Pengkhianatan Seorang Istri

Pengkhianatan Seorang Istri
Bab:114 Cintya menelepon Haris


__ADS_3

Haris sedang rapat.


Malam itu hujan kembali lebat di kota Bandung. Nampak terlihat di Kafe milik Haris sangat sepi, tidak ada seorang pun pengujung yang datang ke Kafe tersebut.


Nampak di ruangan kantor Haris, terlihat Haris sedang melakukan rapat di Kafe tersebut, bersama para staf dan karyawannya. Terdengar bunyi suara telepon terus bergetar di ponsel milik Haris, yang berada di dalam tas milik Haris.


***


Karena sudah beberapa kali tidak ada yang mengangkat dari penerima ponsel.


Akhirnya, ponsel Haris tidak terdengar lagi bergetar. Telepon tersebut berhenti dengan sendirinya. Mungkin sang penelepon mematikan ponselnya dari sana.


*****


Rapat sudah selesai.


"Wisnu, kamu ikut ke rumahku ya? kamu bantu aku untuk menyelesaikan tugas yang masih tertunda," ucap Haris.


Karena begitu banyak tugas yang belum selesai yang harus di kerjakan, jadi Haris ingin di temani Wisnu, untuk mengerjakan semua dokumen yang belum beres di rumahnya.


Wisnu menatap Haris dan dia pun


menganggukkan kepalanya.


"Boleh, Bos, biar cepat selesai, sebelum acara pernikahan. Jadi Bos, tidak banyak pikiran kalau tugas sudah beres semua," ucap Wisnu.


Kemudian mereka pun berlalu dari Kafe.


*****


Hari sudah larut malam kira-kira pukul sebelas, nampak hujan belum juga surut. "Sudah beberapa hari ini hujan turun lebat!" ucap Haris. Sambil memandangi genangan air yang berada diluar Kafe.


Dia kemudian memasuki mobil bersama Wisnu untuk menuju ke rumahnya.


"Hujannya awet ya, Bos. Seperti formalin. Tiap hari hujan tak hentinya. Enak kalau ada pasangan, tidur aja pelukin istri. Sebentar lagi nih, tinggal menghitung hari bisa tidur berpelukan sama istri. Tidak kedinginan lagi," Wisnu menggoda Haris.


Haris hanya mesem-mesem.


"Makannya jangan di tunda lagi untuk menikah. Nah, setelah aku beres menikah, giliran kamu segera menikah dengan Zhira," Haris pun tidak kalah omongan untuk menyindir balik kepada Wisnu.


Terlihat Wisnu, tersipu malu.


*****


Tiba di rumah.


Haris bersama Wisnu, akhirnya sampai juga mereka tiba di rumah.


Nampak Hana sang adik, segera membukajan pintu gerbang garasi, ketika melihat Haris, membunyikan klakson mobilnya.


"Anak-anak sudah tidur Han?" tanya Haris kepada Hana, adiknya itu.


Hana menganggukkan kepalanya. Dia pun berlalu ke dapur.


*****


Kemudian Haris dan Wisnu ke ruang kerja. Ruangan tersebut letaknya tepat berada di pinggir kamar Wisnu.


"Silahkan di minum," Hana membawa dua gelas kopi hitam dan menyodorkannya kepada Wisnu dan kakaknya itu.


"Terima kasih," ucap Wisnu, tersenyum ramah kepada Hana, adik dari Haris.


*****


Drettt...


Drettt...


Drettt ..


Tiba-tiba suara bunyi telepon terdengar dari tas milik Haris. Dia pun dengan cepat merogoh ponselnya tersebut. Kemudian Haris membuka layar telepon. Nampak Cintya, adik dari Cindy menelepon.


***


"Hallo.."


Cintya terdengar terbata-bata saat berbicara, dan dia menceritakan semuanya.

__ADS_1


Apa sebenarnya yang menimpa Cindy saat ini. Dia terdengar sedih ketika berucap.



