
Bram meringis kesakitan.
Nampak Bonar dan Reynold masih setia menunggu Bram, di ruangan rumah kosong.
Bram terlihat memakan nasi sisa kemarin yang sudah dingin dan bau tidak sedap keluar dari nasi bungkus Itu.
"Makanlah kau! pura-pura menahan lapar, aku tahu kau lapar, cuma menahan rasa malu. Makanlah rasa malumu itu! Apa kau tidak malu sudah merebut istri orang!" ucap Ronal, menatap lekat kepada Bram, yang terlihat kelaparan ketika makan nasi sisa kemarin.
"Untung juga masih kita beri makan!" sambung Reynold, dengan sorot mata yang tajam menatap Bram.
Bram seakan tidak menghiraukan perkataan kedua orang tersebut, yaitu suruhan Bobby.
Bram mukanya terlihat penuh luka, bajunya pun terlihat lusuh dan robek.
Pandangan Bram berselancar ke arah ruangan tersebut, sementara Bonar dan Reynold tengah asik ngobrol.
Dia terlihat sedang merencanakan sesuatu, dia ingin kabur dari rumah kosong itu.
Matanya sudah tidak lagi di tutup oleh kedua lelaki itu. Hanya kaki dan tangannya saja yang masih terikat.
Tangan dan kakinya terlihat ada tanda lebam karena pengaruh ikatannya yang terlalu kencang.
Di celah jendela ruangan tersebut ada sinar mentari pagi, yang menyoroti ke ruangan yang di isi oleh Bram.
Dalam hatinya berpikir, dia pasti bisa lolos dari sini lewat jalan jendela itu. Bonar dan Reynold pasti ada rasa lelahnya mengurus dia. Bram membuang napas kasar
*****
Bram teringat Ibunya,
udah lebih dari tiga hari dia di sekap oleh Bobby, dan suruhannya.
Ketika terakhir dia pergi dari rumahnya, keadaan Ibunya sedang sakit, dan menceramahi dirinya.
Bram terlihat mengingat kembali apa yang di ucapkan oleh Ibunya terakhir dia bertemu.
"Kamu kapan nikah lagi. Ibu sebenarnya ingin kamu hidup di jalan yang benar jangan mempermainkan hati wanita. Kamu persis seperti Bapakmu, dulu sewaktu muda. Gonta-ganti wanita. Ibu saat itu sakit hati di perlakukan seperti itu oleh Bapakmu. Nah, wanita yang selalu kamu permainkan hatinya. Saat ini, juga sakit hatinya sama seperti Ibu dulu. Makannya kamu mulai saat ini jangan suka mempermainkan wanita." ucap Ibunya Bram, saat itu nada bicaranya seakan mengkhawatirkan anaknya tersebut.
Bram saat itu hanya terdiam dan menganggukkan kepalanya.
Bram meneteskan air mata.
*****
Bram termenung.
Bram sebenarnya tahu apa yang dilakukannya itu salah, tapi entah mengapa rasa gengsi dan uang seakan mengalahkan segalanya.
Dia seakan dibutakan dengan uang.
Uang seakan yang mengarahkan dia untuk berbuat tidak baik. Dan gaya hidup dia yang royal mengakibatkan dia lupa segalanya.
"Andai saja pernikahanku dulu dengan Zhira mempunyai anak dan aku saat itu aku tidak mengenal wanita yang bernama Cindy.
Mungkin hidupku tidak akan seperti ini." gumam hati Bram.
Bram menyalahkan keadaan.
Padahal jika hidupnya tertata dengan rapih, dan berada di jalan benar. Tidak mungkin terjadi perselingkuhan antara dia dengan Cindy, yang notabene sudah mempunyai suami dan perselingkuhannya dengan wanita-wanita lainnya.
Selama ini dia selalu menyalahkan Bapaknya.
Karena sosok Bapaknya, dulu, kelakuannya dengan dia sama. Suka mempermainkan wanita.
Bram teringat omongan Bapaknya yang selalu tidak mau kalah dan di salahkan.
__ADS_1
"Kamu jangan menyalahkan Bapakmu, mesti Bapakmu dulu,suka mempermainkan wanita yang penting sekarang sudah tidak melakukan kembali." ucap Bapaknya.
Dan Bram selalu berdalih.
"Karena. jika turunan kuat!" Bram tidak suka di atur, oleh Ibunya. Dua tipe yang manja dan wataknya keras.
Bapaknya Bram pun seakan tidak mau memikirkan hal tersebut, yang notabene anaknya nakal selalu mempermainkan wanita seperti dia dulu.
Bram menarik napas panjang.
\*\*\*\*\*
Reynold dan Bonar menatap Bram, dari ruangan kejauhan.
"Bang! Selanjutnya kita akan apakan, si Bram di dalam!" ucap Reynold.
Yang pembicaraannya terdengar oleh Bram, sangat jelas sekali.
"Kita nunggu instruksi Bobby selanjutnya.
Yang penting, Bobby menginginkan Bram, keberadaannya disini di lukai dan Bram merasa tertekan hatinya." jawab Bonar.
\*\*\*
Bram menghela napas secara perlahan.
