Pengkhianatan Seorang Istri

Pengkhianatan Seorang Istri
Bab: 22 Penuh Pertimbangan.


__ADS_3

{"Mas, kamu tidak masuk kantor beberapa hari ini, katanya keluar kota ya?"} pesan masuk ke ponsenya Bram. Melihat pesan tersebut Bram menghela napas panjang. Lagi-lagi Cindy kekasih gelapnya selalu mengganggunya.


Bram sedang duduk di teras rumah, dan tiba-tiba Ibu datang dengan membawa teh hangat.


"Bram, Ibu mau tanya." sang Ibu pandangannya lekat dengan penuh kesal Ibu bertanya.


"Ada apa?" jawab Bram singkat.


"Siapa Cindy itu?" ucap Ibu penuh amarah. Bram kaget ketika Ibu menanyakan hal tersebut, Dia tidak menyangka Ibunya mengetahui hubungannya dengan Cindy. Bram mencoba bersikap tenang jangan sampai Ibunya terbakar emosi di pagi buta ini.


"Teman Bu," jawabnya tanpa ada rasa bersalah sedikitpun.


Kemudian Ibu bercerita pertemuannya dengan Zhira kemarin, dan Zhira menyebut nama Cindy. Ibu pun menegaskan jika yang di ucapkan Zhira benar, Anaknya mempunyai hubungan dengan Cindy tanpa ragu Ibu akan mendatangi wanita itu.


Ibu Weni sangat memanjakan Anaknya namun kesabaran yang Ibu miliki seakan tidak di hargai oleh Anaknya itu. Bram, Anak kedua, Anak pertama seorang wanita yang tinggal di luar kota yaitu Medan, bernama Brianna, sang Kakak sangat perhatian kepada Adiknya dan sifatnya yang pendiam tidak banyak kata beda dengan suaminya yang bersikap tegas.


Hubungan Bram dengan Cindy sebenarnya sudah di ketahui oleh Brianna sang Kakak, meskipun sang Kakak tahu soal hal itu tapi Brianna tidak bisa berbuat apapun, dan dia juga tidak mau bicara kepada Ibunya soal kedekatan Bram dan Cindy.


***


Setelah terdiam cukup lama Bram lalu menelpon Cindy dan mengabarkan dia lagi ada konflik keluarga dan Bram berharap Cindy memakluminya. Dan untuk sekarang ini Bram berharap kepada Cindy untuk tidak menghubunginya dulu, Bram pun bercerita ada niat kembali rujuk kepada istrinya itu.

__ADS_1


Kali ini Cindy tidak bisa berkata apapun dia hanya terdiam tapi nampak jelas dia di hantui rasa cemburu yang teramat, dari suaranya yang sedikit berat dan penuh sesak.


"Aku harap kamu bisa melepaskan dan melupakan Aku, tapi jujur Aku pun tidak bisa melupakan kamu," ucap Bram.


"Tidak mungkin Mas, kita tidak mungkin berpisah hubungan kita sudah jauh, walaupun Aku ada keluarga, Aku enggak mau kehilangan kamu Mas," Cindy bersikukuh dengan keputusan yang dia ambil.


"Kamu harus bisa!" Bram berusaha meyakinkan Cindy kembali." ucap Bram.


Bram tahu Cindy wanita yang keras kepala, keputusan yang dia ambil harus selalu di ikuti meskipun dulu Cindy wanita yang pendiam.


Entah angin apa yang merasuk pikiran Bram, kemudian Bram luluh dengan ucapan dan kata manis Cindy.


Cindy berucap tidak apa-apa Bram rujuk dengan istrinya tapi Cindy tidak mau putus darinya. Mungkin cinta telah membutakan mereka dan napsu yang selalu ada di pikiran keduanya. Mereka tidak peduli dengan kedua pasangan masing-masing yang tersakiti jika pada akhirnya mengetahui hal tersebut, perselingkuhan yang berlarut-larut.


"Kamu harus hati-hati terhadap Haris," ucap Bram. Haris sampai saat ini tidak mengetahui istrinya berselingkuh meskipun tahu dia lelaki.yang penyabar dan tidak percaya hal itu karena istrinya dimata dia sangat baik dan alim. Haris berpikir tidak mungkin istrinya berselingkuh karena Cindy wanita yang pendiam dan kurang bergaul. Namun di balik itu semua Haris tidak tahu yang sebenarnya.


