Pengkhianatan Seorang Istri

Pengkhianatan Seorang Istri
Bab 58 Cindy Kecelakaan


__ADS_3

Cindy pun menggadaikan sertifikat rumah, yang dia tempati sekarang tanpa sepengetahuan Haris.


"Jadi perlu uang berapa?" ucap orang yang akan meminjamkan uang tersebut.


Cindy menyebutkan nominal angka uang yang akan dia pinjam, dan sang peminjam uang, akhirnya memberikan uang kepada Cindy, dengan jumlah uang yang cukup besar.


***


Cindy bersama Azam mencari tempat untuk usaha, dan kebetulan ada tempat yang kosong, dekat yayasan yang tempati oleh Azam.


***


Cindy akhirnya menempati tempat tersebut dan membeli semua peralatan yang di butuhkan, untuk usahanya dengan di antar oleh Azam.


***


Hari-hari Cindy di sibukkan dengan berjualan, nampak dia gembira karena Azam selalu setia menemani, tentunya di saat waktu senggang dia, ketika di yayasan.


***


"Gimana usaha adikmu, lancar?" tanya Cindy ketika Azam, sedang berkunjung ke tokonya.


Azam kembali mengeluh usahanya belum begitu stabil, karena uang yang di kelola untuk usahanya, terkadang terpakai untuk berobat ibunya.


Cindy pun kembali memberikan sejumlah uang untuk Azam.


Terlihat Azam sangat senang sekali dan tersenyum bahagia.


***


Hari itu tepat hari minggu, Cindy kembali berbohong kepada Haris dengan meminta sejumlah uang untuk keperluan anak-anaknya.


Dia berdalih untuk pembayaran di sekolah, dan Rara butuh berobat karena sakit.


***


{"Sakit apa, Nak?"} tanya Haris di sambungan selular teleponnya.


Rara di paksa Cindy, untuk berbohong kepada Papanya,


{"Demam,"} ucap Rara, lirih.


Rara ketika berucap, pandangannya di tekuk seakan takut oleh sang Mama.


Mendengar anak sang majikan di paksa untuk berbohong, hati Mbak Eka merasa iba dan kasihan.


***


Kemudian Cindy pamit kepada Rara dan Mbak Eka, keluar untuk membeli peralatan membuat kue, karena ada yang kurang.


Karena jarak antara rumah dan toko peralatan kue dekat maka Cindy pergi memakai kendaraan beroda dua.


***


Telepon Cindy berbunyi tanda panggilan masuk, nampak Cindy tersenyum karena yang menelepon adalah Azam.


Cindy merogoh ponselnya yang ada di saku celana, padahal dia sedang dalam keadaan mengendarai motor.


Tiba-tiba datang mobil dari arah kanan dengan kecepatan yang sangat kencang, dan akhirnya.


Bruk...


Cindy pun tertabrak mobil tersebut,


Samar-samar terdengar orang berbicara, dan kerumunan orang menghampirinya, namun terlihat remang juga nampak oleh Cindy.


Badan Cindy terasa lemah lunglai, lemas, seakan tidak berdaya, saat dua orang menggotongnya kedalam mobil.


Mata Cindy terasa berat, akhirnya Cindy pun menutup mata dia tidak ingat apa-apa lagi.


***


"Bu, apa benar ini rumah Bu Cindy?" dua orang Bapak, datang kerumah Cindy, dengan napas tersengal, dia mencoba menceritakan kejadian yang menimpa Cindy.

__ADS_1


Kemudian dia memberikan secarik kertas, disana tertulis nama rumah sakit dimana Cindy sedang di rawat.


***


Setelah mendengar kabar tersebut, Mbak Eka terkejut, dia di hinggapi rasa tidak percaya.


Kemudian dia mencoba menghubungi Haris namun ponselnya tidak di angkat.


"Mungkinkah ini karma, akibat dari berbohong terus sama, Pak Haris?" Mbak Eka di hinggapi rasa khawatir yang begitu dalam kepada Cindy.


***


Tak lama kemudian Azam datang ke rumah Cindy, ketika di beri kabar bahwa Cindy kecelakaan, Azam pun dengan segera mengunjungi Cindy, yang sedang berada di rumah sakit.


***


"Mbak, ada apa tadi menelepon?" tanya Haris, menelepon kepada Mbak Eka.


Haris sedang rapat jadi dia tadi, tidak bisa mengangkat sambungan teleponnya.


Lalu Mbak Eka menceritakan semua yang terjadi kejadian yang menimpa Cindy.


"Mbak, Bapak sibuk hari ini, mau ada tamu dari luar kota. Nanti saja Bapak kabarin keluarganya Cindy, untuk menjenguknya." jawabnya.


Haris nampak terdengar dari suaranya, di hinggapi rasa khawatir dan terkejut.


Haris pun berpikir dia sekarang bukan suaminya, untuk apa dia memikirkan mantannya, toh Cindy masih ada keluarganya.


Tapi Cindy, Mama dari anak-anaknya juga.


Haris di hinggapi rasa bingung, apakah dia harus datang segera atau nanti saja, jika urusan sudah beres dia akan menemui Cindy.


Haris menghela napas secara perlahan,


"Nanti saja, aku datang bersama Wisnu, karena tamu dari luar kota ini sangat penting tidak boleh aku tinggalkan," jawab Haris lagi.


***


***


Cindy sedang di tanggulangi oleh UGD, terlihat dia sangat kritis keadaannya.


Terlihat keluarga dari Cindy satu persatu berdatangan.


"Mbak, Haris suaminya Cindy tidak datang, dia kemana?' tanya tantenya Cindy, berbisik pelan kepada Mbak Eka, di ruang tunggu.