{"Jadi Cindy, kabur dari rumah, dan sampai sekarang belum di ketahui keberadaannya?"}tanya Haris terkejut.


Bagaimanapun dia adalah Ibunya anak-anak. Jadi Haris juga memikirkan atas kehilangan Cindy, sang mantan. Meskipun dulu mantannya itu telah mengkhianati dia dan anak-anaknya.



{"Iya, Mas. Kita sudah berusaha mencari kemana-mana, tapi belum tahu, dimana keberadaan Cindy sekarang,"} ucap Cintya.



{" Padahal rencananya minggu depan setelah acara pernikahan. Aku bersama anak-anak akan berkunjung ke Bogor, untuk menengok Cindy,"} ucap Haris.



{"Siapa yang akan menikah, Mas?"} tanya Cintya. Sedikit terkejut mendengar kabar dari Haris tersebut.



{"Iya, aku mau menikah hari minggu besok," } ucap Haris. Hana pun tertegun tidak berbicara kemudian dia kembali berbicara.


{"Syukurlah, kalau begitu,"} ucap Cintya, seakan ada rasa haru ketika mendengar mantan suami dari Kakaknya itu, akan menikah kembali dengan wanita pilihannya.



{"Kalau mau datang. Ya, kamu datang saja ke acara pernikahan aku. Kamu datang bersama suamimu. Dan aku tidak bisa berbuat apa-apa ketika mendengar Cindy keluar dari rumah. Tapi aku akan menyuruh orang untuk berusaha mencari keberadaan Cindy berada."} ucap Haris.


Dan Haris pun kemudian tidak bergeming sedikitpun. Dia tidak tahu harus berbicara apa lagi kepada adik mantan istrinya itu.



Haris serba salah, apa yang mesti dilakukannya, dengan kepergian Cindy dari rumah. Karena dia sudah tidak ada hubungan apapun dengan Cindy, hanya keterikatan dengan anak-anaknya saja, dan dilain sisi dia pun sedang sibuk untuk acara pernikahan yang akan dilaksanakan lusa.


\*\*\*\*\*



Setelah berbicara panjang lebar dengan Cintya, Haris pun menutup sambungan teleponnya.



Hana, adik dari Haris yang sedari tadi mendengar pembicaraan Haris dan Cintya. Dia sangat terkejut mendengar kabar yang baru saja dia dengar dari adiknya Cindy.



"Mas, aku dengar barusan Cindy, Mamanya anak-anak kabur?" tanya Hana terlihat terkejut. Haris pun menganggukkan kepalanya.


"Kasian, kemana ya dia," Hana memandangi Haris dengan lekat.


"Aku bingung Han, apa yang harus aku lakukan!" Haris menghela napas panjang.



"Mas suruh orang saja biar mencari keberadaan Cindy. Mas lusa mau menikah, sudah jangan memikirkan hal yang akan mengganggu pikiran menjadi runyam," ucap Hana. Sang adik mencoba meyakinkan hati Kakaknya itu agar jangan bimbang.


Haris hanya diam dan menganggukkan kepalanya.



Wisnu pun terlihat terkejut mendengar kabar tersebut.


Kemudian Hana pun pamit, dari hadapan Haris dan Wisnu, untuk tidur karena malam semakin larut.


Wisnu menatap Haris.


"Sabar Mas, nanti juga pasti akan ketemu Ibunya anak-anak itu. Ingat, kamu lusa akan menikah jangan banyak pikiran Bos! semua sudah ada yang ngatur," ucap Wisnu.


Wisnu terlihat mencoba menyabarkan hati sahabatnya itu.


\*\*\*\*\*



Haris belum tertidur.

__ADS_1


Jam menunjukan pukul tiga subuh. Nampak terlihat Haris, seperti sedang memikirkan sesuatu. Di tatapnya kedua anaknya yang sedang tertidur lelap, matanya berkaca-kaca. Dia sangat menyayangi dan terharu melihat kedua anaknya, karena Cindy, Ibu dari anak-anaknya itu, sekarang hilang keberadaannya entah kemana. Anak-anaknya Haris, belum merasakan kehangatan dan kasih sayang dari sosok Ibu yaitu Cindy.



