
"Mbak..!!"
Rara berteriak di teras rumah, Mbak Eka datang dengan tergopoh-gopoh, dalam benak Mbak Eka berpikir pasti Rara menanyakan keberadaan sang Papa.
"Papa, mana?" tanya Rara, dan Mbak Eka pun tidak tahu harus berkata apa ketika Rara menanyakan Haris. Cukup lama Mbak Eka terdiam.
"Pa..,Papa, semalam di telpon sama temannya katanya ada urusan mendadak jadi harus segera pergi ke Solo," ucap Mbak Eka terbata-bata ketika berucap. Rara mengernyitkan dahi.
"Papa, tidak sayang sama Rara!" Rara seakan kecewa kemudian dia berlari kedalam kamar.
"Mbak, memangnya Bapak, pergi jam berapa semalam?" tanya Cindy yang baru menyadari suami telah pergi.
"Sekitar jam dua, Bu," Mbak Eka sambil memasukkan makanan ke dalam wadah, untuk para tamu undangan.
Wajah Cindy terlihat masih sedih, matanya sembab karena dari semalam air matanya tak henti menangis.
Cindy dihinggapi rasa gelisah karena nanti jika teman-temannya datang, dan menanyakan suaminya dia enggak tahu harus berkata apa?
Karena sebelumnya dia sudah berbicara kepada semua tamu yang di undang, Papanya Rara, akan menyempatkan datang di acara ulang tahun Anaknya.
****
Sore pun tiba, dan acara perayaan ulang tahun pun di mulai, sungguh meriah acaranya, dan terlihat semua tamu undangan yang hadir sangat gembira. Anak-anak teman dari Rara membawa kado istimewa.
"Ra, Papa kamu kemana? kenapa tidak kelihatan dari tadi?" teman Rara bertanya. Terlihat matanya memandangi satu persatu tamu yang hadir.
Rara hanya bilang, Papanya sedang sibuk.
Sementara Reza dari mulai acara ulang tahun berlangsung dia tidak keluar dari kamarnya.
Kemeriahan acara ulang tahun Rara sungguh terasa, Mbak Eka terlihat selalu menjaga dan memperhatikan Rara. Dalam hati Mbak Eka dihinggapi rasa sedih karena apa yang di harapkan Rara tidak terwujud, dia menginginkan Papanya ada di sampingnya saat acara ulang tahun, sedangkan kenyataannya berkata lain, Haris malah meninggalkannya pergi.
***
Tiba-tiba Clara datang ke acara ulang tahun Rara, Cindy terlihat menahan air mata yang akan tertumpah disana. Dia tidak mau jika semua orang tahu dia lagi keadaan bersedih.
Namun Clara seakan mengetahui isi hati sahabatnya itu jika Cindy dengan Haris sedang ada pertengkaran yang sangat besar.
__ADS_1
"Cindy, kamu berantem hebat ya, sama Suamimu? tanya Clara berucap sangat pelan sekali kepada sahabatnya itu.
Cindy hanya menganggukkan kepala, mata sembab, dan redup Cindy seakan itu bukti dari jawaban Cindy yang sedang menyimpan kesedihan yang teramat sangat.
***
Setelah acara selesai Cindy dan Clara duduk di teras rumah. Cindy menceritakan semua yang terjadi antara dirinya dan Haris. Terlihat sangat terluka ketika Cindy berbicara. Clara sebagai sahabat Cindy yang tahu semuanya pokok masalah rumah tangga sahabatnya itu hanya bisa diam dan mengelus dada.
***
Tiba-tiba Haris menelepon ke ponsel Rara, nampak Rara begitu senang menerima telepon dari Papanya tersebut. Rara pun menangis karena Papanya tidak hadir di acara ulang tahunnya.
{"Papa, jahat!"} ucap Rara ketika berbicara di sambungan telepon.
Haris seakan ingin menangis ketika Anaknya berkata demikian, namun Haris mencoba untuk menahannya. Dia tidak mau jika Anaknya tambah sedih jika mendengar suaranya sedang sedih.
{"Papa, sibuk, Nak."} jawab Haris sangat lirih, ketika berucap.
{"Pokoknya besok Papa pulang,"} dari suaranya terdengar Rara sangat kecewa kepada Haris.
{"Kado dari Papa coba lihat dulu, Rara suka tidak?} Haris kemudian mengalihkan pembicaraan.
