Pengkhianatan Seorang Istri

Pengkhianatan Seorang Istri
Bab: 26 Reza Di Hantui Rasa Curiga


__ADS_3

"Kak, sebenarnya apa yang dibicarakan Kakak sama Mama semalam, jawab jujur kepada Papa!" Haris membujuk Reza Anak laki-lakinya itu agar berkata jujur terhadapnya. Pandanganya lekat menatap Anaknya sementara Reza hanya menunduk dan terdiam kemudian Papa memegang tangan Reza dan menepuk pundak Anak lelakinya itu. Haris sangat paham Reza seakan menyimpan rasa kesal terhadap Mamanya.


"Ayo, Nak, erita saja dari dulu antara Papa dan Reza kan tidak ada yang di tutupi." Haris tersenyum manis kepada Reza. Pikiran Reza seakan kalut dia tidak tahu harus memulai pembicaraan dari mana, untuk bisa menjelaskan semua yang terjadi antara dirinya dan Cindy Mamanya. Reza secara perlahan menatap mata Papanya matanya berkaca-kaca, tapi Reza berusaha untuk menahannya agar tidak jatuh. Bayangan Mamanya bersama lelaki lain semakin nyata di pikirannya, begitu mesra ketika mereka memasuki mobil.


"Tapi Papa janji tidak akan marah ya?" Reza seakan takut untuk berbicara, dia sangat berhati-hati ketika berucap.


"Ya,marah itu harus ada alasannya, kenapa Nak!" Haris mencoba menenangkan Anaknya kembali.


"Mama, bersama lelaki lain di sebuah Kafe, malam kemarin, makannya Reza kesal saat itu dan menginap di rumah Hadi." pandangan Reza menerawang mengingat pertemuan dengan Mamanya malam itu.


Terasa bergetar jantung Haris tatkala mendengar apa yang baru saja dia dengar dari Anaknya.


***


Pulang kerja Cindy memasuki kamar, Haris kayaknya sudah tidak sabar ingin berbicara dengan istrinya itu. Haris memandang dengan lekat sorot mata tajam. Melihat sang suami memperhatikannya Cindy di hinggapi rasa heran, dan tersenyum tapi senyuman Cindy tak di balas oleh Haris.


"Mah, Aku mau ngomong serius sama kamu!" Haris berusaha untuk tetap santai jangan tersulut emosi. Cindy sedikit kaget karena tumben suaminya mau bicara serius terhadapnya.


"Ngomong apa Pah!" Cindy duduk di pinggir suaminya.


"Apa benar kamu malam kemarin bersama lelaki lain, di sebuah Kafe?" Haris bertanya dengan hati-hati.


Terasa berdetak lebih cepat jantung Cindy ketika sang suami bertanya seperti itu, dia berpikir pasti yang membocorkan itu semua Anaknya yaitu Reza. Ya! siapa lagi kalau bukan Reza.


"Pah, Aku sudah bilang sama Reza yang bersamaku semalam itu rekan kantor, tapi tetap saja Anak itu tidak percaya. Lagian Papa harusnya jangan percaya sama omongan Anak, dia kan tidak tahu apa-apa, masih kecil." Cindy mencoba menyembunyikan kelakuannya yang bersifat tidak terpuji. Dia tidak mau di salahkan oleh suaminya dan dia juga takut suaminya marah.


"Tapi kali ini Aku lehih percaya sama Reza, ketimbang kamu, Mah!" ucapnya lagi.


"Papa kenapa sih?' Cindy sedikit emosi, padahal dia yang berbuat salah. Dia melakukan itu semua. Bersifat emosi karena dia mencoba untuk menutupi aibnya sendiri.


"Mama sedang tidak berkata bohong kan?" Haris kembali bertanya. Cindy berusaha meyakinkan suaminya itu bahwa dia tidak ada hubungan apapun dengan lelaki yang dilihat Reza di Kafe. Dan entah mengapa Haris lagi-lagi percaya terhadap istrinya itu.


"Pah, Aku kangen sama kamu," tiba-tiba Cindy mengecup kening suaminya itu dengan mesra, Haris pun seakan luluh ketika sang istri memeluk hangat dirinya.