Haris menghela napas panjang.


Tiba-tiba Ibunya Haris datang ke kamar tersebut.


"Nak, kamu belum tidur ya? Ibu tahu dari Hana, Cindy kabur dari rumah. Nah, Ibu yakin pasti ini akan menjadi pikiran kamu. Bagaimanapun juga dia adalah Ibu dari anak-anakmu, pasti kamu memikirkan keberadaan Cindy, saat ini sedang dimana!" ucap Ibunya Haris, menatap anaknya tersebut.



Haris menatap Ibunya.


Haris terdiam seakan tidak ada kata untuk di ucapkan kepada Ibunya.


"Kamu jangan banyak pikiran, Kamu akan menikah. Sekarang fokus dulu ke pernikahan kamu!" sambung Ibunya kembali.



Reza yang sedang tertidur matanya terbuka secara perlahan. Dia mendengarkan apa yang sedang di bicarakan oleh neneknya tersebut.


Matanya berkaca-kaca, ketika mendengar sang Mama kabur dari rumah.


Meskipun dia kesal terhadap Mamanya, tapi bagaimanapun dia adalah Ibu kandungnya sendiri.


"Cari Mama!" ucap anak tersebut berteriak.


Haris dan Ibunya terkejut mendengar Reza, yang tiba-tiba berteriak.



Rara yang sedang tertidur mendengar teriakkan dari sang Kakak akhirnya bangun.


Dia seakan heran apa yang sedang terjadi.


Reza menatap lekat kepada adiknya itu.



"Dek, Mama hilang!" ucap Reza.


Rara seakan bingung karena dia baru sadar dari alam mimpi jadi dia sepenuhnya belum sadar apa yang sedang terjadi.



"Ada apa, Pah?" tanya Pandangannya menatap lekat kepada Haris


Kemudian sang nenek dengan cepat memeluk sang cucu, lalu di usapnya lembut rambut cucunya tersebut..


"Mama kamu, pergi dari rumah. Dan sekarang sedang di cari," ucap Ibunya Haris, lekat ke kuping Rara.


Rara terdiam, dia menatap Haris terlihat matanya berkaca-kaca.



Anak kecil yang baru menginjak duduk di bangku SD itu, mengingat sosok Mamanya, yang sedang lumpuh memakai kursi roda bagaimana dia bisa kabur dari rumah dan bagaimana nasibnya sekarang. Hati Rara seakan pilu membayangkan semuanya. Matanya berkaca-kaca.



"Sabar, Sayang. Papa akan menyuruh orang untuk segera menemukan Mamamu," ucap Haris menatap Reza dan Rara


"Kenapa nggak, kita saja yang cari Mama," ucap Reza terlihat dari raut mukanya dihinggapi rasa khawatir kepada Cindy.


Padahal sebelumnya dia sangat benci terhadap sosok Mamanya tersebut.



"Nak, Papa kamu mau acara nikahan. Jadi nanti saja mencari Mamamu. Kan tadi Papa sudah bilang, Papa akan menyuruh orang untuk mencari Mamamu!" ucap sang nenek mencoba meyakinkan hati cucunya itu yang pikirannya sedang tidak karuan karena memikirkan Cindy.



Reza terdiam, bulir putih pun menetes di ujung matanya.


"Aku salah. Kenapa aku tidak bisa memaafkan Mama." ucap Reza. Nada suaranya terdengar sangat sedih sekali.


"Tidak ada yang salah disini. Ini adalah karma!" ucap Ibunya Haris, yang sedari dulu memang kesal dan geram terhadap Cindy.

__ADS_1


Haris hanya terdiam ketika sang Ibu mengucapkan kata-kata -Karma!-


__ADS_2