
Haris mendapatkan gugatan cerai dari istrinya, surat tersebut datang ke Bandung. Disaat Haris sedang memikirkan hubungan dengan Cindy akan seperti apa kedepannya.
Sebenarnya Haris sangat mengagungkan mahligai pernikahan, dia tidak mau ada perceraian, karena agama Haris sangat kuat, dan dia lelaki yang sabar dan sangat menyayangi anak-anaknya.
Haris berpikir, tidak apa-apa rumahtangganya di sakiti oleh istrinya Cindy, mungkin Cindy kedepannya akan diberi hidayah oleh sang pencipta untuk kembali ke jalan yang benar.
***
Dia hanya menunggu saat yang tepat untuk bisa berkumpul, dan harmonis kembali rumah tangga yang telah dia bina selama ini dengan istrinya.
Tapi jika sang pencipta sudah menghendaki semuanya, akhirnya perpisahan terjadi kepada Haris, dia hanya pasrah dan berserah diri.
Hati Haris terpukul dan tersayat sebenarnya, tapi dia coba menenangkan diri dan terobati di tempat kerja di Kafe, karena banyak teman, untuk saling sharing dan diskusi jadi persoalan yang dihadapi dalam rumah tangganya sementara bisa dia lupakan sejenak.
***
Cindy memberikan pesan lewat ponsel kepada Haris, bahwa suaminya jangan sampai datang ke pengadilan, nanti selama tiga kali pertemuan.
Alasannya karena agar di setujui oleh pihak pengadilan untuk bercerai, jika Haris tidak datang tiga kali ke ruang sidang.
Haris seakan tersayat setelah membaca isi pesan tersebut dari sang istri. Demi lelaki yang dia dekati sekarang dengan tega dia berbuat seperti itu.
***
Cindy orang yang licik, di dalam isi surat tersebut dia sebutkan suaminya tidak memberikan napkah lahir atau uang dia katakan Haris tidak bekerja.
Dengan cara begitu pengadilan akan dengan cepat mengabulkan gugatan Cindy dengan cepat.
Haris menghela napas secara perlahan, dia di depan teman-temannya berusaha bersikap tenang seakan rumah tangga dengan istrinya baik-baik saja, tapi senyum yang dia torehkan seakan hambar.
***
Untuk sementara waktu keluarga, dan anak-anaknya tidak ada yang tahu, kalau mereka sudah bercerai.
Demi anak-anaknya pula, Haris mengijinkan Cindy sementara waktu tinggal di Bogor, di rumahnya.
Terdengar cukup komplit masalah yang di hadapi Haris ini, seorang lelaki yang mempunyai Kesabaran yang luar biasa.
***
"Mah, kenapa sudah hampir lebih dua bulan, Papa, nggak pulang ke Bogor. Rara kangen Papa," Rara merengek manja kepada Cindy.
Tanggapan Cindy kepada anaknya malah marah-marah tidak jelas.
__ADS_1
"Kamu sudah gede Rara, jangan manja!" Cindy melotot seakan kesal.
Cindy sedang di hinggapi bertubi-tubi masalah, dia sedang ada masalah dengan Bram dan kerjaannya.
Mbak Eka langsung menghampiri anak sang majikannya itu, dan langsung mengusap lembut rambut panjang Rara.
Kemudian Rara dibawa ke teras rumah oleh ART tersebut.
Sesampai di teras rumah, Mbak Rara mengajak Rara duduk di dekat kolam ikan koi, agar pikiran Rara sedikit rileks.
"Ra, Mama lagi banyak urusan dan pikiran, kamu jangan ganggu Mama, kalau kangen sama Papa telepon saja. Nanti kalau Papa sudah tidak sibuk pasti datang menemui Rara sama Kakak Reza kesini datang," ucap Mbak Eka, mencoba menenangkan dan meyakinkan hati anak majikannya itu.
Rara tertunduk, entah mengapa air matanya seketika lolos di ujung matanya.
"Mbak, perasaan Rara kenapa tidak enak ya. Rasanya antara Mama dan Papa, ada apa-apa," Rara menatap lekat kepada Mbak Eka.
***
Mbak Eka menghela napas panjang,
Mbak Eka seakan menahan tangisnya, matanya berkaca-kaca. Dia pun sebenarnya merasakan hal yang sama di antara Cindy dan Haris sudah beda selain selalu berantem yang lebih parah sekarang ini, Cindy begitupun Haris sudah tidak saling
menelepon.
***
Sementara Cindy di dalam kamar, sedang menelepon Clara. Nampak serius ketika dia sedang menelepon.