__ADS_1


Dalam diri Cindy lagi-lagi tertawa puas, karena suaminya selalu mempercayai dirinya walaupun dia melakukan kesalahan yang besar.


"Pah!"


Tiba-tiba Reza memanggil Papanya, mendengar suara Reza, Cindy sedikit kaget mukanya merah seakan menahan rasa salah.


"Reza pamit, ke rumah teman," ucapnya.


Dengan cepat Cindy langsung mengambil uang lembaran warna merah dan memberikannya kepada Anaknya itu.


"Sayang, Mama tadi dapat rezeki jadi hari ini Mama kasih kamu uang untuk beli sepatu, kan waktu itu Mama janji mau membelikan, tapi belum. Mama belum bisa menepati janji Mama," Cindy berusaha mengambil hati Anaknya itu agar meredakan semua masalah yang terjadi antara dirinya dan Anaknya itu.


Reza menatap Mamanya, dengan muka cemberut.


"Ambil Nak," Haris mengedipkan matanya ke arah Anaknya itu, Reza pun mengambil uang tersebut.


"Kalau bukan Papa yang nyuruh ambil uang ini, Aku gak mau!" gumam hati Reza.


***


Ponsel pun dia matikan karena tidak mau waktu bersama keluarga terganggu terutama oleh Bram.


"Mah, kalau Mama libur tiap sabtu enak, jadi bisa kumpul keluarga," ucap Rara.


***


Sementara Mbak Eka sang ART sedang masak di dapur, lalu Reza menghampirinya.


"Mbak, pernah ada tamu laki-laki tidak, datang ke rumah menemui Mama?" tanya Reza sambil memotong buah semangka.


Mbak Eka kaget ketika Anak majikannya bertanya seperti itu. Mbak Eka sendiri tahu bahwa majikannya pernah di pergoki nya bersama lelaki lain yaitu Bram. Mbak Eka seakan bingung harus berkata apa. Dalam benaknya berpikir jika terus terang pasti nanti akan jadi masalah, tapi jika berbohong dia berarti mengkhianati Anak majikannya itu, Mbak Eka di selimuti rasa serba salah yang teramat, namun setelah berpikir lama laku Mbak Eka berbicara.


"Ada!"

__ADS_1


Reza sontak matanya terbelalak.


"Apa! Mbak. yang di omongkan Mbak Eka, apa tidak salah dengar?" tanya Reza.


Mbak Eka baru saja lagi ngelamun jadi pikirannya kurang fokus untuk berkata.


"Maksudnya tidak ada!" dengan cepat Mbak Eka berbicara.


Dan Reza seakan tahu isi hati ART nya itu sedang berbohong karena dari ucapannya seakan ragu dan berpikir lama


"Jujur Mbak!" ucapnya.


"Kak, Mbak di suruh ke pasar sama Ibu, karena tadi sayuran yang sudah dibeli ketinggalan," Mbak Eka dengan cepat berlalu dari hadapan Reza.


Reza pun nampak kebingungan dibuatnya.


"Sepertinya ada yang di sembunyikan," gumam hatinya.


***


"Mbak, tadi Reza nanya apa saja di dapur?" Cindy yang berada di teras rumah memburu pertanyaan ke ART nya itu, karena ketika dia hendak ke dapur, Cindy tadi melihat Anaknya sedang asik bertanya kepada Mbak Eka dan Cindy sedikit curiga.


"Katanya, suka ada teman lelaki, enggak. Yang selalu datang ke rumah?" ucap Mbak Eka sambil tertunduk


"Terus Mbak jawab apa?" tanyanya lagi.


"Mbak bilang tidak ada." jawabnya


Cindy akhirnya bisa bernapas lega.


Mbak Eka kemudian berlalu dari hadapan majikannya itu, di hatinya di hinggapi pertanyaan yang begitu rumit.


"Aku merasa kasian dengan Anak-anaknya Ibu." gumamnya.

__ADS_1


Meskipun Mbak Eka hanya ART tapi dia begitu perhatian kepada Anak majikannya dan begitu sayang terhadap mereka.


Dia pun tidak mau mencampuri urusan keluarga majikannya itu, dia tidak mau memperkeruh keadaan. Jika dia membuka semuanya ujungnya nanti akan berantakan.


__ADS_2