Pengkhianatan Seorang Istri

Pengkhianatan Seorang Istri
Bab:89 Kepergian Bagas


__ADS_3

Bagas pergi


Kepergian Bagas menggoreskan luka bagi Cintya. Seminggu ini tidak ada kabar berita, Cintya berusaha menghubungi teman-temannya, tapi tidak ada jawaban disana. Yang tahu keberadaan Bagas.


Cintya dihinggapi rasa khawatir yang teramat.


"Aku mau mencari Bagas. Kamu di sini sama Mbak Lastri saja." ucap Cintya kepada Cindy.


Cindy tertegun dan pandangannya di tekuk, seakan dia yang bersalah. Atas kepergian Bagas suami dari adiknya itu.


Cindy di hinggapi rasa tidak karuan atas semua yang terjadi. Kata untuk minta maaf rasanya gengsi dia ungkapkan.


"Hati-hati, Bu," Mbak Lastri menyambar pembicaraan dari mereka.


Karena melihat dua insan wanita itu, seakan tidak ada kata. Nampak tegang dan kaku.


Cintya melangkahkan kakinya menuju keluar, dia menunggu di jemput temannya, yang mau mencari keberadaan Bagas saat ini entah dimana.


****


Akhirnya Nindy sahabatnya itu datang.


"Ayo, cepat! naik," Nindy melambaikan tangannya, dari dalam mobil.


Cintya pun pergi dari rumahnya. Entah kemana arah yang akan dia tuju untuk mencari suaminya itu.


Sementara Cindy mengintip dari arah jendela, dia menghela napas panjang.


Sampai kapan penderitaan ini berakhir! Dia rasanya ingin berontak, kursi roda yang selalu menemaninya pergi untuk melangkah. Seakan tidak bisa di pisahkan.


Badannya akan terus sakit dan tidak sembuh. dengan begitu dia tidak bisa menenuhi kebutuhan hidupnya, dan akan membebani terus adiknya itu.


Sedangkan kondisi finansial adiknya, sekarang sedang kurang stabil.


Cindy harus berobat dan biaya tidak sedikit, dan dia harus minta sama siapa?


Air mata seakan tidak bisa di bendung, terus menerus deras di pipinya menetes.


***@@@*****


"Bagas, kalau kamu begini terus tidak bisa menyelesaikan masalah. Sampai kapan? aku harap kamu hubungi istrimu, agar dia tidak cemas dan dihinggapi rasa khawatir. Kasian loh," ucap Heru sahabatnya Bram.


Kebetulan dia tinggal sendiri di rumah, dan yang menemani dia hanya ART saja.


"Aku kalau pulang malas, ada Kakaknya istriku," ucapnya terlihat kesal.


"Ya, kalau aku tidak apa-apa, kamu bebas tinggal disini. Tapi, alangkah baiknya kabari istrimu. Mungkin istrimu akan lebih nyaman kalau ada kabar dari suaminya." ucap Hari.


Hari mencoba memberi saran kepada sahabatnya itu.


Drettt..


Drettt..


Ponsel Hari bergetar tanda ada panggilan masuk. Setelah melihat siapa yang menelepon mata Hari di hiasi dengan rona berbinar.

__ADS_1


{"Halo, Sayang!"} ucapnya sangat romantis.


{"Sayang, aku mau ke rumahmu ya, ini aku masak nasi kebuli banyak, buat kamu. Bukannya waktu bulan kemarin ingin di buatkan," ucap Desi pacar dari Hari.


{"Boleh, Sayang. kesini saja,"} Hari terlihat bahagia.


{"Nanti sore ya, aku kesana,"} Desi mengucapkan kata, -I love you- dan menutup sambungan teleponnya.


"Pacarmu mau kesini?" tanya Bagas.


"Iya, Brother, tapi santai saja tidak apa-apa. Tidak akan ganggu ko, dengan adanya kamu," Hari tertawa terkekeh.


Bagas terlihat salah tingkah karena dia takut mengganggu. Dengan adanya pacarnya, mungkin Hari akan terlihat malu atau risih di hadapan Bagas.


****@@@****


Cintya terlihat capek.


Keringat bercucuran, panas begitu menyengat, Cintya nampak terlihat lelah.


"Kita cari kemana lagi? ini sudah mau sore,"


Nindy pun terlihat sangat capek.


Keliling kesana, kemari, mencari sosok Bagas.


"Mending kamu malam ini nginap di rumahku saja ya?" Nindy membujuk sahabatnya itu.


