
Bonar dan Reynold tertawa lepas tatkala Bram, meringis menahan sakit, karena baru saja dia dipukul oleh Bonar, yang mengakibatkan babak belur badannya.
Matanya Bram terluka cukup serius, pandangannya kabur.
"Aku mau pergi sebentar. Kau, jaga si Breng*ek itu!" ucap Bonar, kepada Reynold,"
"Tenang lah, dia pasti nggak akan kabur meskipun dia tidak di ikat juga, karena matanya sudah babak belur gitu, pandangan dia kabur," jawab Reynold.
"Nih, untuk kau!" Bonar melempar botol yang berisi minuman yang memabukkan.
Reynold tersenyum lebar ketika temannya itu memberikan minuman tersebut.
Bonar berjalan ke arah Bram, kemudian dia memberi makan, nasi bungkus. Tali yang mengikat tangan Bram, dia lepas.
"Makan kau, sudah beruntung aku kasih makan!" ucap Ronal.
Kemudian suara bunyi telepon terdengar dari ponselnya milik Bonar, setelah melihat yang menelepon kekasihnya, sontak dengan cepat dia berlalu dari hadapan Bram, menuju ke teras rumah.
Begitu asik dan gembira terlihat dari wajah Bonar, ketika menerima sambungan telepon dari pacarnya tersebut.
Reynold membuka tutup minuman yang diberikan oleh Bonar. Reynold terlihat begitu menikmati minuman tersebut.
"Rey..! aku pergi dulu. Kamu tunggu orang itu, dia lagi makan," telunjuk Ronal mengarah ke Bram, yang sedang duduk dengan kaki masih terikat ke arah kursi. tapi tangannya sudah di lepas oleh Bonar.
Bram nampak sedang berpikir dia mau kabur dari ruangan tersebut.
"Ini saat yang tepat, karena si Kepara*t mau keluar, dan satu lagi dia lagi dalam keadaan mabuk. Reaksinya mungkin satu jam kemudian dia tidur habis mabuk," gumam hati Bram. Dia melihat Reynold, sedang meneguk minuman yang memabukkan itu. Bau alkohol tersebut begitu menyengat penciumannya.
*****
Bonar pun berlalu dari hadapan Reynold.
"Aku mau buang air kecil!" Bram berteriak.
Reynold matanya melirik ke arah Bram, dari arah ruang depan.
"Kau sudah gede, masa mau buang air kecil saja harus bilang sama aku, dasar beg*!" Reynold menatap tajam kepada Bram. Matanya merah karena pengaruh dari minuman yang memabukkan itu.
*****
Bram kemudian berjalan menuju kamar mandi dengan menggusur kakinya, pandangan dia kabur, dengan perlahan dia menginjakkan kakinya itu sedikit demi sedikit.
"Brukk.." Bram terjatuh.
Reynold, tertawa terbahak melihat Bram, terjatuh. "Bangun! jangan sampai, Kau mau aku bantu untuk berdiri," ucap Reynold, Badannya Reynold, rebahan ke kursi karena mulai terasa pusing kepalanya. karena sudah meminum, minuman yang berakohol.
***
Bram merencanakan sesuatu.
"Dasar B*doh, aku pura-pura jatuh, biar kamu percaya aku tidak ada tenaga dan terlihat lemah. Jika aku kuat kamu berhati-hati terhadap aku. Tapi kalau aku lemah pasti kamu tidak akan memperdulikan aku," gumam hati Bram, tertawa sinis kepada Reynold.
Bram pura-pura dengan berjalan ngesot, ke arah kamar mandi. Tapi dia menunggu sampai Reynold tertidur. Setelah mata Reynold mulai terlihat ngantuk. lalu Bram kembali berjalan ke arah kamar mandi.
__ADS_1
Sesudah berada di kamar mandi, pandangan Bram begitu lekat ke arah Reynold, dia melihat dari arah kaca jendela kamar mandi. Matanya berselancar ketika dia berada di ruang kamar mandi tersebut.
Di atas bak mandi, kebetulan ada kaca jendela yang lumayan besar lubang jendelanya. Ide untuk kabur akhirnya bisa dia wujudkan dengan cara akan melompat dari arah kaca jendela tersebut. Lalu dia mencari sesuatu di kamar mandi tersebut untukbisa membuka tali yang mengikat kakinya.