Dia pun seakan mengerti maksud dari Bobby itu. Bobby menginginkan dia, di sekap lebih lama disana. Dan ingin mempermainkan hati Bram. Yang badannya penuh luka dan orang di sekeliling Bram menjadi gusar.
\*\*\*
"Bos, aku ngantuk tidur dulu!" ucap Reynold.
"Aku mau beli makanan dulu buat kita, karena sisa stok makanan kita habis," ucap Ronal.
Sementara Reynold tertidur sangat pulas.
\*\*\*\*\*
Bram mengangkat badannya otomatis kursi yang dia duduki terangkat.
Dia mencari akal agar perekat tali yang di ikat ke tangannya, bisa terlepas. Dengan cara dia akan menggesekkan tali tersebut yang mengikat tangannya ke arah benda tajam tersebut. Mata dia mencari-cari benda yang bisa membuat tali perekat itu putus.
Namun sialnya tidak ada benda yang ada disekitarnya, untuk dapat memutuskan tali perekat yang mengikat tangannya itu.
"Padahal ini kesempatan yang baik agar aku bisa kabur dari tempat ini!" gumam hati Bram.
Drettt...
Drettt...
Drettt...
Tiba-tiba ponsel Reynold bergetar tanda ada panggilan masuk ke ponsel miliknya.
Reynold terkejut dengan bunyi ponselnya itu, karena dia sedang terlelap tidur.
Dan yang menelepon itu adalah Bobby.
__ADS_1
{"Mana Bonar,?"} tanya Bobby, dengan suara kerasnya.
{"Dia keluar Bos,"} Reynold sambil menggeliatkan tubuhnya.
{"'Ponsel dia, nggak di angkat. Barusan aku telpon dia!"} sambung lagi Bobby.
{"Ponselnya ketinggalan Bos, ini nggak dibawa sama dia,"} jawab Reynold. Karena ponsel Ronal di silent jadi Reynold pun tidak mendengar panggilan masuk.
{"Bilang ke Ronal dan kamu juga ya, dengar! Habisi lagi si Bram, tapi jangan sampai dia mati cukup luka dan lebam saja!"} ucap Bobby dengan nada bicara yang terdengar kesal.
{"Aku mau kalian menghajar satu orang lagi!" Bobby merencanakan sesuatu kembali.
{"Rencana apa lagi, Bos?"} tanya Bobby.
{"Nanti saja aku ngomongna, pas aku sudah kembali disana lagi. Ini aku ada urusan yang sangat rumit dengan istriku!"} ucap Bobby.
Kemudian Bobby pun menutup sambungan teleponnya.
{"Pasti aku di suruh lagi untuk menghabisi lelaki yang datang lagi terhadap istrinya itu. Istrinya terlalu banyak simpanannya!"} gumam hati Reynold.
Reynold jadi teringat masa dulu, ketika dia mencoba mendekati Gita anak dari Bobby, sang Mama tiri yaitu istri dari Bobby mencoba mendekatinya dan merayu dia untuk berbuat selingkuh, tapi Reynold mencoba menolaknya. Hal tersebut tidak sekali atau dua kali dilakukan olehh istrinya Bobby, tapi beberapa kali dia coba mendekatinya.
Dari kejadian itu dia mencoba menjauh dari Bobby tidak sering berkunjung ke rumah Bobby, dia merasa risih dengan kelakuan istrinya Bobby tersebut.
{"Syukurlah kalau si Bobby, ada rencana untuk menceraikan istrinya itu, biar hidup dia tenang. Dan aku bisa lebih leluasa untuk mendekati Gita, anaknya Bobby. Hehehe.."}Reynold tertawa terkekeh.
*****
Reynold berdiri tegak dia lalu berjalan menghampiri Bram. Terlihat Bram matanya lelah, dia mungkin akan tertidur, dan ujung bibirnya terluka sedikit dan mengeluarkan darah.
"Bangun.. bangun!" Reynold menyiram air ke muka Bram. Otomatis Bram terkejut matanya spontan memandangi Reynold yang sedang tertawa puas.
"Kaget! kasian, jangan tidur! bangun...!" sambungnya lagi.
Reynold membuka bungkus rokok, tapi di dalamnya sudah kosong. Rokok yang tersisa di dalam bungkus tersebut sisa satu tadi habis di hisap oleh Bonar.
"Sial..!" ucapnya. Lalu bungkus rokok tersebut dia lempar ke arah badan Bram, yang sedang tertunduk.
*****
Krekkk...
Tiba-tiba suara pintu terdengar terbuka dari arah ruangan depan. Terlihat Bonar membawa dua kresek makanan.
"Isi dulu perutmu!" Bonar menatap Reynold.
Reynold pun menendang kursi yang sedang di duduki Bram, dan Bram tersungkur.
"Ada apa kamu?" tanya Bonar tertawa lebar.
"Rokok habis!" jawab Reynold.
Bonar melempar satu bungkus rokok ke arah Reynold.
"Kau salahkan si Breng**k itu! salahkan aku anak muda! Hahahaha.." Bonar tertawa terbahak.
*****
"Mual aku melihat kelakuan mereka!" gumam hati Bram. Matanya menyorot tajam ke arah dua lelaki itu.
__ADS_1