Pengkhianatan Seorang Istri

Pengkhianatan Seorang Istri
Bab 59 Cindy Di Operasi


__ADS_3

Keluarga Cindy berharap cemas ketika menunggu di luar ruang operasi, terlihat hanya keluarga dari Cindy saja yang nampak disana, sedangkan kedua anaknya Reza dan Rara tidak nampak ada disana, karena mereka sedang di rumah untuk mempersiapkan pergi ke Surabaya.


"Anak-anaknya kemana?" tanya saudara Cindy yang baru datang dari Jakarta, yang bernama Tante Yesi


"ART nya, tadi datang kesini pamitan, katanya anak-anaknya akan dibawa ke Surabaya," ucap Tante Bela.


Tante Yesi betapa terkejut karena dia baru mengetahui jika Cindy dan Haris sudah bercerai.


"Jadi yang bertanggung jawab untuk pembayaran ke bagian administrasi, nanti siapa?" tanyanya lagi.


"Mohon kesadarannya, kita berembuk untuk patungan dulu," Tante Bela sangat berharap kepada Tante Yesi, agar dia bisa andil untuk membayarkan sejumlah uang untuk pembayaran biaya rumah sakit.


Tante Yesi menganggukkan kepala, tapi nampak dari raut wajahnya nampak tidak ikhlas.


***


Di rumah Cindy,


Mbak Eka terlihat sedang membereskan baju yang ada di lemari Rara, sedangkan Ibunya Haris memasukkan semua baju kedalam koper.


***


Nampak di teras rumah Gery suami dari Hana sedang ngobrol dengan Reza, anak pertama dari Haris.


"Pasti nanti kamu betah disana sama Om, disana banyak teman juga, dan kamu akan kerasan!" ucap Gery.


Reza pun terlihat tersenyum bahagia.


Sementara Rara lagi di suapi oleh Hana.


***


Haris kemudian menelepon Hana, dia memberitahu Hana, jika anak-anaknya kalau sudah tiba di Surabaya, pasti Haris akan segera menyusul kesana.


Kemudian Ibunya Haris, meminta Hana untuk menyambungkan sambungan selularnya kepada Haris.


{"Nak, gimana kalau rumah ini kita jual saja, uangnya lumayan untuk masa depan anakmu, atau keperluan anakmu kedepannya, misal belikan Investasi di Surabaya,"}


Haris terlihat menyetujui rencana Ibunya itu.


{" Iya Bu, nanti Haris akan bicarakan dengan Cindy, setelah dia pulang dari rumah sakit,"} jawabnya.


***


Barang yang akan dibawa terlihat sudah rapih untuk di angkut. Kemudian mereka berpamitan kepada Mbak Lastri, saudara dari Mbak Eka yang sekarang tinggal di rumah Cindy.


Ibunya Haris memberikan wejangan kepada ART baru tersebut, agar dia kerasan tinggal disitu, karena Cindy tidak ada teman.


***


Mobil pun keluar dari rumah tersebut, untuk pergi ke Surabaya.


Nampak di dalam mobil Mbak Eka matanya berkaca-kaca, ketika menatap rumah sang majikan yang penuh dengan kenangan.

__ADS_1


Air mata Rara menetes ketika mobil berlalu dari rumah tersebut, Mbak Eka memeluk erat tubuh Rara, dan mengusap lembut rambut Rara.


***


Sementara Cindy dan keluarganya sedang berada di rumah sakit.


Keluarga Cindy terlihat sangat gelisah, menunggu hasil kabar selanjutnya tentang kondisi keadaan Cindy.


***


Tiba-tiba dokter keluar dari ruangan kamar pasien,


"Dok, gimana keadaan Kakak saya?" tanya Cintya, di hinggapi rasa khawatir yang teramat.


Dokter menghela napas secara perlahan,


{"Maaf, dengan berat hati saya katakan, Bu Cindy mengalami kelumpuhan kaki sebelah kiri,"} dokter Hermin menatap lekat kepada Cintya, dan tak terasa bulir putih lolos di ujung pelupuk mata Cintya.


{"Dok, apa saya bisa menengok ke ruangannya sekarang?"} Cintya di hinggapi rasa sedih, matanya berkaca-kaca.


***


Setelah Cintya memasuki ruangan dan melihat keadaan Kakaknya, air mata pun yang dia tahan akhirnya menetes juga.


Cindy kakinya di balut perban, wajah Cindy terlihat pucat pasi, nampak sangat lelah tidak berdaya.


"Kak," ucap Cintya lirih, dia mengusap kepala Cindy. Namun Cindy tidak berdaya, matanya terpejam.


"Kak Cindy, Kak..,Kak bangun!" Cintya menggerakan tubuhnya Kakaknya itu.


Nampak terasa sangat berat Cindy untuk membuka matanya tersebut, dan akhirnya secara perlahan dia bisa membuka matanya sedikit demi sedikit.


Pandangannya seakan kabur dan terasa lelah, mata Cindy berselancar mengelilingi ruangan itu, dilihatnya Cintya, adiknya yang terlihat air matanya bercucuran, dan Tante Bela dengan raut muka sedih.


