
Cindy Gelisah
"Azam..!" gumam, hati Cindy.
Apakah benar itu Azam yang sedang duduk di ruang tamu, Cindy hatinya bertanya-tanya. Dia gelisah tidak karuan. Mengapa Azam ada di rumah Bu Marni, sedang apakah dia.
Tapi mungkinkah dia salah lihat orang, karena badan Azam sekarang terlihat gemuk.
Terdengar di ruang tamu.
"Saya, pamit Bu," tamu tersebut pamit dari hadapan Bu Marni dan Dea.
Bu Marni dan Dea nampak terlihat sumringah dari raut mukanya.
*****
Keesokan harinya.
Cindy termangu di ruang tamu, dia nampak sedang memikirkan sesuatu.
"Loh, jam segini sudah melamun. Ada apa?" tanya Bu Marni.
"Tidak apa-apa, Bu." jawabnya. Mencoba tersenyum walaupun terlihat terpaksa.
Dia memikirkan kejadian semalam, dengan kedatangan Azam ke rumah ini.
Cindy menghela napas panjang. Karena dia ingin menanyakan sesuatu kepada
Bu Marni.
"Bu, maaf semalam ada tamu ya?" tanya Cindy.
"Iya, itu calonnya Dea, hehehe...," Ibu tersenyum malu.
"Ouh,.." jawabnya singkat.
"Dia yang akan di jodohkan sama Dea, namanya Azam, kerja di yayasan," Ibu kembali tersenyum.
***
"Dugaan ku benar, dia Azam," bagi Cindy, seperti di sambar petir di siang bolong mungkin.
Benar dugaannya semalam itu adalah Azam kekasihnya dulu.
Seketika mukanya merah padam, dadanya bergemuruh. Cindy terlihat salah tingkah.
Melihat Cindy salah tingkah Ibu di hinggapi rasa heran dan bertanya kepada Cindy.
__ADS_1
"Ada apa?" ucap Ibu.
"Ng-nggak apa-apa, Bu" ucap Cindy.
"Yasudah Ibu, mau pergi dulu ya, kamu hati-hati di rumah, karena Dea nanti siang mau ke Yayasan nyusul Ibu disana." Ibu berlalu dari hadapan Cindy.
*****
Cindy begitu sedih dan badannya terasa lemah lunglai, dia mungkin malu kalau terus tinggal disana, karena Azam akan mengetahui sosok dia.
Cindy khawatir nanti Azam menceritakan semuanya kepada Dea dan Bu Marni, tentang dia. Cindy sangat tertekan hatinya.
"Aku harus pergi dari rumah ini, kebetulan Dea, siang ini akan pergi, jadi aku ada kesempatan untuk kabur dari sini," air matanya berderai, dia tak kuasa menghadapi situasi seperti ini.
*****
"Kak, kenapa menangis?" Dea tiba-tiba datang menghampirinya. Dia terlihat khawatir kepada Cindy. yang seakan sedih dan banyak beban terlihat dari raut mukanya.
Cindy terkejut ketika Dea, menegurnya.
"A..aku, tidak apa-apa, ko" jawabnya, kemudian dia dengan cepat menghapus air matanya.
"Pasti Kakak bohong, kakak cerita sama aku, sebenarnya sampai Kakak kabur dari rumah itu kenapa," Dea menatap lekat kepada Cindy.
Cindy menggelengkan kepalanya.
"Tidak, aku tidak mau menceritakan semuanya, aibku sangat kotor dan hina. Aku malu dan aku nanti di permalukan jika aku mengungkapkan semuanya kepada Dea. Dia seorang anak yang baik dan santun, aku malu jika menceritakan masa laluku," air mata Cindy, kembali berderai.
"Ayo, cerita Kak, aku akan siap menjadi pendengar Kakak. Ini minum dulu Kak," Dea kemudian memberi air mineral kepada Cindy.
Cindy membuang napas kasar.
"Ayo Kak, cerita. Ayo,..." Dea terus menerus memaksa agar Cindy, berterus terang atau jujur cerita masa lalunya.
Cindy menatap lekat kepada Dea.
Dia pun tidak tahu harus berbicara mulai dari mana dulu.
