Pengkhianatan Seorang Istri

Pengkhianatan Seorang Istri
Bab55


__ADS_3

"Pak Haris, baru lihat lagi, sudah lama tidak ketemu kita ya? padahal tetangga depan rumah," Bu Retno menyapa Haris yang hendak membuka gerbang pintu garasi.


Haris datang ke Bogor, tanpa memberi tahu Cindy terlebih dahulu.


"Iya Bu Retno, kebetulan lagi sibuk! gimana kabarnya, Bu?" Haris tersenyum ramah kepada tetangganya itu.


"Bu Cindy nya juga sibuk terus ya, pulang selalu malam," Bu Retno kembali berucap.


Haris seakan malu, ketika sang tetangga membicarakan keburukan istrinya yang selalu pulang malam.


Akhirnya Haris memasuki rumahnya, kebetulan Mbak Eka lagi suapin Rara di teras.


Melihat sang Papa datang Rara memeluknya.


"Mbak, Ibu kemana?" Mbak Eka, bingung mesti menjawab apa, karena kepergian Cindy, tanpa sepengetahuan ART nya itu.


"Ibu nggak bilang, tahu-tahu sudah nggak ada tadi pagi!" Mbak Eka menatap Haris


"Katanya lagi sakit, kenapa pergi!" Haris sedikit curiga, kemudian dia menelepon Cindy namun tidak di angkatnya.


Kemudian Haris menuliskan pesan.


{"Papa di rumah, segera pulang!"} tulis pesan Haris sangat singkat.


***


Ting...


Ponsel Cindy berbunyi,


Cindy pun terkejut ketika membaca isi pesan dari suaminya itu.


"Clara, aku segera pulang ya, Haris sudah ada di rumah. Terus ini ramuannya di minum dua kali, sehari ya? Obat nya nanti kamu antar ke rumahku ya?" ucap Cindy.


Cindy sedang bersama Clara, membeli obat telat datang bulan.


Kebetulan baru ramuan berbentuk jamu, yang Cindy beli. Sedangkan obat tabletnya masih antri belum dia dapatkan.


Clara pun ketika mengetahui suami Cindy mengirimkan pesan, langsung dia menyuruh Cindy agar segera pulang, takut Haris marah.


***


Sesampai di rumah,


Cindy melihat Haris yang sedang menatap layar Televisi, di meja Sofa terlihat kopi hitam dua gelas, yang satu gelas sudah kosong, yang satu gelas masih ngebul, yang aromanya begitu menyeruak ke hidung.


"Dari mana?" Haris menatap tajam ke istrinya itu. Cindy seakan tidak tahu harus berkata apa. Dia hanya berlalu dari hadapan Haris, dengan muka yang di tekuk.


***


Kemudian Cindy mengambil secangkir air panas di dapur, dan kemudian memasuki kamarnya.


Cindy mengeluarkan jamu, lalu dia memasukkan jamu tersebut kedalam cangkir, kemudian mengaduknya.


GLEKKK..

__ADS_1


Cindy pun meminum ramuan tersebut,


**


Bunyi klakson depan rumah Cindy, membuat Haris segera bangkit dari tempat duduknya, lalu dia melihat dari kaca jendela ternyata Clara yang datang.


***


"Pak, sehat?" Clara tersenyum ramah.


Haris pun mempersilahkan Clara untuk duduk, dan tersenyum ramah.


Haris memanggil istrinya karena sahabatnya datang. Tujuan Clara datang ke rumah Cindy untuk memberikan obat yang belum Cindy dapatkan tadi.


***


Cindy pun keluar dari kamarnya dan menemui Clara. Mereka akhirnya mengobrol dengan di teras rumah,


Sementara Haris memasuki kamar, karena di hinggapi rasa kantuk yang teramat.


Ketika memasuki kamar Haris mencium bau jamu yang menyengat di gelas yang kosong, tapi ada bekas di gelas tersebut cairan berwarna kuning.


Haris di hinggapi rasa penasaran, dia pun mencium gelas tersebut.


"Jamu apa ini, ko' baunya menyengat begini," kemudian pandangan Haris tertuju ke bungkus bekas jamu tersebut.


Nampak terlihat tulisannya.


(Jamu Telat Datang Bulan).


Haris kemudian berjalan menuju kaca jendela kamar, Haris mengintip istrinya yang sedang asik mengobrol serius, dengan sahabat itu. Dan mata Haris tertuju ke meja, disana ada beberapa obat yang dibawa Clara.


"Cindy sakit apa ya?" Haris dihinggapi rasa penasaran.


Haris pun berlalu dari kamar, dia kemudian berjalan menuju ruang tempat kerjanya.


Setelah satu jam lebih Clara di rumah Cindy,


Clara pun, pamitan untuk pulang.


