
Lelaki dengan berkulit sawo matang, berbadan besar dan tegap dan matanya bulat dengan sorot mata tajam. Dia ingin menghancurkan orang yang sudah merusak rumah tangganya dulu.
Dari dulu dia, mencari keberadaan orang ini, tapi tidak bertemu.
Nah, sekarang saatnya, dia akan menghancurkan dan membalaskan semuanya.
Lelaki itu memijit nomor telepon.
"Reynold! kamu dimana? aku ingin bicara sama kamu. Aku ingin kamu menghancurkan lelaki yang sudah menghancurkan rumah tanggaku dulu," ucap Bobby.
Bobby sosok lelaki pendendam. Meskipun dia rujuk kembali sama Sherly sang istri, tapi itu tidak menutup kemungkinan dia bisa memaafkan lelaki yang sudah mengganggu rumah tangganya bersama istrinya.
Watak dia yang keras kepala, berpengaruh terhadap anaknya. Gita pribadi yang tomboy, cuek seakan mencari kasih sayang dari orang lain atau butuh belaian bukan dari keluarga.
Sehingga anaknya dengan mudah mempercayai seorang lelaki yang terbuai dengan rayuannya, dan hamil di luar nikah. Dan sekarang mempunyai anak yang bernama Dion.
*****
"Masalah gampang kalau itu Bos!" ucap Reynold. Dengan suaranya yang ngebas.
"Perlu berapa dulu akan ku kirim uangnya, sebagai uang muka. Aku tahu kamu kalau tidak ada uang, tidak mau jalan!" Bobby mengejek suruhannya itu, yang bernama Reynold.
"Nggak apa-apa Bos, tenang saja. Aku banyak berhutang budi sama Bos. Dan sekarang saatnya untuk membalas semuanya!" jawabnya.
"Kamu pergi nanti kesini sama si Bonar!" Bobby sangat berharap Reynold dengan Bonar bisa bertemu dengannya hari ini.
"Siap Bos! kita bertemu dimana Bos? rumah atau tempat yang biasa!" sambungnya lagi
"Kita bertemu di tempat biasa dong! kalau rumah nanti istriku tahu semua tentang rencana kita. Gawat!" Bobby takut jika istrinya mengetahui rencana dia. Apalagi jika tahu keberadaan Bram dimana.
"Okay Bos! aku berharap bertemu di rumah biar bisa ketemu anaknya Bos, janda muda dan cantik. Hehehe.." Bobby menggoda.
"Apa! awas ya berani sekali lagi ngomong gitu, ku potong lidahmu! Hahahaha...." Bram mengejek Reynold.
"Canda Bos! maaf," sambungnya lagi.
"Yasudah cepat sana kamu hubungi si Bonar! suruh ketemu aku hari ini." Bobby seakan ingin cepat-cepat menyelesaikan maksudnya.
Bobby akhirnya menutup sambungan teleponnya,
*****
Reynold menghubungi Bonar.
"Bonar! dimana kau? susah sekali, kau kuhubungi macam mana pula nih Anak!" Reynold dan Bonar kebetulan orang Medan, jadi nada suara mereka tinggi dan keras.
"Ada apa, kamu hubungi, aku terus. Rey..!" jawab Bonar, dengan nada seperti orang kesal dan marah.
Tapi sebenarnya tidak marah, mungkin karena logat bahasanya begitu.
"Ada Job! Kau dengar tidak JOB!!!" Reynold. Menekankan kata Job.
"Job, apa? Bikin Aku penasaran kau ini!" jawab Bonar.
__ADS_1
"Sudahlah, jangan banyak kata kamu ini. Aku jemput kau!" jawab Reynold.
*****
Reynold menjemput Bonar.
"Bobby menyuruh kita untuk menghabiskan manusia itu!" ucap Reynold ketika sampai di rumah Bonar.
"Manusia mana pula, aku gak ngerti!" jawab Bonar.
"Lelaki yang berselingkuh dengan istrinya dulu. Masih ingatkah kau?' Reynold mencoba mengingatkan kepada Remon.
Lelaki yang dulu pernah di ceritakan sama Bobby.
"Bram! itu bukan? Dia si pengkhianat! akan aku apakan nanti. lelaki brengsek itu!" Bonar melotot dan suaranya keras.
"Jangan keras-keras kau, nanti terdengar orang!" ucap Reynold.
"Ah, kau. Kita berdua sama keras kalau ngomong. sudahlah jangan banyak ngomong. Kita datangin aja si Bobby sekarang.
Maunya, Lelaki itu nanti kita apakan!" Bonar menarik tangan Reynold menuju mobil.
