Pengkhianatan Seorang Istri

Pengkhianatan Seorang Istri
Bab: 62 Pertemuan Kembali


__ADS_3

Dalam perjalanan pulang ketika mengendarai mobil menuju Bandung, hati Haris di hinggapi rasa khawatir kepada Cindy.


Sungguh diluar dugaannya, kondisi Cindy sekarang seperti itu. Lumpuh, seakan depresi dan tertekan.


Haris menghela napas panjang.


Melihat Kakaknya seperti sedang kebingungan, dan sedang ada yang dipikirkan, akhirnya Hana sang adik mencoba menghiburnya.


"Sebelum ke rumah yang di Bandung, gimana kalau kita mampir ke daerah Lembang?


Disana ada tempat rekreasi yang bagus


namanya De Ranch. Wisata ala koboy yang unik. Tempat itu populer di Bandung dan tempatnya sangat strategis. Rara katanya mau menunggang kuda, dan bisa berkuda dengan kostum Koboy. Pasti Rara akan senang. Mas, gimana kalau kita mampir kesana? Rara mau kan kalau Tante, ajak kesana?" Hana menatap Haris, kemudian melirik keponakannya tersebut.


Hana mencoba melumerkan suasana di dalam mobil yang nampak sunyi senyap.


Rara yang sedang tertunduk, mendengar ucapan Tantenya, mengajaknya untuk menunggang kuda, langsung bibirnya tersenyum lebar.


Dalam pikirannya dia ingin sekali dari dulu menunggangi kuda bersama Mama dan Papanya, tapi apa daya mereka selalu sibuk, jadi sampai sekarang niat tersebut tidak kesampaian.


"Mau, mau kesana!" Rara merengek, dan merasa senang. Terlihat dari cara bicara dan gestur tubuhnya.


Melihat sang anak kembali tersenyum, dan terlihat gembira, Hati Haris pun nampak senang.


"Iya boleh, kita mampir kesana dulu," Haris tersenyum lebar kepada anaknya itu.


Hana pun merasa senang akhirnya sang Kakak, bisa kembali bicara tidak terus-menerus sedih memikirkan Cindy.


***


Sesampai di daerah Lembang, Hana mengarahkan petunjuk jalan kepada Haris.


Sepertinya Haris sudah tidak asing lagi dengan jalan yang dia tuju.


"Ini kan arah jalan mau ke rumah Friska!" gumam hati Haris.


"Belum pernah ke daerah sini ya, Kak?" tanya Hana, menatap lekat kepada Haris.


"Ini arah jalan yang mau ke Friska, kamu tahu kan Friska, yang dulu suka main ke rumah, teman Kakak kuliah," ucap Haris.


***


Hana seakan mengingat masa lalu, dia kembali mengingat-ingat, teman-temannya Haris satu persatu, karena begitu banyak. Setelah Hana ingat kepada sosok Friska, akhirnya dia tersenyum lebar.


"Friska, yang cantik, yang jadi rebutan anak-anak kampus?" tanya Hana.


Haris menganggukkan kepala, dan tersenyum renyah.


"Kita mampir saja ke rumahnya Kak.


Hana sudah lama tidak bertemu," Hana di hinggapi rasa rindu kepada teman Kakaknya itu.


"Boleh, nanti kalau masih ada waktu," padahal di hati Haris di selimuti rasa malu, jika harus mampir ke rumah Friska.


Apalagi kedatangan dia rombongan, 🤭


***


Sesampai di lokasi yang di tuju, nampak Rara sangat gembira begitupun dengan Reza, tertawa lepas seakan tidak ada beban. Kesedihan dan rasa kecewa yang semenjak dari kemarin rnenyelimuti dada seakan sirna.


Anak-anak tersebut seakan lupa, atas kejadian sebelum mereka tiba di tempat rekreasi, yaitu bertemu dengan Mamanya, yang sedang terkujur lemah dan tidak berdaya.


"Mas, kita jadi kan ke rumah Friska?" tanya Hana, sang Adik.


Haris tertegun sejenak, seakan serba salah, mau menolak takut Hana tersinggung, tapi jika datang ke rumah Friska, malu karena yang datang tidak dia sendiri tapi banyakan.


"Besok saja, Friska suruh datang ke Kafe, jadi ngobrolnya biar santai," ucap Haris, memberikan alasan.


***


Setelah menikmati suasana di tempat wisata tersebut, kemudian mereka pulang menuju rumah, kebetulan jarak antara rumah dan Kafe berdekatan.

__ADS_1


Tiba-tiba Fani, karyawan Haris datang membawa air teh hangat dan makanan cemilan yang ada di Kafe.


"Pak, tadi Bu Friska, dongkap Kadie," ucap Fani, mengabarkan bahwa Friska tadi datang ke Kafe tersebut.


"Ah, telat dong, padahal ingin sekali bertemu dengan Friska," jawab Hana, sambil meneguk air teh hangat yang baru saja di sodorkan oleh Fani.


***


Haris seakan sibuk memainkan ponselnya, dan matanya nampak terlihat berbinar.


Ting...


pesan muncul dari ponsel Haris.


{"Aku tadi menunggu kamu, lama loh,"} tulis pesan dari Friska.


Haris tersipu malu, seakan dia oleh Friska di butuhkan dan di rindukan 🤭


"Maaf, maaf, aku baru pulang," ucap Haris, dalam hatinya berbunga-bunga.


"Gimana Cindy, apa dia sehat?" Friska seakan masih peduli dengan keadaan mantan Haris.


