Pengkhianatan Seorang Istri

Pengkhianatan Seorang Istri
Bab 74 Rasa Kesal Cindy


__ADS_3

Jam menunjukkan pukul sebelas malam, namun Gisela dan Cindy seakan tidak bisa tidur. Mereka menumpahkan rasa rindu karena sudah sekian lama tidak bertemu.


Kekesalan Cindy, terhadap Bram dia tumpahkan kepada Gisela.



Cindy yang saat itu sangat mencintai Bram, dan dengan mengorbankan rumah tangga yang telah dia bina sekian lama, harus kandas karena dia mengejar cinta Bram.


Cintanya saat itu membutakan dirinya, padahal suami dan anak-anaknya lebih berarti dari pada Bram.



"Jadi kamu sempat mau hamil, ketika berhubungan dengan Bram?" Gisela sangat terkejut dengan pengakuan Cindy, yang begitu berterus terang.


"Iya, di saat aku bercerai dan meninggalkan keluargaku, akhirnya secara tiba-tiba, Bram meninggalkan aku, entah kemana. Nomor ponselnya pun dia ganti dan tidak bisa di hubungi," terasa begitu sesak, Cindy saat berucap.


Dalam hati Cindy ingin rasanya dia balas dendam kepada Bram. Lelaki itu mencampakkannya begitu saja, dia juga harus merasakan jika di campakkan begitu saja sama wanita, hatinya nanti pasti akan hancur berkeping-keping.


Cindy dari dulu licik, sifat liciknya mungkin tidak bisa dia buang untuk sekarang ini.


Rasa kesal dan kecewa yang teramat sudah dia tahan selama ini. Mungkin ini saatnya untuk membalas semua kepedihan yang dia rasakan.


"Kamu cinta tidak sama Bram, jawab jujur!" tanya Cindy menatap lekat kepada Gisela.


"Tidak seratus persen sih, masih setengahnya," Gisela cepat menjawab.


"Kalau rasa sayang!" sambung Cindy.


"Sayang kalau di lepas, karena duitnya banyak, Hehehe...." Gisela seakan mengejek.


"Nah, berarti kamu belum cinta mati kan sama Bram!" Cindy merasa puas dengan jawaban sahabatnya itu.


"Aku lagi mencoba cinta dan sayang, karena aku malu dia terus menerus memberikan uang. Anak-anakku juga di kampung terus-menerus diberikan uang ditransfer lewat Ibuku," Intinya Gisela cinta karena duitnya saja, kalau soal rasa mungkin nanti akan menyusul datangnya.


"Kamu porotin aja duitnya!" tegas Cindy.


"Apa!" Gisela terkesiap, mendengar ucapan dari sahabatnya itu.


"Ya, aku sakit hati kepada lelaki itu. Jadi kamu yang membalaskan dendam semuanya. Kurasa dia sudah jatuh hati berat sama kamu," Cindy begitu hapal sifat dari Bram seperti apa, makannya dia berani berkata seperti itu.


"Maksudnya membalaskan dendam gimana? Gisela di hinggapi rasa tidak mengerti atas ucapan sahabatnya itu.


"Kamu porotin uangnya, sesudah duitnya ludes, kamu tinggalkan!" Cindy begitu di hinggapi rasa amarah, terlihat dari raut mukanya.

__ADS_1


"Tidak mungkin sampai ludes, dia kan tajir!" Gisela tertawa tipis.


"Ya, pokoknya, setelah apa yang kamu dapatkan terpenuhi kamu tinggalkan," Cindy tertawa licik.


Gisela termenung, dia seakan dihinggapi rasa keheranan. Dia wanita baik-baik sebenarnya, tapi karena kebutuhan hidupnya begitu banyak, dan dia bukan dari keluarga berada. Jadi dia cinta kepada Bram karena masalah finansial semata.


"Aku tidak bisa Cindy, aku bukan tipe wanita seperti itu," jawab Gisela.


"Ah, kamu dasar bodoh!" Cindy seakan kecewa.


Gisela akhirnya terdiam, dia tidak bisa menjawab perkataan sahabatnya itu lagi.


***


Tiba-tiba ponsel Gisela berbunyi disana terlihat nama Bram muncul.


Cindy melirik ponsel sahabatnya itu, dan dia tahu yang menelepon itu adalah mantan terindahnya.


Entah mengapa hati Cindy terasa terbakar rasa panas langsung menyambar hatinya. Dadanya bergemuruh tidak karuan


Sepertinya Cindy masih menyimpan rasa kepada mantannya itu, dan rasa kesal yang teramat karena lelaki itu telah mencampakkannya.


