buat pemilik Bar, dan karyawan disana.
*****@@@*****
Keesokan harinya.
"Andre, dimana aku?" tanya Bram, membuka matanya lebar. Dia terkejut karena tertidur di kamar yang berada di Bar.
"Kamu mabuk berat!" Andre sang pemilik Bar, yang tidak lain adalah, sahabat dari Bram. Tertawa lebar.
Bram memijit-mijit kepalanya, pikirannya berselancar memikirkan kejadian yang menimpanya hari kemarin. Dia teringat.
"Aku bertengkar hebat dengan Gisela!" gumamnya.
Bram ingin berdiri tegak namun seakan tidak mampu melakukannya, dia kemudian terjatuh. Terasa masih pusing berat kepalanya.
"Istirahat dulu, terus habis itu mandi, biar segar badanmu! kamu berantem ya dengan pacar kamu?" tanya sang sahabat.
"Kamu tahu dari mana?" tanya Bram.
"Dari karyawan kamu?" Jawab Andre.
"Ya, aku berantem hebat sama wanita itu, aku kesal dia selalu memeras aku!" ucap Bram, seakan membela diri.
"Kamu kan loyal selama ini, kamu tidak pernah itungan kalau soal uang untuk wanita!" tanya Andre.
"Aku kesal juga terhadap mantanku Zhira!" lalu Bram menceritakan semuanya. Apa yang terjadi waktu dia kemarin di Bandung.
Andre sang sahabat tersenyum seakan mengejek.
__ADS_1
"Aku pun kalau di perlakukan begitu sama wanita harga diriku tidak ada!" ucapnya.