"Kamu janji tidak akan marah, setelah Kakak menceritakan semuanya?" tanya Cindy terlihat ingin di kasihani oleh Dea, matanya redup, mukanya terlihat memohon untuk tidak menghujatnya.
"Nggak Kak, masa lalu ya tetap masa lalu, Kakak kan sudah mau melupakannya. Asal Kakak tidak mau mengulanginya untuk kedua kalinya." ucap Dea mencoba meyakinkan Cindy.
Cindy memalingkan mukanya dari Dea, dia menghela napas secara perlahan, mungkin justru itu dia mengulangi kesalahan yang sama, dari dulu. Makannya dia takut jika Dea membencinya.
"Aku kabur dari rumah, karena aku merepotkan orang. Keadaanku lumpuh. Aku sadar diri, mungkin saudaraku sekarang sedang mencari keberadaanku...," Cindy tidak meneruskan bicaranya, dia kembali mengatur napasnya.
"Aku mempunyai anak, dan anak-anakku tidak mau bertemu denganku, dia dibawa adik dari suamiku..," sambungnya.
__ADS_1
"Kakak kasihan sekali nasibmu, kenapa saudara Kakak dan suami seperti tidak sayang sama Kakak. Padahal Kakak orang baik," ucap Dea menatap Cindy.
"Tidak, aku bukan orang baik!" Cindy seakan sinis jika mengenang masa lalunya itu.
Lalu Cindy menceritakan semua masa lalunya kepada Dea.Tidak ada yang dia tutupi.
Mendengar semua penjelasan dari Cindy, tentang masa lalunya Dea seakan benci dia berpikir Cindy, adalah perempuan kotor dan mengapa dia ada di rumah ini.
"Kamu jahat Kak..!" sorot matanya tajam tertuju lekat ke bola mata Cindy.
Cindy terkejut ternyata Dea benci dengan masa lalunya.
"Aku sekarang sudah mau taubat," dia seakan memelas kepada Dea, Cindy seakan ingin di kasihani oleh Dea.
"Nggak, nggak mungkin. Itu Kakak berselingkuh sudah 3x dan Kakak tidak mencintai anak. Kakak orang jahat!" Dea tersengal-sengal ketika berucap.
"Aku mau insyaf, Dea. Apakah itu salah!" ucapnya memohon, dan terisak tangis.
"Aku tidak percaya terhadap orang licik seperti Kakak! lebih baik keluar..! keluar dari rumah ini!" Dea seakan tidak bisa menahan amarahnya.
"Semua orang pasti ada segi masa lalunya. Buktinya dengan Azam!" Cindy seakan tidak bisa menyembunyikan lagi sosok Azam sebenarnya, dari hadapan Dea. karena dia merasa terpojok.
"Azam, Kakak kenal? atau jangan-jangan Azam juga pernah berhubungan dengan Kakak!" mata Dea terbelalak ketika Cindy mengucapkan nama Azam.
Cindy terdiam tidak bicara.
"Jawab..! kakak mengenalnya?" Dea kembali bertanya.
Cindy tersenyum sinis.
dia menganggukkan kepalanya.
Dea terlihat dari mukanya begitu emosi.
"Aku tidak mau kalau begitu, dekat dengan lelaki itu! sekarang kamu keluar..keluar!" rasa kesal dan amarah Dea, seakan tidak terbendung.
Cindy kemudian berlalu ke kamar, dan dia membawa tas yang dibawanya beberapa hari.
Setelah mengambil tas miliknya.
"Maafkan aku, kamu orang baik Dea, Kakak menyangka kamu akan ikhlas menerima kenyataan masa lalu Kakak yang kelam, tapi ternyata tidak," Cindy berlalu dari rumah itu.
Kursi roda dia lajukan, dengan pelan. Seperti tidak ada lagi tenaga.
*****
Dea menghempaskan badannya di kursi. Terasa sesak dadanya, dalam bayangannya terasa nampak wajah Azam, seakan sedang mentertawakan nya. Azam dan Cindy seperti mengolok-oloknya.
__ADS_1
"Aku salah orang, tidak...aku tidak mau, menikah dengan dia!" Dea terisak tangis.
Kedua telapak tangannya menutup penuh mukanya, dia seakan menyalahkan dirinya sendiri.