Pengkhianatan Seorang Istri

Pengkhianatan Seorang Istri
Bab 86 Zhira Terkejut


__ADS_3

Akhirnya Friska pun keluar dari Kafe tersebut. Entah mengapa dadanya terasa lega.


"Akhirnya aku bisa menghirup udara segar," gumam Friska setelah dia berada diluar kafe.


Friska berjalan menuju mobilnya yang sedang di parkir, disana ada Zhira dan Wisnu.


"Bawa apa itu?" tanya Zhira matanya lekat menatap kantong keresek yang dibawa Friska .Karena isi kantong tersebut sangat banyak.


"Gak tahu, dari pemilik Kafe ini di kasih," jawab Friska.


"Ko, bisa?" tanya Wisnu keheranan.


"Ya, temanku ternyata temannya, pemilik Kafe ini," Friska mencoba menerangkan kepada mereka berdua.


Wisnu dan Zhira seakan dihinggapi rasa penasaran, dan mereka mengernyitkan dahi. Pertanda tidak puas dengan jawaban Friska. Karena baru saja mampir ke Kafe tersebut, sudah diberikan hadiah oleh sang pemilik Kafe. Memangnya Kafe tersebut milik nenek moyangnya. 🤭


"Pasti masih muda sang pemilik Kafenya?" canda Zhira.


"Iya, ganteng juga sih," tersipu malu Friska ketika berucap.


"Wah, jadi penasaran," ejek Zhira.


"Sudah, sudah, jangan membicarakan lelaki, Kalian sudah mempunyai pasangan!" ketus Wisnu, seakan di hinggapi rasa cemburu.


Friska dan Zhira tertawa terkekeh, seakan malu.


***


Mobil pun melaju kencang menuju ke Bandung, terlihat Friska tertidur pulas. Posisi duduk Friska seperti pertama pergi ke Bogor dia duduk di belakang.


Zhira fokus ke layar ponsel, dia terlihat serius memainkan game nya.


"Sayang, lapar tidak?" Wisnu melirik kekasihnya itu.


Zhira spontan melirik Wisnu, dia lalu tersenyum dan menganggukkan kepalanya.


"Mau makan Mas?" tanya Zhira.


"Mau...." jawabnya.


"Kita berhenti dimana dulu. Biar Mas, istirahat juga kasian capek. Atau gantian sama aku saja, aku yang pegang kendali untuk menyupir," Zhira memandangi Wisnu.


"Mau roti saja, ambil di keresek!" suruh Wisnu. Zhira dengan cepat membuka sebungkus roti rasa coklat kemudian dia menyuapi Wisnu.


***


Arrghh...


Friska menggeliatkan badannya, seakan lelah terasa badannya itu lalu dia mengucek matanya.


"Sudah sampai mana ini?" tanyanya.


"Bentar lagi, satu jam lagi!" ucap Zhira pandangannya spontan melirik ke belakang.


"Aku nyenyak banget barusan tidur. Aku mimpi loh!" Friska menghela napas panjang.


"Mimpi lelaki ganteng yang ada di kafe!" ejek Wisnu. Dia tertawa terbahak.


Friska dan Zhira pun ikut tertawa.

__ADS_1


***


"Wisnu lapar, gimana kalau kita istirahat bentar. Di depan nanti ada rumah makan yang enak kita berhenti disana" ucap Zhira.


"Boleh," ucap Friska singkat.


Mereka pun melepas lelah dan istirahat untuk makan, karena di hinggapi rasa lapar mengakibatkan perut keroncongan.


Satu jam sudah mereka melepas lelah di rumah makan tersebut. Setelah mereka selesai mengisi perutnya lalu mereka pun, kembali melanjutkan perjalanan pulang ke kota Bandung.


***


Tiga jam kemudian.


"Akhirnya kita sampai juga di tujuan!" Wisnu membuang napas kasar.


"Alhamdulillah," Friska keluar dari dalam mobil.


Sementara Zhira mengeluarkan sebagian barang, yang ada di dalam mobil.


Mereka berhenti di Kafe milik Haris, dan setelah itu akan langsung menuju ke Lembang, ke rumah Friska.


"Kita ke Kafe dulu ya, gak apa-apa kan? mau lihat kondisi, Mas Haris yang sedang sakit," Friska mengajak Zhira, untuk melihat kondisi Haris yang sedang sakit.


**


Muka Haris nampak pucat, tubuhnya memakai jaket tebal.


"Mas, kita ke dokter saja ya?" Friska di hinggapi rasa khawatir.