Mbak Eka kemudian memberikan kado, dari Haris yang di titipnya semalam.
Melihat kado pemberian dari Papanya, langsung bibir mungil Rara tersenyum lebar.
Rara membuka kado spesial dari Papanya itu.
Betapa terkejutnya hati Rara karena isinya kalung yang sangat indah, liontin nya berbentuk hati.
"Wah, bagus sekali," Mbak Eka mencoba menghibur Rara.
Rara menatap lekat liontin tersebut terlihat dari raut wajahnya sangat senang sekali.
Kemudian Mbak Eka memakaikan kalung tersebut di lehernya Rara. Melihat Anaknya yang terlihat senang Cindy terharu dan sangat bahagia. Air mata pun Cindy menetes.
"Cantik sekali Anak Mama," ucap Cindy sambil mengelus rambut Anaknya itu.
__ADS_1
Melihat sahabatnya itu seakan penuh sesak ketika bertatapan dengan Rara, Clara pun mencoba menguatkan hati sahabatnya itu dengan mengelus pundak Cindy.
Merasa ada yang masih peduli terhadapnya hati Cindy merasa sedih, dan semakin bercucuran air mata yang menetes membasahi pipi.
***
Jam menunjukkan pukul delapan malam Mbak Eka memasuki kamar Reza, itupun sangat lama Reza membuka pintu. Mbak Eka membawa nasi dan lauk pauknya beserta makanan juga secangkir teh manis hangat.
Setelah pintu terbuka lebar kemudian Mbak Eka melangkahkan kakinya dimana Reza di dalam kamarnya sedang memainkan ponselnya.
"Kak, makan dulu. Nanti sakit," Mbak Eka merajuk Reza. Dibelainya lembut rambut Reza oleh Mbak Eka.
Reza kemudian menumpahkan kekesalannya, yang dia pendam dari semalam kepada Cindy. Mbak Eka terlihat mendengarkan semua keluh kesah yang ucapkan oleh Anak majikannya itu.
"Sabar, Mama mungkin khilaf, Kakak harus bisa memaafkan Mama. Bagaimanapun itu adalah Mama kandung Kakak yang harus di hormati," ucap Mbak Eka, sangat bijak ketika berucap.
Reza hanya terdiam dan seakan tidak mau menanggapi.
***
Keesokan harinya Clara kembali datang kerumah Cindy. Kali ini Clara membawa sebuah Handphone.
"Maafkan Aku, terpaksa Aku ceritakan semua kepada Bram, tadi siang Bram mengirimkan paket ke rumahku, dan ini Handphone untuk kamu pemberian dari Bram," Clara menyerahkan isi paket dari Bram.
Melihat isi paket dari Bram berupa Handphone, Cindy terkujut dia merasa malu dan dia merasa banyak berhutang budi kepada Bram.
"Aku malu, Clara!" jawab Cindy.
"Sudah tidak apa-apa, terima saja. Ini rezeki buat kamu jangan di tolak. Kebetulan sudah di pasangkan nomornya juga oleh Bram," ucapnya lagi.
Cindy sangat lama tertegun karena dengan diberikannya dia kembali barang-barang mewah dari Bram, berarti dia otomatis akan mengenang masa lalu, dan tidak menutup kemungkinan juga kedepannya dia pasti akan selalu bertemu dengan Bram.
"Sudahlah kamu jangan banyak pikiran, kamu juga perlu Handphone kan, untuk sekarang. Walaupun kamu juga mampu untuk membelinya tapi uang yang ada di tabunganmu, biar kamu pakai untuk kepentingan yang lain atau Anak-anakmu," ucap Clara membujuk Cindy agar menerima Handphone pemberian dari Bram.
Tiba-tiba ponsel Clara berbunyi nampak Bram menelepon. Setelah Clara mengangkat ponsel tersebut lalu beberapa menit kemudian Clara menyerahkan ponselnya kepada Cindy.
Kemudian Cindy dan Bram berbicara, kemudian Bram mencoba menghibur Cindy. Entah mengapa Cindy meneteskan air mata ketika berbicara dengan Bram.
__ADS_1
{"Kedekatan kita untuk saat ini sebagai sahabat, dan aku akan selalu ada untuk kamu. Apapun yang kamu butuhkan pasti Aku akan membantumu,"} ucap Bram.