{"Aku juga tidak mengerti mengapa Bram, sudah tidak pernah membalas pesan dariku, aku menelepon pun tidak dia angkat, malah sama dia sambungan teleponnya di matikan. Apakah dia kembali lagi dengan Zhira, istrinya, dan ini menjadi tanda tanya besar untukku!"} Cindy ketika berucap seakan kesal dan kecewa ketika menelepon sahabatnya Clara.
{"Aku juga sudah mencoba menghubungi Bram, tetap sama denganmu tidak di angkat dan pesan pun, tidak satupun yang di balasnya. Tapi kalau untuk kembali dengan Zhira kayaknya nggak mungkin juga, mungkin dia ada perempuan lain!"} jawab Clara, seakan di hinggapi rasa penasaran juga terhadap
Bram.
Mendengar ucapan Clara, Cindy terbakar api cemburu. Jika benar Bram mempunyai wanita lain sungguh Cindy merasa wanita yang tidak dihargai oleh Bram, dia sudah menyerahkan tubuhnya, dan dia sudah berkorban dengan menceraikan suaminya.
***
Dalam hati Cindy di hinggapi rasa kesal yang luar biasa, dia seakan ingin membalaskan dendamnya kepada lelaki tersebut.
Setelah Bram mendesak Cindy untuk segera menceraikan Haris darinya, dan dia berjanji akan menikahi ternyata itu bohong semata.
{"Keuanganku sudah menipis, biasanya Bram memberiku transferan. Mana perusahaan kita bangkrut, dan dua bulan lagi mau tutup. Aku bingung, dan sangat stres! "} Cindy seakan di hinggapi rasa sedih dan khawatir.
__ADS_1
***
Perusahaan yang di tempati kerja Cindy sekarang bangkrut, dan akan tutup dua bulan lagi. Clara pun sang sahabat kena imbasnya, dengan tutup kantor tersebut mereka akan nganggur dan tidak akan bekerja lagi.
{"Kalau Bram bisa di hubungi, kita enak ya? tinggal minta kerjaan sama dia, relasi dia banyak. Nah, sekarang Bram nggak ada kabar, nasib kita coba gimana kedepannya,!} ucapan Clara seakan membuat Cindy tidak semangat.
Dalam hati Clara juga sebenarnya mengkhawatirkan hal ini.
***
Meskipun Bram bekerja di perusahaan sama persis di tempat Cindy bekerja tapi beda kota. Namun Bram tidak perlu khawatir jika perusahaan tersebut bangkrut, dan mungkin kedepannya Bram juga akan kena imbasnya jadi nganggur.
Tapi dia banyak uang dan relasi, jadi kedepannya terserah dia, mau pindah kerja bisa, atau buka usaha pun bisa.
Jadi kalau itu baginya tidak ada masalah.
***
Cindy sekarang sudah cerai, nganggur tidak bekerja pula, dan teman pun yang dia punya dan yang sangat dekat hanya Clara.
Cindy tidak banyak teman yang dekat, karena di otaknya hanya laki-laki jadi waktu terbuang percuma, hanya untuk mengurus lelaki selama ini.
Jika dia punya banyak teman mungkin wawasan dia luas, dan kemungkinan besar untuk bisa melamar kerja kesana-kemari ada informasi.
***
Cindy termangu di dalam kamar, uang yang di berikan Haris hanya cukup buat kebutuhan anak-anaknya, sedangkan gaya hidup dia royal, dia sering berbelanja barang mewah dan nongkrong di Kafe, itu semua membutuhkan uang yang cukup banyak.
{"Aku bingung, apa aku harus menyusul Bram, kerumahnya?'} gumam hati Cindy.
Pikiran Cindy sudah tidak waras.
Ting...
Tiba-tiba pesan muncul dari ponselnya, Haris mengirimkan bukti transfer uang untuk biaya anak-anaknya.
Dalam pikiran Cindy jahat, dia ingin menghibur dirinya dengan pergi jalan-jalan, dan nongkrong dengan memakai uang tersebut.
Kemudian dia menghubungi Clara, dan mengajak Clara untuk pergi.
{"Wah, kamu lagi banyak duit nih, Bram hubungi kamu lagi ya? aku turut senang dengarnya,"} Clara menggoda Cindy.
{"Bukan Bram, yang transfer, tapi Haris! ini uang anak-anak, tapi aku mau pake dulu. Dari pada aku pusing dan stres!'} jawabnya, seakan tidak berdosa.
__ADS_1