*****


Jam menunjukkan pukul lima sore, orang tua dari Zhira akhirnya datang juga ke rumah Bram, Papa dari Zhira datang ke kota Bogor dimana tempat Bram tinggal ada urusan kerja.


Bram terlihat malu ketika berpapasan dengan kedua orang tua Zhira, dan kedua orang tua Bram seakan mengetahui hal itu, lalu Ibunya Bram mencoba melumerkan suasana.

__ADS_1


"Mama Tiara, sudah lama kita tidak bertemu dan Mama terlihat sehat dan segar," ucap Ibunya Bram kepada Mamanya Zhira. Mama hanya tersenyum tipis, nampak terlihat Zhira berpakaian sangat sopan, dia memakai rok panjang berwarna pink muda dengan atasan yang senada dan rambutnya yang panjang dibiarkan tergerai.


Bram kembali terpesona dengan kecantikan dari istrinya itu.


Papa Geri, Papanya dari Zhira kemudian mengungkapkan tujuan mereka datang ke rumah Bram.


"Ada urusan kerja disini jadi Papa mampir, dan yang paling penting adalah kita bicarakan hubungan Anak kita kedepannya akan seperti apa!" ucap Papa Geri tegas.


Papa Geri juga meminta maaf kepada Bram dan kedua orangtuanya karena Zhira saat itu pergi dari rumah tanpa pamit dengan alasan sudah tidak kuat lagi melihat suaminya bermain api dengan wanita lain. Bram merasa tertampar mukanya merah padam, dia malu atas kelakuannya selama menjalin hubungan dengan Zhira.


Namun Ibunya Bram mencoba meyakinkan kedua orangtuanya Zhira, bahwa Anaknya tidak akan mengulangi perbuatan itu lagi. Ibu terlihat berkaca-kaca tanpa rasa malu dia memarahi Bram depan Zhira dan kedua orangtuanya. Bram tertunduk seakan habis kata.


"Gimana Nak, apa kamu akan melanjutkan hubungan yang tertunda selama ini, atau mundur!" tanya Mamanya Zhira menatap lekat kepada Anak kesayangannya itu.


Zhira hanya tertunduk, cukup lama dia berpikir. Dia melirik Bram yang dari tadi tidak berkata apapun, kemudian Zhira menatap Ibu mertuanya yang seketika meneteskan air mata. Pikirannya kalut antara mundur dan maju untuk melangkah dan menata kembali hubungan dengan suaminya yang sudah lama tertunda.


"Masalah Anak, biar kita adopsi di panti asuhan saja, kita sudah sepakat, bagaimana dengan Zhira?" Ibunya Bram berucap tapi pandangan ke arah Mamanya Zhira. Mama Zhira hanya tersenyum tipis.


"Ya, Papa juga tidak memaksakan Zhira harus bersama kembali dengan Bram, karena yang menjalani hubungan semua adalah mereka berdua," ucap Papanya Zhira.


Nampak Bram berharap agar Zhira mau menerima hubungan kembali dengannya, meskipun dalam benaknya di hinggapi bayangan Cindy kekasih gelapnya. Bram berpikir untuk kedepannya mungkin Cindy akan memahami hubungan bersama dirinya, tidak akan di bumbui dengan cemburu yang teramat besar. Hubungan mereka akan wajar layaknya seperti teman tapi ada hubungan khusus yaitu kekasih gelap.

__ADS_1


"Aku mau berpikir dulu, dan Aku memutuskan bulan depan saja untuk bisa mengambil keputusan berat ini karena ada beberapa pertimbangan yang harus di bereskan." ucap Zhira sambil menghela napas panjang, terasa berat terlihat beban yang di uji oleh Zhira waktu dulu, dimana suaminya berselingkuh. Jika mengingat kembali hal tersebut terasa sesak di rasa oleh Zhira, mengapa suaminya tega dan terus menerus berselingkuh mungkin jawabannya kalau untuk tidak mempunyai Anak itu terasa kurang masuk akal.


__ADS_2