"Nggak, aku sudah agak mendingan ini. Perlu istirahat saja kecapean," Haris terlihat lelah.


"Wah, banyak banget. Buat ke Ibumu sudah di pisahkan?" tanya Haris.


"Sudah di simpan di dalam mobil," sambung Friska.


Lalu Haris mengomeli Friska, jangan menghamburkan uang, atau bersikap boros untuk hal yang tidak perlu. Belajar hemat karena sebentar lagi akan menikah.


Friska tertunduk.


"Ini semua pemberian ko," Zhira dengan cepat membela saudaranya itu.


Zhira menceritakan semua. Seorang lelaki temannya, dari teman Friska yang mempunyai Restoran mungkin menyukai Friska, jadi di berikan oleh-oleh untuknya dengan begitu banyak.


Haris menekuk mukanya, terlihat cemberut. Dia di hinggapi rasa cemburu.


*****


Kemudian Viona menelepon Friska, dan menanyakan kabar. Apakah dia sudah sampai di Bandung?


Friska begitu serius ketika berbicara dengan Viona, masalah anaknya yang terkena depresi.


Melihat Haris terdiam tidak berbicara sedikitpun, Wisnu dan Zhira pun terdiam.


*****


Friska akhirnya menutup sambungan teleponnya.


"Ini loh, lelaki pemilik Restoran yang tadi bikin aku kesal!" Friska memperlihatkan foto Bram kepada Zhira.

__ADS_1


"Hahhhh....apa aku tidak salah lihat!" Zhira matanya terbelalak. Jantungnya berdegup kencang. Rasa panas terasa membakar hatinya.


"Ini kan Bram, mantanku!" Zhira emosinya seakan tak terkendali.


****


Zhira dan Friska saudara, tapi Friska sampai saat ini tidak tahu muka dari Bram.


Pernikahan Bram dan Zhira dulu tidak mengundang keluarga jauh, hanya kedua orang-tua dan saudara kandungnya.


****


Mendengar nama Bram, sontak raut muka Haris terlihat kesal.


"Bram lagi, Bram lagi...Awas ya!" gumam hati Haris, seakan ingin membalaskan dendam nya.


Wisnu pun menundukkan pandangannya, karena melihat Haris terlihat kesal dan menahan amarah.


"Padahal tadi kamu ke atas, menghampiri Friska. Kan kamu bisa menamparnya!" Haris Terlihat geram.


"Friska, memangnya tahu suami dari Bram, selama ini?" tanya Wisnu.


"Dulu keluarga kita sempat pecah, dan pas Zhira menikah, keluargaku tidak di undang. Hanya dengar saja kabar Zhira menikah, dan pas nikah pun, tidak mengundang keluarga besar." Friska menatap Zhira.


*****


Mendengar ucapan Haris, yang terlihat geram, dan menyuruh Zhira untuk menamparnya. Zhira seakan ada dorongan yang kuat untuk membuat Bram agar mendapatkan karma yang lebih sakit yang dirasakan olehnya.


Terutama Cindy.


"Mantanmu sekarang tinggal di Bogor. Di daerah mana?" Zhira seakan ingin mengetahui secara detail kepada Haris.


Haris kemudian menyebutkan alamat dimana, Cindy berada.


*****


Zhira pandangannya seakan kosong, dia kembali mengingat masa lalunya.


"Wanita itu sudah menghancurkan rumah tanggaku, terasa berkeping-keping rasanya, aku sangat terluka. Suamiku sudah rujuk denganku, tapi wanita ini kembali mengejar suamiku lagi. Jadi suatu saat akan aku balasksn dendam," gumam hatinya Zhira terlihat kesal dan menahan amarah.


****


"Zhira..." Wisnu menepuk pelan pundak kekasihnya itu yang. sedang melamun.


"Sabar Sayang, lupakan masa lalu. Kita akan melihat masa depan," Wisnu lekat berbisik ke kuping kekasihnya itu.


"Aku tidak ikhlas, dengan wanita sialan itu!" muka Zhira menatap Haris


Haris menyadari yang di maksud Zhira itu adalah Cindy.


Wisnu memeluk erat kekasihnya itu dan dengan erat menggenggam jemarinya.


Air mata Zhira mengucur deras, dadanya terasa sesak


*****


"Kita sama-sama terluka dengan pasangan kita. Kita saat ini sudah mempunyai pasangan yang lebih baik. Aku harap semoga kedepannya menjadi pelajaran bagi kita semua," ucap Haris.


Friska pun merasakan haru, dengan semua apa yang sedang terjadi.

__ADS_1


__ADS_2