"Akhirnya aku menemukan pisau karter, meskipun sudah berkarat tapi akan aku usahakan untuk membuka tali kain ini," gumam hati Bram.
Kemudian dengan sekuat tenaga dia membuka tali yang mengikat kakinya.
Dan setelah beberapa menit kemudian, akhirnya terbuka juga tali tersebut.
Kemudian pandangan Bram, mengarah ke Reynold yang sedang tertidur di kursi dengan botol minuman yang tergeletak dibawah kursi.
"Aman, saatnya aku pergi dari sini!" gumam hatinya. Kebetulan hari sudah mulai gelap karena menjelang maghrib. Hujan pun mulai turun gerimis.
Bram naik ke atas bak mandi, kemudian dia, membuka jendela kamar mandi dan akhirnya dia melompat ke arah luar.
Bram mengatur napasnya secara perlahan, dag-dig-dug terasa jantungnya.
Kemudian dia menyusuri pepohonan rindang yang berada di sekitar tempat itu.
\*\*\*
Lelah pun tidak dia rasakan karena, pikiran dia ingin secepatnya, keluar dari area tempat itu dan takut Reynold mengejarnya.
"Aku bisa, aku harus lolos. Tidak boleh orang-orang Kepar\*t, itu mengejarku." gumam hati Bram.
Peluh bercucuran, pandangan dia kabur, badannya sudah mulai lunglai terasa, akhirnya dia beristirahat duduk di pohon rindang, napasnya tersengal-sengal.
Bram menangis, entah kenapa dia teringat Ibunya. Bram memejamkan matanya, air matanya menetes seakan Ibunya memanggil namanya. Ibunya terus memanggil-manggil dirinya.
"Bram, kamu harus taubat, Nak!" entah mengapa seakan Ibunya mengucapkan kata itu, dan Bapaknya Bram, hanya menunduk dan terisak tangis. "Ini salahku, aku tidak bisa mendidik anakku dengan baik," Bapaknya Bram, seakan meratapi dirinya.
"Tidak..aku harus segera bangkit, aku tidak boleh menyerah, aku harus kuat berjalan!" Bram kembali berucap dalam hatinya.
Akhirnya Bram meneruskan jalannya, rasa lelah dan sakit pun dia terjang.
Tak terasa begitu lama Bram, menyusuri pepohonan yang dilewatinya.
__ADS_1
Dari kejauhan sudah terlihat ada cahaya lampu. Hatinya begitu lega, dia berpikir sudah sampai di rumah penduduk.
Wajah Bram akhirnya bisa tersenyum.
Bram mempercepat langkahnya untuk sampai di tempat penduduk tersebut.
\*\*\*\*\*
Bram pun, tiba di rumah penduduk yang masih renggang rumahnya, tidak banyak rumah penduduk disana.
Nampak terlihat jalannya gontai, dia sangat capek dan letih.
"Nak mau kemana?" tiba-tiba pundak Bram ada yang menepuk.
Bram dalam keadaan capek dan melamun, dia sangka yang menepuk pundaknya itu adalah Reynold atau Bonar, dia sontak terkejut. Dia lari menyebrang jalan.
Brukkk...
Tiba-tiba dari arah belakang ada mobil truk yang menabraknya.
Bram bersimbah darah, dan dia tidak sadar.
\-Bersambung-
\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_
\*🥰🥰🥰\*
Baca juga Novel terbaruku berjudul
\*Pernikahan Dua Hati\*
\-Sinopsis-
Setelah selesai mengucapkan ijab kabul sejatinya ada rasa gembira pada setiap pasangan. Namun tidak dengan Bianca.
Rama sang suami harus segera meninggalkan sang istri karena Rama harus menikahi wanita lain. Hati wanita mana yang tidak terluka, ketika sang suami di malam pertama harus pergi meninggalkannya.
Mungkin rasa sesak dan luka terasa pilu, merasuki hati sang wanita karena dia sedang mengandung buah cinta dari lelaki tersebut.
__ADS_1
Bismillah Novel keduaku 📚🥰