"Besok saja, kita bahas nya," jawabnya singkat.


"Jadi kita bahas apa sekarang?" tanya Friska lagi.


"Bahas kita," Haris seakan malu untuk mengetik kata tersebut, di tambah dengan emotion malu 🤭


Sontak Friska tertawa terbahak, karena Haris bisa juga menulis pesan gombal. 😂


***


Malam pun tiba, Haris seakan gelisah, entah mengapa dia terbayang sosok Friska, semenjak perceraiannya dengan Cindy dia tidak pernah bertemu dengan Friska, padahal mereka sama-sama tinggal di Bandung.


Cindy, sang mantan yang sedang sakit, seakan dia lupakan. Padahal baru tadi pagi dia melihat kondisi sang mantan kakinya lumpuh tidak berdaya. Mungkin karena rasa kecewa yang di torehkan Cindy, kepada Haris sangat amat menyiksa batin Haris, yang menyia-nyiakan suaminya jadi Haris sudah tidak peduli meskipun Cindy terkujur lemah.


***


Bandung, Oktober 2022


Friska menjadi kekasihku


Apa dia mau?


Tapi...


Mana mungkin Friska, mau sama aku


Friska wanita cantik dan cerdas


Friska seorang dokter


Yang mau sama Friska banyak


Aku pemalu


Aku tidak PEDE


Mukaku pas-pasan


Andai saja, dia mau sama aku


Boleh kan, berandai-andai


Mungkin aku hanya pengagum mu saja


Cukup di pendam saja rasa ini


_____________


Dadaku bergemuruh tidak karuan

__ADS_1


ketika ku tatap lekat kedua bola matamu


Seakan ada getar asmara


Tapi mungkinkah dirimu merasakan hal yang sama seperti diriku


Aku pun tidak tahu


Andai saja, kamu menerima cintaku


pasti tidak akan ku sia-siakan


Jangan di tanya kapan rasa itu datang


Aku pun tidak tahu


__


Pengagum mu


Haris ❤️


***


Haris menumpahkan semua isi hatinya, di secarik kertas.


Dia pun tersenyum sendiri, sambil menatap langit-langit di kamarnya.


***


Keesokan harinya, Haris terlihat sibuk karena ada tamu dari Cianjur.


Fani karyawan Haris sedang membereskan ruangan Haris. Dan Fani menemukan tulisan


di secarik kertas, tergeletak di bawah meja dengan keadaan yang sudah lusuh.


Kemudian dia baca tulisan tersebut, Fani tertawa dan tersipu malu.


Tulisan tersebut lalu dia lipat dan Fani masukan kedalam saku celananya.


***


Sore itu tepat pukul lima sore, Friska pun datang ke Kafe milik Haris.


Nampak mukanya berseri, dia terlihat sangat cantik sekali, dengan memakai Blazer dan jeans di tambah dengan polesan lipstick warna peach.


Senyumnya merekah, dia duduk di ujung Kafe, lalu Friska pun mengeluarkan laptopnya.


Di seberang tempat duduk Friska ada suara gemericik air karena di sana ada ikan koi, daun-daun berwarna hijau berjejer, di sekitar tempat Friska duduk.


Terasa sejuk mata memandang dan sesekali Friska bisa menatapnya, jika keadaan matanya telah jenuh menatap layar laptop.


***


"Bu, tos lami dongkap? sok atuh, bade pesen naon?" tanya Fani tiba-tiba datang menghampiri Friska, dan dia pun bertanya kepada Friska kedatangannya sudah lama belum, kemudian Fani pun menawarkan kepada Friska, mau memesan apa.


"Bapak, nuju sibuk nya?" Friska menanyakan, apakah Haris sedang sibuk.


Fani menganggukkan kepala, terlihat dia ingin membicarakan sesuatu kepada Friska. Lalu dia merogoh secarik kertas di dalam saku celananya, pandangan mata lekat ke Friska dan tertawa lebar. Friska di hinggapi rasa heran dan penasaran.


Fani mengepalkan secarik kertas itu ke Friska.


"Tadi Fani menemukan secarik kertas di meja Bapak, tapi kayaknya mau di buang ke wadah sampah, karena kertas tersebut tergeletak di bawah meja dalam keadaan lusuh sudah di kepal, oleh tangan Bapak. Karena Fani penasaran jadi Fani ambil saja," kertas tersebut lalu di serahkan kepada Friska.


Mata Friska membulat membaca secara detail isi tulisan di kertas itu. Sontak Friska tertawa lebar setelah membaca isi tulisan yang tertulis di secarik kertas tersebut 🤭😂


"Bapakmu, lucu Fan, terlihat kaku tulisannya, tapi dia berusaha untuk romantis. Kalau menurut aku," dalam hati Friska di hinggapi rasa berbunga-bunga, ternyata Haris diam-diam jatuh hati kepadanya.


"Bu, jangan bilang-bilang, sama Bapak," mungkin niat Fani ingin menjodohkan Haris dengan Friska.


Karena Fani berpikir, Haris tidak akan berkata terus terang kepada Friska, sampai kapanpun jika dia suka sama Friska, karena Haris orangnya sangat pemalu dan kaku.

__ADS_1


Jadi Fani harap dengan dia memberikan ungkapan yang di tulis Haris kepada Friska, setidaknya dapat membuka hati Friska.


Fani begitu yakin Friska juga menyukai Haris, namun Friska menunggu saat, dimana Haris bisa mengungkapkan semua isi hatinya kepada dirinya.


__ADS_2