{"Sayang, kamu dimana? aku khawatir loh, kamu enggak apa-apa kan,"} terdengar oleh Cindy ketika Bram berucap, karena volume suara di ponsel tersebut bunyinya begitu jelas terdengar.


{"Maafkan aku, Mas. Aku ketiduran,"} Gisela berusaha berbohong.


Gisela tersenyum sumringah.


{"Terima kasih, Sayang!"} Gisela terdengar begitu manja ketika berucap.


Spontan Cindy melirik sahabatnya itu, begitu sesak terasa dadanya ketika mendengar Gisela dari nada bicaranya begitu manja.


Gisela seakan lupa ada orang yang berada di sampingnya yaitu, Cindy mantan dari pacarnya sekarang.


Cindy wajahnya ditekuk, bibirnya mengerucut tanda kesal atau tidak senang dengan luapan kegembiraan sahabatnya itu. Dia di bakar api cemburu.


"Rasa cemburuku masih ada terhadap Bram, namun aku benci teramat sangat, kepada lelaki ini!" di dalam hati Cindy seakan menyimpan rasa dendam.


***


Gisela pun menutup sambungan telepon selularnya, mukanya nampak berseri-seri seakan di hinggapi rasa bahagia karena Bram, telan mentransfer sejumlah uang yang cukup besar.


Melihat raut muka Cindy seperti menahan kesal terhadapnya, karena dia tadi menerima telepon dari Bram yang dulu mantan Cindy. Gisela di hinggapi rasa bersalah.

__ADS_1


"Maafkan, aku. Mungkin aku terbawa emosi yang teramat sangat. Aku senang diberi kejutan karena Bram, memberiku uang begitu besar," Gisela menunduk malu.


"Kamu, baper,!" Cindy seakan sinis. Cindy maunya Gisela tidak bersifat lembut ketika menerima sambungan telepon dari Bram.


Gisela seakan menahan rasa tawa, karena kelakuan Cindy seperti anak kecil.


"Sabar! aku merasa serba salah, katanya harus aku kuras dulu uangnya. Tetapi ketika aku bersikap lembut biar dia habis duitnya, kamu marah. Jadi mau kamu apa!" Clara, seakan serba salah dibuatnya oleh sahabatnya itu.


***


Cindy pun sebenarnya menyadari hal itu, namun dia seakan tidak mau mengakuinya.


Mungkin jika dia tidak lumpuh, dan Bram tidak meninggalkannya, Cindy masih berhubungan dengan Bram.


***


Gisela menatap sahabatnya itu yang sedang menatap langit-langit kamarnya.


Selimut tebal menyelimuti badannya yang terlihat menahan rasa dingin, karena hujan semakin malam semakin deras.


"Cindy masih tetap egois dan licik sifatnya, dari dulu tidak berubah." gumam hati Gisela, di hinggapi rasa kesal sebenarnya.


***


Keesokan.harinya Gisela pun pamit untuk pulang, mukanya terlihat sumringah.


"Ingat ya, pesanku, awas kalau kamu sampai serius, hubungannya sama Bram!" Cindy terlihat mengancam sahabatnya itu.


Clara yang mendengar pembicaraan tersebut, terlihat di hinggapi rasa penasaran. Apa yang sedang mereka rencanakan.


***


Di dalam mobil, Gisela terlihat memikirkan apa yang di bicarakan oleh Cindy.


Dia seakan di selimuti dilema serba salah.


Bram seorang pengecut menurut Cindy, lelaki yang suka mempermainkan hati wanita dan berkhianat.


Tapi dia sudah terlanjur sayang, karena apapun kebutuhan yang dia perlukan untuk keluarganya di kampung tercukupi oleh Bram.


Di lain sisi, Cindy menyuruh Gisela untuk menjauh dari Bram,


"Apakah aku akan kuras dulu uangnya, setelah itu aku tinggalkan, apa aku ini seorang yang di katakan pengkhianat juga kalau begitu!" batin Gisela berkecamuk tidak karuan.

__ADS_1


Gisela hanya bisa menghembuskan napas kasar.


"Aku jalani saja alurnya, seperti apa. Aku tidak mau merencanakan semua," dia seakan ingin membahagiakan keluarganya di kampung yang hidupnya pas-pasan biar menjadi sejahtera setelah dia berhasil menikah dengan Bram.


__ADS_2