Bonar yang mengemudikan mobil tersebut.
Dan mobil tersebut akhirnya melaju kencang ke arah, tempat dimana mereka bertemu dengan Bobby.
*****
Sampai di tujuan.
Begitupun dengan Reynold yang nampak senang, karena tiga sahabat itu bisa berkumpul Kembali.
Mereka duduk di sebuah, Kafe di Jalan. Dago.
Tampak diantara mereka sedang mengungkapkan luapan kerinduan karena sudah lama tidak berjumpa.
Obrolan sangat akarab, Bonar telah mempunyai istri sedangkan Reynold bujang.
"Jadi ada acara apa nih, mengundang kita berdua! apa anda kaitannya dengan anakmu Gita, yang akan di jodohkan dengan bujang lapuk ini!" Bonar mengejek Reynold yang di usianya sudah lumayan berumur, belum juga mendapatkan wanita pilihannya atau menikah.
sontak Bobby tertawa terbahak, Reynold hanya tersipu malu. Mereka sudah tahu karakter dan sifat masing-masing, jadi kalau saling mengejek itu bentuk perhatian dan canda mereka kepada masing-masng sahabatnya itu.
"Serius dong," ucap Reynold matanya mendelik ke arah Bonar.
"Santai, Bro..! kita kan mau siksa orang, jadi harus tertawa dulu, jangan serius!" Bonar kembali tertawa.
****"
Bobby menghela napas secara perlahan.
"Jadi gini, intinya aku mau si Bram, culik sama kalian. Sekap dia! di tempat biasa!" raut muka Bobby, mendadak menjadi sangar, dengan tangan mengepal, mata melotot ke arah Reynold.
"Bang, sabar lah, jangan melotot ke arah si Reynold. Takut dia!" Bonar lembali tertawa.
__ADS_1
"Aku sudah tidak kuat ingin melihat wajah dia sekarang seperti apa!" Bobby kembali tersulut emosi.
"Sabar, sabar Bang, akan kita selesaikan. Masalah itu sepele bagi kita!" sambung Bonar.
Bobby kemudian kembali bercerita kepada kedua orang itu, secara detail agar target tidak lolos.
Mulai dari keberadaan rumah Bram, Restoran, dan dimana tempat Bar, yang sering Bram, kunjungi.
Bobby membuang napas kasar.
"Kalian paham!" Bobby melirik kedua sahabanya itu.
"Paham..." serentak Reynold dan Bonar berkata.
"Kalau nama Restoran yang baru saja di ucapkan Bang Bobby, kayaknya aku mengenalnya. Itu kan temanku kerja disana." ucap Bonar
"Apa pedulinya?" tanya Reynold kepada Bonar.
"Ada lah, nanti kita bisa bekerjasama dengan orang itu!" ucap Bonar. Dimana posisi Bram setiap saat
"Jangan! jangan ada yang tahu misi kita kedepannya seperti apa, Bram lelaki berbahaya. Orang di sekitarnya banyak," dengan cepat Bobby menyambar omongan Bonar.
"Jadi kita kapan bertindak?" tanya Reynold kepada Bobby.
"Terserah kalian!" jawab Bobby.
"Besok saja, gimana?" ucap Reynold.
"Malam ini!" Bobby menatap lekat Reynold dan Bonar.
"Oke, oke Bos!" Bonar seakan takut ketika Bobby. berbicara dengan sorot mata tajam.
Bobby memberikan sejumlah uang kepada Bonar dan Reynold, untuk mereka pergunakan sebagai bekal mencari keberadaan Bram. Apa sedang di Restoran, Bar atau tempat lain.
"Bos, kirim foto mukanya Bram, ke ponselku!" ucap Reynold.
Bobby menganggukkan kepalanya.
Bonar menatap lekat foto Bram, ke layar ponsel Reynold.
"Badannya tinggi besar ya?" sambil melirik ke arah Reynold.
"Ya, sama seperti kau!" jawab Reynold.
Mereka pun pamit kepada Bobby, untuk pergi ke Bogor.
Sebelumnya mereka mau pergi ke rumahnya, untuk membawa pakaian salin beberapa potong.
"Bos, doakan supaya lancar!" ucap Reynold tersenyum tipis.
Begitupun dengan Bonar, dia berpamitan dengan Bobby.
*****
__ADS_1
"Semoga si pengkhianat segera tertangkap. aku sudah geram ingin segera melihat mukanya!" gumam hati Bobby. Sambil memandangi kedua temannya yang menaiki mobil Land Rover, warna hitam.