"Sibuk, mungkin nanti sore atau besok, baru bisa kesini," jawab Mbak Eka.


Saudara dan Mbak Eka tidak mengetahui jika Cindy dan Haris sudah berpisah, yang mereka tahu Haris tetap saja seperti dulu, dia kerja di luar kota dan datang sebulan sekali untuk mengunjungi keluarganya ke Bogor.


***


Tante dari Cindy menelepon,


{"Nak Haris, Cindy harus membayar biaya administrasi ke rumah sakit,"} Tante Bela, nama dari Tantenya Cindy, mencoba menghubungi Haris.


Haris menghela napas panjang,


kemudian dia mencoba menerangkan ke Tantenya Cindy, bahwa dia sudah tidak ada hubungan apa-apa lagi dengan Cindy atau sudah cerai.


Sang Tante sangat terkejut, karena selama ini dia tidak mengetahui jika Cindy telah bercerai dengan Haris.


"Saya tidak tahu apa-apa, kan masih ada keluarganya, coba minta bantuan mereka saja untuk masalah pembayaran rumah sakit," Haris mencoba menerangkan kepada Tantenya tersebut.


{"Jadi ini gimana ya, biaya pembayaran untuk pengobatan Cindy?"} tanyanya lagi.


{"Cindy kan, masih banyak keluarganya,"} jawab Haris, kembali mengucapkan bahwa Cindy masih ada keluarganya.


Tante Bela pun terdiam, tidak bisa berkata-kata apa.lagi.


***


Wisnu mendengarkan obrolan antara Haris dan tantenya Cindy,

__ADS_1


"Nah gitu, kamu harus tegas, jangan selalu mengasihani mantanmu. Matamu seakan di buta kan oleh Cindy selama ini. Jika sekarang yang jadi alasan selalu anak, ya sudah, anak-anakmu bawa saja, sama kamu, kalau perlu Mbak Eka bawa juga buat ngurus anak-anakmu!" ucap Wisnu mencoba meyakinkan Haris.


***


Kemudian Haris mencoba menghubungi adiknya yang bernama Hana, yang berada di kota Surabaya.


Dia mencurahkan semua isi hatinya, dan ketika Hana mendengar semua cerita rumah tangga Kakaknya bersama Cindy telah hancur, Hana pun terkejut.


"jadi selama ini Cindy selalu minta uang banyak, meskipun sudah berpisah?" Hana terkejut mendengarnya.


Haris hanya terdiam.


Haris orangnya tidak tega, dan mungkin terlalu sabar, tidak banyak kata.


{"Yasudah, nanti besok, aku bersama suamiku, pergi ke Bogor, untuk menjemput anak-anakmu, kebetulan kan sekarang kenaikan kelas, jadi anak-anak bisa pindah sekolahnya.}


Hati Haris sedikit lega, mendengar ucapan Hana, yang mau membawa anak-anaknya ke Surabaya.


***


"Nah, gitu dong. Kamu harus tegas. Aku tapi ingin kamu membawa ke orang pinter," 🤭


ucap Wisnu.


"Maksud kamu, apa?" Haris seakan kesal.


"Ya, kamu terlihat aneh, tapi maaf mungkin itu hanya prasangka aku saja," Wisnu berlalu dari hadapan Haris.


***


Ibunya Haris diberitahu Hana, bahwa rumah tangga Haris sudah tidak bersatu lagi dengan Cindy.


Kemudian ponsel Haris berbunyi terlihat Ibunya Haris menelepon.


{"jadi kamu sudah cerai dari Cindy. Dan selama ini kamu tidak sadar, sudah di kuras uangnya sama mantan kamu!"} Bu Heny seakan geram dibuatnya oleh kelakuan Cindy.


{"Iya Bu, maaf, jika selama ini, Haris tidak bicara sama Ibu, bahwa Haris sudah cerai dengan Cindy,"} jawabnya.


{"Hana, katanya mau jemput anak-anakmu lusa, biar Ibu nanti menunggu di Bogor, Ibu akan membereskan baju anak-anak semua. Mantanmu Cindy kan, tidak ada di rumah, dia sedang di rumah sakit, jadi Ibu bisa leluasa untuk membereskan semuanya."} Ibu sangat terdengar sangat marah ketika berucap karena di hinggapi rasa kesal.


***


Terlihat ada pesan kembali dari adiknya Cindy, yang bernama Cintya, dia pun menanyakan kebenaran rumah tangga Haris dan Cindy, apakah benar sudah berpisah.


{"Om, apa benar, Om sudah cerai dengan Kakakku?"} tanya Cintya


{Iya, betul Tya!"} jawab Haris.


{"Om, tapi gimana ini, pembayaran uang administrasi," nada bicara Cintya seakan memelas.


{"Maaf, Tya, Om sudah tidak ada hubungan apa-apa lagi, jadi kali ini Om, tidak bisa menolong,"} Hati Haris sepertinya sudah terbuka oleh bujuk rayu dari adik dan Ibunya, agar dia tidak selalu di bodohi Cindy.


"Aku harus bisa tegas, aku akan berusaha." gumam hati Haris.


Haris menghela napas kasar.


***


Keadaan di rumah sakit,


Keluarga Cindy berkumpul, mereka sedang membicarakan rumah tangga Cindy dan Haris yang sudah tidak bersatu lagi.


Kebetulan orang tua dari Cindy telah tiada, dan keberadaan Cindy di rumah sakit di temani oleh Tante, Om dan adiknya, beserta sanak saudara terdekat.


***


"gimana dok, keadaan Cindy?" tanya Cintya, begitu gugup.


"Kayaknya harus di operasi!"


jawab dokter.


Cintya, terkejut.

__ADS_1


__ADS_2