***


Sore itu pukul empat, Rara sedang keluar bersama bersama Mbak Eka, sedangkan Cindy tertidur pulas.


Setelah Haris beres menyelesaikan pekerjaan Kantornya, lalu dia memasuki kamarnya.


Karena di hinggapi rasa penasaran terhadap obat yang tadi dibawa oleh Clara, lalu secara perlahan Haris membuka laci lemari meja rias, matanya tertuju sangat lekat ke obat yang Clara tadi bawa, setelah Haris membuka tulisan resep tersebut betapa terkejutnya karena, disana ada tulisan telat datang bulan.


Meskipun hati Haris di hinggapi rasa curiga dan ingin menanyakan obat tersebut, namun Haris seakan tidak mau gegabah untuk membangunkan istrinya itu.


Ting...


Tiba-tiba ada pesan muncul di ponselnya Cindy, terlihat disana Bram yang mengirim pesan. Karena di hinggapi rasa penasaran, Haris pun membaca pesan tersebut.


{"Jangan lupa, minum obatnya. Pokoknya jangan sampai telat minum obatnya. Kalau masih kurang uangnya, nanti ku transfer lagi!"} melihat isi pesan tersebut Haris di hinggapi rasa penasaran yang teramat, dadanya bergemuruh lalu dia melihat pesan Bram dari atas.

__ADS_1


Jantung Haris seakan copot ketika membaca isi pesan, dari Bram yang menginginkan Cindy jangan sampai hamil, dan harus segera berobat agar cepat datang bulan.


Tiba-tiba Cindy menggeliat, matanya dengan perlahan terbuka. Melihat ada suaminya yang tiba-tiba ada di kamar dia terkejut.


"Pah..!" ucapnya kaget karena Haris sedang asik melihat layar ponsel miliknya.


Muka Haris berubah nampak merah padam, tangannya di kepal seakan menahan amarah.


"Apa lagi ini! jadi kamu sudah..!!" Haris berteriak histeris.


Cindy terkejut ketika melihat suaminya marah, mukanya pucat pasi.


"Kamu sudah melakukan hubungan yang lebih dengan Bram!" pandangan Haris begitu penuh emosi.


"Ampun, Pah, maafkan aku!" ucap Cindy menangis histeris.


Kemudian telunjuknya mengarah lekat ke wajah sang istri.


"Kamu, tega ya!" Haris terisak ketika berucap.


"Aku, Aku... Khilaf, Pah!" tangisan Cindy pecah.


"Selama ini aku menahan untuk tidak marah dan bersabar, aku berharap kamu akan sadar, tapi kelakuanmu makin menjadi!" Haris di hinggapi rasa kecewa, dan terasa sesak ketika berucap.


***


Cindy menunduk pandangannya tidak berani menatap suaminya itu. Kemudian dengan suara seraknya dia berucap.


"Pah, selama ini kamu tidak memberikan belaian kasih kepada istri, dan aku merasa kesepian. Aku mengakui salah, Begitu banyak kesalahan yang aku lakukan, aku minta pisah saja!" Cindy begitu gampang ketika berucap, dan dia seakan mengakui semua kesalahan yang di perbuatnya.


Haris sangat terkejut, ketika mendengar ucapan Istrinya yang meminta berpisah secara spontan. Harusnya dia yang terlebih dahulu mengucapkan kata seperti itu, karena Cindy yang berbuat salah.


***


Haris pun meredakan emosinya, dia terdiam namun air mata tak henti bercucuran. Apa yang di katakan Istrinya seakan menyayat hati dan pikirannya.


Dia selama ini mempertahankan mahligai rumah tangganya, semata-mata hanya karena anak, namun jika istrinya sudah mengatakan tidak nyaman, dan sudah berhubungan yang lebih dalam dengan lelaki lain apa boleh buat.


Haris sangat mempertahankan mahligai rumah tangga, dan peduli dengan kondisi mental anak-anaknya.


Jika terjadi perpisahan diantara kedua orangtuanya, dan mereka berpisah kedepannya nanti mental anak-anak akan seperti apa.


Itu yang memberatkan hati Haris selama ini, hanya karena anak.


***


Haris terisak tangis, dan dia pun meninggalkan kamar lalu dia memasuki ruangan kerjanya.


Dia tumpahkan rasa kesal, sesak, kecewa dan kesedihannya. Haris menangis pilu, air matanya seakan tidak terbendung.


{"Bagaimana dengan anak-anaku, jika ada perpisahan antara kedua orangtuanya,"} gumam hati Haris, dia mencoba menenangkan dirinya di dalam ruangan kerjanya.


termenung, tatapannya seakan kosong.


Mungkin ini bagi Haris keputusan yang sangat sulit, kemudian dia mencoba menghubungi Ibunya namun ponselnya tidak aktif.

__ADS_1


__ADS_2