"Ahhh...., Aku dimana ini Dek?" Cindy seperti orang linglung.


"Tenang, tenang Kak, Kakak di Rumah Sakit!" ucap Cintya dengan suara parau.


"Rumah Sakit, ada apa denganku, Dek?"


tanyanya lagi.


Cintya sesunggukkan menangis,


"Ken....Kenapa, ini dengan kakiku!" Cindy melihat kakinya yang di balut perban.


"Kak, kamu kecelakaan!" Cintya seakan tidak kuasa ketika berucap.


"Iya, kamu kecelakaan, ketika mengendarai motor, yang sabar ya Nak!" Tante Bela, seakan menahan tangisnya.


***


Cindy kemudian menggerakkan kakinya yang kiri namun terasa kaku dan kram, entah mengapa.

__ADS_1


"Dek.. kenapa, dengan kakiku, terasa ngilu dan sakit sekali, susah untuk bergerak," Cindy terlihat di hantui rasa takut dan khawatir melihat keadaan kakinya yang terasa kesemutan dan kejang otot.


"Sudah jangan banyak pikiran dulu, yang penting sekarang kamu sehat dan kondisi badanmu pulih seperti semula," ucap Tante Bela.


"Tapi, Tante! ada apa dengan kakiku?" air mata Cindy akhirnya menetes.


"Kamu yang tenang dulu, Sayang!" Tante Bela mengusap-usap rambut Cindy.


"Jawab Tante! jawab jujur, ada apa dengan kakiku?" air mata Cindy semakin bercucuran mengucur deras.


"Tenang, tenang, Kak," Cintya, mencoba menenangkan Kakaknya.


"Apa kakiku lumpuh?!" Cindy berteriak.


Cindy seakan tidak bisa menahan rasa emosi yang bergejolak, hatinya seakan meronta-ronta tak kuasa untuk menahan rasa sakit dan melihat balutan perban yang penuh di kakinya itu.


"Sabar, Cindy. Kita semua disini, kamu harus kuat!" tiba-tiba suami Tante Bela memasuki ruangan, karena mendengar suara Cindy yang keras yang terdengar keluar ruangan.


Cindy menangis terisak, suaranya seakan menghipnotis ruangan tersebut menjadi sunyi senyap.


Cintya memeluk erat tubuh Kakaknya itu, dia mencoba menenangkan hati Kakaknya itu.


Kemudian Tante Bela memberikan air mineral kepada Cindy, namun ada penolakan, Cindy menghempaskan tangan Tante Bela, otomatis gelas yang sedang di pegang Tante Bela tumpah ruah ke selimut Cindy, menjadikan selimut basah karena berisi air.


"Sudah, Mah, jangan di ganggu dulu. Mungkin dia terkena mentalnya, kasian," suami Tante Bela berbisik pelan kepada istrinya.


***


Melihat kejadian tersebut sang suster mencoba mengambil selimut yang basah, untuk menggantikan selimut yang baru.


"Sus, apa mental dia kena, aku khawatir," Tante Bela berbisik lekat ke kuping Suster tersebut. Tante Bela di hinggapi rasa khawatir yang teramat.


Suster menghela napas secara perlahan,


"Maaf Bu, mungkin Iya," suster pun tertunduk ketika berucap.


Kemudian sang dokter datang, dia memeriksa kembali keadaan Cindy, lalu dia memberikan suntikan kepada Cindy, perlahan terasa lemas tubuh Cindy, akhirnya dia pun tertidur lemah tidak berdaya.


"Bu, Pak, sebaiknya jangan di ganggu dulu pasiennya, karena dia butuh istirahat dulu, dan jangan dulu ada tanya pertanyaan- pertanyaan yang membuat pasien berpikir terlalu dalam," ucap dokter.


"Penyakitnya sangat serius dok?" tanya Cintya di hinggapi rasa khawatir.


Dokter menatap Cindy yang tertidur lemas lalu dia menghela napas panjang.


"Biasanya pasien akan kehilangan keseimbangan atau koordinasi. Mohon jangan terlalu sering di ajak berbicara karena biasanya pasien tidak bisa memahami pembicaraan itu di sebabkan karena kejang otot, dan ini akan berpengaruh ke kondisi kesehatannya." ucap dokter lagi sambil berlalu dari ruangan itu.


***


"Dok, kira-kira berapa lama ya, bisa keluar dari rumah sakit,' tanya suaminya Tante Bela ketika dokter hendak keluar membuka pintu ruangan.


"Hilangnya kekuatan dan fungsi otot di bagian tubuh, bisa bersifat sementara atau permanen. Jadi semoga saja ada keajaiban yang terjadi kepada Bu Cindy ya, sabar dan berdoa saja," ucap dokter tersenyum ramah.


Cintya pun dan Tante Bela keluar ruangan, nampak keluarga dari Cindy di selimuti duka yang mendalam.

__ADS_1


__ADS_2