Dalam diri Cintya di hinggapi rasa khawatir kepada Cindy, Kakaknya. Takut jika nanti mencarinya atau tiba-tiba depresi dia kambuh. Obat bulan ini sudah mau habis dan belum beli. Sedangkan uang Cintya sudah tidak mencukupi lagi.


"Ayolah, istirahat di rumahku, biar pikiran kamu agak tenang. Ada Mbak Lastri kan uang jaga,' sambungnya lagi.


"Yasudah aku nginap di rumahmu," jawab Cintya tersenyum tipis.


Mobil pun kembali di kemudikan oleh Nindy. Mereka mampir di rumah makan.


Setelah beres makan Nindy menyelipkan amplop ke tangan Cintya, isinya beberapa lembar uang berwarna merah.


Cintya mencoba tidak menerima amplop itu. Namun, Nindy memaksa untuk menerimanya.


"Aku malu, kamu udah nolong aku terus, sekarang memberikan sejumlah uang,' Cintya matanya berkaca-kaca.


"Tidak apa-apa, untuk pegangan kamu. Mumpung aku sedang ada rezeki. Semalam suamiku transfer,' ucap Nindy. Kebetulan suaminya kerja di luar kota, pulang ke rumah sebulan sekali


Cintya mengucapkan rasa terima kasih dan tersenyum lebar.


Mereka pun pulang ke rumah Nindy.


***@@@@****


Keberadaan Bagas di rumah Hari.


Terlihat serba salah di hinggapi di diri Bagas, karena sore ini pacar dari Hari akan datang.


"Bro, kamu jangan diam di kamar.duduk saja disini, di ruang tamu. Nanti aku kenalin ke pacarku. Yang sebentar lagi aku akan tunangan sama dia." Hari bercerita semua.

__ADS_1


Hari, rekan kerja proyek Bagas, kedekatan mereka seperti adik dan kakak. Bagas maupun Hari sudah tidak canggung lagi.


Namun jika soal pribadi yaitu masalah percintaan Hari.


Bagas baru mengetahui sekarang.


"Sayang, sebentar lagi aku.-on the way- Ya!" Desi terdengar sangat riang, ketika berucap.


"Iya, Sayang. Hati-hati," jawab Hari.


{"Eh, Sayang, aku kesana sama temanku. Kebetulan dia habis sakit tiga hari ini. Kondisi badan lemah tapi katanya, dia kesal tinggal di rumah ingin menetralkan pikirannya, jadi kita berdua kesana."} Desi kemudian menutup sambungan teleponnya.


Hari tersenyum sendiri, dia sangat gembira mempunyai pacar yang bawel tapi pengertian. Dan perhatian yang di berikan Desi sungguh membuat Hari mabuk kepayang. Karena Desi sangat memanjakan dirinya.


Dari urusan penampilan sampai makan pun, Desi sangat detail memperhatikan.


****"


"Kamu terlihat gembira dengan pacarmu saat ini, aku ikut senang dengarnya," Bagas tersenyum.


"Aku juga mendoakan kamu selalu, agar cepat di berikan momongan," sambung Hari.


"Kita saling mendoakan yang terbaik ya,"


Bagas merebahkan badannya di Sofa.


Tidak bisa di bohongi rasa sayang masih menyelimuti Cintya, Istrinya.


Namun keadaan lah, yang membuat situasi rumah tangganya tidak nyaman.


*****


Hari pun berlalu dari hadapan Bagas, duduk di teras rumah. Halaman yang luas dengan pepohonan hijau. Menjadikan Bagas betah berlama-lama jika berada di rumah Hari.


Nampak mobil sedan berwarna merah datang. Bunyi klakson dari pengemudi membuat muka Hari tersenyum lebar. Karena yang datang itu adalah Desi kekasih hatinya.


Desi turun dari dalam mobil, dia menampakkan senyum terindahnya.


Desi mencium punggung Hari, dan Hari pun mencium kening pacarnya itu.


"Nih, ini temenku yang aku ceritakan tadi," Desi memperkenalkan temannya itu kepada Hari.


"Ayo, masuk!" Hari mempersilahkan masuk kepada Desi dan temannya.


Ketika Desi memasuki ruang Sofa, dia melihat Bagas yang pandangannya tertuju ke arah layar televisi.


"Bagas!" Hari menepuk pundaknya Bagas.


Bagas terkejut ketika menoleh ke belakang, disana terlihat dua cewek cantik yang sedang tersenyum menatapnya.


"Kenalin ini pacarku," Desi mengulurkan tangan .


"Ini temannya, Desi!" temannya Desi mengulurkan tangannya


"Gisela!" ucapnya.

__ADS_1


__ADS_2